
“Kita mau kemana mas?” tanyaku.
“Besok pagi kita terbang ke Labuan bajo, malam ini kita menginap di apartemen,” jawab Tedi.
Labuan Bajo merupakan salah satu desa dari 19 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
“Baiklah ....” Aku menyandarkan punggung ke kursi mobil.
“Mau makan dulu Al?” Tanya Tedi.
“Aku gak laper mas.”
“Tapi aku laper Al, gimana dong?”
“Ya udah kita makan aja dulu.”
Mobil berhenti di salah satu Restoran yang kami lewati. Jaraknya tak jauh dari apartemen yang kami tuju. Tedi turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untukku. Kami masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satu meja yang kosong.
“Mau makan apa Al?” tanya Tedi seraya melihat-lihat daftar menu.
“Aku gak laper mas, minum aja deh. Hemmm ... Strawberry milkshake aja.”
Tedi lalu menoleh ke arah pelayan Restoran yang menunggu kami memesan makanan, “tenderloin steaknya satu, strawberry milkshakenya satu, ice lemon teanya satu ya mbak.”
“Baik mas, di tunggu.”
Pesanan pun tersaji. Tedi memegang pisau dengan tangan kanannya, dan garpu di tangan kirinya. Ia menikmati suapan demi suapan makanan di hadapannya.
“Kamu yakin gak laper Al?” tanya Tedi, menyadari aku memperhatikannya.
Melihat Tedi makan seperti itu, tiba-tiba aku jadi merasa lapar juga.
“Boleh coba gak mas?” tanyaku malu-malu.
Tedi memberikan satu potongan steak ke arahku. Aku menyambutnya dengan mulut terbuka. Setelah aku cicipi, ternyata rasanya enak. Tedi terus menyuapiku sampai makanan di depannya habis.
“Mau tambah lagi Al?”
“Engga ah, aku kenyang.” Jelas saja kenyang. Makanan milik Tedi habis olehku. “Perasaan tadi mas deh yang bilang laper, kok jadi aku yang makan.”
“Melihat kamu makan, aku jadi ikut kenyang,” ucapnya seraya tersenyum.
Kami meninggalkan restoran tersebut setelah Tedi membayar billnya.
***
Pesawat yang akan kami tumpangi akan berangkat pukul 6 pagi. Kami sudah standby di sana satu jam sebelumnya.
“Mas, kalau aku resign, apa aku harus mengembalikan mobil inventaris kantor?”
__ADS_1
“Mobil itu milik kamu, bukan inventaris kantor Alya.”
“Tapi apa kata Andi nanti kalau mobil itu tidak aku kembalikan?”
Tedi menghembuskan napas berat, “Al, bisa gak, gak usah ngomongin dulu suami kamu saat ini?”
“Mas cemburu?” godaku.
Tedi diam. Perhatiannya terfokus pada surat kabar di tangannya.
“Mas ....” Aku menggelayut manja di tangannya.
Merasa diabaikan, aku membalik paksa wajah Tedi agar menatapku, “mas ... Maaf.”
“Hemmm ....” Tedi kembali memfokuskan pandangannya pada surat kabar di tangannya.
Karena tidak tahan diabaikan aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Satu kecupan aku layangkan di pipinya. Dan hal itu sukses membuat Tedi menoleh ke arahku. Senyum menyeringai ku lihat di wajahnya.
“Kamu Agresif sekali sih Al.” Tedi mendekatkan wajahnya ke arahku, dan berbisik, “gimana kalau kita batalkan saja perjalanan ini Al? Kita habiskan waktu di apartemen.”
Aku membelalakkan mata tak percaya, menggeleng kuat sebagai bentuk penolakan atas usul Tedi. Bagaimana mungkin aku menukar kesempatan liburan ke Labuan bajo dengan bergelung selimut di apartemen.
Tedi terbahak. Rupanya dia berhasil menggodaku.
“Lagaknya aja agresif, baru gitu aja udah ketakutan, hahaha ....”
“Kita sampai Labuan bajo jam berapa mas?” tanyaku ketika kami sudah duduk di bangku pesawat.
“Kita transit dulu di Surabaya lima jam, lalu transit lagi satu malam di Bali. Besok pagi baru kita terbang ke Labuan bajo.”
“Harus seperti itu ya?”
“Kenapa? Kamu sudah tidak sabar ya?”
“Eh, tidak sabar apa nih?”
***
Setelah melalui 2 kali transit dengan satu kali ganti maskapai penerbangan, akhirnya kami sampai di Labuan bajo pada pukul 12.30 waktu setempat pada keesokan harinya. Setelah keluar dari bandara, kami menaiki taksi untuk menuju ke tempat penginapan kami.
Sekitar 23 menit berkendara, akhirnya kami pun sampai di lokasi. Sebuah resort yang terletak di kawasan Manggarai barat.
Resort yang akan kami tempati selama tiga hari ke depan ini sangat elegan dengan pemandangan pantai yang indah. Fasilitasnya pun bisa dikatakan lengkap. Ada teras pribadi, AC, TV layar datar, area duduk, brankas, kulkas, dan minibar. Kamar mandinya juga dilengkapi dengan bathtub, shower dan tentunya dilengkapi dengan perlengkapan mandi gratis.
“Istirahat dulu Al, aku pesenin makan siang dulu.”
“Iya mas.”
Aku merebahkan diri di atas kasur king size yang menghadap langsung ke arah kolam renang, hanya dibatasi oleh pintu kaca transparan. Tanpa aku sadari aku terlelap.
__ADS_1
Aku terbangun ketika hari sudah sore. Pemandangan yang pertama kali ku lihat adalah perut sixpack Tedi yang tengah berenang. Postur tubuh Andi dan Tedi sebenarnya tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama mempunyai tubuh atletis dan proporsional.
“Kamu sudah bangun Al? Kamu melewatkan makan siangmu.”
“Iya mas, aku lelah sekali.”
Aku berjalan menghampiri Tedi dan menenggelamkan kaki ke dalam kolam renang.
“Mau bergabung?” tawar Tedi.
Aku mengangguk. Aku menceburkan diri ke dalam kolam renang, masih dengan pakaian lengkap. Tedi mendekat ke arahku, dan menempatkan dirinya tepat di belakangku.
“Kalau berenang itu jangan memakai pakaian seperti ini Al,” bisiknya, “pakaian seperti ini kalau basah jadi berat, kamu bisa tenggelam.”
“Lalu aku harus memakai apa?” tanyaku tak kalah pelan.
***
“Kita mau kemana sih mas?” tanyaku karena dari tadi Tedi hanya diam.
Kami berjalan bergandengan tangan melewati jalan setapak yang cukup curam.
“Jangan-jangan kamu mau mendorong aku dari atas jurang sana ya mas?”
“Alya ... Alya ... jangan nettink gitu donk, kamu gak percaya sama aku?”
Aku tersenyum lebar mendapati kekesalan di wajah Tedi. Tedi hanya menggelengkan kepala. Lalu kami kembali melanjutkan perjalanan.
Usai berenang dan membersihkan diri, dengan mengendarai mobil yang Tedi sewa selama di sini, ia mengajakku ke tempat ini. Tanpa keterangan pasti, aku memilih untuk ikut saja. Lalu kami tinggalkan mobil yang kami tumpangi di tempat parkir yang telah disediakan, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sekitar sepuluh menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di puncak.
“Sukurlah, masih sempat,” ucap Tedi seraya melihat hamparan laut yang terpampang di depan kami.
Aku mengikuti arah pandangan Tedi, “indah,” ujarku.
“Kita duduk di sana Al.” Kami duduk di atas sebuah batu tak jauh dari tempat kami berdiri.
Kami duduk berdampingan, aku menyandarkan kepalaku di atas bahu Tedi. Kami memandang ke arah yang sama.
“Namanya bukit cinta, atau bisa juga disebut bukit sylvia,” ucap Tedi, “di sini tempat terbaik untuk menikmati golden sunset,” lanjutnya.
“Kenapa di sebut bukit cinta?” tanyaku penasaran.
“Karena di sini tempat pasangan kekasih untuk menghabiskan waktu mereka sambil menikmati sunset.” Tedi menjeda sejenak ucapannya, “seperti kita.”
Aku menoleh ke arah Tedi sejenak, dia tersenyum ke arahku, dan aku pun membalas senyumannya.
Kami menikmati pemandangan indah di hadapan kami dalam diam. Larut dalam pikiran kami masing-masing. Ku lihat bukit-bukit seperti mengambang di atas laut. Pergi ke Labuan bajo bersama Tedi akan menjadi pengalaman yang tidak akan mungkin bisa aku lupakan.
__ADS_1