Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 19 Ledakan di Apartemen


__ADS_3

Total 3 hari 2 malam aku dan Tedi menghabiskan waktu di Labuan bajo. Kami pulang pada hari ke 3 dengan menggunakan pesawat. Setelah 1 kali transit di Bali sekaligus ganti maskapai penerbangan, akhirnya kami sampai pada pukul 3 sore.


Setelah turun dari pesawat, aku dan Tedi segera menaiki taksi untuk menuju ke apartemen kami. Kami berencana untuk menginap semalam lagi sebelum pulang ke rumah masing-masing.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah resign Al?” tanya Tedi begitu kami sampai di apartemen.


“Aku belum ada rencana sih mas,” jawabku.


“Jadi ibu rumah tangga aja nih ceritanya?”


Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.


***


Keesokan paginya, kami bersiap untuk pulang. Aku turun ke lobi apartemen, diiringi oleh Tedi di belakangku.


“Makasih ya Al,” ucap Tedi seraya mengecup pipiku. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.


“Astaga, Al, kunci mobil aku ketinggalan, aku ambil dulu ke atas ya.”


“Iya mas.”


Aku sedang duduk di lobi apartemen ketika seorang pria tiba-tiba datang dan menghampiriku. Dia memberikanku surat kabar, kemudian pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun. Aku menerima surat kabar tersebut dan membukanya.


Di dalamnya ada sebuah tulisan besar yang ditulis dengan menggunakan cat merah. Jelas sekali kalau itu bukan tinta print dari penerbit. Sepertinya seseorang menulisnya. Aku membacanya perlahan.


JAUHI TEDI, ATAU KAMU AKAN MENERIMA AKIBATNYA!


Aku bangun, mencari keberadaan pria yang baru saja memberikanku surat kabar ini. Namun tak ku temukan di manapun. Siapa sebenarnya yang sedang mengancamku?


Dari jauh, aku melihat kedatangan Tedi. Aku segera melipat kembali surat kabar tersebut dan membuangnya ke tempat sampah tak jauh dari tempat dudukku sebelumnya. Aku memilih untuk mengabaikannya saja. Mungkin itu hanyalah orang iseng.


“Kamu kenapa Al?” tanya Tedi.


“Eh, tidak apa-apa mas. Kita berangkat sekarang?” Tedi mengangguk.


Kami keluar dari gedung apartemen dan berjalan menuju parkiran. Lalu kami masuk ke mobil Tedi dan meninggalkan tempat tersebut.


“Kamu yakin tidak apa-apa Al? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu,” tanya Tedi begitu kami sedang dalam perjalanan.


“Sebenarnya waktu tadi aku menunggu mas di Lobi, ada seorang pria berhoodie yang menghampiri aku. Dia memberikanku surat kabar. Waktu aku membukanya, ada pesan ancaman di sana. Isinya kurang lebih seperti ini, JAUHI TEDI, ATAU KAMU AKAN MENERIMA AKIBATNYA!”


Mobil yang kami tumpangi berhenti mendadak. Tedi menginjak rem mobilnya karena terkejut akan berita yang aku sampaikan.


“Ada apa mas?” tanyaku bingung.


“Kamu serius Al?”


Aku mengangguk.

__ADS_1


“Lalu sekarang mana surat kabarnya?”


“Aku buang di tempat sampah. Aku pikir pasti cuma kerjaan orang iseng.”


Tanpa aku duga, Tedi berbalik arah. Dia mengendarai mobilnya dengan tergesa kembali ke apartemen. Begitu sampai, Tedi memarkirkan mobilnya asal, lalu melompat turun dan segera menuju ke tempat di mana tadi aku duduk. Dan aku pun mengikutinya.


Dia melihat ke kiri dan ke kanan, mencari tempat sampah yang aku maksudkan tadi. Tedi mulai mencari surat kabar yang aku maksudkan, namun ternyata tidak ada.


“Kamu yakin membuangnya di sini Al?”


Aku mengangguk, “yakin mas, kok gak ada ya?”


“Kita cek CCTV.”


Baru saja hendak menuju ke ruang CCTV, seorang petugas keamanan menghampiri kami, “Maaf pak, mobilnya menghalangi jalan.”


Tedi menoleh ke arahku, “tunggu sebentar Al, aku pindahin mobil dulu.”


Setengah berlari Tedi menuju ke arah mobilnya. Aku memperhatikannya dengan bingung, sebenarnya apa yang membuatnya risau seperti itu.


Namun, begitu petugas keamanan membuka pintu lobi utama, terdengar suara ledakan yang sangat besar. Aku berlari menghampiri Tedi. Rupanya ledakan tersebut berasal dari mobil yang beberapa saat lalu kami tumpangi.


Aku menutup mulut dengan kedua telapak tanganku. Terkejut? Sangat. Tedi merangkulku, dan aku pun memeluknya. Tedi kemudian membawaku untuk duduk di atas sofa yang sempat aku tinggalkan beberapa saat lalu.


Petugas pemadam kebakaran beserta polisi datang beberapa saat setelah terjadinya ledakan.  Mereka memasang police line di tempat kejadian perkara. Dan hal itu sukses membuatku takut.


Seorang petugas polisi menghampiri kami, “Anda pemilik mobil yang meledak tersebut?”


“Kami menemukan sisa-sisa bom yang menempel di bagian bawah mobil anda.”


Aku terkejut. Mengingat beberapa saat lalu pesan yang berisi ancaman baru saja aku terima.


“Kami akan menyelidikinya, saya harap Anda bisa kooperatif jika sewaktu-waktu kami membutuhkan keterangan Anda.”


“Baik pak.”


Petugas polisi tersebut kemudian meninggalkan kami.


“Aku beliin dulu minum ya Al,” tawar Tedi.


Aku mengangguk.


Beberapa saat kemudian Tedi datang dengan membawa sebuah kantong kresek berlogo sebuah mini market. Dia duduk di sampingku dan memungut sesuatu di dekat kakiku.


“Ini apa Al?”


Aku mengernyit heran, “aku tidak tahu mas.”


Tedi membuka kertas yang dilipat tersebut. Tulisan yang hampir sama seperti sebelumnya, ditulis dengan menggunakan cat merah.

__ADS_1


KALI INI KAMU BERUNTUNG, LAIN KALI AKU PASTIKAN KAMU ADA DI DALAMNYA.


Tedi berdiri, menoleh ke kanan dan kiri.


“Kamu yakin tidak melihat orang yang menyimpan ini Al?”


Aku menggeleng, “aku tidak tahu mas ... Aku tidak tahu ....” dan aku pun mulai terisak.


Tedi membawaku ke dalam pelukannya, “sudah Al, semuanya akan baik-baik saja. Aku janji.”


“Aku takut mas ....”


“Sebaiknya kamu pulang saja Al, aku akan sewa detektif swasta untuk menyelidiki semua ini.”


“Aku takut mas ....”


“Kamu tidak perlu takut Al, aku akan selalu melindungi kamu, aku janji.”


Bahkan aku sekarang takut naik mobil, takut sendirian di rumah, dan ketakutan-ketakutan lainnya.


Tedi meminta resepsionis apartemen untuk memesankan taksi, karena ponsel kami dan barang-barangku yang lainnya sudah hangus terbakar bersama dengan meledaknya mobil Tedi.


“Mas, nanti bagaimana kalau orang rumah bertanya, kemana barang-barangku?”


“Kamu bilang saja hilang di bandara.”


Aku mengangguk, menyetujui idenya.


“Sepertinya taksinya sudah datang Al,” ucap Tedi seraya melihat ke luar jendela.


Taksi yang di pesan resepsionis apartemen adalah taksi konvensional, dan hal itu membuatku sedikit lega.


Tedi membukakan pintu untukku. Dan aku pun masuk ke dalamnya.


“Mau pulang ke rumah orang tuamu, atau ....” Tedi tidak melanjutkan kalimatnya, mungkin dia risi menyebut nama Andi. Aku mengerti.


Aku menyebutkan sebuah alamat kepada sopir taksi. Tedi mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan memberikanku sejumlah uang.


“Ini buat ongkos taksi,” ucapnya, “nanti aku kirimkan ponsel baru ke rumah kamu. Aku juga akan mengurus surat-surat kamu yang hilang.”


“Terima kasih mas.” Taksi pun melaju.


Taksi berhenti tepat di depan rumah ibu mertuaku. Aku membayar ongkos sesuai dengan yang tertera di argo. Aku segera turun setelah mengucapkan terima kasih.


“Kamu sudah pulang Al?” seseorang menyapaku dari arah belakang.


Aku menoleh ke arah sumber suara. Andi berjalan menghampiriku. Penampilannya sangat kusut. Ia tersenyum ke arahku.


“Kok diem di teras? Ayo masuk.”

__ADS_1


Andi membuka handle pintu. Dan tanpa sengaja aku melihat tangannya. Ada noda bercak merah di tangannya. Aku melihat takut ke arahnya. Mungkinkah?


__ADS_2