Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 9 Tempat Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Hari ini aku menerima gaji pertamaku. Aku bermaksud untuk mentraktir kedua orang tuaku makan ayam geprek. Menu favorit kami bertiga. Aku dan kedua orang tuaku memang pecinta pedas, jadi ketika salah satu artis ternama ibu kota melaunching restoran ayam geprek, kami langsung mencobanya. Dan ternyata rasanya sangat sesuai dengan lidah kami. Sejak saat itulah menu ayam geprek menjadi favorit kami bertiga.


Kurang satu minggu untuk genap satu bulan aku bekerja di perusahaan Tedi, namun Tedi memberiku gaji full. Dia bilang sebagai bonus karena kerjaku bagus.


[Ma, hari ini jangan masak makan malam ya, aku mau traktir mama sama papa makan ayam geprek. Mama sama papa siap-siap aja, nanti Alya jemput.] Begitu isi pesanku pada mama.


[Lagi banyak uang nih🤪] balas mama.


[Iya dong]


Tak ada balasan lagi dari mama. Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Dan segera mengendarai mobilku untuk segera pulang ke rumah mertuaku. Tidak lupa di jalan aku membeli roti bakar untuk ibu mertuaku sebagai oleh-oleh. Karena walaupun bawel, ternyata ia perhatian juga.


Begitu sampai rumah, aku melihat ibu mertuaku sedang bersiap pergi.


“Mau kemana bu?” tanyaku.


“Biasa lah ke rumah Dini. Baru pulang Al?”


“Iya bu. Oh iya, ini buat ibu. Aku hari ini gajian.” Aku menyodorkan satu kantong kresek berisi roti bakar.


Ibu mertuaku melongok ke dalam kantong kresek, “ini apa Al?”


“Roti bakar.”


“Rasa apa?”


“Coklat kacang.”


“Gak pake keju?”


“Engga.”


“Padahal ibu suka ada keju-kejunya.”


“Maaf bu, Alya gak tau.”


“Ah, kamu ini udah lama jadi menantu, belum tau juga apa yang disuka mertuanya.”


“Yaudah kalo ibu gak suka buat Alya aja.” Aku hendak mengambil kembali kantong kresek dari tangan ibu mertuaku, namun segera ditepisnya.


“Eh, udah dikasih kok mau diambil lagi. Gak sopan.”


Aku hendak meninggalkan ibu mertuaku untuk masuk ke dalam rumah, tetapi ibu mertuaku memanggil, “Alya!”


“Iya bu?” Aku berbalik.


“Kalau kamu cari Andi, Andi tadi pagi jemput Lukman ke luar kota, sebentar lagi paling pulang.”

__ADS_1


“Oke.”


Baru saja aku hendak berbalik, ibu mertuaku kembali memanggil, “Alya!”


“Apa lagi sih bu?”


“Terima kasih roti bakarnya!” ucap ibu mertuaku seraya mengacungkan kantong kresek berisi roti bakar kearahku.


Ibu mertuaku pergi meninggalkanku. Tanpa terasa aku tersenyum. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Terlebih orang tersebut berterima kasih kepada kita.


Matahari sudah tenggelam. Aku sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tuaku. Andi bilang akan tiba dalam waktu 5 menit, aku merapikan riasanku sambil menunggunya pulang.


Ku lihat kedatangan Andi dari pantulan cermin meja rias. Ia nampak lelah. Ia mendekat ke arahku dan memelukku dari belakang.


“Kamu cantik banget Al,” ucapnya seraya mengecup rambutku.


Melihat gelagatnya, aku bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Aku segera bangun dan mendorongnya untuk segera mandi agar tidak terjadi hal lain yang akan memperlambat rencana kepergian kami.


“Aku lelah Al,” ucapnya ketika aku mengajaknya untuk pergi ke rumah orang tuaku.


Aku tahu Andi sedang berbohong. Aku menarik tangan Andi yang hendak berbaring di atas tempat tidur. Hafal sekali apa yang diinginkannya saat ini.


“Ayo Ndi, mama sama papa pasti sudah nungguin kita. Aku sudah janji.”


Andi menarikku ke dalam pelukannya seraya berbisik, “sebentar saja Al.”


Andi akhirnya luluh. Ia melepaskan pelukannya dan mengikutiku yang berjalan keluar rumah. Andi masuk ke mobilku dan duduk di belakang kemudi. Sementara aku duduk di sampingnya.


Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di depan rumah orang tuaku.


“Tidak usah turun!” Aku menghentikan gerakan tangan Andi yang akan membuka pintu mobil.


Ku kirim sebuah pesan kepada orang yang telah melahirkanku tersebut


[Ma aku sudah di depan.]


Tidak lama, mama dan papaku keluar dari rumah yang merangkap depot air minum isi ulang dan agen LPG tersebut. Mereka masuk ke dalam mobil yang aku dan Andi tumpangi setelah aku melambaikan tangan ke arah mereka.


“Yuk jalan.”


Andi menoleh ke arahku, seolah bertanya kemana tujuan kami. Aku lupa belum mengatakan kalau aku akan mentraktir orang tuaku makan ayam geprek.


“Kita ke restoran ayam geprek Ndi. Kita jalan aja dulu, nanti aku arahin jalannya.”


Andi pun kembali mengemudikan mobil yang kami tumpangi.


“Mobil baru Al?” tanya mama.

__ADS_1


“Baru tapi bekas ma.”


“Kamu belinya seken?”


“Bukan ma, ini bukan mobil Alya, ini mobil inventaris kantor.”


“Wah hebat kamu Ndi, kamu sudah kerja sekarang?”


Andi nampak tidak nyaman dengan pertanyaan mama, “bukan Andi ma, tapi Alya.”


“Kamu kerja Al?”


Aku mengangguk antusias, “iya ma, aku kerja jadi sekretaris bos, makanya sekarang nraktir mama sama papa makan ayam geprek. Hari ini kan Alya gajian.”


“Pantas saja. Memangnya gaji kamu berapa sampai mau nraktir mama sama papa?”


“Ya lumayan lah, lebih gede dari pada uang jajan dari mama waktu kuliah.”


Mama mencubit lenganku dari arah belakang, “kamu ya ... Udah kerja aja bilang gitu sama mama.”


“Aw ... Sakit ma ....”


“Kamu bagaimana Ndi?” tanya papa yang sedari tadi hanya diam saja.


Andi semakin terlihat tidak nyaman, “Andi sedang mengurus mbak—“


Belum sempat Andi menyelesaikan ucapannya, aku segera memotong, “Andi masih nunggu panggilan kerja pa, tapi udah masukin cv ke beberapa perusahaan kok. Andi gak mau kerja di perusahaan mas Ridwan dan mas Lukman katanya. Pengen usaha nyari kerja sendiri.” Lalu aku mengusap lengan Andi, “iya kan sayang?”


Andi hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia nampak tidak suka mendengar jawabanku.


“Nanti kalau Andi sudah kerja, Andi akan meminta Alya resign,” ucap Andi.


“Loh kenapa?” tanya mama tak suka.


“Andi ingin Alya—“


Lagi-lagi aku terpaksa memotong ucapan Andi, “Andi dan Alya berencana untuk membuka usaha ma, jadi Alya di rumah mengurus usaha kami, Andi yang kerja di luar, gitu. Iya kan sayang.”


Andi menoleh ke arahku. Aku yakin, kalau tidak ada papa dan mama pastilah saat ini Andi marah padaku. Tidak ada pembicaraan sebelumnya mengenai membuka usaha. Aku hanya spontan menjawab agar papa dan mama tidak terus bertanya tentang hal itu. Aku tidak mau Andi sampai keceplosan kalau ia ingin aku berhenti bekerja untuk mengurus salah satu dari kedua kakaknya yang saat ini membutuhkan pertolongan. Aku hanya tidak mau Andi dipandang sebelah mata oleh papa.


“Belok kiri sayang.” Aku mencoba menetralkan suasana hati Andi.


Makan malam terasa canggung karena Andi hanya diam saja, tidak membuka suara sedikit pun. Aku yakin ini bukan karena rasa pedas yang membakar lidah, namun lebih kepada rasa terbakar hati Andi yang tidak bisa mengeluarkan amarahnya karena sungkan pada papa dan mama.


Lagi pula, kenapa Andi mesti marah? Sudahlah. Nanti malam kan aku akan menyelesaikan masalah ini di atas ranjang. Biasanya, apa pun masalah kami, pasti akan selesai di sana.


 

__ADS_1


__ADS_2