
“Ehm ... Apa mungkin kalau orang yang kita cari adalah ibu kamu sendiri Mas?”
Tedi menatap intens ke arahku. Jelas ia tahu apa yang aku maksud.
“Dia hanya wanita rakus yang haus akan harta Al. Membunuhku hanya akan merugikannya.”
“Kenapa Mas bicara seperti itu tentang ibu Mas sendiri?”
“Dia bukan ibuku Al, dia adalah istri dari Ayahku.”
“Maksudnya? Bu Ningrum adalah ibu sambung Mas?”
“Iya.”
“Lalu ke mana ibu kandung mas?”
“Sudah meninggal. Tak lama ketika ayah membawa wanita itu ke rumah kami.”
“Jadi ayah mas berselingkuh?”
Tedi tertawa, “hahahaha ... Lucu bukan Al? Dulu aku sangat membenci ayahku karena telah menduakan ibuku, tapi saat ini aku malah menuruni sifat buruknya. Mengalaminya sendiri membuatku lebih mudah memaafkannya.”
“Tapi Mas, dari apa yang aku tangkap, sepertinya ibu Mas sangat menyayangi Siska. Dia bahkan memintaku meninggalkan mas karena Siska sedang hamil.” Ucapan bu Ningrum tadi masih terngiang-ngiang di telingaku.
Tedi kembali tertawa, entah bagian mana dari kata-kataku yang menurutnya lucu. “Menurutmu seperti itu?”
Aku mengangguk cepat, “aku bahkan sempat tersinggung akan kata-katanya yang menyinggung orang tuaku.”
“Sebaiknya kamu lihat saja sendiri.” Tedi bangun dan mengulurkan tangannya ke arahku, “ikut aku.”
“Ke mana?” tanyaku bingung.
“Ke rumahku.”
Aku menerima uluran tangannya. Kami berjalan bergandengan tangan keluar dari cafe tempat kami berbincang sesaat lalu.
“Di mana kamu memarkirkan mobilmu Al?”
“Di dekat rumah Mas. Maksudnya sisa-sisa rumah orang tuaku.”
“Kamu kesini satu mobil dengan wanita itu?”
Aku mengangguk, “dia yang minta.”
Setelah sampai di tempat parkir, Kami segera masuk ke dalam mobil Tedi. Tedi membukakan pintu untukku. Aku duduk di depan, di samping Tedi yang duduk di balik kemudi.
“Mas, sudah berapa banyak wanita yang duduk di sini?” tanyaku seraya menepuk kursi tempat aku duduk.
“Kamu yakin ingin tahu jawabannya?” tanyanya. “Kamu akan cemburu jika mendengarnya.”
“Kalau begitu lupakan,” jawabku cepat.
__ADS_1
Tedi tertawa. Ia mengacak-acak rambutku yang sudah ku sisir rapi.
“Bagaimana kalau pertanyaannya aku ganti. Emmm apa bu Ningrum menyayangi Mas? Maksudnya apa dia seperti ibu tiri yang kejam seperti di novel-novel, yang hanya mencintai harta ayah mas saja?”
“Hahahaha ... Kamu tahu, aku tidak pernah peduli akan hal itu Al. Usiaku sudah cukup dewasa saat wanita itu masuk ke rumah kami. Aku tidak mengemis agar dia menyayangiku. Aku juga tidak peduli kalau dia hanya mencintai harta ayahku. Dia bisa mengambil apa pun yang dia mau, asalkan dia tidak mengusik hidupku.”
“Jadi, hubungan seperti apa yang kalian jalani selama ini Mas?”
“Menurut kamu?”
“Kenapa Mas selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?”
Bukannya menjawab, Tedi malah tersenyum seraya menggelengkan kepala.
Manis. Batinku.
Sekitar 40 menit berkendara, akhirnya kami sampai di halaman rumah Tedi. Ini adalah kali kedua aku menginjakkan kakiku di sini.
Aku dan Tedi turun dari mobil, dan segera berjalan menuju ke pintu depan kediaman Tedi. Tepat saat Tedi akan membuka pintu, seseorang dari dalam rumah membukanya terlebih dahulu.
“Sudah pulang Mas?” sapa seorang wanita yang baru saja membukakan pintu untuk kami.
“Hemmm.” Tedi menjawab acuh.
Kemudian wanita tersebut menangkap keberadaanku, “Alya?”
“Hai Sis, apa kabar?” aku meraih tangannya dan mencium pipi Siska kiri dan kanan.
“Eh itu ....” Aku lupa membuat skenario.
“Buatkan aku kopi!” titah Tedi menyelamatkanku dari pertanyaan Siska.
Siska segera pergi ke dapur untuk membuat kopi, sementara kami menuju ke ruang tamu dan duduk di atas sofa.
“Mas aku gak enak dateng ke sini,” ucapku menyampaikan ketidak nyamananku.
“Lalu yang enak di mana?” tanyanya.
“Mas ....” Aku memberikan satu tatapan tajam ke arahnya.
Siska datang dengan membawa satu buah nampan di tangannya. Ia menyimpan satu cangkir kopi dan satu cangkir teh di atas meja. Tidak hanya itu, dia juga menghidangkan satu toples camilan di atas meja.
“Diminum Al,” ucapnya seraya mendaratkan pantatnya di atas sofa.
“Terima kasih Sis, harusnya kamu tidak perlu repot-repot.” Aku mengambil satu cangkir berisi teh dan menyesap isinya.
“Tidak repot kok Al, cuma teh.”
Aku menyimpan kembali cangkir yang masih berisi teh ke atas meja. Mataku kini terfokus pada perut Siska yang semakin membesar. “Gimana kandungan kamu Sis?” tanyaku.
Tedi melirik ke arahku, ia seolah tidak suka aku menanyakan kandungan Siska.
__ADS_1
“Bayi aku sehat Al.” Ia kembali mengusap-usap perutnya. “Makanya cepat-cepat kamu hamil, biar nanti anak kita seumuran.”
“Ah ... Itu ... Aku belum kepikiran Sis.”
Hamil? Sebelum menikah aku dan Andi sepakat untuk menunda kehamilan sampai aku benar-benar siap untuk menjadi seorang ibu. Aku masih ingin menikmati kehidupanku tanpa harus direpotkan dengan kehadiran seorang anak. Namun dalam perjalanannya aku bertemu Tedi, dan jatuh cinta padanya. Tedi memintaku kalau hanya anaknya saja yang boleh tumbuh di rahimku. Tanpa sadar, aku ikut mengusap perutku yang rata.
“Aw!” Siska memekik seraya meraba perutnya.
“Kenapa Sis?” tanyaku panik.
“Bayiku menendang Al, kamu mau menyapanya?”
“Eh ....” Aku melirik Tedi yang nampak acuh.
Karena tidak enak pada Siska, aku beringsut mendekatinya, kemudian duduk di samping Siska. Aku menempatkan telapak tanganku di atas perutnya.
Deg. Bola mataku seketika membulat saat ku rasakan pergerakan di sana. Tanpa sadar aku tersenyum.
“Mas, sini deh.” Aku menggerakkan tanganku memanggil Tedi yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kami.
Karena Tedi hanya diam, aku berinisiatif untuk berdiri dan menariknya. Aku mendorong Tedi untuk duduk di samping kiri Siska, dan aku di samping kanannya. Kemudian aku menarik tangan Tedi dan menempelkan telapak tangannya di atas perut Siska. Aku sempat melihat ekspresi wajah Tedi berubah ketika merasakan pergerakan di perut Siska.
“Anak kita sepertinya senang karena untuk pertama kalinya ayahnya menyapanya Mas.” Ucapan Siska menyadarkanku dari situasi awkward saat ini. Perlahan aku menjauh dari mereka dan menegakkan posisi dudukku.
Tedi yang merasakan ketidak nyamananku seketika menurunkan tangannya dari perut Siska. Mata kami bertemu untuk sepersekian detik.
“Suami istri dan sekretaris suaminya. Sungguh pemandangan yang mengharukan.” Kedatangan bu Ningrum merebut perhatian kami bertiga. Ia melipat tangan di depan dadanya seraya menatap tajam ke arah Siska. “Kamu mau terus duduk diam di sana atau mulai memasak untuk makan malam Siska?”
Siska segera bangkit berdiri, “maaf Ma.”
Bu Ningrum pergi meninggalkanku setelah sebelumnya memberikan tatapan tidak bersahabat ke arahku.
“Biar aku bantu Sis,” tawarku ketika ia pamit pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Terima kasih Al.”
Aku memperhatikan Siska yang dengan cekatan menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dia olah. Ia nampak kesulitan mengambil sayuran yang ada di lemari es bagian bawah karena perutnya yang besar. Dan aku berinisiatif untuk mengambilkannya.
“Ibu mertua kamu tega banget sih Sis, nyuruh-nyuruh kamu kayak gini. Padahal kan kamu lagi hamil besar,” ucapku seraya memberikan wortel serta mentimun kepada Siska. Lalu menutup kembali pintu lemari es.
Pikiranku tiba-tiba teringat pada ibunya Andi, ibu mertuaku. Sebawel-bawelnya dia, dia masih terhitung baik dan perhatian. Dia tidak pernah memintaku memasak atau belajar memasak. Ibu mertuaku itu memang sering menyuruhku untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tapi sebatas itu. Jika aku tidak melakukannya, dia akan melakukannya sendiri.
“Enggak kok Al. Biasanya ada asisten rumah tangga kami yang bantu-bantu pekerjaan rumah di sini. Berhubung sekarang beliau lagi pulang kampung, jadi aku yang mengerjakan semuanya,” jawabnya, “lagian ibu bilang, ibu lebih suka rasa masakan aku.”
Ah iya, aku ingat kata-kata Tedi mengenai awal mula ia menikah dengan Siska.
Perbincangan kami terhenti saat suara deringan ponsel hadir di antara kami. Ponselku? Jelas bukan. Aku menyimpannya di dalam tas. Dan tas tersebut ada di ruang tamu. Jadi, apakah itu ponsel Siska? Tapi bukankah Siska bilang tidak mempunyai ponsel? Aku menatap Siska yang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
__ADS_1