Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 40 Ending


__ADS_3

“Sudah sampai mbak.” Entah kali ke berapa sopir taksi mengingatkan Alya bahwa tujuan mereka sudah sampai, namun Alya masih bergeming. Sang sopir semakin bingung karena beberapa menit berlalu, penumpang yang ia bawa hanya diam seraya menatap ke arah sebuah rumah mewah yang menjadi destinasi perjalanannya.


Alya kembali menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia memejamkan mata sejenak sebelum kemudian berucap, “saya mau pergi ke tempat lain pak, bisa bapak antar?”


“Tentu saja, memangnya mbak mau pergi kemana?”


“Terminal.”


“Baik.”


Perjalanan lebih hening dari sebelumnya, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Alya meyakinkan hatinya kalau keputusannya sudah benar.


“Pak, tolong berikan ponsel ini kepada pak Tedi, pemilik rumah yang tadi kita singgahi.” Alya memberikan ponselnya yang sudah ia matikan daya sebelumnya kepada sopir taksi ketika mobil yang ia tumpangi sudah sampai di Terminal, “dan ini ongkosnya.”


Sopir taksi menerima ponsel yang Alya berikan, juga uang pecahan seratus ribuan sebanyak tiga lembar sebagai ongkos taksi.


“Mbak, ini ongkosnya kebanyakan,” ujar sang sopir.


“Gak papa pak, buat tambah-tambah beli susu cucu bapak.”


“Terima kasih ya mbak.”


“Sama-sama pak.”


Pertemuan mereka pun berakhir di sana. Mereka menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing.


***


“Tolong tuan, jangan lakukan ini ... Saya mohon.” Seorang wanita paruh baya berlutut di hadapan Tedi seraya menangis pilu, “Anda bisa melakukan apa saja kepada saya sebagai gantinya, tapi tolong, jangan penjarakan anak saya, dia masih muda, masa depannya masih panjang.”


“Seharusnya anda berpikir matang-matang sebelum bermain-main denganku!”


“Saya tahu, saya minta maaf Tuan, saya minta maaf.”


“Maafmu tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula Ibu Elin! Saya tidak menyangka, musuh saya ternyata ada di rumah saya sendiri. Anda dan anak-anak anda adalah kriminal!”


Bu Elin semakin tergugu mendengar jawaban Tedi. Padahal ia sudah merendahkan dirinya agar Tedi mau mencabut tuntutannya terhadap Sony.


Bukti-bukti yang menyeret Sony sangat kuat. Tedi membayar detektif swasta lainnya untuk menyelidikinya, setelah detektif sebelumnya tewas. Ia menemukan berkas-berkas hasil penyelidikan detektif sebelumnya yang memperkuat posisi Sony sebagai terdakwa.


Sony dituntut dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Tedi dan Alya, juga pembunuhan berencana terhadap orang tua Alya dan detektif swasta yang Tedi sewa. Sangat sulit bagi Sony untuk bebas dari jerat hukum, apalagi Tedi tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.


“Sekarang, pergilah dari rumah saya! Jangan merendahkan diri lebih dalam lagi, karena keputusan saya sudah bulat,” usir Tedi.


Bu Elin berdiri dan menatap Tedi dengan penuh kebencian, “baiklah, kalau Anda masih berencana memenjarakan Sony, saya juga akan melaporkan Anda atas kasus perselingkuhan dan penculikan terhadap cucu saya!” ancam bu Elin.


Tedi menatap lucu ke arah bu Elin, dan tertawa terbahak-bahak, “ha ... ha ... ha ..., Anda mengancam saya ibu Elin? Lakukan! Lakukan saja apa yang Anda inginkan!” Tedi menghentikan tawanya, “Anda tahu betul apa konsekuensinya jika bermain-main dengan saya!”


Tekad bu Elin tiba-tiba melemah. Ia tahu, melawan Tedi ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Ia memilih untuk pergi dari rumah Tedi dengan amarah yang masih memuncak di dadanya.


“Aku terlalu fokus mencari musuhku diluar sana. Ternyata musuhku yang sebenarnya ada di rumahku sendiri.” Tedi bermonolog.


***


Saat keluar dari rumah Tedi, bu Elin berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang nampak celingak-celinguk di depan rumah Tedi.


Melihat seseorang keluar dari rumah yang ia tuju, pria tersebut segera menghampiri bu Elin, “maaf bu, bisa saya bertemu dengan pak Tedi?”


“Siapa kamu?” tanya bu Elin congkak.


Penampilan bu Elin kali ini tidak seperti kesehariannya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Tedi. Ia terlihat lebih modis dan berkelas. Sejak rahasianya terbongkar, ia sudah tidak mau berpura-pura lagi dalam hal berpenampilan. Ia ingin terlihat sebagai wanita sosialita seperti majikannya. Hal itulah yang membuat pria yang berpapasan dengannya berpikir kalau bu Elin adalah pemilik rumah ini.

__ADS_1


“Ehm ... Saya sopir taksi online Bu, saya—“


Belum sempat sopir tersebut melanjutkan kalimatnya, bu Elin segera memotong, “oh, antarkan saya ke rumah tahanan sekarang.”


Bu Elin segera membuka pintu penumpang bagian belakang, lalu masuk dan duduk di dalamnya tanpa memedulikan sopir taksi yang masih berdiri mematung.


“Kamu mau membuang-buang waktu saya dengan terus berdiri di sana?” sentak bu Elin.


Ragu, sopir taksi online tersebut akhirnya masuk ke dalam mobilnya sendiri dan pasrah untuk mengantarkan wanita paruh baya yang nampak sedang memiliki masalah besar itu.


“Ehm ... Maaf bu, sepertinya ibu sedang ada masalah?” tanya sopir taksi mencoba mengakrabkan diri.


“Bukan urusanmu! Lakukan saja tugasmu dengan benar!” jawab bu Elin ketus.


Sopir taksi mengelus dada atas kesombongan penumpangnya. “Sebenarnya saya sedang tidak narik penumpang bu. Sebelumnya saya mengantarkan seorang penumpang, lalu dia meminta saya untuk mengantarkan barang pada pemilik rumah yang tadi ibu keluar dari dalamnya.”


“Siapa?” tanya bu Elin mulai penasaran.


“Namanya mbak Alya,” jawab sopir taksi tanpa rasa bersalah.


“APA?!” seru Bu Elin terkejut, “ehm ... Memangnya barang apa itu?” tanya bu Elin mencoba menetralisir nada suaranya sendiri.


“Hape,” jawab sopir taksi.


“Berikan pada saya!” bu Elin sedikit mendorong tubuhnya ke arah depan.


Sopir taksi tersebut nampak ragu, apalagi melihat perangai bu Elin yang mencurigakan, “maaf bu, saya diminta untuk menyerahkan hape ini kepada pak Tedi. Kalau boleh tahu, ibu ini siapanya pak Tedi yah?”


Bu Elin nampak diam sejenak. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia memikirkan apa yang harus dikatakannya pada sopir taksi di depannya ini agar ia mau memberikan ponsel yang Alya titipkan padanya.


Sopir taksi melihat raut wajah bu Elin berubah, ia menjadi merasa bersalah, “maaf bu, bukan maksud saya tidak memercayai ibu tapi—“


“Maksud ibu?” tanya sopir taksi semakin penasaran.


“Tedi adalah suami dari putri saya Siska, sekaligus ayah dari cucu saya yang baru dilahirkan secara premature beberapa hari yang lalu. Mereka berdua hidup bahagia sebelum wanita itu datang dalam kehidupan rumah tangga anak saya. Ya, wanita itu bernama Alya.”


Sopir taksi tersentak kaget mendengar jawaban dari wanita yang sejak ia bertemu nampak sangat menyebalkan tersebut.


“Wanita itu terlihat baik dan polos, tidak akan ada yang menyangka kalau ia adalah perusak rumah tangga orang lain. Dan lebih parahnya lagi, rumah tangga yang ia rusak adalah rumah tangga sahabatnya sendiri. Katakan pak, apa sebutan yang pantas untuk wanita seperti itu?” kalimat terakhir bu Elin ia ucapkan dengan berapi-api.


“Saya ....” Sopir taksi nampak kehabisan kata-kata.


“Dengan membantunya, itu berarti bapak secara tidak langsung mendukung perbuatannya begitu?” Bu Elin mulai memprovokasi.


Sopir taksi menoleh ke arah cucunya yang masih terbaring.


“Tolong berikan ponsel itu pada saya pak. Mungkin saya bisa menemukan bukti-bukti perselingkuhan mereka di sana.” Bu Elin memohon. “Bantuan kecil bapak bisa menyelamatkan seorang anak dari perpisahan orang tuanya.”


Dalam hatinya, sopir taksi tersebut membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh bu Elin. Ia lalu bermantap hati memberikan ponsel yang Alya titipkan kepada bu Elin.


Bu Elin menerima ponsel yang diberikan sopir taksi dengan suka cita. Walaupun hidup dalam kemiskinan, tapi untung saja ia tidak buta teknologi. Setidaknya ia tahu bagaimana cara penggunaan smartphone.


Bu Elin menyalakan ponsel Alya yang mati daya. Ia tercengang melihat layar utama ketika ponsel tersebut menyala. Ia membaca perlahan tulisan yang ada di sana. Hatinya tiba-tiba mencelos. Kemudian ia kembali mematikan kembali dayanya tanpa membuka apa pun di sana.


“Pak, saya berubah pikiran.” Bu Elin menyerahkan kembali ponsel milik Alya kepada sopir taksi, “sebaiknya bapak segera berikan ponsel ini kepada Tedi.”


Sopir taksi menerima kembali ponsel yang baru saja ia berikan dan menyimpannya kembali ke saku kemejanya walaupun ia masih bingung atas tindakan penumpangnya tersebut.


Sesuai perintah bu Elin, sopir taksi tersebut memutar balik kendaraan yang dikendarainya kembali ke rumah yang beberapa saat lalu ia tinggalkan.


“Apa wanita itu menceritakan sesuatu pak?” tanya bu Elin.

__ADS_1


“Ehm ... Tidak. Malah saya yang lebih banyak bercerita. Mbak Alya sepertinya tersentuh mendengar cerita saya dan cucu saya,” ucap sopir taksi seraya menoleh ke arah di mana cucunya tertidur. Tanpa sadar ia menyentuh pipi gembul cucunya, sehingga seketika membuat bayi mungil itu terbangun karena merasa tidurnya terganggu.


“Bapak membawa bayi?” tanya bu Elin seraya mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memastikan ucapannya sendiri.


“Iya bu.” Sopir taksi tersebut kemudian menceritakan kisah hidupnya seperti yang ia ceritakan kepada Alya beberapa saat lalu.


Bu Elin nampak mengangguk-anggukan kepala mendengar cerita sang sopir. Bagaimanapun ia harus mengapresiasinya, karena berkat kemalangan keluarga sopir taksi itu akan menjadi setitik harapan untuk kelanjutan rumah tangga putrinya sendiri.


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di depan pintu gerbang rumah Tedi.


“Sebaiknya cucunya dibawa saja pak, takut menangis,” ucap bu Elin seakan peduli, padahal ia hanya ingin memancing Tedi agar bertanya mengenai bayi tersebut. Setelah itu pastilah sang sopir taksi akan menceritakan kisah hidup putrinya kepada Tedi.


Sopir taksi turun dari mobilnya membawa serta cucunya. Sementara bu Elin menunggu di mobil.


Beberapa kali memencet bel, barulah seseorang membukakan pintu gerbang. Bu Elin tersenyum melihat sopir taksi tersebut sudah bertemu dengan Tedi.


“Dengan pak Tedi?” tanya sopir taksi tersebut.


“Iya. Ada keperluan apa ya?” tanya Tedi, tetapi perhatiannya jatuh pada bayi yang digendong oleh tamunya tersebut.


Sopir taksi tersebut memberikan ponsel Alya kepada Tedi, “penumpang saya meminta saya untuk mengantarkan ini kepada bapak.”


Tedi mengenali ponsel tersebut. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ia segera menerimanya dan meyakinkan diri kalau itu adalah ponsel yang ia belikan untuk Alya.


“Kalau begitu saya permisi pak,” ucap sopir taksi sopan.


“Terima kasih,” jawab Tedi.


Sopir taksi tersebut berbalik untuk kembali ke mobilnya, sementara Tedi masih berdiri di tempat yang sama memandangi ponsel milik Alya di tangannya. Perlahan ia menyalakan ponsel tersebut. Layar utama ponsel tersebut adalah gambar hasil screenshot yang berisi tulisan. Tedi membacanya dalam hati.


AKU PERGI MAS, TOLONG JANGAN MENCARIKU. SEJAK AWAL, HUBUNGAN KITA ADALAH SALAH. TIDAK SEHARUSNYA KITA BERTEMU.


JIKA KAMU MENCINTAIKU, TOLONG JANGAN BIARKAN AKU TERUS MERASA BERSALAH KARENA TELAH MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA TEMANKU SENDIRI. BAGAIMANAPUN KALIAN BERTEMU, ANAK KALIAN TIDAK BERSALAH. ANAK KALIAN BUTUH KALIAN, IBU DAN AYAH KANDUNGNYA.


Tedi memandangi kepergian mobil yang baru saja mengantarkan ponsel Alya kepadanya pergi menjauh. Hatinya begitu sakit. Kata-kata Alya yang baru saja ia baca seakan mengoyak hatinya. Lututnya terasa lemas untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri. Belahan jiwanya telah pergi meninggalkannya. Kini hidupnya terasa benar-benar hampa.


***


Palu sudah diketuk, memastikan berakhirnya sebuah hubungan pernikahan. Sepasang pria dan wanita yang pernah menjalin hubungan suami istri tersebut saling menoleh dan saling memandang selama beberapa detik.


Aku akan memenuhi permintaanmu Al, aku akan menjadi ayah yang baik untuk anakku. Tapi bukan berarti aku harus menjadi suami Siska. Dengan tetap bersamanya, aku hanya akan menyakiti diriku sendiri dan juga menghalangi Siska untuk menemukan cinta sejatinya. Aku harap di mana pun kamu berada, kamu selalu bahagia. Batin Tedi seraya berjalan meninggalkan ruang persidangan.


“Kamu yakin baik-baik saja Sis?” tanya bu Elin kepada putri sulungnya tersebut.


“Iya Bu,” jawab Siska tanpa mengalihkan pandangannya dari mantan suaminya yang masih ia cintai tersebut.


“Jangan bohong! Ibu tahu kamu masih mencintai Tedi.”


Siska menoleh kepada ibu yang telah melahirkannya tersebut, “ibu benar, tapi ini adalah yang terbaik buat aku dan mas Tedi. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mendapatkan cinta mas Tedi, Bu. Aku cukup bersyukur karena mas Tedi menyerahkan hak asuh anak kami kepadaku. Ia juga berjanji akan membiayai kehidupan anak kami dengan layak.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Bagaimana kalau sekarang kita menjenguk Sony?”


Bu Elin mengangguk, menyetujui ajakan Siska. Ia harus berbesar hati mendapati kenyataan yang menimpa kedua anaknya. Si sulung yang tidak pernah dicintai, dan si bungsu yang harus mendekam di penjara seumur hidup.


End.


 


 

__ADS_1


__ADS_2