Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 17 Dia Mau Menculikku


__ADS_3

Aku memandangi bangunan yang berdiri kokoh di depanku saat ini. Berbagai merek mobil berjejer rapi di sana. Walaupun bukan mobil baru, tapi beberapa diantaranya adalah mobil keluaran terbaru dan terawat.


Aku belum turun dari mobilku. Pikiranku masih teringat akan perbincanganku dengan Andi tadi malam.


“Al, aku sudah dapat jadwal latihan basket. Dua kali dalam seminggu. Rabu dan sabtu. Kalau ada turnamen, bisa setiap hari,” ucap Andi tadi malam.


“Oke.”


“Terus setiap dua minggu sekali aku harus mengantarkan mas Lukman ke luar kota.”


“Lagi? Mas lukman sering banget ke luar kota sih Ndi. Ngurusin bisnis apa?”


“Ehm itu ... Aku juga gak tahu Al.”


“Bohong! Gak mungkin kamu gak tahu. Memangnya mas Lukman gak bisa nyetir sendiri apa? Atau nyari sopir kek. Gak istri, gak suami, sama-sama ngerepotin!” Gerutuku kesal.


“Kamu jangan seperti itu Al, mereka itu saudara aku, saudara kamu juga.”


“Ya ... Ya ... Aku tahu. Sekarang kamu jawab jujur, sebenarnya kamu nganterin mas Lukman kemana dan urusan apa?”


“Tapi kamu janji akan merahasiakan ini?”


Aku berbalik menatap Andi, sesuatu hal yang Andi sebut rahasia pasti sesuatu yang menarik.


“Mas Lukman terkena gagal ginjal Al, aku mengantarnya ke rumah sakit di Jakarta untuk melakukan proses cuci darah.”


“Kamu serius Ndi? Sejak kapan?”


“Aku juga tidak tahu pastinya sejak kapan.”


“Apa ibu dan mbak Tati tahu?”


Andi menggeleng, “engga Al, makanya aku minta kamu merahasiakannya. Biar mas Lukman sendiri yang memberitahukannya nanti.”


“Jadi itu yang jadi alasan mengapa mas Lukman memilih untuk melakukan proses cuci darah di Jakarta?”


Andi kembali mengangguk.


Seseorang mengetuk kaca mobilku. Dan hal itu sukses membuatku membuyarkan segala lamunan.


Aku menurunkan kaca mobilku, “kenapa mas?” tanyaku.


“Maaf mbak, mobil mbak menghalangi jalan,” ucap seorang pria yang mengenakan seragam dengan logo showroom mobil milik mas Lukman.


“Ah maaf, sebenarnya saya kesini mau bertemu mbak Tati.”


“Maaf, mbak siapa dan dari mana ya?”


“Saya Alya, adik iparnya mbak Tati.”


“Oh mbak ini istrinya mas Andi yah? Ibu ada di atas, mbak bisa parkir di sebelah sana,” ucap pria tersebut seraya menunjukkan lokasi tempat parkir.


Aku segera naik melalui tangga yang terletak di bagian dalam showroom usai memarkirkan mobilku di tempat yang tadi di tunjukkan pegawai mas Lukman. Rumah mbak Tati dan mas Lukman terletak di atas Showroom mobil ini. Ada satu pintu diujung tangga, aku yakin kalau pintu ini adalah pintu masuk ke kediaman mbak Tati dan mas Lukman.


Pemandangan yang ku lihat pertama kali adalah mbak Tati yang sedang menyuapi Azril sambil menyusui baby Vano. Mbak Tati nampak kewalahan karena Azril tidak mau duduk.  Dia nampak berlari-lari sambil membawa mainan pesawat. Tidak ku lihat mas Lukman di sana.


“Mbak?” sapaku.


Mbak Tati menoleh, “kamu di sini Al? Masuk!”

__ADS_1


Aku melangkah lebih dalam lagi. Rumah ini sungguh berantakan. Mainan berceceran di mana-mana. Bekas makanan juga berserakan.


“Mbak lagi sibuk?”


“Ya seperti ini lah Al.”


Mbak Tati sesekali memanggil anak sulungnya yang masih asyik berlari kesana kemari, menyuruh untuk segera menghabiskan makan siangnya karena akan segera menidurkan baby Vano.


“Ehm ... Mbak, soal waktu itu, aku minta maaf ya.”


“Soal yang mana yah Al?”


“Kejadian waktu di rumah mbak Dini.”


“Oh itu ... Udah jangan di pikirin, mbak juga udah lupain kejadian itu kok. Mbak juga minta maaf kalau mbak terlalu kasar sama kamu.”


“Oh iya, mas Lukman kemana mbak?”


“Mas Lukman lagi beli makan.”


“Memangnya mbak gak masak?”


“Mbak udah gak pernah masak semenjak Azril lahir Al, gak sempet. Untungnya mas Lukman ngerti. Dia memilih untuk membeli makanan di luar dari pada memaksakan mbak masak.”


Apa itu penyebab mas Lukman terkena gagal ginjal? Karena terlalu banyak makan junk food? Batinku.


“Mbak gak kepikiran sewa jasa asisten rumah tangga aja?”


“Mbak sempet kepikiran sih, tapi mas Lukmannya gak setuju.”


“Kenapa?”


“Dia gak percaya ada orang asing berkeliaran di rumah,” bisiknya.


“Iya sih. Apalagi semenjak mbak Dini sakit, ibu lebih fokus ngurusin mbak Dini. Dia udah jarang banget ke sini Al. Padahal kan ada mas Ridwan yang ngurus mbak Dini. Mas Ridwan itu dari dulu emang telaten ngurus istri, beda banget sama mas Lukman.”


“Emang iya mbak?”


“Iya Al. Mas Ridwan itu yah kalau mbak Dini sakit suka di gendong, di mandiin, di suapin. Mas Lukman mah boro-boro.”


Ternyata di mata keluarga, mas Ridwan adalah suami yang sempurna. Rapat sekali pria itu menyembunyikan bangkai.


“Tidak semua hal yang kita lihat itu adalah kenyataannya mbak.”


“Maksudnya?”


“Ah lupakan.”


Mas Lukman datang ketika kami sedang berbincang.


“Kamu di sini Al? Tahu kamu di sini mas beli makanannya tambah satu porsi lagi.”


“Ga usah mas, tadi Aku sudah makan di kantin kantor.”


“Kamu kok sudah pulang jam segini?”


“Iya mas, nanti malam aku mau ke luar kota, jadi sekarang pulang siang, mau nyiapin segala sesuatunya.”


“Kemana?”

__ADS_1


“Surabaya.”


“Perusahaan kamu buka cabang di sana?”


“Iya mas.”


“Maaf yah Al, mas tinggal makan dulu.”


“Iya silakan mas, aku juga udah mau pulang kok. Tadi niatnya cuma mau mampir.”


“Oh ya udah kalo gitu.”


“Ehm ... Mas, sebaiknya kurang kurangi makan junk food, gak baik buat kesehatan.”


***


“Kamu yakin mau pergi Al?” tanya Andi seraya membantuku memasukkan pakaianku ke dalam koper.


“Iya Ndi, ini tugas terakhir aku di perusahaan.”


“Permohonan resign kamu sudah di acc?”


Aku mengangguk, “sudah.”


“Terima kasih yah Al.”


“Iya. Aku berangkat sekarang ya?”


“Mau aku anterin gak?”


“Gak usah, aku udah pesan taksi online.”


Sebuah mobil Daihatsu Xenia berwarna silver tiba di pelataran rumah ibu mertuaku. Sang pengendara turun dari mobil dan menghampiriku, “ibu Alya?” tanyanya.


“Iya.”


Sang sopir masuk kembali ke dalam mobilnya, dan duduk di belakang kemudi. Sementara aku duduk di belakang. Kami berangkat setelah sebelumnya berpamitan pada Andi, dan Andi membantuku memasukkan koperku ke dalam bagasi.


“Ke bandara ya bu?” tanya sang sopir memastikan pesananku.


“Iya pak,” jawabku.


Sang sopir pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah mobil Audi Q3 berwarna putih menghadang kami. Mobil yang kami tumpangi pun terpaksa berhenti.


“Aduh bu, sepertinya kita akan di rampok,” ucap sang sopir.


Aku tertawa mendengar nada ketakutannya, “dia mau menculik saya pak.”


“Waduh? Terus gimana dong bu? Apa kita lapor polisi saja?”


“Aduh bapak, saya hanya becanda pak. Saya turun di sini ya pak. Bapak lanjutkan aja perjalanan sesuai titik. Nanti saya kasih bintang lima,” ucapku, “oh iya, ini ongkosnya,” lanjutku.


Sang sopir menerima uang yang aku sodorkan, “aduh bu, ini kebanyakan.”


“Kembaliannya buat bapak aja.”


Aku menarik koper yang berisi pakaianku menuju ke mobil yang masih terparkir di depanku. Begitu aku mendekat, si pengendara keluar dari dalam mobil dan membantuku membawa koperku.

__ADS_1


“Biar aku bantu Al.”


“Makasih mas.”


__ADS_2