Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 5 Masalah Keluarga


__ADS_3

Baiklah, aku memilih berdamai dengan keadaan. Memangnya Andi pikir aku tidak bisa bertahan hidup tanpanya. Aku berjalan ke dapur, membuka kulkas, ternyata banyak bahan makanan dan beberapa buah-buahan di sana. Karena langsung emosi, aku tidak berfikir untuk mencari makanan di sana. Ku ambil satu buah apel dan satu kotak susu, lalu membawanya ke ruang keluarga untuk menonton televisi.


Sebuah pesan masuk ke ponselku dari kontak bernama Mas Tedi.


[Hai Al]


Aku mengernyit heran. Kenapa Tedi tiba-tiba mengirimiku pesan. Ah, ini pasti Siska.


[Hai Sis, kenapa?]


[Lagi ngapain?] Apa sih Siska ini, basa-basi banget.


[Lagi makan, kenapa?]


[Makan apa?] Ini sih fix, Siska lagi gabut banget. Sampe makanan orang aja ditanyain.


[Makan apel]


[Makan kok cuma apel. Lagi diet ya?]


Kali ini pesannya hanya kubaca, males menjawabnya.


[Kok dibaca aja? Ini tuh bukan koran Al]


Kenapa sih hari ini orang-orang seneng banget bikin aku kesel.


[Enggak, ibu mertua aku lagi nginep di rumahnya kakak ipar aku, jadi gak ada yang masak.] Puas?


[Memangnya di rumah kamu gak ada asisten rumah tangga?]


[G.]


[Singkat banget sih balesnya, kayak males gitu] tak ku balas.


[Al?]


[Al?]


[Halo ... Ada orang di sana?] Masih tak ku balas.


[Suami kamu beruntung yah dapetin kamu. Udah cantik, pinter, supel, friendly, dan seksi] Kalimat pujian seperti ini membuatku tergerak kembali untuk membalas pesan Siska.


[Suami kamu juga beruntung dapetin kamu, kamu orangnya kan keibuan. Pasti bisa masak dan mengurus rumah dengan baik. Pasti ibu mertua kamu bangga punya menantu seperti kamu.]


[Memasak dan mengurus rumah itu tidak penting Al, itu bisa dikerjakan sama asisten rumah tangga. Yang penting itu bisa menyenangkan suami, dan tidak malu-maluin kalau dibawa kemana-mana. Bukannya hanya bikin sepet mata suami.]


[Hahaha] balasku disertai emote ngakak.


[Coba aja kita bertemu lebih awal]


[Maksudnya?]


[Kalau kita bertemu lebih awal, mungkin kamu yang duduk di sampingku sebagai pengantin?]


[Kamu l***i Sis?]


[Kenapa kamu berpikir kalau aku adalah Siska?]

__ADS_1


[Jadi ini bukan Siska?]


[Bukan]


[Ini mas Tedi?]


[Iya]


[Maaf mas, kirain Siska.]


Sebuah panggilan masuk dari nomor Tedi.


“Halo,” sapaku begitu panggilan terhubung.


“Hai,” ucap Tedi.


“Ada apa mas?”


“Suami kamu ada di rumah?”


“Gak ada, kenapa?”


“Boleh video call?”


“Boleh.”


Panggilanpun berganti menjadi video call.


Tiga jam lamanya aku dan Tedi melakukan panggilan video call, sampai batere ponselku low. Tidak ada obrolan serius yang kami bicarakan. Hanya obrolan ringan mengenai masa lalu. Lebih tepatnya aku yang bercerita masa-masa sekolah dan kuliah dulu.


Dari Tedi, aku tahu kalau dia menikah dengan Siska bukan karena cinta, tapi karena paksaan ibunya Tedi, bu Ningrum. Siska hanya lulusan SMP yang jadi pelayan di rumah makan milik ibunya Tedi. Tedi bilang, karena masakan Siska enak, bu Ningrum meminta Tedi untuk menikah dengan Siska agar resep masakan Siska tidak jatuh ke pihak lain. Bu Ningrum juga melarang Siska mempunyai ponsel agar Siska terisolasi dari dunia luar. Benar-benar tidak masuk akal.


“Jadi suami kamu gak kerja Al?”


“Engga.”


“Laki-laki yang tidak bisa membiayai kehidupan istrinya itu, laki-laki gak bertanggung jawab, gak punya harga diri, Al. Ganteng doang, ngasih makan istrinya aja gak bisa. Harusnya dia memikirkan matang-matang sebelum membawa anak gadis orang dari rumah orang tuanya. Dia membawa kamu hanya untuk jadi pelampiasan s*x. Selebihnya ya jadi pembantu.”


Ingin membantah, tapi rasanya yang dikatakan Tedi ada benarnya.


“Kalau kamu butuh uang, kamu jangan sungkan untuk menghubungi aku. Atau kalau engga, kamu bisa kerja di perusahaan aku. Nanti aku carikan posisi buat kamu.”


Kerja? Ya benar. Daripada menjadi pembantu di rumah ini, lebih baik aku memanfaatkan ijazah yang ku punya untuk menghasilkan uang. Bukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi lebih kepada kebutuhanku pribadi. Lagi pula aku bosan hanya duduk diam di rumah saja, lebih baik aku mencari kegiatan lain yang lebih menyenangkan.


“Boleh deh mas, kemana aku bisa mengirimkan CV nya?”


“Nanti aku kirim alamat emailnya.”


“Makasih ya mas.”


“Sama-sama.”


Hari belum terlalu larut, aku juga belum mengantuk. Aku memutuskan untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan aku kirim untuk melamar kerja. Besok pagi akan aku scan ke warnet, karena di rumah Andi tidak ada scanner.


Tedi belum mengirimkan alamat emailnya, tapi ponselku sudah sangat low. Aku segera mencolokkannya ke charger agar tidak mati. Ku lihat ponsel Andi tergeletak di meja televisi, masih terhubung dengan kabel charger, dalam mode silent. Ada setidaknya 53 panggilan di sana, dan itu dari nomor ponselku.


“Pantas saja aku hubungi gak diangkat,” gumamku.

__ADS_1


Aku mencabut kabel charger dari ponsel Andi karena baterai sudah penuh. Bagaimana tidak penuh, ponsel Andi sudah di charge lebih dari 12 jam.


Sebuah pesan masuk ke ponselku, dari Tedi, berisi alamat email sebuah perusahaan. Aku membalasnya dengan emote jempol, lalu mematikan daya ponselku.


Setelah selesai menyiapkan berkas-berkas lamaran, aku mematikan semua lampu, mengunci pintu, lalu tidur.


Pov Andi


Aku berlari menyusul Alam begitu Alya sudah masuk ke kamar. Aku tidak tega membayangkan wajah kecewa Alam ketika Alya menyuruhnya untuk memesan taksi online. Alya sungguh egois.


Dan di sinilah aku sekarang, menemani tiga anak laki-laki beda usia yang tengah khawatir tentang keadaan ibu mereka.


“Papa kamu belum bisa dihubungi Lam?”


Alam menggeleng, “belum Om. Tapi kalau Om mau pulang, pulang aja. Ajak sekalian Ryan dan Fauzi. Biar Alam yang jagain mama.”


“Aku gak mau pulang, aku mau di sini nungguin mama,” sahut Ryan.


“Uzi juga,” sahut Fauzi.


Aku melihat jam tangan yang bertengger di tangan kiriku, sudah pukul 10 malam. Ada kekhawatiran ketika mengingat Alya, apakah dia sudah makan? Jangan-jangan saat ini dia sedang menangis di pojok kamar. Tapi melihat ketiga anak ini, aku juga tidak tega kalau harus meninggalkan mereka.


“Om tunggu sampai papa kalian datang ya,” putusku.


Tepat tengah malam seorang pria dengan penampilan acak-acak setengah berlari ke arah kami. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah setiap malam mas Ridwan selalu pulang selarut ini?


“Bagaimana keadaan mbakmu Ndi?”


Aroma aneh tercium dari mulut mas Ridwan. Dan aku sangat mengenalnya, ini bau alkohol. Walaupun aku tidak pernah mengkonsumsinya, tapi karena teman-temanku mengkonsumsi minuman tersebut, aku jadi tahu bagaimana rupa dan baunya.


“Dokter bilang mbak Dini terkena stroke, karena darah tingginya.”


Mas Ridwan memijat-mijat kepalanya. Entah karena khawatir pada mbak Dini, atau karena pusing setelah mengkonsumsi minuman keras.


“Yaudah, kamu pulang saja. Bawa anak-anak. Biar mas yang jagain mbakmu. Kamu kesini naik mobil Dini kan?”


Aku mengangguk, “iya mas.”


“Biar Alam aja yang jagain mama, keadaan papa tidak memungkinkan untuk menjaga mama,” sahut Alam.


“Apa maksud kamu?” tanya mas Ridwan.


“Memangnya papa tidak bercermin sebelum kesini? Papa tidak lihat bagaimana keadaan papa sekarang?” Nada bicara Alam meninggi.


“Alam! Jangan kurang ajar kamu!”


“Mama masuk rumah sakit gara-gara papa!”


Plak .... Satu tamparan keras mendarat di pipi Alam.


“Sudah-sudah mas, jangan ribut, ini rumah sakit.” Aku mencoba melerai pertengkaran kedua orang laki-laki berbeda generasi di depanku itu.


Akhirnya Alam mau ikut pulang bersamaku. Walaupun aku masih penasaran dengan ucapan Alam ketika di rumah sakit tadi, namun aku tahan diri untuk tidak bertanya. Aku hanya bisa menduga-duga, ada masalah apa di keluarga mbak Dini sehingga membuatnya sampai masuk rumah sakit.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2