Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 11 Tidak Seperti Perjalanan Bisnis


__ADS_3

Aku pergi menuju bandara ketika Andi masih terlelap. Sebenarnya ada perasaan bersalah pada Andi karena aku harus pergi seperti ini. Tapi ini adalah sebuah konsekuensi yang harus aku terima. Aku harap nanti Andi akan mengerti.


Dengan langkah berat, aku menyeret koperku yang berisi beberapa pakaian, skin care, dan kebutuhanku yang lainnya. Aku berhenti di tepi jalan utama untuk memesan taksi online.


Sekitar pukul 5 pagi aku sudah sampai di bandara. Segera ku hubungi Tedi mengabarkan kalau aku sudah sampai. Tak berselang lama, Tedi pun sampai di bandara. Setelah check in dan mendapatkan boarding pass masing-masing, kami menuju ke ruang tunggu setelah sebelumnya melalui pemeriksaan bagasi. Jadwal keberangkatan kami masih sekitar setengah jam lagi.


“Kamu kenapa Al?” tanya Tedi.


Aku menggeleng, “tidak apa-apa mas.”


“Kamu sakit?” tanya Tedi seraya menempelkan punggung tangannya di keningku.


Aku terkejut atas gerakan Tedi yang tiba-tiba, dan langsung memundurkan kepala ke belakang. Sementara Tedi yang merasakan ketidak nyamananku segera meminta maaf.


“Ti-tidak mas. Aku hanya gugup. Ini kali pertamanya aku naik pesawat.”


“Oh ya?”


Aku mengangguk, “iya mas.”


Tedi tersenyum, lalu mencubit pelan pipiku, “kamu lucu banget sih Al.”


“Eh.”


“Kamu itu cerdas tapi lucu.”


Blush ....


Perasaan apa ini? Tidak mungkin kan aku sampai tersipu begini hanya karena sentuhan Tedi?


“Sadar Alya, kamu itu sudah menikah, dan orang di hadapan kamu ini adalah suami dari teman kamu sendiri.” Hatiku entah sedang bicara dengan siapa.


Tedi kemudian membawa tanganku ke dalam genggamannya, “kamu tidak usah gugup begitu, ada aku di sini. Kamu tenang aja.”


Aku tersenyum. Berbeda dengan tadi, kali ini aku tidak ingin melepaskan diri dari sentuhan Tedi. Rasanya sungguh nyaman.


Kami berangkat tepat pukul 6 pagi. Perjalanan dari kota kami berasal ke Surabaya hanya 1 jam 45 menit. Aku menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur, menggantikan waktu tidurku tadi malam yang sangat pendek.


Sebelum ke lokasi, kami terlebih dahulu menuju ke hotel tempat kami akan menginap nantinya. Setelah itu barulah kami sarapan dan melanjutkan tujuan kami pergi ke sini.


Perusahaan Tedi sedang membangun pabrik baru di sini. Nantinya, pabrik ini bisa merangkul sekitar 1000 pekerja. Progres pembangunan sendiri masih berjalan 70%. Jika melihat jadwal, seharusnya sekitar 3 bulan lagi pabrik ini sudah harus mulai beroperasi.


“Mas, kenapa sih mas harus membuka pabrik baru lagi? Terus kenapa harus di Surabaya?”


“Tentu saja untuk memenuhi permintaan pasar Al. Kedepannya, permintaan dari wilayah Indonesia tengah dan timur akan diproses di sini Al. Terus kamu bertanya kenapa harus Surabaya?” Tedi tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, “orang jawa itu sudah terkenal dengan ke uletannya Al, tentu saja ini akan sangat penting bagi perusahaan.”


“Mas orang jawa juga?”


“Menurut kamu?”


“Sepertinya iya, karena mas juga ulet, dan pandai mengembangkan bisnis.”


“Aku anggap itu pujian ya ....”


Selanjutnya Tedi nampak berbincang dengan salah satu pekerja di sana. Sepertinya dia adalah mandor di proyek ini.

__ADS_1


“Ayo Al,” ajak Tedi.


“Kemana?”


“Kita makan siang, lalu setelah itu terserah kamu mau kemana.”


“Kok terserah aku? Kita kan di sini karena urusan kantor mas.”


“Urusan kantor sudah beres.”


“Udah? Gitu aja?”


“Iya.”


“Mas bilang kan tiga hari.”


“Cukup berdebatnya, kita mau makan apa?”


“Ehm ... Aku mau nyobain pecel bebek,” putusku seraya tersenyum lebar.


“Oke.”


Kami menumpangi mobil yang Tedi sewa selama kami berada di Surabaya menuju ke salah satu restoran yang menjadikan pecel bebek sebagai menu utamanya.


Tedi memesan satu porsi pecel bebek dan satu porsi pecel ayam serta 2 porsi es teh sebagai minumannya.


“Mas gak pesen pecel bebek juga?


“Aku gak suka bebek Al.”


“Kan kamu yang minta.”


“Harusnya mas tadi bilang gak suka bebek, kita kan bisa cari restoran lain. Aku kan jadi gak enak,” ucapku sedikit cemberut.


“Jangan cemberut gitu Al, jantung aku jadi deg-deg an.”


“Hah? Maksudnya?” Aku pura-pura bodoh, padahal bisa menebak apa maksud dari perkataan Tedi.


Aaaarrggghhh ... Aku merutuki diri sendiri karena hatiku sepertinya sulit sekali diajak kompromi. Sudah ku ingatkan pada hatiku sendiri kalau aku sudah menikah dan Tedi adalah suami dari temanku, tapi tetap saja aku tersipu kalau Tedi menggodaku.


“Ehm ... Mas, apa Siska tahu kalau kita ke Surabaya?”


“Dia tidak perlu tahu detail urusan pekerjaanku Al.”


“Kenapa? Siska kan istrinya mas.”


“Iya memang, terus kenapa? Kamu mau jadi istriku juga?”


“Ish, apaan sih. Aku kan udah nikah mas.”


“Berarti kalau belum nikah mau?”


“Ya engga lah. Aku kan cinta sama suami aku,” ucapku bangga.


“Kamu yakin?”

__ADS_1


“Yakin lah. Aku sama Andi itu udah pacaran dari kelas dua SMA.”


“Lamanya hubungan tidak membuktikan besarnya cinta Al. Bisa saja perasaan itu hanya bentuk kenyamanan karena kebiasaan.”


Aku diam. Mencoba mencerna kata-kata Tedi. Mengapa di dalam sudut hati kecilku membenarkan ucapan Tedi. Mengapa ucapan Tedi seolah membuatku ragu akan perasaanku sendiri.


“Kok diam? Aku tahu dalam hati kecil kamu membenarkan apa yang aku ucapkan 'kan?”


Makanan yang kami pesan datang di saat yang tepat. Menyelamatkanku dari pertanyaan Tedi yang tidak mampu aku jawab. Pelayan restoran menghidangkan pesanan kami di atas meja. Aroma khas bebek menusuk indra penciumanku. Dilengkapi dengan sambal dan lalapan yang menggugah selera. Kami pun menikmati makanan kami masing-masing.


“Sekarang kita kemana Al?” tanya Tedi usai kami menyelesaikan makan siang kami.


“Aku mau liat jembatan suramadu kalau boleh.”


“Tentu saja boleh.”


Kami melanjutkan perjalanan menuju ke jembatan yang menghubungkan pulau jawa dan madura tersebut. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di indonesia sementara ini. Banyak pasangan muda-mudi berswafoto di sini.


“Kamu gak ikutan selfie kayak mereka Al?” tanya Tedi seraya menunjuk ke beberapa anak muda yang sedang selfie di sekitar kami.


“Emangnya boleh?”


“Sebenarnya sih dilarang.”


“Lalu mereka?” Aku menunjuk ke arah pasangan muda-mudi yang masih asyik berswafoto dengan pasangan mereka masing-masing.


“Mereka itu penganut paham peraturan dibuat untuk dilanggar,” bisik Tedi. Kami pun tertawa bersama.


Acara di jembatan suramadu diakhiri dengan menikmati sunset diatas perahu nelayan yang sudah disulap menjadi perahu wisata. Kami pun kembali ke hotel tempat menginap kami selama di Surabaya.


Sebelum kembali ke kamar kami masing-masing, Tedi mengajakku untuk dinner di rooftop hotel tempat kami menginap. Makan malam sekaligus menikmati indahnya pemandangan kota Surabaya dari atas.


“Mas?”


“Ya?


“Terima kasih untuk hari ini.”


“Seharusnya aku yang terima kasih sama kamu. Berkat kamu, perusahaanku mendapatkan untung yang banyak.”


“Kok bisa? Memangnya aku melakukan apa?” tanyaku bingung.


Tedi menggenggam tanganku, “dengan terus berada di sampingku, kamu membuatku bersemangat. Kamu adalah mood boosterku Al. Pekerjaan jadi terasa mudah dan menyenangkan. Karena itu perusahaan berjalan dengan baik, dan akhirnya bisa mendapatkan untung yang banyak. Terima kasih Al.”


Aku tersenyum.


Kami kembali ke kamar kami masing-masing tepat ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam. Perjalanan ini tidak seperti perjalanan bisnis, tetapi lebih seperti perjalanan bulan madu. Ah, aku bahkan tidak merasakan bulan madu setelah menikah dengan Andi.


Andi? Aku jadi teringat padanya. Hari ini aku belum menghubunginya sama sekali. Dia pasti khawatir. Aku mengambil ponselku di dalam tas. Ternyata masih dalam mode mati daya. Segera ku nyalakan ponselku, karena tidak ingin Andi khawatir lebih lama. Namun betapa kecewanya aku, karena tidak ada satu panggilan maupun pesan dari Andi.


“Baiklah, kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan tanpa aku Ndi,” gumamku.


Aku menyimpan ponsel di atas nakas, kemudian memilih untuk tidur.


 

__ADS_1


__ADS_2