Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 20 Siapa Pelakunya?


__ADS_3

“Kamu sudah pulang Al?” seseorang menyapaku dari arah belakang.


Aku menoleh ke arah sumber suara. Andi berjalan menghampiriku. Penampilannya sangat kusut. Ia tersenyum ke arahku.


“Kok diem di teras? Ayo masuk.”


Andi membuka handle pintu. Dan tanpa sengaja aku melihat tangannya. Ada noda bercak merah di tangannya. Aku melihat takut ke arahnya. Mungkinkah kalau Andi adalah pelakunya. Noda merah di tangan Andi sama dengan warna cat di pesan ancaman yang tadi aku terima.


“Ehm, Ndi tangan kamu kenapa?” Tanyaku gugup.


Andi melihat tangannya sendiri, “kenapa? Maksud kamu ini?” Andi menunjuk ke arah noda merah yang menjadi pusat perhatianku. “Ini hanya cat Al, tenang saja, aku tidak apa-apa kok.”


“Cat?” tanyaku semakin gugup.


“Iya. Tadi aku membantu mbak Tati ngecat rumahnya.”


“Oh ....”


Aku memandangi punggung Andi yang berjalan masuk ke dalam rumah. Ada perasaan takut menyelimuti. Jika Andi adalah penulis pesan ancaman itu, berarti ia sudah tahu tentang hubungannya dengan Tedi. Tapi mengapa ia bersikap biasa saja? Atau itu hanya akting?


Dan kecurigaanku bertambah karena Andi tidak menanyakan kemana barang-barangku. Benar, jika Andi pelakunya, sudah pasti dia tahu kalau barang-barangku sudah terbakar bersama dengan meledaknya mobil Tedi.


“Kok malah melamun Al? Ayo masuk.”


Dengan ragu, aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah yang entah mengapa terasa seperti rumah hantu, horor.


“Ibu kemana Ndi?”


“Ibu? Mungkin di rumah mbak Dini.”


Ada perasaan takut membayangkan aku hanya berdua saja dengan Andi di rumah.


“Aku mau nengok dulu mbak Dini ya Ndi.” Aku langsung berlari menuju ke rumah mbak Dini tanpa menunggu persetujuan dari Andi. Tujuanku sudah jelas, menghindari berdua saja dengan Andi di rumah.


Aku berdiri mematung di depan gerbang rumah mbak Dini. Tidak tahu maksud dan tujuan datang ke sini. Tiba-tiba seseorang dari arah belakang menepuk pundakku. Membuatku terlonjak kaget.


“Tante, tante kenapa diam di sini? Masuk aja tan.” Rupanya itu adalah Alam.


“Eh, iya Lam, ini tante baru saja mau masuk.”


Alam membukakan pintu gerbang untuk kami. Ia mendorong sepeda motor yang tadi ia kenakan demi untuk membersamaiku yang berjalan kaki.


“Pulang sekolah Lam?”


“Iya tante.”


“Kamu sekarang kelas berapa?”

__ADS_1


“Kelas sebelas tante, tante kan udah tahu, masa lupa.”


Ah iya, karena kegugupanku, aku jadi tidak tahu apa yang aku bicarakan.


“Tante ....” Alam berhenti dan mengamati sekitar, ia kemudian berbicara pelan, “soal yang waktu itu gimana?”


“Yang mana?” otakku benar-benar buntu, tidak bisa dipakai untuk berpikir.


“Waktu itu kan Alam minta bantuan tante untuk menghentikan kegilaan papa, tante sudah mendapat petunjuk?”


Ah iya, aku ingat sekarang, “ehm ... Belum Lam, tapi sepertinya papa kamu bersih.”


Bersih dalam artian tidak mempunyai selingkuhan. Aku yakin Alam mengerti. Aku tidak mungkin mengatakan pernah melihat papanya bercumbu dengan seorang gadis di restoran. Aku tidak mungkin membocorkan rahasia mas Ridwan sementara mas Ridwan menyimpan rapat rahasiaku.


Pikiranku sedikit terbuka. Sampai sejauh ini, hanya mas Ridwan yang mengetahui hubunganku dengan Tedi. Mungkin kah mas Ridwan yang memberitahu Andi tentang hubungan gelapku sehingga Andi marah dan berencana membunuhku. Atau bahkan dia sendiri yang menulis surat ancaman itu?Bagaimana pun aku harus menyelidikinya.


“Tante? Tante kok melamun?” Pertanyaan Alam membuyarkan lamunanku.


“Eh kenapa Lam?”


“Tante yakin?”


“Yakin apa?”


“Yakin kalau papa tidak mempunyai selingkuhan di luar sana?”


Alam tersenyum, “makasih yah tan.”


“Jangan sungkan, kita kan teman.” Aku membalas senyumannya. “Ya udah tante masuk dulu ya, mau liat keadaan mama kamu.”


“Iya tante.”


Dari luar, sayup-sayup ku dengar orang yang tengah berbincang.


“Kamu tahu dari mana Wan?” itu suara ibu.


“Aku melihatnya sendiri bu,” sahut mas Ridwan.


Karena penasaran, aku masuk ke rumah menghampiri kedua menantu dan mertua yang tengah asyik berbincang.


“Bu, mas,” sapaku seraya menganggukkan kepala.


“Kamu sudah pulang Al?” tanya ibu, “sini duduk,” lanjutnya seraya menepuk sofa di sampingnya.


Aku mendudukkan diri di samping ibu mertuaku.


“Kapan datang?” tanya ibu mertuaku.

__ADS_1


“Baru saja bu. Ibu sama mas Ridwan lagi ngobrolin apa? Kayak seru.”


“Masmu barusan ngobrolin pengeboman di apartemen.”


Deg.


“Oh ya?” tanyaku gugup.


“Masa kamu gak tahu Al, harusnya dari bandara kesini pasti lewat lokasi itu,” timpal mas Ridwan.


“Aku gak liat mas, tadi di perjalanan aku tidur, capek,” kilahku. “Memangnya kejadiannya jam berapa?”


“Tadi pagi lah, sekitar jam delapan atau sembilanan,” jawab mas Ridwan.


“Mas abis ngapain pagi-pagi kesana?”


“Biasa lah, ada keperluan.”


Mas Ridwan ada di lokasi saat kejadian? Mungkinkah mas Ridwan pelakunya?


“Ledakannya terjadi di lantai berapa mas?” tanyaku, menguji sejauh apa mas Ridwan tahu.


“Bukan apartemennya Al, tapi mobil yang terparkir di depan apartemen.”


“Mobil? Mobil siapa? Apakah pelakunya adalah seorang *******?”


Ayo jawab mas, aku ingin tahu sampai mana kamu tahu kejadiannya.


“Katanya mobil salah satu pengusaha muda yang menyewa salah satu unit di sana. Kalau untuk pelakunya, mas juga tidak tahu Al. Mungkin rekan bisnisnya atau ... Mantan pacarnya yang sakit hati karena batal dinikahi, hahahaha ....” mas Ridwan terbahak dengan lelucon yang dia buat sendiri.


“Hus ... Kamu ini Wan, orang kena musibah kok kamu jadikan bahan candaan.” Omelan ibu berhasil membuat tawa mas Ridwan berhenti.


“Ya kan bukan rahasia lagi bu, kalau pengusaha muda itu biasanya suka main-main di luaran sana. Pacarnya di tiap sudut kota. Siapa tahu diantaranya ada yang sakit hati, trus berniat membunuhnya. Iya kan Al?” Seringai jahat terbit dari bibir mas Ridwan.


“Yang kayak gitu bukan cuma pengusaha muda mas, pengusaha tua juga.” Skak mat! Mas Ridwan langsung membisu.


“Sudah ... Sudah ... Kalian jangan saling beradu argumen, biar pihak kepolisian saja nanti yang menyelidikinya.” Seperti biasa, ibu selalu bertindak sebagai penengah. “Oh iya Al, Andi sudah pulang?”


“Sudah bu, tadi katanya mau mandi.” Aku berpikir mungkin sebaiknya menanyakan kebenaran ucapan Andi kepada ibu, “tadi Andi bilang habis bantuin ngecat rumah mbak Tati ya bu?”


“Oh ya? Ibu juga gak tahu Al, ibu belum bertemu Andi hari ini.”


Deg


Jangan-jangan benar, kalau Andi adalah pelaku pengeboman itu?


“Alya pamit dulu Bu.” Aku beranjak bangun mengabaikan tatapan heran dari ibu mertuaku. Tujuanku saat ini adalah satu, rumah orang tuaku. Entah apa yang akan aku lakukan di sana. Yang jelas, di sana satu-satunya tempat yang menurutku aman saat ini.

__ADS_1


 


__ADS_2