Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 22 Cara Terbaik Mengalahkan Musuh


__ADS_3

Aku terbangun di tempat asing. Bau obat-obatan sangat menyengat di sini. Aku mengamati sekitar seraya memijat pelipisku yang terasa sakit.


Aku di mana? Batinku.


Pikiranku kembali teringat pada saat itu. Aku berlari karena di kejar-kejar seorang penjahat. Lalu aku terjatuh dan tidak sadarkan diri.


“Kamu sudah bangun?” Pertanyaan seseorang mengejutkanku. Aku bahkan tidak menyadari kalau aku tidak sendiri di sana.


“Mas Tedi?” Aku senang karena orang yang pertama kali aku lihat adalah dia.


Aku hendak bangun, namun Tedi menghentikan gerakanku, “jangan banyak bergerak dulu, biar aku panggilkan dokter.”


Tedi meninggalkanku sendirian di ruangan ini, yang ku yakini adalah salah satu ruangan di rumah sakit. Aku duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Tak lama, ia kembali bersama seorang pria berjas putih.


“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Tedi.


“Istri anda baik-baik saja, tidak ada luka serius. Tapi saat ini kondisinya masih sangat lemah. Ia butuh istirahat.”


“Terima kasih dokter.” Dokter tersebut kemudian meninggalkan kami berdua.


“Kenapa aku ada di sini mas?” tanyaku pada Tedi.


“Apa yang kamu ingat?” Tedi menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.


“Aku mengendarai mobil, terus bensinnya habis. Lalu seseorang mengetuk kaca pintu mobilku dan ... Dan aku lari, lalu terjatuh, kemudian ... Aku tidak ingat apa-apa lagi.”


“Lain kali jangan berkendara ke tempat sepi seperti itu, bahaya Al. Untung saja kamu tidak apa-apa.” Tedi mengusap pelan pipiku dengan ibu jarinya. “Memangnya kamu mau kemana? Hm?”


Aku menggeleng, “aku juga tidak tahu mas.”


Tedi mengembuskan napas berat, “aku menyewa bodyguard untuk menjagamu. Tapi ternyata kamu tidak ada di rumah. Lalu aku menyuruh orang untuk mencarimu, dan akhirnya kamu bisa di temukan. Aku sangat khawatir, aku pikir kamu diculik.”


Aku tersenyum mendengar penuturan Tedi.


“Menurut informasi, seorang warga melihat mobilmu mogok. Namun ketika dia akan membantumu, kamu malah lari ke arah jurang. Dia sudah memperingatkan agar kamu tidak lari kesana, tapi kamu tidak mendengarnya. Akhirnya kamu terjatuh. Untung saja jurangnya tidak dalam, jadi kamu masih bisa di selamatkan.”


Aku teringat kejadian itu. Rupanya orang yang mengejarku adalah orang yang justru ingin membantuku. Dan teriakan yang aku dengar saat itu adalah teriakan peringatan agar aku tidak lari menuju jurang. Aku sudah salah sangka.


“Lain kali jangan seperti itu Al, kamu membuat aku khawatir.”


“Maaf mas.”


Tedi membawaku ke dalam pelukannya, “saat ini situasi sedang tidak kondusif, aku sangat mengkhawatirkanmu.”


“Mas aku pikir Andi dan mas Ridwan ada hubungannya dengan ledakan mobil itu.”


Tedi melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajahku, “kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”


“Waktu aku pulang, aku melihat ada noda cat merah di tangan Andi. Surat ancaman itu di tulis dengan cat merah kan mas?”


Tedi mengangguk. Ia berdiri kemudian menatap keluar ke arah jendela, “lalu?”

__ADS_1


“Lalu mas Ridwan ... Mas Ridwan ada di lokasi kejadian waktu itu.”


Tedi berbalik ke arahku, “kamu tahu dari mana?”


“Dia yang mengatakannya. Dia bahkan tahu detailnya, bahwa yang meledak itu mobil seorang pengusaha muda. Dia bilang pelakunya kemungkinan saingan bisnis atau mantan pacarnya yang sakit hati karena batal dinikahi.”


Tedi merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel di dalamnya. Ia terlihat menghubungi seseorang.


“Aku mendapatkan dua tersangka lainnya.”


“Andi wijaya, dan kakaknya, Ridwan.”


Lalu Tedi menyimpan kembali ponselnya di dalam saku celananya.


“Mas abis nelpon siapa?” tanyaku penasaran.


“Detektif.”


“Menurut mas siapa pelakunya?”


“Aku belum bisa memastikan Al, saat ini ada empat tersangka yang mungkin bisa melakukannya.”


“Empat?”


Tedi mendekat ke arahku, dan duduk di sampingku, “selain dua orang yang kamu tambahkan, ada dua tersangka sebelumnya, Ayu dan Siska.”


“Siska? Siska kan istri kamu, tidak mungkin dia mau membunuh kamu mas.”


“Itu ....”


“Maaf kalau ucapanku terlalu keras, pikiranku sedang kacau saat ini.”


“Mas ....” Aku menggenggam tangan Tedi, “sebenarnya solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengikuti apa yang dia inginkan.”


“Maksud kamu?”


“Orang itu kan ingin kita berpisah, mungkin sebaiknya—“


Tedi menarik kuat tangannya, “jadi itu yang kamu inginkan Al? Kamu ingin kita berpisah begitu?”


“Mas, sejak awal hubungan kita memang salah, tidak seharusnya kita—“


“Cukup Al, tolong hentikan. Jangan katakan itu. Jangan katakan kalau cintaku ini salah Al. Bukan aku yang mengatur perasaanku sendiri. Kalau boleh memilih, aku juga tidak ingin jatuh cinta pada wanita bersuami Al. Aku tidak ingin.”


“Mas ....” Aku melihat kesedihan di mata Tedi, walaupun tidak sampai mengeluarkan air mata. Andai Tedi tahu, aku pun sama terlukanya ketika mengatakan itu.


“Mas ... Aku takut.”


Tedi menoleh ke arahku, ia menggenggam kedua telapak tanganku, “kamu jangan khawatir Al, aku akan selalu menjagamu.”


“Tapi aku juga tidak mau mas kenapa-kenapa,” lirihku.

__ADS_1


“Aku bisa menjaga diriku sendiri Al.”


“Lalu sekarang aku harus bagaimana mas. Aku takut pulang ke rumah.”


Tedi nampak berpikir sejenak, “saat ini tempat teraman untuk kamu adalah rumah Al.”


“Tapi ....”


“Kamu tenang saja. Bodyguard yang aku sewa sangat profesional, dia akan menjagamu dimanapun kamu berada. Bahkan kamu tidak akan menyadarinya.”


***


Aku duduk di samping Tedi di dalam mobilnya. Sesekali meliriknya yang masih fokus berkendara.


“Kamu liatin apa sih Al, jangan diliatin terus, nanti jatuh cinta lo.”


“Biarin aja. Aku emang udah jatuh cinta kok.”


Tedi tertawa.


“Mas mobil aku gimana?”


“Aku sudah meyuruh orang membawanya ke bengkel, sepertinya ada kerusakan mesin karena kehabisan bensin kemarin.”


“Maaf.”


“Maaf untuk apa?”


“Maaf karena sudah membuat mobil kenangan mas rusak.”


Tedi tersenyum, ia menoleh ke arahku dan mengusap rambutku, “tidak usah di pikirkan.”


“Ini jalannya kemana lagi Al?” tanya Tedi ketika sampai di persimpangan jalan.


“Bukannya mas sudah tahu jalannya?”


“Aku belum pernah ke rumah orang tua kamu Al.”


Aku tertegun. Rupanya yang dimaksud 'rumah' oleh Tedi adalah rumah orang tuaku. Tapi aku sendiri juga bingung, apakah orang tuaku sudah pulang dari luar kota? Aku tidak bisa menghubunginya karena aku tidak memiliki ponsel.


“Mas ponsel aku ...,” Ucapku setelah aku menunjukkan jalan menuju ke rumah orang tuaku kepada Tedi.


“Aku sudah suruh Ayu membelikan kamu ponsel, dia pasti sudah mengirimnya ke ... Ya ampun Al, dia pasti mengirimkannya ke alamat mertuamu. Alamat itu kan yang ada di data kantor.”


“Gak papa mas, nanti aku bisa suruh pegawai papa aku untuk ambilkan. Terima kasih.”


“Jangan berterima kasih seolah aku adalah orang asing Al.”


“Mas, bukannya mas bilang Ayu adalah tersangka, kenapa mas masih mempekerjakannya?”


“Al, terkadang cara terbaik untuk mengalahkan musuh adalah dengan mendekat ke arahnya. Jika aku ingin menyelidiki Ayu, aku harus mendekatinya bukan?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


__ADS_2