Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 16 Bolehkah Aku Egois?


__ADS_3

Aku duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel. Melihat foto-foto yang tadi kami ambil ketika sedang di resepsi pernikahan Fakhrul dan Zia, temanku semasa SMA.


Ada beberapa foto yang di kirim teman-temanku di grup whatsapp. Rata-rata dari mereka memuji kecantikan mempelai wanita, dan betapa beruntungnya mempelai pria mendapatkannya. Zia saat ini sudah menjadi seorang perawat, sedangkan Fakhrul adalah seorang polisi.


Entah kebetulan atau bukan, seorang polisi biasanya menikah dengan tenaga medis, baik itu perawat ataupun bidan. Walaupun banyak juga yang menikah dengan wanita yang berprofesi di luar itu. Tetapi dari beberapa orang yang aku kenal hampir semua seperti itu.


“Pestanya meriah ya Al.” Andi ikut bergabung bersamaku untuk melihat lebih jelas layar ponselku.


Aku mengangguk, “iya Ndi.”


“Gak nyangka yah mereka akhirnya menikah. Setahu aku dulu Fakhrul sering sekali membully Zia yang kucel dan gendut. Siapa sangka beberapa tahun berlalu, Zia berubah jadi cantik,” pujinya.


“Itu yang ada di pikiran laki-laki?” tanyaku seraya mematikan layar ponsel.


“Aku itu tahu banget bagaimana Fakhrul Al,” ucapnya disertai tawa renyah.


“Terus kalau Zia udah gak cantik lagi, Fakhrul gak cinta lagi sama Zia gitu?” tanyaku sewot.


“Eh itu ... Aku juga gak tahu sih.” Andi menggaruk bagian belakang kepalanya, yang entah memang karena gatal atau hanya untuk mengurangi kecanggungan.


“Kalau kamu gimana? Kamu cinta sama aku karena aku cantik kan? Kalau aku udah gak cantik lagi kamu masih cinta gak sama aku?” Aku ingin menguji sedalam apa perasaan Andi padaku.


“Kamu ngomong apa sih Al, kamu itu selalu cantik di mata aku.” Dan yang aku dengar hanya sebuah gombalan.


“Gombal.”


“Al, gak nyangka yah, sudah bertahun-tahun tapi kita masih di anggap best couple. Tanpa kita sadari, kita sudah menjadi inspirasi buat teman-teman kita.” Andi nampak menerawang, mungkin pikirannya sedang kembali ke masa-masa SMA kami.


“Benarkah? Kenapa?” tanyaku penasaran.


“Kita pacaran sudah lama, terus lanjut menikah. Dan setelah menikah pun kita masih romantis seperti masih sedang pacaran. Banyak dari teman-teman kita yang menjadikan kita contoh dalam menjalin hubungan loh Al.”


Aku hanya diam. Menatap manik mata Andi yang berkilau. Seandainya dia tahu apa yang telah aku lakukan di belakangnya, apakah dia masih akan sebangga ini pada hubungan kami? Mengingat itu, aku jadi merasa bersalah pada Andi.


“Kamu kenapa Al?”


Aku mengerjapkan mata, “ah, tidak apa-apa. Aku tidur duluan yah, capek.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Andi. Aku segera merebahkan diri di atas kasur, lalu menarik selimut hingga menutupi leher.


Aku tidur membelakangi Andi. Mencoba meraba hatiku sendiri, bagaimana sebenarnya perasaanku saat ini.


Kurasakan pergerakan di belakangku. Andi ikut membenamkan diri di bawah selimut yang sama, lalu melingkarkan tangannya di pinggangku. Ia mengusap pelan perutku yang rata.


“Al, sepertinya kita harus mempertimbangkan ucapan mas Ridwan hari itu.” Andi menjeda sejenak ucapannya. “Aku ingin seorang anak Al.”


“Kita sudah membicarakan ini jauh-jauh hari Ndi. Aku akan melepas IUD ini begitu aku sudah siap. Dan itu bukan sekarang,” ucapku masih membelakangi Andi.


“Baiklah, itu terserah kamu saja.”


Terlebih lagi, saat ini aku sedang gamang akan perasaanku sendiri. Batinku.

__ADS_1


“Al?”


“Hemmm ....”


“Masih ingat pak Basri, kepala sekolah kita waktu SMA?”


“Iya, kenapa?”


“Dia memintaku untuk menjadi pelatih basket di sekolah.”


Hening.


“Haruskah aku menerimanya?”


“Itu terserah kamu Ndi.”


“Al?”


“Hemmm ....”


“Kamu masih ingat janji kamu waktu itu kan?”


“Janji yang mana?”


“Kalau aku bisa menghasilkan uang lebih banyak dari gaji kamu perbulannya, kamu akan resign.”


Resign? Resign artinya aku tidak akan bisa bertemu dengan Tedi lagi. Apakah ini sudah saatnya hubunganku dan Tedi berakhir.


***


“Kamu kenapa sih Al, dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus?”


Saat ini aku sedang berada di apartemenku bersama Tedi. Sepulang dari kantor, aku memutuskan untuk mampir ke sini. Sekedar ingin menyendiri. Namun tak ku sangka, Tedi juga datang ke sini beberapa menit setelah aku sampai.


“Mas kesini juga?”


“Pertanyaanku kok gak di jawab.”


Aku menghela nafas berat. Pandanganku masih keluar jendela. Di mana gedung-gedung perkantoran menjadi pemandangannya.


“Al, kamu kenapa?”


Tedi merapatkan tubuhnya kepadaku. Dia berdiri di belakangku, memandangi pemandangan yang sama. Tedi melingkarkan tangannya di perutku. Dan satu buah kecupan ia daratkan di bahuku.


“Andi mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih basket di sekolah kami dulu mas.”


Tedi berpindah posisi. Kini ia berdiri di sampingku.


“Dia menagih janjiku. Dia meminta aku resign.”


“Lalu apa jawabanmu.”

__ADS_1


“Aku belum menjawabnya. Rasanya berat.”


“Kenapa? Apa kamu mulai mencintai pekerjaanmu?”


“Lebih tepatnya mencintai orang yang memberikanku pekerjaan itu.”


Tedi terbahak. Ia mengacak rambutku pelan dan berjalan meninggalkanku. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar.


Aku menatap bingung ke arahnya. Bagian mana dari ucapanku yang membuatnya tertawa. Apakah kegalauanku lucu menurutnya?


“Kamu ingat ketika aku pertama kali membawamu kesini Al?” tanya Tedi. “Aku mengatakan, kamu boleh datang kapan saja ke sini ketika kamu sedang penat.”


Aku diam. Tidak mengerti arah pembicaraan Tedi. Ku lihat Tedi duduk di tepi tempat tidur. Ia menepuk sisi sebelah kanannya seolah meminta aku duduk di sana. Aku mengikuti arah gerakan tangan Tedi dan duduk di sampingnya.


“Al ....” kini kami saling berpandangan.


“Walaupun kamu sudah tidak bekerja bersamaku, kita masih bisa bertemu di sini, atau di mana pun kamu mau. Aku pasti akan datang.”


“Jadi juga mas mau aku resign?”


“Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu.”


“Menurut mas, jauh dari mas itu baik buat aku?”


Tedi hanya diam.


“Mas apa mas benar-benar mencintaiku?”


“Tentu saja Al. Kamu tidak perlu mempertanyakannya lagi.”


“Lalu kenapa mas tidak pernah merasa cemburu ketika aku membicarakan tentang Andi?”


“Perlu kah aku mengatakan padamu kalau aku cemburu Al? Jika itu membuatmu lebih baik, baiklah. Ya, aku cemburu Al. Aku cemburu membayangkan apa yang kalian lakukan setiap malam. Tapi aku sadar diri Al, aku datang terlambat. Aku datang ketika kamu sudah bersamanya.”


Ku lihat kejujuran di mata Tedi.


“Menurut mas, bagaimana hubungan kita kedepannya?”


“Jujur aku juga belum tahu Al. Yang aku tahu, saat ini aku merasa nyaman bersamamu.”


“Mas ... Ada satu hal lagi yang Andi minta dariku?”


Tedi diam. Menungguku melanjutkan kalimatku.


“Anak. Andi menginginkan anak dariku.”


Tedi terpaku, kemudian mengalihkan pandangannya dariku.


“Bolehkah untuk yang satu itu aku egois Al? Bolehkah aku meminta agar keturunanku saja yang tumbuh di rahim kamu?”


 

__ADS_1


__ADS_2