Pernikahan Terakhir

Pernikahan Terakhir
konferensi bisnis


__ADS_3

“Bagaimana perjalananmu Tuan Muda? Ibu lihat kamu lelah, pasti kamu sangat sibuk mengurus kerja sama sayang.” Suara lembut Milia Hudson Connor menyanbut kedatangan kembali anaknya dari perjalanan luar negeri.


Wajah putih bersih dengan senyum bibir pink tipis manisnya, paduan baju formal dengan Blazer berwarna merah terlihat sangat mewah. Tubuh indah dengan tinggi 160cm dan kulitnya yang terlihat kencang siapa menyangka Milia adalah perempuan yang sudah berkepala lima, 10 tahun sudah Milia Connor menjadi pemegang beberapa perusahaan turun temurun keluarga besar Connor itu. Kekuatannya sangat berpengaruh walau 10 tahun juga harus menjanda tanpa seorang suami. Sebuah takdir suaminya Hudson Connor terlebih dahulu menghadap sang Kuasa.


Langkah Milia bersama anaknya Ryan Connor keluar dari mobil sedan hitam, para pengawal berjejer sudah siap menyambut kedatangannya. Mereka dan Tuan Muda Ryan Connor dalam acara pertemuan dan liputan yang dihadiri para wartawan dan jurnalis jurnalis negeri, liputan itu sangat besar dan benyak ditunggu oleh masyarakat dan kalangan, pengaruh bisnis keluarga Connor dalam memberi tonggak besar untuk kekuatan ekonomi negeri, sangat banyak berandil dan hampir seluruh persen perekonomian ada dibawah naungan Connor Company, jangan heran kelurga Connor sangat dihormati.


Aula besar itu sudah dipenuhi oleh wartawan dan para jurnalis, meja dan kursi yang berjejer dan bertingkat membentuk sebuah formasi lingkaran mengelilingi panggung podium besar. Ryan melangkah mendekati podium dan memulai pidatonya. Tinggi 183cm dengan tubuh atletis, rahang tegas dengan mata sipit elang Ryan terlihat berwibawa didepan sorotan kamera paparazi dan kamera wartawan yang meliputnya.

__ADS_1


“Sebagai sebuah kehormatan bagi saya, Ryan Hudson Connor yang kini dipercaya sebagai pemegang selanjutnya kuasa bisnis Connor company dalam mensejahterakan negeri dan ikut andil dalam sebuah tanggung jawab saya bersama pemerintah mendukung kemajuan ekonomi dan masyarakat mejadi lebih maju. Sebuah kebanggaan bagi kami berhasil dalam menandatangani dan bekerja sama dengan perusahaan besar didunia. Sayap Connor company semakin terbuka lebar dalam memberi kemajuan pada negeri.”


Sorak sorai sontak langsung riuh memenuhi ruangan aula itu, mata setiap orang takjub dan kagum pada sosok Ryan Connor, seorang pria muda berusia 28 tahun di usia mudanya dia adalah Tuan Muda yang sudah sangat berpengaruh.


Milia ditemani sang putri Eva Connor mereka duduk di kursi merah yang langsung bersampingan dengan podium, mereka ikut bertepuk tangan menambah riuh tepuk tangan. Hampir semua orang bertepuk tangan dan berdiri tapi ada salah satu jurnalis yang sedari tadi dia hanya duduk dengan wajah datarnya melihat keluarga Connor itu. Tatapannya berbeda dari orang-orang yang sangat riuh dan kagum.


Tepuk tangan itu berangsur berhenti kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab kepada para jurnalis yang hadir, setiap tempat duduk para jurnalis didepannya sudah disediakan mic seolah olah ini seperti pertemuan konferensi pers Presiden. Seorang jurnalis langsung membuka mic nya, dia bersemangat tapi tatapannya tetap datar.

__ADS_1


“Dan ya seperti rumor yang beredar, terdengar bahwa katanya Milia Hudson Connor ibu dari sang Tuan Muda kita ini memiliki pengaruh dan kekuatan lebih besar diatas pemerintah, apakah ini politik berselimutkan opini memajukan ekonomi negeri? “


“Sayangnya keluarga Connor tidak berpartisipasi dalam urusan politik.” Respon dingin Ryan menanggapi segala pertanyaan dan opini tajam sang jurnalis. Pria berkacamata itu mendengus dan menyunggingkan senyum tipis dengan mimik remeh karena Ryan yang membalasnya langsung dengan point penutup, tidak ada respon lagi dari si jurnalis itu, tatapannya datar tapi tersirat ada sesuatu besar dibalik itu semua.


“Kami akan mengakhiri sesi pertanyaan , kantor keluarga Connor akan mengirimkan detail file untuk semua pertanyaan dan pernyataan yang Anda berikan untuk kami.” Seorang kolega yang hadir sekaligus mengambil andil dalam acara pertemuan itu juga ikut menimpali untuSeorangk menutup acara hari ini.


Ryan hanya diam dia kembali melirik jurnalis berkacamata itu, tatapannya dingin. Ryan lalu melirik seseorang yang berada pada pojok ruangan, pria berkulit sawo matang dengan kumis tipisnya, postur tubuh 170 cm pria itu mengangguk dan pelan berjalan keluar dari ruangan Aula itu,

__ADS_1


Ryan mengetuk earphone di telinganya “Lakukan Tugasmu.”


...****************...


__ADS_2