Pernikahan Terakhir

Pernikahan Terakhir
Duka Galvin


__ADS_3

Mansion gempar keberadaan Ryan yang dua hari tidak ditemukan, dan disisi lain Mulia dipanaskan telinganya dengan kelicikan Lydia yang mulai menguasai Ryan.


“Cari tahu dimana Tuan Muda berada, SEKARANG!!” Teriak Mulia diakhir perintahnya perasaannya sekarang bercampur dengan kesal. Seluruh penjaga Milia kerahkan, hatinya dongkol asisten rendahan itu berani menghinanya dengan telpon 15 detik meperdengarkan berapa indahnya dunia Lydia dan Ryan berdua tanpa dirinya.


Dijalan Raya


“Turunkan mayat itu disini Tuan!”


Seketika saja mobil Ryan mendadak berhenti tepat dipinggir jalan berteman, Ryan menoleh heran dengan kegilaan lydian. “kenapa? Aku akan meminta Alan untuk membereskannya.”


“Tuan, kita tidak punya waktu! Banyak truk melewati wilayah ini. Jika anda membuangnya tanpa ada yang melihat kita, maka mayat itu bukan ditabrak oleh mobil anda tetapi ditabrak oleh mobil lain.” Jelas Lydia, membuat Ryan bergidik ngeri dengan ide gila wanita itu.


“Ini gila....” Ucap suara hati Ryan, dia pasrah lalu menuruti Lydia dengan keluar dari mobil dan membuka bagasi mobil belakang. Darah merembes keluar dan mayat Nirum penuh dengan luka robek diwajahnya akibat tergesek aspal jalan. Lydia dan Ryan berusaha menguatkan nyali mereka, membawa turun mayat dan menyeretnya terus ketepi jalan tempat dimana truk tepat berhenti disana.


Ini menjijikan bagi Ryan, tanpa rasa bersalah mereka berdua sampai begitu tega membuat skandal untuk sebuah tubuh manusia yang tidak bernyawa. Memilih membuangnya ketimbang menguburnya dengan baik sebagai penghormatan terakhir untuk memanusiakan manusia, setidaknya harapan itu saja lagi yang bisa diharap dari manusia yang tidak punya hati sama sekali itu tapi kenyatannya tidak sama sekali.

__ADS_1


“Jika ibu sampai tahu, saya akan mati...” nyali Ryan seketika langsung ciut berbicara tentang ibu, membayangkan beratnya hukuman yang didapat jika hal ini sampai ketahuan.


“Itu tidak akan terjadi Tuan...” suara Lydia pelan terdengar namun nadanya yakin, “percayalah padaku...”


Mata Ryan memandangi jalanan didepan dengan tangan masih bergetar dia menelpon salah satu kaki tangannya.


“Alan aku sedikit ada masalah, periksa setiap kamera pengintai di seluruh wilayah villa dan hapus semua jejakku. Singkirkan semuanya!!” Ryan frustasi karena takut.


Ryan menyalakan mobilnya lalu lanjut melaju pulang kearah kota dimana mansion mewahnya berada. Suara didalam mobil senyap sepanjang perjalanan, masing-masing Lydia dan Ryan diam menetralkan kembali gemuruh degup jantung dan ketakutan mereka, berusaha untuk kembali tenang.


Lydia melamun memandangi tangannya dengan pikiran yang melayang pada kejadian tadi namun lamunannya hanya bertahan beberapa saat saja karena tiba-tiba Ryan memecah lamunannya.


“Maaf?” lamunan Lydia pecah.


“Dia melihatku,” Ryan mengaku, “aku yakin... Mungkin dia sudah melaporkanku kepolisi.” Nafas Ryan kembali berat, memikirkan beban dipikirannya.

__ADS_1


“Jangan khawatir Tuan, saya akan memastikan nama Tuan Muda tidak terkait dengan kejadian ini.”


“Aku ingin tahu, kenapa disisi lain kau tahu banyak tentang desa itu? Apa kau pernah kesana sebelumnya?”


Lydia diam sejenak menyusun cerita karangannya, “dulu aku pernah datang untuk berlibur Tuan...” jawab Lydia lalu suasana kembali hening.


...----------------...


“Ibu...” Galvin merenung lama suaranya pun merendah lirih.


“Ternyata kau disini, ibu... Kenapa kau berbaring disini? Ibu... Ayo pergi..” Galvin merengek seperti anak laki-laki kecil, menepuk bahu sang ibu berharap wanita tercintanya itu bangun.


“Ibu ayo pulang...” Galvin merengek kembali memohon pada mayat ibunya yang sudah terbaring kaku, tidak disangka pagi tadi dia masih sempat bercanda di meja makan saat sarapan malamnya sang ibu harus pergi tanpa pamit dan tanpa pesan sepatah pun. Hati anak mana yang tidak merana dan sekuat kuat Galvin melawan dan berkelahi dengan bandit yang suka tidak bayar di kedai Ibunya tetap akan kalah dan lemah jika dihadapkan situasi ditinggal selamanya oleh sang ibu, Galvin menolak kenyataan hatinya sesak dia terus memohon di samping mayat ibunya, “JANGAN BERCANDA! IBU AYO KITA PULANG!!!”


“Dia sudah meninggal saat seorang truk mengantarnya kerumah sakit ini.” Dokter mencoba menjelaskan.

__ADS_1


“Jangan berbohong padaku! KENAPA IBUKU HARUS MATI? DIA TIDAK MATI!” Galvin kesulitan mengontrol emosinya karena kesedihannya dengan kuat dia mencengkram kerah sang dokter. Galvin bingung dan tidak berdaya dia tidak menduga ibunya akan pergi begitu cepat, dengan tangis yang cukup keras dia bersujud memohon pada dokter untuk menghidupkan lagi ibunya, hidup Galvin runtuh matanya terus menangis tapi apa daya dokter juga hanyalah manusia.


...****************...


__ADS_2