
Suasana mansion terlihat sunyi dimalam hari, begitu pun ruangan Ryan yang diruang besar itu sekarang hanya ada dirinya sendiri duduk dikasur dengan balutan baju malam megahnya yang tersusun benang benang emas mengukir sebuah karya yang indah, jubah kebanggan nya sebagai penguasa connor.
Matanya kosong, Ryan melangkah menuruni tangga kecil kolam yang menjadi fasilitas pribadi di ruangannya. Perlahan membuka perban luka leher dan mengoyak jahitannya sehingga darah kembali mengucur deras dan dengan perlahan dia terlentang menenggelamkan dirinya di kolam.
“Tuan muda apakah kau baik-baik saja, Tuan Muda... TUAN MUDA!! PENJAGA DOBRAK PINTUNYA!!!” Perasaan Milia semakin cemas, pikirnya kalut dan sangat kacau.
“Apa ada yang mengganggumu ibu?” pintu tiba-tiba terbuka, Ryan sudah berdiri didepan ibunya dengan kondisi baik-baik saja.
Milia terkejut dan seketika dia menjadi gagap, karena apa yang dilihatnya dilayar pengawas ternyata hanyalah sebuah jebakan. Ryan tersenyum manis dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Aku pasti mengalami mimpi buruk, aku pikir sesuatu terjadi padamu nak...” Milia menelan ludahnya perlahan, “bagaimana lukamu nak?”
“Apakah ada alasan lain ibu?” Ryan tetap terus tersenyum menyembunyikan kecewanya.
“Ouhh aku selalu mengkhawatirkan kau Tuan Muda, kau pasti kelelahan setelah mengalami peristiwa heboh seperti tadi siang, jadi tolong tidurlah...” Milia lalu buru-buru pamit dan berjalan melangkah pergi.
“Si penyerang meninggal karena serangan jantung dikantor polisi,” pernyataan Ryan cukup mampu menahan langkah Milia, dia diam dan kembali memalingkan tubuhnya menatap anaknya dengan ekspresi datar, “apakah kau tidak terkejut ibu? Apakah kau sudah tau?”
“Kau baru saja memberitahuku,” wajah Milia tenang menjawab pertanyaan Ryan.
“Dia tidak memiliki riwayat penyakit dan mengapa tiba-tiba dia mendapat serangan jantung?” ekspresi Ryan mengintimidasi.
__ADS_1
“Dia dihukum” jawab Milia singkat.
“Kalau dipikir-pikir dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang aneh, dia bilang kalau aku memanggil Rio Aaron setiap malam ke mansion.” Ryan tertawa, perkatannya sengaja ingin memojokkan sang ibu, “apakah itu aneh? Terjadi sesuatu tujuh tahun yang lalu yang tidak aku sadari...” Ryan tertawa dengan gigi menggertak.
“Tidak ada hal semacam itu, dia pantas mati, jangan sibukkan diri memikirkannya lagi. Mereka tidak penting!” Milia lalu pergi kembali menuju kamarnya.
Ryan terdiam dengan tingkah ibunya lalu pelan melangkah menuju cermin besar dekat dikamarnya, “ibu membuatku terus diawasi, untuk apa? Mengapa? MENGAPA???” dia frustasi, berteriak mengeluarkan amarahnya dan tangannya hampir ingin memecahkan cermin di depannya, namun sekejap kurang dari setengah sentimeter kepalan tangannya terhenti, pelan dia langsung mengatur nafasnya kembali dan menurunkan tangannya.
Ryan diam dan perlahan kepalanya menengok pedang bersilang didinding. Dia mendekatinya dan pelan menarik salah satu pedang sehingga membentuk pola terbuka dan seketika bunyi bergeser dinding disamping pedang menunjukkan sebuah ruang rahasia didalamnya. Segera Ryan masuk dan mengganti bajunya dengan setelan jas hitam dengan pola garis putih ditambah aksen topeng yang menutupi setengah bagian wajahnya.
Ryan berjalan menyusuri jalan diruang rahasianya yang langsung tersambung menuju garasi tempat puluhan mobil koleksi pribadinya. Langsung bergegas mengendarai salah satu mobil sport nya yang berwarna kuning keemasan, langsung melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
...----------------...
Ryan dengan cepat menenggak habis minumannya, beberapa kali dia terus meminta pelayan mengisi cangkirnya dengan vodka. Pikirannya tidak waras dia tidak bisa berpikir jernih sekarang di hatinya hanya ada rasa kecewa. Kepercayaannya yang dalam pada sang ibu di hancurkan sekejap dengan sebuah bukti yang dibawa oleh Lydia menimbulkan keraguan di hatinya hingga pikirnya yang mempertanyakan “apakah selama ini aku hanya boneka??” Semuanya berkecamuk dipikiran Ryan membuatnya tidak sadar sudah menenggak banyak vodka dalam sekejap.
“Ibu apakah kau membohongiku....” Ryan meracau sambil tertawa.
“Apakah ada yang kau sembunyikan selama ini??” Dia berjalan keluar dari bar, langkahnya sempoyongan dan kadang dia terjatuh karena melayang tidak kuat menahan beban langkahnya.
“TUAN..!” Refleks seorang wanita menghampiri Ryan dan langsung merengkuh bahunya. Membawa Ryan masuk menuju mobil, Lydia mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut Ryan sudah dipastikan pria itu mabuk berat.
__ADS_1
“Tuan istirahatlah sebentar sebelum kembali berkendara, disini saya akan temani Tuan.”
“Siapa yang menyuruhmu datang menemuiku di barat hah???” Ryan masiih bisa waras berbicara.
“Saya khawatir dan tanggung jawab saya memastikan Tuan Muda baik-baik saja...”
“Bawa saya ke Villa connor Lydia.” Suara Ryan pelan namun berat.
Segera Lydia mengangguk lalu mengambil alih kemudi mobil dan langsung melaju menuju villa pribadi keluarga itu. Villa itu adalah hunian pribadi khusus bagi keluarga Connor yang biasanya ingin berlibur sebentar dari hiruk pikuk pekerjaan dan kehidupan kota tanpa ada yang mengganggu karena area itu juga sangat privasi hanya keluarga Connor saja tanpa penjaga dan tanpa asisten. Dikelilingi oleh pemandangan desa yang indah dekat dengan pegunungan dan ada danau indah yang selalu menjadi favorit tempat kelurga Connor berlatih. Desa yang sangat indah dengan disisi lain ada beberapa rumah penduduk yang ikut bermukim di pulau itu.
Butuh waktu 30 menit perjalanan dengan memakan jalan bebas hambatan. Mereka telah sampai didepan villa dan Lydia langsung membopong Ryan masuk dan merebahkannya diatas kasur.
“Sekarang Tuan bisa beristirahat dengan nyaman disini untuk sementara...” Lydia mengatur kalimatnya perlahan dia ingin lanjut menyampaikan sesuatu, “Tuan, nyonya Mulia telah memecatku dan aku ingin mengucapkan Terima kasih untuk semuanya sampai sekarang.” Lydia lalu dengan hormat beranjak keluar dari kamar dan ingin pergi namun pergelangan tangannya langsung ditarik oleh Ryan.
“Kau milikku, asisten pribadi Tuan Muda Ryan Connor artinya hanya aku yang memutuskan apakah akan menggunakanmu atau membuangmh. Nyonya Milia tidak memiliki wewenang untuk memecatmu. SELAMA AKU TIDAK MEMECATMU MAKA LAKUKANLAH SEPERTI YANG AKU PERINTAHKAN!!!” Ryan berteriak di akhir ucapannya menegaskan bahwa hanya dia yang memiliki kuasa atas asistennya. Dengan kasar Ryan menarik Lydia keranjang mengunci tubuhnya, dan sekarang wanita itu telah berada dalam kungkungan tubuh besar atletis milik Ryan.
Ryan memeluknya erat dan berusaha menaklukan semua tubuh Lydia, tubuh besar Ryan membuat Lydia kewalahan, dia berusaha melawan dan dengan sekuat tenaga mendorong Ryan yang sudah kehilangan akal sehatnya. Nafas Lydia tersengal, tangannya menahan pundak Ryan sedangkan tangan Ryan masih melingkar dipinggang Lydia.
“Jika Tuan melewati batas uni, apa jaminan bagi saya? Dan apa artinya saya bagi Tuan? Apakah hanya seorang asisten pribadi? Kekasih? Atau.... Hanya satu malam bersama?”
Pertanyaan Lydia membuat Ryan sesaat memandang mata Lydia dalam dibawah remang-remang cahaya kamar.
__ADS_1
“Itu...” Ryan berbisik lembut dengan pelan sambil memainkan rambut Lydia, “tergantung padamu....”
...****************...