
"Aku akan bunuh dia!!! di mana semua orang hah??Ibuku kedinginan dan mengenaskan di luar sana dan kalian semua hanya diam saja?? "
Urat kepala dan wajah memerah Galvin, dia murka dan langsung memporak-porandakan kantor polisi dan tidak ada yang bisa menahan kuatnya Galvin, beberapa polisi terlempar jatuh akibat berupaya menahan amuk Galvin.
"Hei ada apa denganmu? Kau datang dan tanpa sopan melukai anak buahku apa maumu?" Kepala Polisi itu dengan jalan santainya bersama secangkir kopi hangat di tangan yang dia bawa.
"Apa kau buta hah? tuan muda Connor yang dihormati oleh banyak orang adalah pria jahat dan pengecut!! ibuku mati karenanya!!"
"kau bocah Jaga mulutmu! kau menghina orang besar negeri ini! apa buktinya? Lebih baik kau jaga mulut kecilmu itu." Ucap polisi itu menjawab Galvin, intonasinya menantang membuat Galvin tambah geram dan marah. Tangan Galvin mengepal lalu dengan langkah maju langsung menarik kerah leher kepala polisi itu, mereka berdua saling berhadapan keduanya saling bertatapan tajam dan saling menantang.
"Periksalah matamu! apa gunanya kau sebagai kepala polisi? Tidakkah kau sadar ada rakyat yang tidak mendapatkan keadilan sekarang. Apa gunanya CCTV dipasang?" Suara Galvin pelan namun mengecam dan balik merendahkan, lalu dia melepaskan cengkramannya dan mendorong si kepala polisi itu membuatnya selangkah mundur dari Galvin tidak ada yang berani maju dan ikut campur urusan antara Galvin dan kepala polisi itu, tidak ada anak buah satu pun yang bergerak.
"Buka kamera pengawas dan lakukan pemeriksaan lokasi dan mayat sekarang!" Perintah kepala polisi itu untuk beberapa anak buahnya. Gavin menyoroti terus langkah pria berseragam yang juga bertubuh besar seperti Galvin namun tidak segemuk Galvin. Tatapan Gallvin membuat pria itu sadar dan dia terus mengutuk kesal di dalam hati Galvin yang berada di belakangnya yang sudah berani menghinanya. Mencoba untuk melawan dan balik merendahkan hanya akan mengurangi rasa hormat orang-orangnya dan itu adalah konsekuensi yang dia sadari sehingga dia memilih untuk mengalah walau hati masih terus-terusan mengutuk.
__ADS_1
"Coba lakukan panggilan pada keluarga connor untuk memastikan." Kepala polisi menyuruh lagi salah satu bawahannya.
"Hei bocah sepertinya kau yang buta di CCTV tidak menunjukkan adanya pembunuhan sesuai apa yang kau sampaikan dan Tuan Muda Connor sama sekali tidak berada di tempat kejadian dan sekarang berada di tempat lain. Apa kau gila apakah kau buta? tidakkah kau melihat dan ini adalah bukti nyata! Ibumu mengalami kecelakaan di tempat yang berbeda dan itu oleh sopir truk yang tidak sengaja menabraknya. Kau yang buta bukan aku yang buta!!"
"Seperti inikah kau melayani masyarakat hah!!!" Amuk Galvin Semakin menjadi dia langsung ingin menampar kepala polisi yang memakinya namun langsung dengan cepat dicegah oleh banyak anak buah kepala polisi itu.
"BAWA DIA KELUAR, DIA SUDAH MERUSAK BANYAK FASILITAS DI KANTOR INI!" Kepala Polisi dengan nada tidak kalah tingginya mengusir Galvin paksa.
...----------------...
Mobil Ryan terus melaju menyusuri jalanan hingga sampai ke kota. Pikirannya masih kalut dengan kejadian yang baru saja terjadi, diterjang oleh perasaan khawatir dan takut. Beberapa kali dia memukul tangannya ke setir mobil dan beberapa kali juga dia sering tertunduk. Lidya diam sepanjang perjalanan,dia terus memandangi wajah Tegas Ryan yang kalut, berusaha menghiburnya dan berusaha membuat tenang dari situasi tidak terduga itu.
"Tuan aku tahu ini bukan salahmu, aku percaya itu tidaklah sengaja." Lydia berusaha menghibur
__ADS_1
"Lidya ini bukan salahku tapi wanita itu yang langsung lompat ke jalan sehingga mobilku menabraknya."
"Kau harus tenang Tuan, sekarang orang-orang mu sudah membereskannya dan kau tidak perlu khawatir." Lydia mengambil kesempatan dengan turut memegang erat kedua tangan Ryan.
Ryan mengangguk tapi wajahnya masih terlihat khawatir, dia terdiam. "Bagaimana dengan ibu? Ibu akan tahu segalanya." ketakutan Ryan pada ibunya tidak bisa disembunyikan.
"Aku akan mengurusnya Tuan..." Lydia kembali menenangkan.
"Aku masih punya satu masalah, " Ryan menghela nafasnya, "Pria berbadan besar itu aku rasa adalah anaknya dan dia sepertinya melihatku."
Lydia ikut terdiam, celaka jika pria berbadan besar itu masih hidup. Galvin kau harus mati!
...****************...
__ADS_1