Pernikahan Terakhir

Pernikahan Terakhir
Awal mula seorang monster


__ADS_3

Hidangan-hidangan lezat tersaji pagi ini di meja makan. Lydia dengan gaun putih selutut dengan aksen renda yang makin membuatnya terlihat manis ditambah wajahnya juga turut cerah pagi ini.


“Apakah tidur malam dengan nyenyak Tuan Muda?”


“ Kenapa tidak membangunkanku? Kenapa kau memasak? Mansio pasti gempar karena aku tidak di sana semalaman.”


“Harap Tuan Muda jangan khawatir, seharusnya hari ini anda berlatih didekat danau pagi ini. Aku mematikan pelacak dimobil sehingga mereka tidak bisa melacak anda juga melalui ponsel anda, Tuan...” Lydia menarikkan kursi makan, mencoba menenangkan Ryan dengan sebuah sentuhan lembut dipundak Ryan.


“Anda datang sejauh ini, bagaimana kalau Tuan mengambil istirahat meski hanya sehari saja?”


“Hari libur?” Ryan mulai tenang, dia mengangguk dan menyetujui ide Lydia untuk libur satu hari.


“Ngomong-ngomong apakah perutmu tidak sakit?” Tanya Lydia dia mencoba dekat, “aku menyiapkan sup hangat, jadi silahkan dicicipi.” Ryan tersenyum melihat makanan lezat itu dan langsung memulai sarapan paginya.


(Panggilan telepon, Ibu)


Beberapa saat sering telpon mengalihkan fokus Lydia, dia langsung meminta izin kepada Tuan Muda untuk pergi keluar sebentar.


“Tuan, saya akan segera kembali setelah menyelesaikan sedikit urusan.”


“Kapan kau akan kembali, ada beberapa list kegiatan yang ingin aku lakukan disini.”


“Aku akan pulang sekitar jam 7 malam Tuan, karena aku tetap harus bekerja di samping menemani aktivitas libur Tuan.” Jawab Lydia juga menjelaskan, Ryan mengangguk dan mengizinkan asistennya untuk pergi, lalu Lydia langsung beranjak pergi dari villa.


...----------------...


“LYDIA! Kau disini? Kapan kau sampai nak?” mata Nirum berbinar bahagia, sebuah kejutan Lydia yang sudah seperti anaknya sendiri itu datang ke desa. Sudah berbulan-bulan tidak bertemu Nirum sangat merindukan Lydia.

__ADS_1


“Ayo duduk nak...” Nirum bersemangat dia meraih tangan Lydia dan menyuruhnya duduk.


“Seharusnya kau memberi tahu ku bahwa kau akan datang, aku sangat merindukanmu dan setiap malam aku terus berdoa agar bisa bertemu dengan dan Arghh aku sangat bahagia karena Tuhan mengabulkan doamu hari ini.” Nirum nampak bberbina, “kemarin aku pergi ke kota untuk mengantar makanan kesukaanmu...” Nirum melanjutkan ceritanya.


“Aku sudah bilang untuk tidak perlu mengunjungiku.” Lydia menyahut datar, “mengapa kau menggangguku?”


“Itu karena aku merindukan anak manisku...” Nirum dengan gemas mencubit pipi Lydia.


“Galvin terus mengejarku...”


“Karena dia menyukaimu nak...” Nirum mengelus tangan Lydia lembut.


“AKU MUAK DENGANNYA!!” Lydia kesal namun Nirum sama sekali tidak terpengaruh, dia hanya berupaya lembut menenangkan putrinya.


“Nak bagaimana dengan sarapanmu? Apa tadi kau sudah makan?”


“Apa..??” Nirum terdiam dengan ucapan Lydia beberapa saat.


“Ibu aku bersyukur bahwa kau telah merawatku bertahun-tahun, tetapi jangan memaksaku untuk hidup bersama Galvin anakmu, jangan merusak hidupku dengan memaksa Galvin menjadi bagian dalam hidupku Ibu!”


“Lydia apa yang terjadi denganmu??”


“Apakah kau tidak mengerti aku? Aku muak dengan keluarga ini! Aku ingin lupa kalau aku adalah anak yatim piatu! Jadi kumohon biarkan aku pergi....”


“Bagaimana dengan Arya? Kau tidak bisa meninggalkan anakmu sendiri Lydia.”


“MENGAPA KAU MEMBESARKANNYA!!” Lydia berteriak, dia berdiri menentang Nirum, “APAKAH KINI KAU MENGGUNAKAN ARYA UNTUK MENGANCAMKU?” Lydia menarik nafasnya sesaat, mengontrol emosinya. Dia merogoh tasnya dan menyodorkan buku tabungan, “ini cukup untuk upah mengurusku dulu! Ambil dan mari akhiri hubungan ini disini!” Lydia lalu pergi melangkah keluar kedai.

__ADS_1


“Lydia kau tidak bisa melakukan ini.” Nirum beranjak langsung menarik tangan Lydia lalu memohon, hatinya sakit karena terkejut dengan sikap Lydia yang membentak nya tapi dia berusaha baik-baik saja.


“AKU TIDAK MAU MENDENGAR ITU!!”


“Baiklah nak,” mata Nirum memandang tidak percaya tapi masih berusaha mencoba membujuk Lydia, “aku tadi membuat lauk, dan beberapa adalah kesukaanmu. Bawa makanannya nak, ibu akan membungkus kan nya untukmu.”


Lydia hanya semakin marah, dia melempar tasnya ke lantai lalu dengan kuat langsung membalik meja membuat seluruh makanan seketika berhamburan dilantai. Sekarang hanya ada kebisuan bersama kilatan tajam mata Lydia yang berapi api, dirinya langsung pergi tanpa peduli betapa shocknya Nirum melihat kejadian beberapa saat tadi.


Hati Nirum sakit, matanya menatap kosong kebawah tidak mengerti dengan sikap Lydia yang kasar, perlahan dia membereskan makanan yang berhamburan. Beberapa piring pecah karena ulah Lydia yang membalik meja, Nirum kembali mematung ketika matanya melihat buku tabungan itu membuat hatinya terus bertanya.


“Nak ada apa denganmu, sekejap kau berubah dan ibu tidak pernah membayangkan itu, Lydia ini seperti bukan dirimu yang dulu...” pikirnya penasaran dengan apa yang terjadi dia ingin berjalan mencari tahu apa yang terjadi.


...----------------...


Lokasi, Pameran seni


"Hai Bos, ini dia yang ditunggu-tunggu selamat datang Bos. Aku datang lebih awal malam ini dan telah membersihkan ruangan pameran, aku tidak sabar karyaku akan ditampilkan." Siapa Emma sambil terkekeh.


"Jadi?" Tanya Bos Emma, pria berumur 40 tahun dengan tubuh tinggi kurus menggandeng perempuan muda cantik di sebelahnya.


Emma memainkan jari tangannya, dia tampak seperti menyusun kalimat "Bos aku ingin meminta uang muka untuk karyaku, karena ada sedikit masalah di keluargaku."


Bos itu langsung mendekatkan wajahnya tahu apa yang menjadi maksud Emma karena melihat Emma yang tersenyum manis di depannya di pagi hari "Tiket saja tidak terjual habis, dan kau minta uang muka? Emma Kau dipecat! " Pria kurus itu diam dan menatap Emma atas sampai bawah lalu kemudian melanjutkan ucapannya "Aku punya seniman baru yang akan mengisi pameranmu, namanya Rumi dan dia adalah seniman baru di sini."


"Dia sama sekali tidak berbakat di dalam bidang ini. Bagaimana kau bisa menggantikanku begitu saja Pak apakah karena gadis ini adalah anak orang kaya? sehingga kau menggantikan Posisiku begitu saja?" Ucap Emma dia memohon sambil memegang kaki bosnya. Sama sekali Bos Emma tidak memperdulikannya, dengan kesal lalu mendorong Emma menjauhi kakinya. Emma merasa dibuang seperti sampah begitu saja, dia marah lalu bangkit dan melanjutkan ucapannya. "Hei Pak! hanya karena gadis kaya ini kau berani menggantikan posisiku dan membuangku seperti sampah. Lihat saja akan banyak perusahaan yang ingin berkerjasama dan itu lebih bagus daripada perusahaanmu. Cuwihhhh!!!" Emang langsung membuang muka dan pergi. dirinya senekat itu berkata padahal diapun ragu dengan apa yang dia ucapkan, namun karena dirinya yang tidak dihargai menyulutnya untuk bersuara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2