
Ruang perawatan keluarga Connor
Langkah Milia memasuki ruangan perawatab, mengunjungi tiga orang tamu yang terluka karena insiden siang ini.
“Kalian semua pasti terkejut dengan kejadian diluar dugaan itu, aku minta maaf atas nama dari seluruh keluarga Connor.” Milia berusaha dengan tulus meminta maaf.
“Apakah Tuan Muda baik-baik saja nyonya? Bagaimana dengan lukanya?” bagaimanapun kondisinya, Emma masih tetap mengkhawatirkan Tuan Muda Ryan Connor.
“Cederanya tidak parah, dia akan pulih dengan cepat.” Jawab Milia.
“Dan nyonya, kenapa penyerang menyerang Tuan Muda?” salah seorang tamu yang ikut dirawat juga turut bertanya.
“Dia adalah pasien Skizofrenia dia mengalami halusinasi dan menyerang Tuan Muda,”
“Arrghhh dia layak mati! Tuan Muda saja tidak pernah melakukan kesalahan,dan kejutan di siang hari ini saja sulit untuk dilupakan.” Emma kembali menyahut.
“Aku berterima kasih kepada kalian semua, karena sangat peduli pada Tuan Muda, keluarga Connor merasa sangat bertanggung jawab untuk kejadian hari ini. Jadi aku atas nama Milia Hudson Connor mewakili atas nama keluarga kami memberikan uang kompensasi untuk menghibur kalian.”
Emma cengengesan, dia memalingkan wajahnya menepuk jidat dan tertawa pelan karena senang, “Aku mempertaruhkan hidupku dan itu membuahkan hasil.” Ucapnya dalam hati, dia sangat riang karena ternyata Ada imbalan yang penghibur. Semua orang melihatnya termasuk Milia yang sedari tadi memperhatikan tingkah Emma mendengar yang kompensasi itu, beberapa saat dari atas bawah dia memandangi Emma heran.
“Aku harap kalian semua memanfaatkan uang ini untuk perawatan kalian lebih lanjut.” Ucap Milia lalu dia menyuruh apta Vera untuk menyerahkan satu satu amplop itu kepada para tamu yang dirawat.
“Hmmm tidak apa-apa nyonya, Tuan Muda adalah orang yang terluka dan kami baik-baik saja, aku tidak butuh uang itu sama sekali.” Pria itu menolak dengan pelan uang kompensasi yang diberikan untuknya, dia menolak sebuah kesempatan.
“Dia benar nyonya, kami bersyukur bahwa Tuan Muda baik-baik saja dan itu yang lebih penting dari kami. Maaf aku tidak menerima uang kompensasi ini juga nyonya.”
__ADS_1
Tinggal satu orang lagi siapa lagi jika bukan Emma, dia harus mengambil keputusan untuk mengambil atau tidak, hati dan pikirannya saling berlawanan.
“Aku...” Tangan Emma ingin mengambil tapi kemudian tangannya malah bergerak mundur, “Aku sepenuhnya setuju dengan mereka berdua juga.” Emma telah memutuskan, dan sekarang kesempatannya hilang, riang gembiranya dia dengan uang kompensasi itu ternyata hanya imajinasi belaka. “Arghhhh kenapa mulutku ini!!” hati Emma mengumpat dirinya sendiri.
“Ouhh aku sangat terharu dengan kalian semua. Terima kasih atas rasa kasih sayang kalian kepada Tuan Muda, aku pribadi akan memberitahukan kepedulian kalian ini pada Tuan Muda, jadi silahkan kembali untuk beristirahat sebanyak yang kalian butuhkan disini dan pergi setelah kalian sudah merasa baik, aku pamit dan selamat siang...”
Milia bersama Apta Vera melangkah keluar meninggalkan ruang perawatan. Emma merasa sangat bodoh melewatkan kesempatan dan tidak mendengarkan hatinya sendiri, dia malah Ikut-ikutan menyetujui opini dia orang tamu yang juga turut dirawat diruangan itu.
“Nyonya tunggu...” Emma mengejar Milia yang menuju pintu keluar perawatan, “Bagaimana anda tidak menawarkan ku sekali lagi Nyonya ?.” Emma berusaha mengejar tapi langkahnya kalah cepat dari Milia dan Apta Vera yang sudah meninggalkan ruang perawatan, Emma terlambat sekarang dia hanya bisa menyesali pilihannya itu, dia sekarang hanya bisa menciptakan kalimat pengandaian disela rasa sesalnya.
“Mengapa aku menolak uang itu? Huaaaaa aku benar-benar kehilangan kelerengku...”
...----------------...
Kedai makan
“Apakah kau mendengar berita tentang penyerangan yang terjadi di mansion Connor? Mereka para komplotan tiba-tiba menyalakan api dan itu berkobar sangat besar membakar kompor masak diruang pertemuan itu, salah satunya mengarahkan pistol kepada Tuan Muda dan aku seketika langsung memeluk dan melompat ke kolam melalui jendela kaca bersama Tuan Muda, aku tidak menyangka ini seperti sebuah mimpi bisa menyelamatkan Tuan Muda.” Emma sangat bersemangat dengan penuh ekspresif menceritakan ceritanya itu kepada adiknya Grace Lee. Tangannya saja tidak bisa diam sambil bercerita Emma juga sambil memperagakan gerakan setiap komplotan.
“Tunggu...” seorang pria mendekat dan dia ikut duduk menimbrung mendengarkan cerita seru kedua kakak beradik itu. “Kau jatuh ke air?” tanya pria bernama Jack Lee dia ikut penasaran, pria itu adalah ayah dari Emma dan Grace, usianya sudah kepala 5 sekarang dia pemilik kedai kecil ayam goreng.
“Ngomong-ngomong apakah keluarga Connor memberimu berupa uang kompensasi? Kau jatuh ke air dan menyelamatkan Tuan Muda artinya kau tidak pulang dengan tangan kosong kan?” Jack antusias menunggu, dia mata duitan mudah sekali merasa girang jika terdengar uang.
Emma mendengarkan ayahnya sambil melanjutkan makan malamnya dengan nikmat. “Mereka menawarkannya, tapi....” Ucapannya disela oleh Jack, ekspresinya berubah Jack berekspetasi besar hari ini. “Aku akan menjadi kaya, makan enak, dan jalan jalan” batin Jack dia mengulum senyumnya.
“Aku tidak menerima uang kompensasi itu, karena semua orang juga tidK menerimanya.” Emma menjawab santai sambil kembali melanjutkan makan malam lezatnya. Dia makan dengan lahap, mulutnya penuh dengan ayam goreng buatan sangat ayah, Jack sangat hebat dia bisa menciptakan ayam goreng selezat itu dan pantaslah kedai Jack tidak pernah sama sekali sepi pengunjung.
__ADS_1
“Kau tidak bisa dipercaya!!!” Jack kecewa kini dia kehilangan dewi Fortuna nya yang sudah dia ekspetasi kan. Emma sampai tersedak mendapat pukulan tiba-tiba dibelakang punggungnya.
“Aishhhh kenapa kau sia-siakan kesempatan ini Emma! Kita tidak tahu kapan kesempatan seperti ini bisa datang kembali!” Jack frustasi dia kehilangan kesempatan untuk dapat uang itu juga begitupun Grace yang mimiknya turut berubah karena kakanya yang bertindak bodoh terus menyirami tanaman.
“Tapi kan yang penting aku dan Tuan Muda baik baik saja, kami berdua selamat dari insiden itu.” Emma tidak diam dia membuka suara untuk membela diri sambil cengengesan menyebutkan nama Tuan Muda.
“Apa yang kau bicarakan? Kau seharusnya sudah mengambil uang itu.” Grace ikut menceramahi kakaknya juga seperti emak emak. Wajar sifat Grace lebih dominan daripada Emma. Grace bukan gadis sayang lembut, dia blak biarkan jujur tidak peduli manis atau pahit, yang penting baginya adalah kejujuran hal yang paling utama. Entah kenapa melihat Emma dan Grace seperti du gadis yang tertukar, seharusnya Grace lebih cocok menjadi seorang kakak dan Emma adalah adik.
Tiba-tiba...
Bunyi musik terdengar dari sebuah ponsel.
“Ayah??”
“Hehehehe itu ponselku, artinya ada sebuah pesan masuk.” Jack membuka ponselnya membaca pesan text lalu kemudian dia terdiam dan langsung beranjak dari kursi, mengganti serbet ayam yang dikalungkan di lehernya dengan jaket kulit berwarna coklat lalu bersiap pergi dengan langkah terburu-buru.
“Ayah mau pergi kemana? Aku disini masih terluka.” Tanya Emma.
“Memangnya kemana kau pikir? Aku ingin melakukan doa malam.”
“Doa malam? Lalu restoranmu?” Grace ikut heran.
“Putriku terluka dan restoran sekarang tidak penting untukku. Setidaknya aku harus pergi dan berdoa. Oh ya ampun.... Oh ya ampunn..” Gelagat Jack tercium berbeda oleh kedua putrinya. Emma dan Grace langsung saling pandang pikiran mereka mengartikan hal yang sama. Ada yang tidak beres...
“Bukankah ini terlihat agak akrab?” Tanya Emma, dia juga turut menyipitkan matanya.
__ADS_1
“Ya....” angguk Grace setuju dengan apa yang dimaksud kakaknya Emma.
...****************...