
Flashback
“Selamat atas karyamu Emma wuhuuuu, ini karya yang indah di akhir tahun. Aku tidak menyangka lukisanmu akan terpilih untuk dipamerkan di event tahun ini. Emma naiklah keatas panggung orang-orang ingin melihat si pelukis kita tahun ini.” Emma sama sekali tidak ingin melewatkan kesempatannya. Perjuangan yang berbuat hasil kini lukisannya terpilih untuk dipamerkan di gelaran gallery tahunan kota. Banyak tamu undangan yang memuji karyanya, makin menjadi spesial acara gallery tahun ini karena juga turut berhadir Tuan Muda Ryan Connor, dia ikut bertepuk tangan mengapresiasi sangat pelukis Emma Lee. Emma sangat bersemangat diatas panggung melambaikan tangan kepada para tamu yang berhadir. Dia lebih tinggi naik keatas podium dan kini seluruh orang yang ada di gallery semua bisa jelas melihatnya.
AWASSSSSS
Gaun merah panjang yang Emma kenakan tidak sengaja dia injak membuat dirinya kehilangan keseimbangan, dia oleng dan tubuhnya jatuh dari podium panggung.
“AKU MENANGKAPMU!!” Emma menutup matanya, dia selamat tidak terjatuh ke lantai bawah panggung jika tidak betapa sakitnya pinggang Emma setelah jatuh dari panggung yang tingginya 1 meter itu.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja? Apakah kamu terluka? Emma hanya terdiam, ini sebuah mimpi indah. Seorang pangeran pujaannya yang menangkap tubuhnya. Emma begitu erat mengalungkan tangannya di leher Tuan Muda Ryan.
...----------------...
Masa kini
Ryan membalik halaman jurnal itu, matanya melihat satu persatu semua tempelan koran dan foto-foto dirinya.
“Tentu saja, kau meninggalkan kesan yang kuat...” jawab Ryan, walau sebenarnya dia kurang mengingat kejadian itu, tapi dia tidak ingin mengecewakan tamunya itu.
__ADS_1
“Nona Emma...” Ryan mendekati Emma, sekarang pasti gadis itu sangat gugup.
“Ada bunga yang menempel di rambutmu,” Ryan menunjukkan kelopak bunga berwarna ungu itu pada Emma, “dan ini, bersihkan sisa krim kue yang masih menempel.” Ryan memberikan sebuah sapu tangan putih miliknya. Emma hari ini benar-benar terbius, dia terus tersenyum ceria sambil sesekali memegangi pipinya sendiri. Jujur sebenarnya dia sangat malu sekarang, tapi sulit mengontrol tubuhnya untuk tidak salah tingkah didepan Ryan.
Emma begitu riang, dia bertingkah menerima sapu tangan dari Ryan seperti seorang anak kecil yang bahagia mendapatkan cokelat. “Terima kasih Tuan Muda...” Emma masih salah tingkah. Tangannya memyambut sapu tangan itu dan langsung menciumnya, Hummmm aroma wangi yang lembut di sapu tangan itu sangat menenangkan.
“Nona Emma, kau adalah seorang pelukis?” Tanya Ryan berbincang ringan dimeja makan sambil menyantap hidangan makan siang.
“Ya hari itu, aku masih ingat saat kamu bilang jika kamu berharap bertemu denganku lagi, ketika aku menjadi pelukis terkenal dan itu sangat membantuku untuk terus bersemangat.” Emma berhenti sejenak, tangannya merogoh kantung tas dan mengeluarkan sebuah amplop undangan berwarna coklat khusus dia siapkan untuk Tuan Muda Ryan. “untuk kedua kalinya dalam karirku aku dipilih kembali di gelaran gallery lukis dan special event tahun ini menampilkan semua karya lukisku, jika kau punya waktu datang dan saksikan eventnya. Jangan anggap ini adalah kewajiban aku hanya berpikir ini akan hebat jika kau bisa datang juga.”
__ADS_1
“Aku akan memeriksa jadwal ku. Aku akan mencoba membuat atau merubahnya jika aku bisa.” Terima kasih atas undangannya.” Ryan menerima undangan itu, lalu bersama kembali melanjutkan acara makan siangnya juga bersama para tamu yang lain.
...****************...