
“IBUU...IBUU!!! KAU DIMANA!! Arghh ini membuatku gila, ibu!!” Teriakan Galvin dia berkeliling hutan terus mencari ibunya dimalam yang hampir larut.
Rasa khawatir Galvin semakin menjadi karena pecahan piring dan makanan yang berantakan dilantai yang dia lihat saat dirinya baru saja pulang kerumah. Galvin terus berjalan menyusuri hutan lalu sampai menyusuri jalanan beraspal, tiba-tiba tidak sengaja langkah kakinya seperti menginjak sebuah benda. Galvin langsung menunduk dan memeriksa benda dibawah sepatunya, sebuah pecahan pin dari dekat mobil yang sebelumnya melaju pergi.
“Lambang Garuda? Ini milik...” Galvin terdiam memeriksa dengan teliti pin itu dan seketika dia semakin serius memeriksa dengan teliti lagi, “apa ini??” Galvin termenung melihat ada bercak merah segar di pecahan pin itu, langsung dia berdiri dan mengedarkan cahaya sendernya ke lantai aspal didekat pin yang dia temukan.
“HAH, apa itu?” Sontak Galvin terkejut dengan simbahan cairan merah segar di lantai aspal, “darah??” suaranya berubah lirih dan firasat tentang ibunya muncul akibat apa yang dia temukan sekarang.
Dia tahu siapa pemilik pin itu, sebuah pin garuda yang hanya satu orang saja yang memilikinya dinegeri ini, Semua rakyat termasuk dirinya tahu. Demi mencari tahu siapa dibalik darah itu Galvin langsung besar bergegas menuju villa Connor yang satu satunya ada di desanya.
Lydia dengan tangan yang bergetar dan menangis didepan cermin wastafel, dia membersihkan noda darah Nirum diwajah dan tangannya.
Lydia mulai menjadi seorang pembunuh, batinnya dibutakan namun disisi lain hatinya masih menangis karena dosa yang dia perbuat pada orang yang selama ini menyayanginya, namun itu tidak bertahan lama karena matanya sudah hampir dibutakan oleh kekuasaan dan sekarang baginya bagaimana lari dan menutupi kejadian ini, seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi.
Lydia mengganti bajunya dengan setelan blouse dan jas selutut dengan warna putih tulang senada. Seperti melihat hantu Lydia terkejut bukan main melihat Ryan yang tiba-tiba sudah ada di villa sedang berdiri gusar didepan sofa tamu. Lydia berusaha menetralkan jantungnya, dia juga bersalah dan dialah juga orang yang pertama hampir membunuh Nirum namun dia berlagak seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
“Tuan Muda...” sapa Lydia berjalan menghampiri Ryan dengan senyum seperti wanita yang bahagia melihat kekasihnya pulang, “apakah anda pergi ke suatu tempat?”
Ryan gusar dan bingung, “bukan itu masalahnya, terjadi kecelakaan...” Ryan menjadi anak kecil yang ketakutan, “aku menabrak orang...”
“Bagaimana bisa...” Lydia berlagak terkejut.
__ADS_1
“Itu bukan salahku! Dia melompat kedepan mobil!”
Ekspresi Lydia masih terkejut namun setelahnya mencoba menenangkan Ryan, “saya yakin itu bukan kesalahan anda Tuan, tapi kalau anda menyetor keluar setelah minum mungkin akan buruk situasinya untuk anda Tuan.” Lydia menjelaskan dengan memegang tangan Ryan namun Ryan tetap menyangkal dia tidak berbuat salah.
“Aku tid...” Ucapan Ryan terputus.
“IBUUU!!” Teriakan Galvin diluar villa membuat mereka berdua kalut.
“IBUUU!!” Teriakan itu memunculkan kecemasan Ryan dan Lydia, apalagi langkah Galvin yang menaiki tangga luar villa untuk mencek keadaan rumahan didalam makin menambah gusar mereka.
“Tuan Muda ikut aku sekarang!” Lydia langsung menarik tangan Ryan dan langsung mematikan semua lampu diruangan lalu bergegas bersembunyi saat mendengar langkah Galvin yang sampai di lantai teras atas tempat ruangan mereka juga ada didalam.
“Di mobilku...”
“IBUUU!!!” Galvin kembali berteriak, dia menyentari ke dalam ruangan yang dindingnya tembus pandang karena menggunakan kaca transparan sebagai dindingnya.
Sebuah bir yang baru saja dibuka, makan malam yang baru saja dihidangkan, dan sebuah tas wanita berwarna hitam berlambang garuda yang di payet, ruangan tampak seperti berpenghuni tapi sunyi dan gelap.
“Aku yakin lampu menyala semenit yang lalu tadi...” Gumam Galvin membuatnya semakin yakin juga.
“Apa tidak ada orang disini?” Dia sama sekali belum menemukan satu orang pun dalam ruangan lalu Galvin memilih untuk kembali turun kebawah memeriksa mobil sport yang terpakir, mobil yang sama dia lihat sebelumnya melaju dijalan tidak jauh dari lokasi dia temukan simbahan darah dan pecahan pin garuda.
__ADS_1
Galvin menyusuri bagian depan mobil lalu menemukan pin yang pecah didepan kap mobil. Langsung dia merogoh kantongnya mengeluarkan pin pecahan itu dan menyatukan kedua sisi pin yang pecah dengan sebelah pin yang dia temukan.
“Ini mobilnya...” Galvin langsung bergerak ingin memeriksa bagian yang lain.
(Panggilan telepon, Ibu)
Dering telepon yang menjeda langkah Galvin, dia sangat senang siapa nama yang menelponnya itu.
“Ibu? Ibu?” Galvin terlihat sangat senang.
“Kenapa kau belum pulang? Aku takut....” suara anak kecil yang merengek ketakutan sendiri dirumah, bahagia Galvin hanya sekejap saja, orang yang dia kira menelpon adalah ibunya ternyata adalah adik kecilnya Arya.
“Aku akan pulang, Arya. Setelah aku menemukan ibu aku akan kembali bersamanya jadi bacalah bukumu dan jangan keluar rumah, hari akan mulai larut.” Kata Galvin lalu langsung menutup teleponnya dan melanjutkan memeriksa bagian mobil yang lain.
“Ibu?” Galvin sontak berbalik kebelakang setelah mendengar bunyi keras benda didekat kolam villa. Dia tidak melanjutkan untuk memeriksa setiap bagian mobil, dia langsung berlari ke arah suara memastikan apakah ada ibunya atau tidak.
Tidak ada siapapun selain dirinya, itu hanya suara benda yang jatuh. Galvin mulai kebingungan dan tiba-tiba mobil yang belum sempat dia periksa mendadak menyala dan langsung melaju keluar meninggalkan Galvin yang turut mengejar. Salah satu lampu halaman yang menerangi jalan aspal villa berhasil menyorot sebuah wajah yang tidak asing baginya, membuat Galvin terkejut dengan siapa sosok itu.
Nafasnya tersengal dan tidak percaya, “apa itu tadi?” mata Galvin menunduk dan berpikir beberapa saat dia juga mematung, “apa yang baru saja kulihat?”
Galvin sungguh tidak percaya....
__ADS_1