Pernikahan Terakhir

Pernikahan Terakhir
Gejolak Marah Ryan


__ADS_3

Ini adalah pertama kalinya aku...aku serius ini pertama kalinya aku...” ucap Jack sambil memelas, lampu tiba-tiba padam dan polisi yang tiba-tiba menggerebek.


“Berhenti berbohong seolah-olah seperti ini pertama kalinya untukmu! Bagaimana bisa kau berjudi lagi dengan mereka?” Emma mengomel, dia sangat kesal.


“Apa ini? Kalian berdua menipuku dengan seolah-olah polisi menggerebek kami? Jack baru menyadari yang menariknya paksa dengan tangan ditahan dibelakang ternyata bukanlah polisi melainkan kedua anaknya sendiri, “Argghhh kalian membuatku ketakutan.”


...----------------...


Diruang keluarga


Sebuah surat dari secarik kertas, “jika aku tidak menerima $10.000 besok, kau akan kehilangan bantuan dari layanan kredit.


“APA-APAAN INI AYAH???”


Jack terlihat gugup, selama ini dia diam-diam menutupi sesuatu dari kedua putrinya.


“Apa ayah meminjam uang dari rentenir? Untuk berjudi? Hanya untuk itu? Benarkah ini ayah??” Emma kecewa mengetahui perbuatan ayahnya, dia tidak habis pikir kepalanya ikut berdenyut karena masalah yang datang ini.


Ekspresi Emma frustasi, “Apakah kau kehilangan akal sehat ayah? AARRGHH!! Apa kau mencoba berjudi dengan deposit rumah kita juga?? “ Emma mengomel dengan ekspresi marah. Beberapa kalian dia beranjak dari tempat duduknya, hati dan pikirnya tidak tenang memikirkan ayahnya yang meminjam uang sebanyak $10.000, Emma tidak habis pikir.


“YA!! AKU PANTAS MATI!” Jack tidak kalah menunjukkan rasa frustasinya, “aku hanya perlu memotong tanganku! AKU AKAN MEMOTONGNYA!” Jack dengan nekat berucap seperti itu, dia bergegas ke dapur ingin mengambil pisau.


“AYAHH JANGAN!!” Emma langsung dengan cepat menahan tangan ayahnya yang berusaha mengambil pisau dapur, dia gadis yang lembut mudah diprovokasi.


“Jangan hanya berucap, SANA LAKUKAN!” Grace dengan nada marah menantang sang ayah.


“Kenapa bengong? Ayo lakukan! Lanjutkan!” Semakin Jack ditantang anaknya sendiri Grace, semakin dia merasa ciut. “TIDAK ADA YANG MENGHENTIKAN KAU SEKARANG!!”

__ADS_1


“Grace.... Nak kenapa kau begitu sangat marah? Kau membuat ayah takut.”


Grace berdiri melempar kertas surat ancaman itu ke sembarangan tempat. Kesabaran Grace ikut habis karena kelakuan ayahnya yang sudah di beri toleransi beberapa kali dan selalu diberi kesempatan tapi kali ini bagi Grace kali ini tidak ada lagi yang namanya kesempatan untuk ayahnya.


“KAU BILANG SUDAH TIDAK BERMAIN JUDI!!” suara Grace semakin meninggi, “Jika kau tidak bisa berhenti bermain judi, AKU AKAN BERHENTI MENJADI PUTRIMU!!” Grace menekan setiap kalimatnya gebetan rahangnya menahan amarah yang sekarang di puncaknya.


“Aku tidak punya yang lagi sekarang! Aku muak membayar semua hutangmu lagi, kau bukan keluarga. TAPI HAMA!!” Pernyataan Grace sangat pedas, dia tidak peduli siapa orang didepannya sekarang. Tidak peduli walaupun pria yang dia marahi adalah Ayahnya, bagi Grace kesalahan tetap kesalahan.


“Hentikan, Grace!” Emma berusaha melerai dan menghentikan cercaan adiknya itu.


“LEPASKAN AKU!!” Grace mendorong Emma jatuh ke sofa, “orang yang mengambil uang dari dompet adiknya seharusnya tidak ikut untuk bicara!! Mulai sekarang aku tidak memberi Ayah sepeser pun untuk hutangnya! Mau tanganmu dipotong atau pergi ke penjara, BAYAR HUTANGMU SENDRII!”


“Grace...” Emma kembali mencoba membujuk sang adik.


“MINGGIR!!” Grace adik yang super sangat keras kepala, dia kembali mendorong Emma ke sofa lalu pergi begitu saja kekamar meninggalkan Jadi & Emma.


“Aku akan mencoba untuk mendapatkan uang untuk bayar hutangmu.” Emma yang melamun duduk disofa dengan Ayahnya di sampingnya yang nampak frustasi juga sekarang.


...----------------...


Mansion Connor


“Si penyerang berada dikantor polisi?


“Ya Tuan Muda, tapi si penyerang meninggal dunia saat sedang di intogerasi.” Jawab Apta Lydia.


“Meninggal? Apa penyebab kematiannya?” Ryan terdiam dia heran karena sebelumnya penyerang itu sehat sehat saja.

__ADS_1


“Aku pikir nyonya Milia Connor yang membunuhnya tuan.”


“Beraninya kau mengatakan itu!” suara Ryan pelan tapi menikam, “apa yang kau ketahui? Beraninya kau mencurigai ibuku?” tuduhan tiba tiba-tiba yang dilayangkan oleh Apta Lydia secara langsung menyulut emosi Ryan, tidak ada yang berani menjelek-jelekkan ibunya dan sekarang Lydia yang hanya seorang asisten berani mengatakan itu didepannya.


“Asisten nyonya Milia ada di stasiun.” Ucap Lydia sambil menunjukkan sebuah bukti foto ditangannya. “10 menit setelah dia pergi si penyerang meninggal.”


“CUKUP LYDIA!!”


“Jika Nyonya Milia sampai membunuhnya artinya dia akan menjadi pihak paling dirugikan jika pria itu buka suara.” Lydia tidak menuruti perintah Tuan Muda dia terus melanjutkan perkataannya.


“CUKUPPP!!” Ryan naik pitam, dirinya langsung mencekik leher Lydia mendorongnya keras sampai Lydia terbaring di meja kerja Ryan dengan leher yang masih tercekik.


“TUTUP MULUTMU! Sebelum aku membunuhmu!” ancam Ryan wajahnya merah.


“Nyonya Milia membuat kau terus diawasi.” Cekikan di leher Lydia semakin menguat, suara kiriman menahan sakit dan hampir kehabisan nafas.


“Apakah....ap...” Lydia nampak kesulitan bernafas, wajahnya berubah merah dan sangat jelas lekuk urat di jidatnya terbentuk, Lydia tersiksa dengan cekikan yang kencang itu, “apakah kau benar-benar tidak tahu kenapa aku ingin mendekorasi ulang ruanganmu Tuan Muda?” volume suara Lydia mengecil tapi dia terus berusaha ditengah cekikan Ryan.


“Aakkkhhh....” Lydia seperti akan mati wajahnya sangat merah karena kekurangan pasokan oksigen. Dia tidak sanggup lagi untuk berbicara karena cekikan semakin menyiksanya, Lydia langsung buru buru merogoh sakunya, mengambil handphonenya menunjukkan sebuah bukti foto yang dia foto dikamar Milia.


Tiba-tiba menjadi senyap, Ryan terdiam dia melangkah mundur dengan lemas, melepas cekikan membuat Lydia seketika tumbang ke lantai, dirinya lemas. Sekarang pikiran Ryan bingung melihat foto yang menunjukkan layar pengawas yang terpampang jelas sedang mengawas setiap sudut ruangannya.


“Setiap item yang nyonya Milia bawa memiliki kamera tersembunyi yang terpasang didalamnya.” Dengan tubuh yang masih lemas Lydia berusaha untuk lanjut menjelaskan walau dengan nafas yang terkenal.


Deru nafas Ryan bergemuruh, dia menggenggam kuat ponsel Lydia. Tangannya bergetar, dan kini kemarahannya memuncak. Selama ini dia merasa dibohongi oleh sosok yang sangat dia hati dan sayangi itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2