
"Mas, aku mau cerai." kata Isabella seperti mengatakan 'Mas aku mau makan gorengan,' mudah banget keluarnya lancar tanpa filter.
"Kamu bercandanya ngak lucu Sayang. Jangan diulangi lagi ah, kita bahkan baru 3 bulan menikah," kata Arya yang saat itu masih mengerjakan laporan pekerjaannya dari perusaan di rumahnya.
"Aku ngak bercanda Mas. Aku serius mau cerai sama kamu," kata Isabella kembali kali ini penuh penekanan disaat disetiap kata-katanya.
"Maksudnya gimana Bella? Bukankah kita tidak ada masalah, selama pernikahan kita?" tanya Arya semakin bingung.
"Sayang jika memang kamu punya persoalan denganku kita bisa bicarakan ini baik-baik bukan. Kita bukan ABG yang baru mencoba pertama kali pacaran Bella tapi kita orang dewasa yang telah menikah. Ada restu orang tuaku dan juga keduaa orang tuamu dalam pernikahan ini," kata Arya dengan nada lemah lembut agar sang Istri tidak tersinggung.
"Hanya kau yang mengharapkan pernikahan ini Mas! Bukan kedua orang tuamu yang telah tiada dan bukan juga orang tuaku! Bahkan aku sama sekali tidak mengharapkan pernikahan bodoh ini terjadi Mas!" kata Bella tegas.
"Bukankah kita saling mencintai Bella? Kau dan aku saling mencintai hingga berakhir di pelaminan. Apakah kamu masih menyimpan dendam padaku yang pernah menolakmu diawal dulu? Tapi bukankah aku sudah mengatakan jelas mengapa alasanku tidak mau menjadi kekasihmu, aku tidak ingin pacaran tapi aku langsung menikah. Sekarang kita menikah lantas mengapa kamu masih menyimpan dendam?" tanya Arya yang sama sekali tidak bisa memahami cara berpikir sang Istri.
"Justru karena kamu menolakku pernikahan konyol selama tiga bulan ini terjadi. Kau tahu Mas, kamu itu hanya menang diwajah saja tapi kamu miskin. Aku tidak suka hidup miskin mau setampan apapun kamu! Jadi aku ingin cerai!" teriak Bella kembali.
"Bella, materi bisa kita cari bersama tapi pernikahan itu suatu hubungan yang sakral. Pernikahan itu adalah ibadah seumur hidup Bella," lagi Arya masih membujuk Isabella agar tidak mengakhiri pernikahan mereka.
__ADS_1
"Peduli apa aku dengan pernikahan! Bagiku bisa menikah denganmu adalah sebah prestasi yang sangat membanggakan karena aku bisa mendapatkan mobil baru setelah aku bercerai denganmu!" kata Bella dengan senyuman sinis.
"Bella istigfar kamu, kenapa kamu malah mempertaruhkan pernikahan kita setara dengan sebuah mobil. Apa kamu sakit?" tanya Arya mulai kehilangan kesabarannya tapi masih menjaga ritme suaranya.
"Ya aku sakit jika terus bertahan di rumah kumuh dan pengap seperti kediamanmu ini Mas. Aku akan sakit jika teruus-terusan hidup kekurangan sebagai istrimu!" lagi Bella berteriak dengan lantang.
"Bella, aku tidakĀ ingin bercerai. Aku mencintaimu, sangat mencintai dan tidak ingin kehilangan dirimu." lirih Arya dan memeluk Bella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kita bisa berjuang bangkit dari kemiskinan ini bersama Sayang, jadi tolong jangan tinggalkan aku." kata Arya yang sudah tidak mampu menahan rintikan air matanya walau sama sekali tidak terisak.
"Misiku sudah berhasil Mas, aku mau menikah denganmu karena bertaruh dengan sahabatku untuk mendapatkan sebuah mobil. Sekarang aku sudah berhasil dalam misiku jadi aku tidak akan lagi bertahan pada pernikaahan bodoh ini. Aku tidak akan minta maaf padamu karena bagiku... Cintamu adalah sebuah kebodohan!" kata Bella dan menggeret kopernya yang telah dia siapkan untuk kepergiannya hari ini.
"Mas lepaskan aku!" teriak Bella dan mendorong kasar Arya ke lantai yang membuat Arya kian linglung.
"Setuju atau tidak! Percaya atau tidak surat perceraian kita dari pengadilan akan segera kau terima Arya. Jadi tolong jangan membuatku terjebak dalam pernikahan bodoh ini bersamamu!" kata Bella meninggalkan Arya tapi sayangnya Arya masih ngotot mengejarnya dan tidak mempercayai apa yang didengarnya. Bagaimanpun pernikahan mereka berjalan dirute yang seharusnya tanpa ada kejanggalan sama sekali.
"Aku menikah denganmu hanya karena pertaruhanku dengan teman-temanku di kantor. Kamu pikir aku sudi menikah dengan karyawan biasa sepertimu Arya? Tentu tidak! Aku tidak akan bisa hidup enak jika hidup dengan Pria melarat sepertimu!" Cerca Isabella saat meminta cerai dari Arya. Setelahnya meninggalkan Arya yang termangu dalam tangisnya merasa sangat tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
__ADS_1
Semalaman Arya meratapi pernikahannya yang diambang kehancuran seperti para gadis korban perselingkuhan Suaminya disinetron ikan terbang. Jangan-jangan bayangkan ada minuman alkohol Arya bahkan tidak tahu bentuk alkohol itu seperti apa kecuali melalui drama-drama yang ditontonnya saat ikut belajar kelompok semasa kuliah di rumah teman wanitanya.
Arya benar-benar terduduk diujung ranjangnya dengan menangis semalaman hingga kepalanya pusing dan hidungnya merah. Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari kepalanya, mengapa ini menimpanya. Tidak pernah bercinta, sekalinya jatuh cinta malah berujung nestapa. Oooooo, dunia bagaikan panggung sandiwara....
Begitulah kiranya, tapi meski Arya menangis hingga matanya perih tapi waktu pagi bahkan dengan tidak berperi toleransi tetap menghampiri. Begitu azan subuh berkumandang, sejenak antara tidur dan terjaga Arya mendengar sang Ibu yang telah lama berpulang memanggilnya untuk sholat ke masjid.
"Nak, bangun azan sudah berkumandang. Ayah sudah menunggu untuk ke surau bersamamu, jangan terlambat Nak. Hanya Allah sebaik-baiknya tempat bergantung," kata Ibunya membuat Arya terbangun dan kembali menangis. Tapi apa yang dibilang sang Ibu meskipun itu hanya mimpi itu adalah kebenaran,
Arya bangun dari duduknya dan segera mandi dalam waktu cepat dan segera berwudhu untuk pergi kesurau terdekat tempatnya tinggal. Selepas sholat subuh di masjid, Arya memilih tidur sejenak karena memang dia masuk kerja jam 8 pagi sedangkan semua persiapan telah dia siapkan dan dia juga sudah mandi.
Lengkap dengan seragam kerja dan dasinya Anak kesayangan Ibu yang telah lama berpulang itu memilih tidur setelah memasang alaram jam 7.30 karena memang tempatnya bekerja hanya berjarak 10 menit dari tempatnya tinggal.
Dua jam setelahnya
Meski hati hancur dan tadi malam dia menangis menggila maka pagi ini adalah sosok Arya yang sangat-sangat jauh berbeda dengan tadi malam hingga subuh menjelang. Pagi ini Arya tampak dingin dan ganteng seperti biasanya. Jika biasanya dia akan menunggangi motor bututnya maka hari ini dia memilih menaiki sepeda tua Ayahnya.
Sepeda tua yang selalu menjadi kendaraan kebanggan sang Ayah selama masa hidupnya dan masih terawat walau tampak lusuh. Bukan tanpa alasan sepeda tua ini Arya pakai, tapi dia membutuhkan Ayahnya saat dunia terasa kejam padanya dan meski begitu kewajibannya sebagai pekerja tetap harus dipenuhi.
__ADS_1
"Hei lihat, Cinderello sudah datang!" sorak teman-teman Bella yang kebetulan baru saja keluar dari mobil honda brio kebanggaan versi mereka.