
Dua hari berlalu dengan cepat, pagi ini Jihan, Mama, Dennis dan Zio bertolak ke puncak untuk liburan. Ya sekarang adalah hari sabtu, sebenarnya Zio tidak libur tapi demi sang Adik yang akan berangkat menuntut ilmu ke negara orang beberapa hari lagi Zio memilih meliburkan diri.
"Dek... Kenapa kamu ngak kuliahnya disini saja sih? Kayak awal-awal? Suasana ngak seru kalau kamu ngak ada di rumah," kata Dennis memecahkan keheningan diantara mereka berempat.
"Halah gayamu Mas! Lagi pula kalau Jihan kuliah disini kamu malah makin sibuk dengan pekerjaan dan makin ngak ada waktu buat jalan-jalan begini! Jadi masih ada untungnya Adik kamu kuliah di Negara orang setidaknya kamu mau meluangkan waktu buat dirimu sendiri!" kata Mama kesal yang membuat Zio dan Jihan tertawa.
"Kamu juga Bang! Jangan ketawa, kamu sama Dennis itu sama saja. Sama-sama gila kerja, sesekali kalian itu harus ada waktu untuk diri sendiri. Jangan semuanya tentang pekerjaan melulu, Mama itu udah kepengen nimang cucu dari kalian berdua! Kapan Mama dipertemukan dengan calon menantu Mama?" tanya Mama pada Zio dan Dennis yang membuat keduanya mati kutu.
"Ma jangan bahas calon menantu dululah Ma. Kitakan mau liburan masa disuruh stresa gara-gara calon Istri," kata Dennis yang diangguki setuju oleh Zio.
"Do'akan saja Ma, supaya Mas Dennis dan Bang Zio bisa memberikan Mama Menantu secepatnya." kata Jihan menengahi.
"Aamiin," kata Ketiganya.
"Bagaimana jika Mama jodohkan dengan Anak dari teman Mama? Mau ngak Bang Zio dan Mas Dennis berkenalan saja dulu? Nanti jika memag Abang dan Mas memang tidak ingin Mama tidak akan memaksa." kata Mama menyarankan.
"Aku rasa itu ide yang bagus buat Abang dan Mas. Ya nanti kalau sesuai yang dilanjutkan kalau tidak ya berhenti dijalan dan akhiri secepatnya agar tidak ada harapan yang tumbuh subur dibalik hubungan yang terjalin." kata Jihan.
__ADS_1
Baik Zio maupun Dennis menghela nafas panjang.
"Ma apa tidak bisa Jihan saja yang menikah lebih awal?" tanya Dennis yang membuat Zio mengerutkan keningnya.
"Memangnya ngak papa kalau Jihan menikah lebih awal?" tanya Zio pada Dennis.
"Aku ngak masalah Bang, lagi pula aku tidak ada calon Istri dan juga tiska menyukai perjodohan. Biarkanlah waktu yang menentukan kapan hati ini akan berlabuh dari pelayarannya," kata Dennis sok puitis.
"Huek! Mual aku dengar bahasa kamu Mas. Aku mau-mau saja menikah lebih awal, hanya saja aku juga ingin Abang dan Mas ada yang menemani jika aku jauh dari kalian berdua. Ada yang memahami dan tempat berbagi cerita," kata Jihan yang membuat mata Mama berkaca-kaca.
Bagaimanapun Papa adalah sahabat baiknya tempat dia bercerita beratnya hari yang terlalui. Tempatnya mengadu kala takut mengahampiri, tempat menangis ternyamannya saat lagiagi Anak-anaknya sibuk dengan dunianya sendiri.
"Mama jangan sedih. Ikhlaskan Papa Ma, Allah lebih sayang Papa. Karena itu Allah panggil Papa pilang lebih awal, sekarang yang bisa kita lajukan hanyalah mengirimkan do'a pada Papa." kata Jihan membuat kedua Saudara laki-lakinya menyadari jika sanh Mama susah menangis dipelukan si Bungsu.
"Mama ingin kalian semua segera menikah, namun Mama juga khawatir jika nanti kalian meninggalkan Mama dan sibuk dengan keluarga masing-masing... Jika Papa kalian masih hidup, rasanya tidak akan terlalu sunyi namun sekarang Mama hanya sendiri jika kalian semua sudah menikah." kata Mama mengungkapkan ke khawatirannya pada ketiga Anaknya.
"Hmmm, Ma... Alasan Abang dan Dennis belum mempertemukan Mama dengan calon Menantu Mama jyga memiliki alasan yang sama. Kami tidak ingin meninggalkan Mama sendiri jika kami telah menikah nanti, kami ingin Mama dan keluarga kecil kami tinggal di rumah yang sama." kata Dennis.
__ADS_1
"Rumah yang penih kehangatan dan kebahagiaan dari keluarga besar kita. Tapi sayangnya... Hingga saat ini baik aku ataupun Bang Zio belum menemukan kandidat yang tepat." kata Dennis yang diangguki oleh Zio.
Ya mereka ingin bisa seperti di India dimana keluarga besar hidup rukun bersama. Walau ada pertengkaran dan tangis yang menemani didalamnya tapi kebersamaan akan selalu menjadi warna yang indah untuk ke empatnya.
"Tapi itu semua hal yang sulit Sayang... Kita semua tahu para gadis zaman sekarang tidak menyukai tinggal di rumah mertuanya Nak." kata Mama yang juga disetujui oleh Jihan dan Zio.
"Meski sulit, tapi kita tidak ingin menyerah Ma. Masa-masa bersama dengan Mama dan Papa adalah hal yang sangat menyenangkan dan membahagiakan. Jadi biarlah terlambat dari pada bersama dengan orang yang salah," kata Dennis.
"Aku setuju dengan Mas Dennis, Ma." kata Jihan.
"Apa yang dibilang Dennis itu sangat benar, Ma." kata Zio pada Mama.
"Baiklah, Mama tidak akan menanyakannya lagi. Hanya do'a Mama yang bisa mewakili seberapa kuat keinginan Mama melihat Abang dan Masmu melepas masa lajangnya." kata Mama yang membuat Jihan tersenyum menganggukkan kepalanya.
Tidak butuh waktu lama ke empatnya tiba di vila mereka yang ada di puncak. Baik Jihan maupun Mama sama-sama menikmati suasana keindahan alam tempat mereka tinggal.
"Andai bisa sering kesini ya Mas?" tanya Jihan karena saat itu Dennis berada disampingnya.
__ADS_1
"Makanya kamu cepat pulang dan segeralah nerikan Masmu ini Adik Ipar. Arya mungkin salah satu kandidat yang baik." kata Dennis yang hanya ditanggapi senyum oleh Jihan.