Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)

Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)
Makan Malam Berempat


__ADS_3

"Baiklah karena sudah saling bertemu ayo kita makan malam bersama!" kata Jihan yang membuat ketiga yang lainnya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kau pulang larut terus Arya? Kalau kau terus begini kau akan menjadi Duda abadi... Kau tahu, cukup aku dan Abangku yang betah melajang kau jangan ikut-ikutan." kata Dennis pada Arya yang membuat Pria itu tertawa kecil.


"Pernikahan itu bukan seperti membeli gorengan, aku sudah pernah menikah sekali dan gagal mempertahankannya. Aku ingin ketika menikah kembali bertemu dengan orang yang tepat dan akan menemaniku beribadah bersama hingga ajal menjemput," kata Arya yang membuat ketiga yang lainnya mengangguk setuju.


"Pikiranmu begitu manis, Mas. Bagi kebbanyakan orang sekarang menikah bukan untuk ibadah, yang penting cinta dan lepas dari pertanyaan warga sekitar itu sudah lebih dari cukup. Pernikahan berdasarkan nafsu sesaat dan berakhir dengan kata bosan, begitulah kebanyakan kisah pernikahan." kata Jihan menimpali.


"Oh iya bukankah Nona Jihan sedang berkuliah di USA, kenapa sekarang sudah pulang?" tanya Arya pada Jihan.


"Jihan... Panggil Jihan saja. Aku memang masih berkuliah hanya saja sekarang sedang masa liburan dan Kedua saudaraku yang tampan ini memaksaku agara segera pulang dan tidak menerima alasan apapun." kata Jihan yang membuat Zio dan Dennis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Oh iya Arya apakah kau masih ingat pembicaraan ditempat gym beberapa bulan yang lalu?" tanya Dennis pada Arya.


"Maksudmu?" tanya Arya pada Dennis.


"Maksudku adalah aku ingin menjodohkan dirimu dengan Adinda kami tercinta Jihan. Bagaimana sayang? Kamu sudah berjanji untuk tidak menolak pada pilihan Mas kan?" tanya Dennis pada Jihan.


"Semuanya masih bisa terjadi... Jika memang tidak suka dan belum siap jangan dipaksakan. Ini pernikahan bukan beli sarapan, salah beli sarapan saja akan berakhir dipembuangan karena tidak cocok dengan perut apalagi salah pilih pasangan." kata Zio sarkas.


"Abang!" panggil Dennis dengan suara yang agak lantang.


"Jika kau saja takut melanjut pada sebuah pernikahan lantas atas dasar apa memaksa Sweetyku yang masih belajar untuk menikah. Itu masih terlalu dini kau tahu?'' tanya Zio marah pada sang Adik.


"Mas... Abang... Sudah ya kita ingin makan dan makanan kita sebentar lagi datang. Sangat-sangat tidak baik jika bertengkar didepan makanan. Lagi pula Mas Arya belum tentu mau denganku jadi mari kita tutup pembicaraan yang sangat tidak aman dalam keadaan lambungku yang masoh kosong." kata Jihan menengahi pertengkaran kedua Kakaknya.


"Jihan ini hidupmu janga..."

__ADS_1


"Udah Bang... Nanti kita bicarakan lagi ya," kata Jihan yang tidak ingin bertengkar lagi dengan Kakaknya yang sulung.


Sedangkan Arya berada diposisi yang serba salah, bagaimanapun disini dia hanya ingin makan malam. Bukan membicarakan hal berat seperti pernikahan, lagi pula untuk deep talk seperti itu dia juga belum sanggup untuk saat ini.


Ke empatnya makan malam dalam diam, hanya sesekali diselingi oleh pembicaraan ketiga pria itu. Sedangkan Jihan hanya diam tanpa menanggapi sama sekali.


Hingga ponsel Jihan berdering dan nama Gerald terpampang jelas disana.


"Siapa Dek?" tanya Dennis.


"Teman geng motor Mas, hehehe" kata Jihan cengengesan.


"Kamu udah janji ya sama mendiang Papa kalau kamu ngak motor-motoran lagi apalagi sampai balap liar!" Zio dengan tegas mengingatkan si Bungsu.


"Lihat aja boleh ya Bang?" tanya Jihan negosiasi.


"Bang tapikan, Jihan pulang sesekali. Sedanhkan Gerald dan yang lainnya kalau siang pada sibuk dengan perkuliahan masing-masing." kata Jihan memohon pada sang Abang.


"Sekali ngak tetap ngak ya! Abang ngak mau kamu lepas kendali dan menjadi gadis badung lagi kayak semasa SMA dan awal perkuliahan!" kata Zio tidak bisa ditawar lagi.


"Dek, kamu ngapain galau sih? Setahu Mas, Gerald ikut latihan tinju dan beberapa kali juga ikut pertandingan tinju, bukankah kau juga menyukai tindakan adu jotos mengapa tidak menghampirinya ketempat latihan saja?'' tanya Dennis pada Jihan.


"Malas kesana Mas, kalau siang aku maunya travelling atau ngak ketempat indah-indah. Mungkin naik gunung atau menyelam, ah Mas dan Abang ngak ada yang mau menemani akukan jadi keki! Sekalinya pulang kemana-mana sendiri!'' kata Jihan kesal.


"Kau menyukai kegiatan alam?" tanya Arya pada Jihan.


"Ya begitulah, tapi sayangnya Pak Dokter dan Pak CEO ini sangat sibuk dan tidak punya waktu untukku." kata Jihan protes.

__ADS_1


"Oh Tuhan, Adikku sayang! Bahkan jika kau menikah dengan Arya maka kau juga akan mengalami hal yang sama atau mungkin lebih parah. Kau tahu kenapa? Arya adalah penggila kerja tanpa kenal waktu," kata Dennis yang diiyakan oleh Zio.


"Dunia orang dewasa yang kelewat dewasa seeprti kalian semua memang sangat-sangat tidak asik! Apakah hanya ada bekerja dalam kehidupan kalian?'' tanya Jihan.


"Iya," jawab ketiganya serentak.


"Wow! Wajar kalau kalian bertiga tidak punya pasangan," kata Jihan yang membuat ketiganya sedikit terhenyak.


Setelah makan malam berakhir ke empatnya berpisah. Lebih tepatnya hanya Arya yang pamit karena harus pulang ke rumahnya. Sedangkan tiga saudara itu juga pulang dengan membawakan bingkisan untuk Mama tercinta yang disangsikan masih terbangun mengingat Mamanya setiap habis sholat isya akan langsung tidur.


"Dek... Kamu beneran mau muncak?" tanya Zio serius.


"Ngak juga sih Bang, belakangan setelah aktivitas kuliah dan juga ngurusin bisnis aku maunya istirahat. Kalaupun mau menghibur diri ya paling cari yang manis dan dingin saja supaya lebih lega, atau palingan ke pantai menikmati suasana senja di tepi pantai." kata Jihan yang membuat kedua saudara laki-lakinya mengangguk mengerti.


Mungkin mereka harus merencanakan liburan keluarga, apalagi Mama snagat sering murung sejak Papa tidak lagi bersama mereka.


"Dek gimana kalau dua hari lagi kita jalan-jalan ke tepi pantai? Bersama Mama juga?" tanya Zio yang disetujui oleh Dennis karena dua hari lagi dia juga ada waktu libur.


"Aku kurang suka pantai diwaktu libur, terlalu ramai. Jadi kurang menghayati." kata Jihan enteng.


"Bagaimana jika kita keluar kota? Ke vila yang sempat Papa beli di puncak? Suasana disana juga tentram dan sejuk?" tanya Dennis yang disetujui Zio.


"Boleh, Mama pasti juga butuh suasana baru." kata Jihan.


Setibanya di rumah Jihan langsung memasuki kamarnya karena sang Mama sudah terlelap dan kedua saudara laki-lakinya juga harus segera beristirahat.


Setibanya di kamarnya Jihan melamun sebentar, bayangan wajah Arya menari diruang mata dan pikirannya.

__ADS_1


"Arya, nama yang indah. Tapi jika belum selesai dengan masa lalunya itu akan sangat menyebalkan dan aku tidak berminat pada seseorang yang belum menyelesaikan urusannya dengan masa lalunya." kata Jihan dan berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu.


__ADS_2