
Setelah Bella pergi Jihan dan Arya dalam suasana yang canggung.
"Maaf, tadi saya memang sangat membutuhkan bantuan Mbak. Kebetulan wajah Mbak mirip dengan Adik teman saya yang namanya Jihan makanya saya langsung panggil Mbak. Sekali lagi maaf ya." kata Arya yang hendak berlalu.
"Gitu aja? Ini udah siang loh Mas? Anda ngak ada nita buat ucapin rasa terima kasih melalui makan siang? Saya ini hanya seorang Mahasiswi yang uang masih dari orang tua tentu saja jika Anda berkenan mentraktir saya makan jauh lebih baik." kata Jihan enteng.
"Oh iya, jika Mbak ngak keberatan. Ayo kita makan direstoran depan." kata Arya, kebetulan waktu Arya cukup luang sehingga dia bisa mengucapkan rasa terima kasihnya melalui makan siang.
Setibanya di restoran tersebut, Jihan benar-benar memanfaatkan kesempatan. Dia memesan makanan yang lumayan banyak untuk melepas dahaganya yang memang tengah panas terik.
"Oh iya kita belum berkenalan, saya Arya Pratama. Kalau boleh tahu nama Adik..."
"Jihan, panggil aku Jihan." kata Jihan tersenyum lebar.
"Bukan maksudku namamu yang sebenarnya siapa?" tanya Arya.
"Apalah arti sebuah nama Mas, panggil saja seperti yang kau katakan tadi. Jihan, aku menyukai namanya. Oh iya btw, makasih loh. Aku emang lagi lapar," kata Jihan makan dengan semangat.
Sedangkan Arya menahan tawanya melihat Jihan makan dengan sangat lahap. Bahkan tidak menjaga image sama sekali seperti para gadis kebanyakan.
Setelah selesai makan, Arya harus segera pergi dari sana karena memang ada rapat yang harus dia hadapi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa ini cukup, tapi semoga ini cukup sebagai rasa terima kasihku hari ini." kata Arya meletakkan lima lembar uang berwarna merah.
Jika biasanya orang menolak terlebih anak orang kaya maka akan berbeda dengan Jihan.
"Alhamdulillah, uang jajan tambahan. Makasih loh Mas, aku ngak nolak ya karena rezeki tidak boleh ditolak." kata Jihan yang membuat Arya tersenyum.
"Baiklah, Nona karena kay menolak menberi tahu namamu aku harus segera pamit karena ada rapat penting 30 menit lagi." kata Arya.
"Baik silahkan Mas," kata Jihan dengan senyuman merekahnya.
Setelah Arya pergi, Jihan memandangi uang merah lima lembar ditangannya.
"Harus aku apakan ini? Jika aku jajan pastinya tidak akan habis sehari, lagi pula dari Mas Dennis dan Bang Zio masih banyak. Oh salahkah diriku yang selalu berlagak kere dimanapun berada? Suka gratisan dan mencari tebengan?" tanya Jihan tertawa sendiri mengingat dirinya yang memang sedikit keterlaluan.
Eits... Tidak bukan dari sang Abang ataupun Masnya itu hasil keringatnya sendiri. Jihan adalah orang yang kerativitasnya tanpa batas dan menolak diam makanya punya banyak uang.
Dekat dengan sang Papa membuatnya belajar bisnis sejak usia dini. Tentu saja sang Papa yang mengajarkan Jihan berbisnis, bahkan disekolah menengah atas Jihan sudah belajar bermain saham. Walau lepas kendali tapi Jihan tetap tidak melepaskan bisnis yang telah dia kerjakan seperti ayam gadis bertelur saat SMA.
Sejak kuliah dalam diam dia selalu mengerjakan apa yang diajarkan sang Papa dengan serius dan menjadi semakin gila saat Papanya berpulang.
Bukan tanpa alasan dia begitu, tapi kerinduan yang tidak ada obatnya membuatnya menyibukkan dirinya tanpa ujung. Berharap dengan begitu luka kerinduannya sedikit menghilang.
__ADS_1
Setibanya di panti asuhan Kasih Bunda, Jihan masuk kesana menemui Ibu panti.
"Assalamu'alaikum Ibu," kata Jihan begiyu bertemu dengan Ibu panti.
"Walaikumussalam Nak Jihan, masyaallah akhirnya ketemu langsung setelah beberapa bulan Nak Jihan absen datang kemari." kata Ibu Panti pada Jihan.
"Kapan pulangnya Nak Jihan?" tanya Ibu Oanti Kasih Bunda pada Jihan.
"Baru beberapa hari yang lalu Bu, kemaren juga sempat sakit makanya belum sempat kesini." kata Jihan pada sang Ibu Panti.
"Oh iya Bu, Jihan tidak bisa lama karena ada janji dan hatus segera pulang." kata Jihan langsung berpamitan.
"Iya Nak, Ibu terima ya buat adek-adek pantinya," kata Ibu Panti yang menerima amplop yang tebal diberikan oleh Jihan.
Setelahnya Jihan berlalu, saat sudah jauh dari Panti asuhan kasih bunda. Jihan mengemudikan mobilnya ke arah Mas Dennisnya bekerja, ini sudah sore Dennis mengatakan jika dia bekerja hanya sampai jam 5 sore dan sekarang sudah jam 16.30 sore.
Setibanya di rumah sakit tempat Dennis bekerja, Jihan langsung masuk ke dalam tanpa ragu. Dia tahu dimana tempat sang Kakaknya bekerja, saat tiba disana Dennis tengah berkemas dan tersenyum begitu sang Adik mendatanginya.
"Ah akhirnya My Sweety datang juga, bagaimana suasana pantainya apakah menyenangkan?" tanya Dennis pada Jihan.
"Hmm, menyenangkan tapi ada sesuatu yang lebih menarik Mas. Tadi aku minta traktir pada orang yang bertengkar dengan mantan Istrinya. Karena dia memanfaatkan aku untuk menjauhkan sang Mantan Istri maka aku mengambil kesempatan untuk memerasnya. Meminta traktir makan siang dan diberi uang jajan, hohoho menyenangkan sekali Mas." kata Jihan tertawa kecil.
__ADS_1
"Astagfirullah Dek, sejak kapan kamu berubah menjadi pemeras seperti ini. Tapi keren, jangan sering-sering ya. Takutnya kalau dia bukan orang baik bagaimana?" tanya Dennis khawatir.
"Tenang saja Mas, semuanya akan baik-baik saja." kata Jihan percaya diri.