
Sore ini Dennis berencana pergi menonton bioskop bersama dengan Jihan dan pastinya si sulung Zio akan ikut bersama mereka.
"Ih iya Dek, kita pakai mobilmu atau mobil Mas saja?" tanya Dennis pada Jihan.
"Pakai mobil Mas saja, nanti mobilku besok aku ambil ke sini. Soalnya Bang Zio juga minta dijemputkan? Mobilku tidak akan muat." kata Jihan sembari cengengesan.
"Dek... Dek kenapa coba kamu beli mobil yang mahalnya selangit tapi bahkan hanya bisa dipakai dua orang saja. Hhm... Btw, memangnya kamu bisnis apa sih?" tanya Dennis yang sebenarnya cukup kaget saat sang Adik membeli mobil mewah dua hari yang lalu.
"Dulu semasa SMA Papa mengajarkan aku buat berdagangkan Mas. Nah mulai dari itu aku melihat peluang apa saja yang bisa aku dapat dan gampang. Saat kelas 1 di semester genap Papa memberikan saham yang baru dibelinya beberapa hari dan kata Papa nanti kalau sudah balik modal dikembalikan ya aku mengerjakannya dengan santai baru satu tahun bukanya balik modal malah sahamku terjun bebas," jata Jihan tersenyum mengingat masa-masa bersama sang Papa.
"Sudah jangan Mas tanya lagi mengenai pekerjaanku. Nanti akan aku kasih tahu, kalau Mas setuju menemaniku jalan-jalan ke Swiss tapi Mas Dennis dan Bang Zio yang bayar." kata Jihan seraya tertawa.
"Astaga, bagaimana mungkin Adikku menjadi seperti ini. Apakah Bang Zio tahu kamu punya bisnis juga?" tanya Dennis sarkas saat sang Adik mengemudikan mobilnya.
"Iya Bang Zio yang menggantikan Papa sebagai CEO di perusahaan kita Mas dan Bang Zio juga ahli dalam bisnis tentu saja aku banyak bertanya dan berkonsultasi padanya agar aku bisa mendapat keuntungan Mas." kata Jihan tersenyum sumringah.
"Baiklah, aku hanya seorang Dokter sehingga semuanya kau rahasiakan dariku. Pokoknya aku merajuk!'' kata Dennis pada Jihan.
"Ya Allah, Masku yang ganteng... Bukan begitu, Mas Dennis itu sering sibuk dan mudah over thinking aku ngak mau Mas Dennis banyak pikiran. Lagi pula dalam bisnis kita ngak hanya untuk tapi juga mengalami kerugian Mas. Makanya aku ngak bilang sama Mas Dennis soal bisnis... Apalagi sejak Papa masih hidup Mas Dennis adalah orang yang paling anti dengan bisnis dan jual beli berbannding terbalik dengan aku dan Abang Zio yang suka da tertarik dengan dunia wira usaha." kata Jihan memberikan penjelasan.
Dennis memilih diam dan tidak menanggapi ucapan sang Adik, Jihan yang merasa bersalah menggoyang-goyangkan tangan sang Kakak.
__ADS_1
"Mas jangan merajuk begini... Kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu masa sudah ngambek? Kalau Mas mau ngambek-ngambekkan gini ngapain aku pulang? Mending aku tetap di asrama toh ada beberapa temanku yang juga tidak pulang ke rumah mereka. Aku ngak punya banyk waktu loh disini Mas." kata Jihan yang membuat Dennis mengerutkan keningnya pusing.
"Ya sudah mari kita menikmati hari-hari yang tersisa, maafkan Mas yang bertindak kekanakan. Ya Mas akui bahkan saat perusahaan bermasalah dan Bang Zio kelimpungan beberapa bulan yang lalu Mas malah memilih tidak mau tahu padahal Papa baru saja berpulang sehingga Bang Zio harus menghubungi kamu untuk mendiskusikan jalan keluarnya denganmu." kata Dennis merasa bersalah.
"Mas, kita semua punya porsi masing-masing... Mas lebih menyukai dunia medis, jadi wajar saja jika Mas tidak tertarik dengan bisnis Papa yang dilanjutkan oleh Bang Zio. Baik Papa, Bang Zio dan aku mengerti itu dengan baik jadi Mas jangan khawatir ya." kata Jihan yang membuat Dennis menganggukan kepalanya legaa.
Malam ini Jihan, Dennis dan Zio menonton film bertema peperangan yang berasal dari negara asing. Ketiganya begitu menikmati suasana film yang tengah ditayangkan. Hingga pertanyaan Zio mengalihkan perhatian keduanya.
"Apakah nanti setelah kita semua masing-masing punya pasangan hal seperti ini masih bisa terulang?" tanya Zio pada kedua Adiknya.
"Bang, sekarang adalah waktu lajang kita jadi mari kita nikmati saja. Jika memang nanti Abang dan Mas sudah punya Istri aku rasa mungkin kita bisa triple date dan itu tetap akan terasa menyenangkan," kata Jihan yang diiyakan oleh Dennis.
"Tapi mencari pasangan itu tidak seperti membeli pisang goreng yang murah dan mudah ditemukan dimana saja." kata Dennis yang meumpamakan tentang kesulitan mencari pasangan yang sesuai dengan kreterianya.
"Dek... Apa selama disana kamu tidak ada menyimpan rasa dengan sesama berkuliah denganmu?" tanya Dennis pada sang Adik.
"Ada Mas... hanya saja aku tidak ingin memupuk rasa pada sesuatu yang tidak pasti. Aku tidak ingin mengagumi tanpa memiliki dan aku juga tidak ingin hanya menjaga jodoh orang. Aku tu maunya sat set sat langsung nikah aja Mas... Karena itu juga jika memang Mas punya kandidat yang tepat dan sesuai denganku maka aku tidak akan menolak. Pertanyaannya adalah, apakah Mas dan Abang tidak keberatan aku langkahi? Karena jauh lebih baik Mas dan Abang menikah lebih awal, lagi pula aku masih kuliah." kata Jihan yang diangguki oleh Zio dan Dennis.
Setelah Jihan, Zio dan Dennis menonton bioskop ketiganya sepakat untuk mencari baju bersama. Ya kedua pria lajang itu ingin si Bungsu memilihkan baju untuk mereka berdua.
Sehingga saat ini keduanya berada di pusat pembelanjaan pakaian pria. Dengan cekatan Jihan membantu Abangnya dan Masnya untuk memilihkan kemeja kerja dan celana bahan untuk bekerja legkap dengan dasi yang senada.
__ADS_1
Jika didrama Korea, pria yang menunggu wanitanya belanja maka berbeda dengan ketiga saudara ini. Jihanlah yang menunggu dan mengatakan pakaian yang cocok sang Kakak kenakan.
Butuh waktu 2 jam 50 menit barulah keduanya siap, hal ini cukup membuat Jihan benar-benar merindukan kasurnya. Namun ternyata si Dokter tampan malah meminta untuk makan di KFC terdekat karena telah merasa sangat lapar.
Jihan memaklumi Mas Dennis kesayangannya yang hobi makan tapi ngak gemuk-gemuk badannya tetap segitu-segitu saja.
Saat ketigany tengah menunggu makanan Arya yang baru saja pulang dari kantor da sebagai Duda kesepian tentu saja tidak ada yang memasak di rumah untuknya. Karena itu dia mencari makan diluar sebelum pulang ke rumahnya.
"Arya!" teriak Dennis pada Arya yang baru memasuki tempat mereka makan.
"Dennis?" tanya Arya dengan tersenyum dan mengahmpiri sang sahabat.
"Oh ada Mas Zio juga?" tanya Arya dan Zio hanya mengangguk dan tersenyum ramah.
"Loh Nona yang ada di panta? Kita ketemu lagi, kamu pacarnya Dennis?" tanya Arya yang sebenarnya ragu juga.
Jihan malah tertawa sedangkan Dennis sudah memukul tangan Arya karena berbicara sembarangan dan Zio hanya tertawa kecil karena memang sering terjadi.
"Ini My Sweety... Kesayanganku Jihan, Adik bungsu kami yang sering aku ceritakan padamu." kata Dennis dengan senyumannya sedangkan Jihan hanya tersenyum tipis.
"Jadi nama Nona beneran Jihan?" tanya Arya.
__ADS_1
"Ya Allah, ternyata beneran Jihan Adinya Dennis aku kira hanya mirip," kata Arya dalam hatinya.