
Jihan si Mahasiswi paling bandel tingkat akut semester 4 tahun ini. Jika nilainya bagus itu adalah sebuah keajaiban, bagi Jihan tidak lengkap jika nilainya tidak ada E, D dan C. Ketiga nilai yang tadi disebutkan adalah nilai favorit dari Jihan, belum cukup sampai disana Jihan juga suka mewarnai rambutnya warna-warni laksana pelangi dan suka menggunakan outfit ke kampus layaknya Idol K-Pop yang gadis-gadis. Hingga semuanya berubah dua bulan lalu.
Setelah sang Papa berpulang itu adalah pukulan terbesar bagi dirinya. Belum lagi sebelum Papa menghembuskan nafas terakhirnya, sang Papa berpesan agar dia tidak lagi pacaran dan memutuskan ke sepuluh pacarnya kala itu. Papanya juga memintanya berjanji untuk jadi anak baik dan mengenakan pakaian yang sopan. Jika Jihan sangat menyayanginya sang Papa mengatakan ini.
Flashback On
"Nak. Papa mungkin tidak lagi bisa menemani Jihan seperti biasa, Papa juga tidak bisa lagi menjaga Jihan seperti biasa..."
"Kenapa Papa bilang begitu? Pa, tolong jangan begini... Jihan takut." kata Jihan kala itu.
"Karena setelah Papa tidak lagi ada di Dunia ini maka apapun yang Anak-Anak Papa lakukan maka Papa akan langsung merasakan azabnya Nak. Kamu yang pacaran, membuka auratmu maka Papa akan merasakan azab yang sangat pedih. Bolehkah Papa meminta hal ini padamu Nak? Tolong kenakan pakaian seorang Muslimah sejati. Baliklah menjadi Jihan Papa yang manis yang selalu mengenakan hijabnya dan selalu menangis apabila Papa tinggalkan saat sholat di Masjid hingga Mama juga harus ikut membawa Jihan..." Lirih Papa yang nafasnya mulai terhenti.
"Walaikumussalam..." jawab Papa sedangkan tidak ada satupu orang yang masuk kedalam ruangan. Semua anak-anak Papa menangis keras sedangkan Mama menangis tanpa suara.
"Istriku, aku titipkan anak-anak padamu. La illa ha illa allah, muhammadarrauslullah," ucap Papa lirih dan kedua matanya tertutup dengan bibir tersenyum seolah tengah melihat keindahan dihadapannya. Isak tangis tidak kuasa dibendung oleh keluarga kecil yang Papa tinggalkan.
Flashbak Off
Sejak saat itu Jihan mengenakan hijab dan juga tidak lagi pernah meninggalkan sholat kecuali pada masa haidnya. Pukulan terbesarnya adalah saat Sang Papa tiada, Jihan tidak lagi ceria dan tidak lagi biang rusuh. Wajah yang biasanya penuh olesan make up itu tampak polos kemanapun dia pergi.
Setiap kali para mantannya datang minta balikan maka Jihan hanya bergeming atau pasti berakhir dengan kekerasan bagaimanapun Jihan adalah seorang taekwondo sabut hitam. Tidak ada yang berhasil mendekatinya selama dua bulan penuh ini.
__ADS_1
Meski banyak Dosen yang bingung bagaimana anak badung seperti Jihan bisa berubah begitu drastis namun mereka juga memaklumi. Kehilangan orang yang teramat dicintai pastilah membuat seseorang sangat terguncang, tapi beruntungnya Jihan berlari kencang pada sang pemilik kehidupan untuk mengadukan kerisauan hatinya serta kerinduan tidak berujungnya pada sang Ayah.
Malam larut menemani Jihan yang tengah menagji berlinang air mata, dia tidak bisa tidur namun juga tidak ingin duduk diluar kamar karena takut Sang Mama khawatir akan dirinya.
"Belum tidur Dek?" tanya Abangnya yang masuk ke kamar Jihan dan mendapati Jihan tengah didalam mihrabnya dengan al-qur'an yang tengah dibacanya.
"Dek jangan terlalu memaksakan diri. Ini sudah jam 12 malam. Kamu harus istirahat karena besok kamu harus kuliah, Papa pasti bangga melihat Adek banyak berubah seperti ini tapi Papa juga pasti sedih kalau Adek sering nangis dan menyiksa diri begini." kata Abangnya yang duduk disofa yang ada di kamar Jihan.
Setelah Jihan menyelesaikan bacaan Al-Qur'annya dia merapikan semua peralatan sholatnya dan duduk disamping Sang Abang.
"Jihan tidak berlarut-larut Abang, Jihan hanya tidak bisa tidur. Abang kembalilah ke kamar besok Abang harus bekerja. Jihan juga mau tidur karena ini sudah larut." kata Jihan pelan pada sang Abang.
Seperti pagi ini, masak adalah kegiatan yang paling Jihan benci tapi setelah dua bulan belakangan Jihan sangat suka memasak sarapan hingga membuat para ART di rumahnya merasa sangat sungkan. Bagaimana tidak? Jihan adalah Tuan Putri anak kesayangan Tuan Besar yang telah berpulang dan tidak pernah masuk dapur sekarang mendadak punya banyak hobi walau wajahnya masih tetap tanpa raut ceria.
"Nak sudah bangun saja? Tadi malam tidur jam berapa?" tanya Mama pada Jihan.
"Jam 12.30," jawab Jihan singkat. Sontak Mama meilihat jarum jam panjangnya yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Bangun jam berapa?" tanya Mama kembali.
"Bangun jam 4 pagi." kata Jihan yang membuat Mama meringis ngeri.
__ADS_1
"Nak, apa kamu butuh pergi ke psikolog? Kata Abang dan Masmu kamu kesulitan tidur setellah Papangak ada." kata Mama pada Jihan.
Jihan menghela nafas panjang, dia tidak ingin membicarakan ini namun apa dayanya. Sang Mama kembali mengungkap kesakitan mengenai kepergian sang Papa. Ayolah dia hanyalah Anak kesayangan Papa jelas kepergian Papa adalah pukulan terbesar bagi Jihan.
"Ma, aku baik-baik saja. Tidak perlu ke psikolog. Jika memang Mama tidak keberatan apakah boleh aku ikut less membaca al-qur'an untuk memperbaiki bacaanku." kata Jihan yang Mamanya angguki.
Setelah semua masakan rampung dimasak, Mama dan yang lain membantu Jihan memindahkannya ke meja makan.
"Kamu masak lagi Dek? Tapi walaupun kamu jarang masak, masakan kamu enak banget oh Dek," kata Abangnya yang kedua yang biasa Jihan panggil Mas.
"Trima kasih Mas, berarti Mas harus rajin makan masakan aku biar aku semangat buat masak." kata Jihan.
"Sayang meskipun Mas, suka sekali makan masalakan kamu. Tapi Mas ngak mau kamu kehilangan jati diri kamu, lakukan apapun yang kamu suka, jangan terlalu berlarut pada luka." kata Masnya yang diangguki oleh sang Abang dan juga Mamanya.
"Mama, Abang dan Mas tenang saja. Jihan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagi pula Jihan memang harus bisa mahir memasak karena nanti setelah Jihan menikah Jihan ingin Jihanlah yang memasak untuk Suami Jihan jadi Jihan harus belajar dari sekarang," kata Jihan menenangkan hati keluarganya walaupun apa yang Jihan katakan tidak sepenuhnya salah namun juga tidak keseluruhan benar.
Pagi ini Jihan tidak ada kelas, kelas Jihan dimulai jam 1 siang sehingga Jihan lebih meilih pergi ke perpustakaan kampusnya untuk mengerjakan tugas untuk minggu depan dan juga meminjam buku yang bisa dia pelajari di rumah.
"Masyallah, Ratu Onar kita taubat dan sekarang ada di perpustakaan," kata teman-teman kampus Jihan yang julid padanya.
Namun bukan Jihan namanya jika dia tidak bisa bersikap tenag. Saat ini dia harus tenang karena ngak ada gunanya juga dia membalas ucapan tidak bermutu teman-teman sekelasnya itu. Jadi lebih baik Jihan mengerjkan tugasnya dan belajar lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1