Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)

Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)
Cerita Julian


__ADS_3

Pagi ini lagi-lagi Julian bertemu dengan Inge dimushola kantor yang ada dilantainya bekerja. Dia tahu Inge adalah kawanan dari Amanda and the geng tapi Inge terlalu berbeda dengan kawanan dari Amanda yang lainnya. Jika Julian selalu melihat Inge ketika waktu sholat tidak jarang keduanya juga berselisih jalan maka berbeda dengan Amanda yang lainnya.


Julian selalu bertemu Amanda dan teman-teman yang lainnya lagi ngegoship ataupun mentertawakan orang lain dan juga jumpa di kantin kantor. Meski Inge juga selalu ditemuinya saat pergi ke kantin dan berada dikelompok Amanda tapi Inge tidak separah Amanda dan yang lain.


"Ketemu lagi Mbak Inge!" kata Julian dan Inge hanya tersenyum tipis saja.


Tidak ada percakapan berarti tapi saat melihat senyuman Inge saja Julian sudah melayang namun sayangnya Julian harus banyak-banyak beristigfar. Jika tinggal saja dia masih harus menumpang bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta? Dimana akan dia letakan sang Istri setelah hubungan keduanya sah? Sontak saja pandangan Julian langsung menyendu.


"Sudahlah, lebih baik aku berusaha keras agar bisa menjadi kaya. Yang ada nanti malah nerantakan semua," kata Julian yang terbayang apa yang dikatakan oleh Arya penyebab dia bercerai dari Bella.


Suasana sendu yang dibawa oleh Julian ternyata bertahan hingga jam makan siang. Karena tidak ingin makan dikantin sendirian maka dari itu Julian makan siang bersama dengan Arya didalam ruangan Pria itu.


"Kenapa wajah Lu kusut amat?'' tanya Arya seraya menyuapkan makanannya.


"Gue belakangan ini selalu kepikiran Inge. Apalagi kita sering jumpa saat waktu sholat tiba," kata Julian dan Arya hanya mendengar tanpa ada niat membalas perkataan Julian.


"Awalnya hanya kagum biasa tapi seiring waktu berjalan gua jadi jatuh cinta karena sikap lembutnya. Gue harus gimana Ar? Gue takut apa yang terjadi sama Lo terulang lagi kalau gue ngelamar Inge." kata Julian dan Arya masih bergeming sibuk menyuapi kulytnya dengan makanan.


"Apalagi gaji guekan ngak seberapa, bisnis yang kita mulai juga baru berjalan 1 bulan belum ada hal yang signifikan." kata Julian.

__ADS_1


"Bagusnya gue gimana ya?" tanya Julian pada Arya.


"Gimana ya gue juga ngak tahu harus kasih saran apa sama Lu. Huft... Gini ya, Isabella itu bukan Inge begitu juga sebaliknya. Tapi lu juga jangan lupa kita akan terpengaruh dengan siapa kita berteman. Bahkan jika kita ingin melihat karakter seseorang maka kita harus melihat karakter orang-orang terdekatnya karena mereka akan punya perilaku yang tidak jauh berbeda. So, lu minta petunjuklah dalam sepertiga malam. Karena gue cuma manusia dan pengetahuan gue terbatas." kata Arya yang diangguki oleh Julian.


Setelah Julian berlalu dari ruangannya, Arya sempat termenung.Bayangan bagaimana pernikahannya dengan Bella berakhir masih terbayang indah dipikirannya. Sempat dia ingin meratap bahkan hingga khawatir dirinya terkena gangguan jiwa karena dia  benar-benar menggunakan hatinya pada Bella. Tapi balik lagi tempat pengaduan terbaik hanyalah Allah semata. Setalah Arya pasrahkan semua yang terjadi dalam hidupnya dia merasa lebih lega dan lebih bisa menerima keadaan yang menimpanya.


Sudah tidak terasa sepekan sudah berlalu, Bella kian gencar mendekatinya meminta agar mereka kembali rujuk. Jangankan menanggapi  Arya malah hanya bergeming, dia tidak siap untuk pernikahan kali ini. Dia butuh jeda untuk dirinya sendiri.


"Jul, gue mau keluar hari ini. Lu nanti kalau keluar junci aja rumahnya soalnya gue bawa kunci." kata Arya saat mereka lagi sarapan.


"Lu mau kemana? Ngak biasannya sabtu gini lu keluar? Biasanya juga lu mingkem doang di kamar?" tanya Julian pada Arya.


"Gue mau cari suasana baru. Capek lihat kamar 4 petak mulu, mending gue keluarkan." kata Arya dan Julian hanya mengiyakannya.


Setibanya didepan makam sang Ibunda, Arya yang biasanya dingin tidak tersentuh dan kekurangan eksperssi sekarang menangis deras didepan makam sang Ibu. Rasa rindu begitu merenyuh khalbunya, wanita yang dulu selalu ada untuknya memerikan dukungan terbesar untuknya. Sebagai tempatnya mengadu menunjukkan sisi rapuhnya setelah tidak lagi mampu menegakkan kepala menghadapi kejamnya dunia kini telah tiada.


"Bu... Bu... Bu.." tidak ada kata yang mampu terucap saat itu hanya kata Bu yang mewakili kerinduan saat raga tidak lagi mampu bertemu.


Setelah lama menangis dan merasa rasa sesaknya berkurang Arya meletakkan buang yang dibelinya di makam sang Ibu dan Ayahnya lalu menabur bunga makam di makam keduanya. Setelahnya Arya membaca yasin dimakam sang Ibu dan Ayah.

__ADS_1


Ternyata apa yang Arya lakukan terlihat oleh seorang gadis muda yang saat itu berusia 19 tahun. Gadis yang baru saja kuliah semester tiga itu baru saja kehilangan sang Papa tercinta. Sekarang hanya Mama dan kedua Abangnyalah tempat dia mengadu untuk memeluk lukanya.


"Aku kira apa yang Abang katakan benar. Kalau laki-laki tidak bisa menangis karena harus dituntut kuat, tapi ternyaa Abang dan Mas membohongiku. Mungkin saja keduanya menangis deras saat tidak ada aku bersamanya. Terlebih Abang sangat dekat dengan Papa karena memang harus meneruskan Perusahaan Papa. Maaf Abang, Mas dan Mama karena aku selalu bersikap selalu seolah aku yang paling terluka setelah kehilangan Papa." kata Jihan yang kala itu tengah di makam sang Papa yang baru saja meninggal dua bulan yang lalu.


Tidak ingin semakin berlarut dalam kesedihannya Jihan segera berangkat ke kampus. Dia sudah berjanji pada sang Papa kalau dia akan menjadi anak baik, dia tidak akan lagi membuat Mama dan kedua saudaranya cemas karena sering bertingkah brutal.


"Dek kamu dimana?" tanya Abangnya memalui sambungan video call yang baru saja dijawab oleh Jihan saat ini tengah berjalan menuju mobilnya.


"Bang, ini Jihan sedang di makam Papa. Ini mau jalan ke kampus, udah ya Jihan tutup dulu Jihan mau nyetir." kata Jihan yang diangguki oleh sang Abang.


Bertepatan dengan Jihan yang bertolak ke kampus, Arya juga bertolak ke tempat yang sudah dia rencanakan sebelum keluar rumah tadi.


Saat dijalan dia menerima panggilan telepon dari Julian.


"Assalamu'alaikum ada apa Jul?" tanya Arya pada sang Sahabat.


"Walaikumussalam, Ar gue harus gimana Inge ngajak gue jalan? Aaaaaa gue seneng bangte!" teriak Julian yang membuat Arya harus membuka alat pendengar yang dipasang ditelinganya karena sahabat sablengnya yang berteriak tepat ditelingannya.


"Jadi gimana? Pergi?" tanya Arya.

__ADS_1


"Iya dong, masa pujaan hati gue ngajak jalan gue mundur." kata Julian yang membuat Arya mengangguk.


"Ok good luck. Gue tutup ya." kata Arya yang langsung menutup panggilan teleponnya.


__ADS_2