
Hari ini adalah hari minggu, baik Zio maupun Dennis bebas tugas. Dennis akan ada tugas jika ada operasi mendadak yang membutuhkan dirinya, jika tidak maka dia bebas hari ini. Saat ini kedua bujang lapuk tapi penuh wibawa itu berubah menjadi anak mami dan gadis pingitan karena memilih menemani Mama menonton drama korea ketimbang keluar dari rumah.
"Abang kapan mau kasih Mama menantu?" tanya Mama pada si sulung.
"Sudahlah Ma, jangan bahas calon menantu. Zio masih nyaman sendiri, lagi pula Zio ngak buru-buru nikah Ma." kata Zio seraya mengambil buah anggur yang ada dimangkuk buah yang diletakkan didepannya.
"Hmmm kalian berdua selalu saja begitu tega dengan Mama. Teman-teman Mama sudah pada menggendong cucu bagaimana mungkin Mama masih terjepit dengan dua bujang lapuk disamping Mama?" tanya Mama pura-pura kesal.
"Zio ngak mau salah meminang Ma. Bagaimanapun sekarang Papa udah ngak ada dan Jihan juga lagi di negara orang, jika Istriku hanya menerimaku saja maka itu petaka bagiku Ma. Bagiku pernikahan bukan hanya tentang dua orangg saja tapi tentang dua keluarga besar." kata Zio yang diangguki oleh Dennis.
"Aku sepakat dengan pendapat Bang Zio, Ma. Bagaimanapun kini kita hanya berempat, kita harus bisa saling melindungi. Kita ngak mau jika setelah kita semua menikah Mama sendirian di rumah, tapi jika Mama setuju menikah lagi maka itu adalah hal yang berbeda." kata Dennis yang tidak direspon oleh Mama maupun Zio.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Papa!" kata mereka tegas secara bersamaan yang membuat Dennis kaget.
"Iya, kalau Mama berpikir begitu bagus, maksud Dennis kalau Mama sudah punya cinta yang baru Dennis tidak akan melarang." kata Dennis lagi.
"Abang ngak setuju kalau Mama menikah lagi," kata Zio yang hanya ditanggapi senyuman oleh Mama.
"Mama juga ngak ada niat menikah lagi Nak. Yang Mama mau sekarang adalah melihat anak-anak Mama menikah dan punya banyak cucu. Yang paling Mama khawatirkan itu kedua bujang Mama yang sangat anti wanita ini. Jika Jihan, Mama tidak terlalu khawatir. Selain dia adalah Gadis yang punya banyak teman, teman-teman dari kamu dan Abangmu pasti juga banyak yang naksir pada Anak gadis Mama kalau udah ketemu langsung," kata Mama percaya diri.
"Anak Gadis Mama memang cantik dan membuat banyak pria terpesona, tapi begitu tahu seberapa Jihan sangat menguasai bela diri dan senjata pasti semuanya akan memilih mundur Ma." kata Zio dan Dennis saat bersamaan.
"Hanya pria lemah saja yang menolak wanita tangkas dan cerdas seperti Adik kalian." kata Mama yang membuat dua kakak beradik itu mengangguk mengiyakan.
"Hanya saja sangat disayangkan saat-saat seperti ini kebanyakan pria berhati hello kitty. Sudahlah, aku mau berenang dulu Ma." kata Zio dan saat dia beranjak dari duduknya Zio terdiam karena suara yang sangat familiar ditelinganya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Mama! Abang Zio! Mas Dennis! Jihan pulang!" teriak seseorang yang baru saja memasuki rumah mereka.
Ketiganya sontak saja berlari kearah princes mereka yang telah lama berkelanan di negara orang.
"Ya Allah, Sayang katanya kamu ngak pulang? Kenapa pulang sendirian? Kalau kamu kasih kabarkan Mama dan Masmu bisa jemput dan pastinya Abang juga akan ikut jemput apalagi ini hari minggu." Omel Mama mengecup seluruh wajah Putrinya yang tampak semakin cantik namun tubuhnya semakin ramping.
"Kok kamu kurusan banget ya Dek?" tanya Dennis si paling peka soal sang Adik.
"Uang jajan yang Mas kasih kurang?" tanya Dennis pada Jihan.
"Kalau memang kurang jangan sungkan untuk kasih tahu Dek. Abang dan Mas ngak tahu seberapa banyak kamu butuh." kata Zio ikut-ikutan khawatir perkara badan sang Adik yang sangat slim dari biasa.
"Mas aku ngak kekurangan papun disana, bahkan jajan yang Mas dan Abang berikan jauh lebih banyak dari kata cukup. Sebenarnya tanpa dikirimi uang saku Jihan juga akan baik-baik saja disana Mas, karena semua kebutuhan Jihan kampus yang menanggung. Jadi Mama, Mas dan Abang jangan khawatir." kata Jihan pada Dennis yang membuat ketiganya bernafas lega.
"Ya sudah Ma, Abang dan Mas. Aku mau tidur dulu, rasanya sangat letih." kata Jihan yang memang wajahnya agak pucat.
"Apa kamu sakit Sayang?" tanya Mama dengan raut khawatir karena Jihan tampak pucat.
"Sebenarnya kepala Adek agak sakit Ma, tadi juga sebelum berangkat sempat menggigil tapi sudah makan obat kok. Jadi ngak papa lagi." kata Jihan dengan senyuman merekah diwajahnya.
"Apa kamu sudah ke dokter Dek?" tanya Zio dan Jihan hanya menggelengkan kepala.
"Baiklah, Dennis sebagai Dokter bedah kau bisa bukan memeriksa demam Adikmu?" tanya Zio sarkas.
"Tentu saja bisa, kau kira aku Dokter gadungan Mas!" protes Dennis dan langsung mengambis stetoskopnya.
__ADS_1
DenganĀ telaten Dennis memeriksa kondisi kesehatan sang Adik, sambil memeriksa Dennis juga mengukur darah si bungsu dan suhu badan si Bungsu apakah ada kesalahan.
"Hmmm, sebelum pulang coba ceritakan sama Mas apa saja yang kamu lakukan?" tanya Dennis menatap tajam sang Adik.
"Maaf Mas, aku sebenarnya belum boleh pulang jika tugasku belum selesai dan selama satu minggu aku kurang tidur karena mengerjakan tugas kuliah dan juga banyak minum-minuman dingin." lirih Jihan yang membuat Mama dan yang lain melotot tidak percaya.
"Adek! Kok bisa kamu kayak gini?" tanya Mama pada si Bungsu yang malah meringis.
"Kalau aku nunda pulang nanti malah nambah lagi Ma dan waktu liburan di rumah jadi sedikit. Makanya aku gas aja Ma, kalau banyak kerjaan pastinya lebih enak makan dan minum sesuatu yang manis dan dingin," kata Jihan cengengesan.
"Kamu itu kebiasaannya ngak berubah deh Dek! Kesel Mas kalau lihat kam kayak gini, sebentar kamu langsung makan dan makan obat." kata Dennis beranjak tapi sebelum Dennis beranjak langkahnya terhenti karena teriakan si bungsu.
"Mas, Jihan tadi sudah makan Mas. Jadi tinggal makan obat aja lagi." kata Jihan yang diiyakan oleh Dennis.
"Ya Allah, Nak. Kamu mau bikin kejutan sampai segininya. Kalau kamu kenapa-napa siapa yang tahu coba, jangan diulangi lagi atau nanti Mama akan nyusul tinggal disana. Apa kamu ngak kasihan saa Abang dan Mas kamu yang masih betah melajang tanpa ujung ini?" tanya Mama yang membuat Jihan tertawa.
"Mama tenang aja begitu waktunya pas Zio dan Dennis pasti akan membawakan Mama Calon menantu jadi jangan khawatir lagi ya Ma." kata Zio yang enggan mendengar kata bujang lapuk dari sang Mama.
"Apa nantinya kapan? Nantinya kamu itu ngak punya garansi tau ngak!" kesal Maa kalau udah bicara soal calon Menantu.
"Iya Bang, apa ngak khawatir kalau nanti Jihan nikah lebih awal?" tanya Jihan pada Zio.
"Memangnya udah ada calon Dek?" tanya Zio kaget mendengar perkataan sang Adek.
"Mas Dennis mau jodohin aku sama temennya katanya, entah kapan ngak tahu sih. Soalnya kata Mas Dennis dia seumuran Mas Dennis pastinya tidak ingin main-main lagi." kata Jihan yenga membuat Mama dan Zio berpikir panjang.
__ADS_1