Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)

Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)
Pembicaraan Dua Sudara Laki-Laki


__ADS_3

Mendengar dari Jihan jika Dennis ingin menjodohkan Adik Bungsu mereka dengan Sahabat baiknya membuat jiwa posesif Zio muncul kepermukaan. Terlebih Jihan baru saja pulang setelah beberapa bulan ini tinggal di negara orang dan berjauhan dengan dirinya.


"Dek, kalau kamu ngak suka sama orangnya jangan dulu diiyakan ya. Abang ngak mau kalau seandainya nanti setelah kamu menikah kamu malah dilarang-larang buat ketemu sama Abang dan Mama. Lagi pula Mas kamu itu ngak sepenuhnya benar, buktinya dia saja belum punya gandengan hingga hari ini tapi malah sibuk jodohin kamu sama temennya. Ngak-ngak Masmu itu ngak beres!" kata Zio menjadge Dennis sesuka hatinya.


"Ya Allah, Bang. Lu itu yang paling tua dan paling kita hormati masa lu bilang begitu ke Jihan? Mana mau gue biarin Adek kita nikah dengan pria ngak jelas. Lagi pula Jihan adalah Adik kesayangan dan juga satu-satunya Adik gue bang! Mana mungkin gue asal pilih," kata Dennis kesal pada Zio.


"Lu mau jodohin Adek kita sama siapa? Jangan-jangan sama temen-temen lu yang playboy cap kaleng rombeng itu ya?" tanya Zio sewot.


"Ya ngak lah Bang. Masa iya gue jodohin Adek gue sama buaya darat. Ah makin ngaco lu! Udah mending Lu cari calon Bini deh Bang! Sensi mulu kaya Gadis lagi datang bulan." kata Dennis.


Saat Zio ingin membalas tapi Mama menahanya karena Dennis tengah memberikan obat demam pada Jihan.


"Sudah setelah ini tidur dulu, supaya kepalanya ngak pusing lagi." kata Dennis pda Jihan dan Jihan hanya menganggukkan kepala saja.


"Mas tetap disinikan?" tanya Jihan dan Dennis mengiyakan seraya mengurutkan kepala sang Adik.


"Udah, tenang aja mana mungkin Mas meninggalkan Adik kesayangan Mas yang baru pulang dan dalam keadaan sakit." kata Dennis yang membuat Zio kesal sendiri.


"Abang juga akan ada disini, mana mungkin Abang pergi keluar kalau Adik perempuan Abang satu-satunya lagi sakit begini." kata Zio.

__ADS_1


"Abang jangan terlalu berlebihan, kalau Abang ada jadwal pergilah. Segera bawakan Jihan Kakak Ipar!" kata Jihan seraya tersenyum walau matanya terpejam.


Kekeh dengan pendiriannya Zio memberikan isyarat pada Dennis agar tidak bersuara jika dia masih disana.


"Ya sudah Abang dan Mama ke bawah dulu." kata Zio tapi tentu tidak dengan yang dia lakukan. Karena nyatanya Zio memilih duduk disofa yang ada di kamar Jihan.


Mama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, meski sudah sama-sama dewasa ketiga anak-anaknya masih berperilaku sama. Inilah yang membuat dia selalu gagal mendapat calon menantu karena Anak-Anaknya saling memperhatikan satu-sama lain. Tapi itu semua bagus sekali, karena nyatanya sangat jarang ada saudara yang sangat peduli pada saudaranya.


Setelah Mama keluar kamar, dan pintu tertutup Jihan mulai berceloteh.


"Mas, nanti setelah kamu menikah pasti akan sangat banyak hal yang berbeda. Aku pasti akan kehilangan tempat bercerita, karena Mas dan Abang nantinya pasti akan lebih sibuk dengan urusan pekerjaan dan juga keluarga sendiri..." kata Jihan menghentikan perkataannya.


"Karena itu Mas maupun Abang kalau ingin menikah selalu memikirkan apakah dia sanggup menerima rasa peduli Mas sama kamu dan juga Mama. Bagaimanapun Mas tidak akan lengah pada kamu dan Mama, Sayang." kata Dennis pelan karena Jihan sudah mulai terlelap.


Setelah Jihan terlelap, Dennis perlahan beranjak dari kasur sang Adik. Dokter tampan itu memilih berjalan keluar balkon kamar si bungsu yang diikuti oleh Zio.


"Bang, gue dengar-dengar dari teman-teman gue kalau udah nikah itu poros kehidupan kita bukan lagi keluarga kita tapi Istri dan Anak kita. Kok aku jadi takut ya Bang? Gue takut ngak bisa jaga amanat Papa yang ingin gue dan Lu jagain Mama dan Jihan." kata Dennis mengutarakan pendapatnya.


"Ngak semuanya begitu, jika memang nanti sudah waktunya dan bertemu dengan orang yang tepat aku berharap kita semuanya bisa tinggal disatu rumah dan saling menjaga. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan bisa akrab dengan Suami dari Jihan dimasa depan, begitu juga sebaliknya Jihan dan kedua Istri kita saling menyayangi dan menjaga. Kita serahkan saja semuanya pada Allah, kita hanya bisa berencana dan rencana Allah adalah yang sebaik-baiknya rencana." kata Zio yang diiyakan oleh Dennis.

__ADS_1


"BTW, Lu mau jodohin Jihan dengan siapa?" tanya Zio pada Dennis.


"Lu tahu Arya temen gue kan Bang?" tanya Dennis.


"Iya gue tahu, lah anaknya sering main ke sini." kata Zio santai.


"Menurut Lu gimana kalau Adek kita gue jodohin sama dia Bang?" tanya Dennis pada Zio.


"Dia orangnya baik, mengenai latar belakang juga tidak ada yang disembunyikan sama sekali. Dia memang terjebak dengan pernikahan taruhan oleh Mantan Istrinya, tapi kita juga sama-sama tahu kalau dia pernah sangat mencintai Mantan Istrinya. Pertanyaannya adalah apakah dia benar-benar sudah selesai dengan masa lalunya? Gue ngak mau Adek gue nikah sama Duda yang belum selesai dengan masa lalunya." kata Zio dan Dennis juga menganggukkan kepalanya setuju.


"Kalau perkara ini, sudah aku selidiki Bang. Si Arya memang sudah selesai dengan Mantannya hanya saja biasalah wanita mata duitan, yang dipikirkannya selalu bagaimana caranya bisa balik sama Arya. Bahkan sudah hampir satu tahun dia mengikuti Arya dan merayunya dengan berbagai cara agar mau menjadi Suaminya kembali." kata Dennis kembali.


"Ini yang gue takutkan sebenarnya Dennis. Lu pikir aja, kalau orangnya senekat itu? Apa yang akan dia lakukan pada Adik kita kalau Jihan menikah dengan Arya?" tanya Zio pada Dennis.


"Semuanya akan menjadi ancaman yang serius bagi Jihan," kata Dennis dan Zio mengangguk mantap.


"Terkadang yang namanya perempuan ngak bener dia bisa melakukan apa saja, termasuk melakukan tindakan kriminal." kata Zio yang membuat Dennis berpikir serius.


"Tapi Bang, semua itukan bisa terjadi pada setiap orang, resiko punya Suami kaya dan ganteng mah memang ngak jauh-jauh dari pelakor Bang. Mama kita juga bahkan saat kita sudah pada dewasa dan Papa udah tua masih ada yang nekat mau celakaian Mama supaya bisa dapatin Papa apalagi masih muda Bang. Jadi semuanya tergantung pada cinta dikedua hati mereka nanti. Apakah mereka bisa melewati ujian ini seperti Papa dan Mama yang melewati ujian pernikahan hingga maut yang memisahkan. Oh kedua orang tua kita sangat romantis," kata Dennis dengan raut wajah yang manis.

__ADS_1


__ADS_2