Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)

Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)
Pernikahan Zio dan Dennis


__ADS_3

"Jangan lupakan aku, mari kita berteman. Aku menghargai Dennis sudah seperti Saudara kandungku sendiri. Jadi sudah seharusnya aku menerima tawarannya untuk mengenalmu lebih dekat. Jika berjodoh mari kita lanjutkan hingga ke jenjang pernikahan," kata Arya yang saat ini tengah di restoran didepan perpustakaan kota yang tengah dikunjungi oleh Jihan.


Jihan tersenyum, dia tahu jika Arya adalah pria yang baik. Karena itu sang Kakak keduanya ingin Arya menjadi Suaminya, namun segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan baik bukan.


"Mas... Aku sungguh tidak masalah jika kamu ingin membatalkan perjodohan kita yang diutarakan oleh Mas Dennis. Aku tahu kamu sangat menghargai Mas Dennis, tapi kamu juga harus tahu aku tidak akan menjalankan sebuah hubungan dalam keterpaksaan." kata Jihan yang ingin meninggalkan tempat itu.


"Aku sama sekali tidak terpaksa... Mari kita coba hubungan ini, aku mau melakukan pendekatan yang diutarakan oleh Dennis beberapa bulan lalu padaku. Aku sama sekali tidak terpaksa." kata Arya membuat Jihan menghentikan langkahnya.


Jihan menghela nafas panjang, dia sudah biasa menghadapi masalah percintaan seperti ini. Dia tidak suka terperangkap atas nama cinta, cinta itu buta benar adanya. Jihan sempat hampir mangalaminya semasa SMA, namun beruntungnya sang pujaan hati malah membuat hatinya remuk redam dan Jihan sama sekali tidak ingin mengulangi kebucinan tidak berdasar seperti masa putih abu-abunya.


"Mas... Aku bukan orang yang sederhana. Aku cenderung banyak menuntut, jika kamu mau mendekatiku kau harus yakin 1000% karena aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah aku genggam. Tidak karir juga tidak calon Suami. Bahkan jika kau berteriak mengusirku maka aku akan datang dengan sangat gigihnya lebih gigih dari Mantan Istrimu. Pertanyaannya adalah apakah kamu sanggup?" tanya Jihan pada Arya.


"Jika kamu ragu, jangan ragu untuk mengatakan tidak. Karena itu akan jauh lebih mudah bagiku dikemudian hari ketimbang kamu mengiyakan pertanyaanku ini." kata Jihan pada Arya.


"Aku yakin untuk melakukan pendekatan dan insyaallah Mas akan menunggu kamu pulang satu tahun lagi. Agar kita bisa melanjutkan hubungan kita ke pelaminan," kata Arya yang emmbuat Jihan berkaca-kaca.


"Jangan membohongiku, aku akan sangat menyebalkan jika telah jatuh cinta." kata Jihan dan Arya menyetujuinya.


"Kapan kamu kembali ke USA?" tanya Arya pada jihan.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke USA dua hari lagi, Mas ikut mengantarkan kepergianku ke bandara?" tanya Jihan pada Arya.


"Mas usahakan ya, tapi tidak berjanji. Karena Mas bekerja hanya sebagai karyawan dan ruang gerak Mas dibatasi." kata Arya yang dipahami oleh Jihan.


Dua hari kemudian


Syang sungguh disayang hari ini Jihan tidak diantar oleh Abang ataupun Masnya. Hanya Mama dan supir yang mengantarnya ke Bandara dan hal yang lebih menyedihkan adalah Arya juga tidak bisa menemaninya hari ini karena ada peninjauang proyek keluar kota.


"Ma, jangan banyak pikiran. Adek disana akan baik-baik saja, ada teman dan juga kepala asrama yang mengurusi Adek jika Adek sakit. Jadi Jihan mohon sama Mama untuk jaga kesehatan, Jihan sayang Mama." kata Jihan memeluk sang Ibunda dan mengecup mesra wajah sang Ibunda.


"Nak, jika sudah selesai pendidikan kamu. Kamu harus janji sama Mama kalau kamu akan langsung pulang, Mama ngak mau kamu melanjutkan bekerja disana. Pokoknya kamu walaupun sudah menikah nanti harus tinggal sama Mama." kata Mama menangis dalam pelukan si bungsu.


"Ma, jangan menangis. Jihan pasti akan usahakan cepat pulang," kata Jihan pada sang Mama seraya mengelapkan air mata yang mengalir dipipi mulus sang Mama.


Hari-hari berat yang Jihan alami perlahan berlalu. Hari berlalu, minggu berganti bulanpun terlewatkan. Hari ini adalah hari wisuda Jihan dan bertepatan dengan hari pernikahan Mas Dennis dan Bang Zio. Karena tahu sang Kakak menikah  hari ini Jihan memutuskan tidak memberi tahu jika dia wisuda hari ini dan akan kembali ke rumah dua hari lagi setelah dia mendapatkan ijazahnya.


Namun selama dua bulan terakhir setelah menjadi lebih dekat selama delapan bulan, ada yang hilang dari Jihan. Apalagi jika bukan sang calon Suami. Arya hilang bagaikan ditelan bumi, tidak ada kabar sama sekali tentang pria yang berjanji menikahinya begitu dia pulang kuliah dari USA.


"Aku harap kamu tidak melakukan hal-hal yang meyakiti hatiku Mas. Aku sudah terlalu nyaman bersama dengan dirimu. Akan sangat sulit bagiku untuk bisa melepaskan diriku dari perasaanku padamu,' kata Jihan dengan raut wajah senang yang sangat kentara.

__ADS_1


Hari ini adalah hari dimana Jihan mengambil ijazahnya dari kampus, dia harus segera pulang ke tanah air. Untuk menemui sang Ibunda tercinta dan juga memberikan hadiah pada kedua kakandanya yang baru saja melepas masa lajangnya.


Usut punya usut, Abang Zio dan Mas Dennis menikahi gadis pilihan Mama dan akan tinggal di rumah mereka bersama dengan Jihan dan Mama setelah keduanya menikah dengan gadis pilihan Mama.


Sebenarnya Jihan ingin memberi tahukan pada sang Mama jika dia wisuda hari ini. Namun mendapat kabar dari sang Mas Dennisnya jika dua hari sebelum pernikahan kedua saudara laki-lakinya sang Mama anfal karena terlalu lelah untuk persiapan pernikahan kedua Kakaknya membuat Jihan mengubur rapi-rapi berita baiknya.


Hari ini dengan senyuman merekah Jihan menaiki pesawat dengan puuncak kerinduan pada orang-orang tersayangnya. Namun kekhawatiran yang dia rasakan juga besar, kedua saudara laki-lakinya sudah menikah apakah masih menyayanginya seperti biasa? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawabnya.


"Mas Arya apa kabar ya? Apakah dia serius dengan perkataannya dua bulan lalu mengenai hubungan kita yang tidak bisa lagi dilanjukan ke janjang pernikahan? Namun mengapa? Apa aku terlalu buruk?" tanya Jihan memutar kembali memorinya pada hari itu dimana Arya terlihat sangat sedih dan kacau saat memutuskan hubungannya dengan Jihan. Entah apa masalahnya Jihan juga tidak tahu persis.


Perjalanan yang memakan waktu hingga belasan jam telah menemukan tempat berlabuhnya. Jihan sudah sampai ke kediaman sang Mama dengan selamat.


Sesuatu yang aneh Jihan rasakan padahal dia pulang sudah jam 9 malam, bagaimana mungkin rumah Mamanya masih sepi?


"Assalamu'alaikum," salam Jihan begitu pintunya dibuka oleh Bibi yang bekerja bersama sang Mama.


"Walaikumussalam Non, alhamdulillah Non Jihan pulang juga. Tapi Non Jihan sudah terlambat, Tuan Zio dan Tuan Dennis sudah berangkat berbulan madu ke Swiss satu hari yang lalu." kata  Bibi yang hanya ditanggapi oleh Jihan dengan senyuman.


"Mama diimana Bi?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Nyonya sudah tidur, Non. Non mau Bibi buatkan susu hangat?" tanya Bibi yang tahu persis kesuakaan Jihan dari kecil hingga dewasa.


"Boleh Bi, makasih ya Bi," kata Jihan sebelum Bibi berlalu dari sana.


__ADS_2