Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)

Pesona Duta (Duda Tanpa Anak)
Iri Bilang Bos


__ADS_3

Pertemanan Arya dan Dokter Muda itu rupanya berjalan awet. Saat ini keduanya tengah nongkrong di coffeshop dekat tempat tinggal si Dokter.


"Oh iya, btw gimana kabar Sweety?" tanya Arya yang memang ikut-ikutan memanggil Jihan dengan panggilan Sweety.


"Hmmm, walau sudah banyak berubah tetap saja tomboynya ngak ilang-ilang. Bahkan kabar terbaru yang aku dapatkan dari Bang Zio, Sweety menghajar perampok bersenjata gara-gara mencuri dompet seorang Ibu paruh baya..." kata Dokter muda itu menghela nafas.


"Coba kau bayangkan? Bagaimana mungkin Adik ku yang manis melakukan hal gila dinegeri orang. Tidak masalah kalau dia bangku hantam di Indonesia dengan para penjahat minimal aku bis asegera menghampirinya. Lah ini USA? Itu bukan negara kita Bung!" kata Si Dokter muda itu dengan tampang kusut.


Meski tidak punya Adik perempuan tapi Arya faham kegelisahan sang sahabat terlebih usia 20 tahu adalah usia yang masih sangat labil. Banyak orang yang masih terjebak dalam masa kanak-kanaknya ketika usianya sudah dewasa semoga saja Jihan tidak termasuk salah satunya.


"Apakah  Mas Zio sama sekali tidak memasang keamanan untuk Jihan?" tanya Arya pada Dennis.


"Kata Mama, Jihan harus merasakan bagaimana rumitnya hidup sendiri. Bukan apa-apa, umur siapa yang tahu bahkan Aku dan yang lain tidak pernah menyangka Papa pergi seawal ini. Jadi karean itu Mama tidak ingin Jihan dipantau dari jauh, cukuplah do'ayang dikirimkan sebagai pelindung." kata Dennis pada Arya.


"Apakah Sweetymu punya kemampuan spesial sampai Mama kamu bisa sepercaya itu pada Jihan yang tengah menuntut ilmu di Negara Asing?" tanya Arya.


"Jihan memang liar, namun dalam arahan Papa masih bisa dalam kendali. Dia mahir menggunakan pisau, pistol hingga panah. Terlebih dia juga ikut dalam geng motor jadi kebut-kebutan udah biasa bagi dia." kata Dennis yang membuat Arya bergidik ngeri.


Bagaimana mungkin Dennis ingin menjodohkan Jihan yang begitu tangkas dengan Arya yang biasa-biasa saja? Isabella yang bukan dari keluarga kaya dan ngak pintar-pintar amat saja menceraikan dia setelah tiga bulan pernikahan? Lalu bagaimana dengan Jihan? Jangan-jangan belum juga melihat wajahnya dia sudah ditolak mentah-mentah oleh Gadis cantik itu.


"Lu serius Adik Lu segarang itu?" tanya Arya pada Dennis dan Dennis menganggukkan kepalanya watados.

__ADS_1


Hingga panggilan dari kontak yang bernama Sweety itu menghentikan percakapan mereka.


"Assalamu'alaikum Mas... Apa kabar?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Walaikumussalam! Masih ingat kamu punya satu Saudara laki-laki lagi? Telepon sama Abang aja ngak usah nelepon-nelpon Mas! Mas ngambek ngak mau ngomong sama kamu!" kata Dennis mengerucutkan bibirnya.


Pria usia 28 tahun itu seolah lupa usianya yang tidak lagi muda hingga membuat Arya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin ada Kakak yang se absurt ini?


"Mas ngak usah ngambek gitu! Mas itu udah kayak vitamin aku, kalau ngak ada Mas aku ngak seger apalagi kalau uang saku dari Mas belum cair makin lemes Mas. Serius.." kata Jihan yang membuat Arya hampir menyemburkan minumannya. Apa tadi? Bukannya mau bercerita tapi si bocah malah menagih uang saku.


"Giliran uang bulanan aja gercep kamu! Tapi kalau ada masalah tetap saja cari Mas Zio lebih awal." omel Dennis pada gadis itu.


"Oh iya Mas, aku satu bulan lagi akan ada libur semester, tapi aku malas pulang. Rencananya kau mau ikut kerja part time disini bersama temanku." kata Jihan pada Dennis.


"Mas Dennis tega! Raja tega tahu ngak? Kalau memang aku pulang ke Indo, Mas Dennis harus siap-siap aku ganggu 24 jam ngak pake berhenti. Mau kerja, pacaran ataupun ketemu teman pokoknya aku ikut!" kata Jihan pada Dennis yang diiyakan dengan semangat oleh pria itu.


"Ya sudah Mas, aku mau latihan tinju dulu sama Rose. Seru abis Mas." kata Jihan yang membuat Dennis mengusap dada.


"Ya sudah asal jangan keluar dari jalur aja ya Dek." kata Dennis pada Jihan yang diangguki oleh Jihan.


"Mas tenang saja, perkara jodoh ataupun calon suamiku nanti aku serahkan pada Mas Dennis. Aku yakin pilihan Mas Dennis yang terbaik," kata Jihan dengan sangat percaya dirinya.

__ADS_1


"Mas akan tagih loh Dek!" kata Dennis dan Jihan menganggukkan kepalanya dengan enteng.


Setelah panggilan video berakhir Arya dan Dennis kembali saling tatap hingga Dennis tertawa dan menularkan pada Arya.


"Kenapa Lu ketawa? Apa ada yang lucu?" tanya Arya pada Dennis.


"Kalau gue sedekat ini sama Adek gue memangnya nanti yang jadi lakinya apa ngak cemburu ya?" tanya Dennis pada Arya.


"Kalau gue sebagai Suaminya jelas gue cemburu. Bagaimanapun gue ngak suka kalau Istri gue terlalu cepika-cepiki sama laki-laki lain. Tapi kalau saudara kandung itukan gue ngak bisa larang apalagi Jihan semanja itu sama Kedua Abangnya, yang ada gue yang kena bogem mentah sama Mas Zio dan Lu." kata Arya yang membuat Dennis sedikit merubah raut wajahnya.


"Alasan gue belum bisa menerima satupun wanita yang mau menjadi Bini gue hingga sekarang adalah belum apa-apa dia sudah membuat jarak antara gue dan keluarga gue terlalu jauh. Bukan apa-apa, gue sendiri melihat bagaimana hubungan Papa dan Mama dengan para saudara mereka. Mereka akur dan saling mendukung satu sama lain, tidak ada kecanggungan namun kental akan rasa hormat pada sesama... Jadi kalau lu serius mau sama Adek gue tolong jangan membangun pagar terlalu tinggi antara gue dan Adik gue karena gue ngak suka." kata Dennis serius dan Arya tertawa.


"Ah Lu serius amat Bung! Lagi pula Adek Lu belum tentu mau sama gue. Udah santai aja, kita lihat waktunya saja. Sekarang kit masih terpaku pada kegiatan kita yang tiada ujung bukan." kata Arya pada Dennis yang diiyakan oleh Dennis.


Satu bulan setelahnya


Satu bulan telah berlalu, namun Jihan belum bisa pulang karena beberapa hal yang membuatnya tertahan ditempat dia menuntut ilmu. Meski hati sudah berteriak mengatakan rindu pada Mama, Abang dan Mas Dennis namun apa daya raga belum mampu meninggalkan negara asing itu.


"Kapan Adek bisa pulang ya Ma?" tanya Dennis pada sang Mama.


Ya saat ini Dennis tengah merebahkan kepalanya dipangkuan sang Mama dan Mama mengusap kepala Dokter tampan itu. Memang ketiga anak-anaknya sangat dekat jadi wajar saja saling merindukan begitu berjauhan.

__ADS_1


"Jangan manja terus Dennis atau para Gadis akan berlari dan meninggalkanmu karena kau Anak Mami." kata Zio yang baru pulang bekerja.


"Iri bilang Bos!" kata Dennis sewot.


__ADS_2