
Di rumah yang sederhana.
Hampir semalaman Guntur tidak bisa tidur itu semua karena wajahnya yang terasa nyeri dan sakit, belum ucapan sang ibu yang akan menjual motor kesayangannya yang sudah penyok-penyok. Rasanya Guntur tidak terima ketika ia harus kehilangan motor kesayangannya.
Laki-laki yang wajahnya masih bonyok-bonyok pun mengerang hebat ketika membaca pesan dari sang kakak.
"Percuma punya kakak, tapi cuma bikin masalah aja," gumam Guntur. Ia meletakan ponselnya ketika membaca pesan kakaknya yang selalu mengungkit ungkit uang yang dulu ia gunakan untuk membiayai Guntur sekolah, dan kebutuhan hidup lainya.
"Bukanya kalau jadi kakak itu sudah tanggung jawabnya membiayai adiknya," gerutu Guntur. Mungkin laki-laki itu tidak tahu bagaimana susahnya cari uang hingga kaki buat kepala dan kepala buat kaki. Itu sebabnya ia bisa berbicara santai seperti itu.
"Apa aku kabur aja dari sini yah." Guntur pun langsung berpikir dengan keras bagaimana cara agar ia bisa mendapatkan uang untuk membiayai dirinya. Laki-laki itu termenungung di atas kasur dengan pikiran yang terus mencari ide dari mana dia harus mendapatkan uang yang banyak dan bisa hidup bebas tanpa kakak dan ibunya yang semakin berpihak pada Gatot.
Cukup lama Guntur termenung mencari ide. Hingga akhirnya laki-laki berusia sembilan belas tahun itu tersenyum penuh dengan kepuasan. Karena sudah mendapatkan ide. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya mengemas barang yang akan ia bawa, dan tentu surat-surat rumah yang ada di lemarinya ikut ia bawa, sebelum pergi ia lebih dulu membersihkan tubuhnya. Setelah ia rasa tubuhnya bersih dan tidak ada yang tertinggal, laki-laki itu perlahan meninggalkan kamarnya dengan tas rangsel di punggungnya.
"Guntur kamu mau ke mana?" tanya Sarah ketika melihat anaknya berjalan dengan memegangi wajahnya yang masih lebam, dan tas ransel di punggungnya.
"Mau berangkat kerja Bu," jawab Guntur dengan suara yang pelan, bibir meringis karena rasa sakit di wajahnya.
"Kenapa kamu tidak istirahat dulu aja, kamu masih sakit," balas Sarah dengan mendekat ke arah putranya. Ia akan mengecek wajah Guntur, tapi laki-laki itu langsung berusaha menghindar.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin Ibu lihat luka kamu?" tanya Sarah yang heran melihat tingkah anaknya yang berubah sedangkan dulu Guntur adalah anak yang cukup dekat dengan Sarah. Bahkan bisa dikatakan kalau Guntur adalah anak yang manja dan selalu cerita dalam masalah apa pun.
"Guntur harus bekerja sudah kesiangan." Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Guntur pun langsung pergi.
Wanita paruh baya itu menatap Guntur dengan bingung. "Ada apa lagi dengan anak itu," gumam Sarah, tapi wanita paruh baya itu tidak mau ambil pusing, toh nanti juga balik lagi.
__ADS_1
Sedangkan Guntur langsung mengendari motornya yang sudah penyok-penyok. Markas tongkrongan adalah tempat pertama yang Guntur tuju. Karena di tempat itu dia merasakan arti keluarga. Sedangkan di rumahnya justru ia merasakan tidak ada yang perduli.
"Hai, Bro gimana kabar loe?" tanya salah satu teman Guntur, begitu Guntur datang ke markas tempatnya nongkrong.
"Buruk, loe punya kenalan orang yang mau beli rumah nggak?" tanya Guntur sembari duduk dengan tanganya terus memegang wajahnya yang bonyok.
"Loe mau jual rumah orang tua loe?" tanya teman Guntur yang lainnya.
"Gue nggak ada pilihan lain, selain menjual rumah itu. Kakak gue makin cari gara-gara. Bahkan sekarang nyokap gue juga ikut-ikutan cari gara-gara," balas Guntur, tanpa rasa bersalah.
"Lebih baik loe pikirakan lagi deh niat loe. Dari pada kakak loe makin ngamuk. Loe tahu kan kakak loe itu seperti wanita jadi-jadian. Kalau sudah marah ngeri. Gue nggak mau dia ngamuk di markas kita gara-gara loe. Apalagi yang loe lakuin ini jelas bakal membuat kakak loe marah. Terus apa loe nggak mikir nanti nyokap loe tidur di mana? Kasihan nyokap loe, rumah itu harta benda satu-satunya." Teman lain pun tidak kalah menasihati Guntur yang cukup keras kepala.
Dengan tindakan Guntur menjual kakaknya demi motor sport pun sudah membuat teman-teman Guntur kecewa sekarang justru Guntur seolah ingin membuat masalah lagi dengan berencana menjual rumah warisan dari sang ayah. Padahal itu adalah harta paling berharga yang Sarah punya.
Guntur hanya diam, seolah mendengarkan ucapan teman-temanya, tapi ternyata apa yang dikatakan teman-temanya hanya lewat dari telinga Guntur. Kembali laki-laki itu justru menghubungi bosnya. Yah, menurut Guntur hanya bosnya yang bisa bantu dia keluar dari kesulitan ini.
Di saat Guntur sedang bingung mencari cara agar mendapatkan uang yang banyak agar dia bisa pergi dari rumah orang tuanya dan mulai hidup dengan kehidupan yang baru. Di tempat lain Gatot rela bekerja menjadi sopir, asalkan mendapatkan gaji yang halal dan bisa melunasi hutang-hutang pada Doni yang ia gunakan untuk melunasi hutang-hutang Guntur.
Mobil mewah yang Gatot kemudikan berhenti di depan rumah sakit yang mewah. Gatot melihat dari rumah sakitnya saja, sudah bisa pastikan kalau Doni pasti memiliki gaji yang besar, apalagi dia adalah pewaris tunggal perusahaan Bellamy yang dulu pernah menjadi tempat mengais rezeki. Perusahaan besar yang memiliki cabang hingga luar negri.
"Aku turun dulu, kamu boleh istirahat atau pulang ke rumah untuk bantu-bantu Momy, atau ke mana aja terserah kamu, nanti kalau aku mau pulang aku kirim pesan sama kamu." Doni menjelaskan pekerjaan Gatot. Sedangkan Gatot mendengar penjelasan Doni pun cukup terkejut.
"Hah, kerjaanya kaya gini doang?" tanya Gatot, mungkin dari sekian lama ia bekerja, ini adalah perkerjaan yang paling mudah.
"Emang kamu mau kerjaan yang kaya gimana?" tanya Doni serius.
__ADS_1
"Enggak tau juga sih, ini kerjaan sopir aku yang pertama kali. Tapi kalau kerjaannya kaya gini apa tidak terlalu mudah," tanya Gatot memastikan lagi.
"Atau kamu mau jadi asisten pribadi aku, kamu bisa bantu aku tulis-tulis resep obat untuk pasien, atau menyiapkan segala keperluan praktekku?" tanya Doni dengan senyum manis, menggoda Gatot
"Ya nggak gitu juga maksudku. Kalau gitu aku tunggu di mobil aja."
"Ya udah aku turun dulu." Doni pun bersiap untuk membuka pintu mobil.
"E ... tunggu ....!" Gatot justru menahan agar Doni tidak turun.
"Kenapa? Masih kangen?" tanya Doni dengan senyum lebar.
"Dih pede abis. Aku hanya ingin pinjam uang lagi. Apa kamu mau pinjamkan. Atau kamu bisa bayarkan gajihku separuh di muka. Aku tidak sempat membawa pakaian, aku butuh uang untuk membeli pakaian beberapa setel. Aku sedang minta bantuan temanku untuk menganbilkan pakaian di rumah," ucap Gatot dengan suara lirih. Doni pun hanya mengulas senyum. Lalu ia mengambil dompet di saku celananya.
"Kamu pakai kartu ini gunakan untuk beli keperluan kamu. Tidak usah dikembalikan aku ikhlas." Doni memberikan satu kartu berwarna gelap. Tanpa menunggu persetujuan dari Gatot yang masih bengong dengan kartu sultan di tanganya. Doni pun kembali bergegas turun dari mobil mewahnya.
"E ... tunggu ....! seru Gatot lagi. Namun Doni yang mengira kalau Gatot tidak mau menggunakan kartunya pun langsung bergegas melanjutkan langkah kakinya.
"Loh, kenapa dia malah berjalan lebih cepat. Padahal kan aku hanya mau bertanya nomor pin-nya berapa. Gimana aku bisa gunakan kartu ini kalau nomor pinya aja aku nggak tahu," gumam Gatot, masih melihat kartu gelap yang ada di tangannya.
"Mana aku nggak tahu nomer laki-laki itu lagi. Apa aku susul ke dalam yah. Tapi aku juga nggak tahu dia kerja di mana?' Gatot justru bingung bagaimana cara belanja karena yang Doni kasih hanya kartunya aja tanpa nomor pin-nya.
"Kayak nggak ikhlas banget dia kasih kartu ini."
#Kira-kira novel ini banyak yang minat gak Yan? Kalau gak ada yang baca, othor mau hapus ajah. Mohon masukannya yah, othor lagi bimbingan antara lanjut atau stop.
__ADS_1
Bersambung....