
Anak? Siapa yang sudah menjual rumah ini?" tanya Sarah kali ini ia sudah berbicara dengan nada yang pasrah, dalam dadanya bergemuruh hebat.
"Guntur ..."
Sarah terkejut dengan ucapan dua laki-laki yang datang ke rumahnya. Apalagi yang mereka katakan, di mana Guntur menjual rumah yang sudah puluhan tahun ia tempati. Rumah peninggalan dari suaminya, Tapi entah dasar apa tiba-tiba dua laki-laki itu mengatakan kalau rumah ini sudah di jual. Di jual oleh Guntur anaknya sendiri.
"Kalian jangan asal ngomong, saya tidak pernah mengizinkan siapa pun menjual rumah ini. Rumah ini adalah peninggalan satu-satunya dari almarhum suami saya. Jangankan Guntur, saya sendiri tidak berani menjual rumah ini," balas Sarah dengan nada bicara yang meninggi.
Ternyata apa yang selama ini Sarah takutkan benar-benar terjadi. Guntur kembali membuat dirinya kecewa. Lagi-lagi anak yang selama ini ia bela justru kembali membuat masalah. Malah kali ini masalahnya jauh lebih runyam.
"Tapi masalahnya Guntur sudah menjual rumah ini. Ini bukti transaksi penjualan rumah ini." Laki-laki berbadan tegap dengan rambut gondrong menunjukan sebuah map yang menunjukkan bukti jual beli rumah yang ditempati oleh Sarah.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun dengan tangan bergetar mengambil map yang laki-laki itu sodorkan. Perlahan Sarah membaca surat-surat yang memang benar itu surat tanah milih suaminya yang ditinggalkan untuk ditempati oleh dirinya dan juga anak-anaknya. Tanpa terasa air mata Sarah pun mengalir deras. Air mata kecewa, marah dan bingung ketika di dalam map itu ada kwitansi penjualan rumah lagi-lagi dengan harga lima ratus juta rupiah, dan juga semua surat-surat tanah tanpa dia ketahui ternyata diambil oleh Guntur.
"Kenapa Guntur, kenapa kamu jadi kaya gini," isak Sarah tidak menyangka sama sekali anak yang ia besarkan justru akan membuatnya terlilit masalah yang semakin rumit. Sarah dan Gatot tidak menyangka kalau Guntur yang dulunya adalah anak yang baik dan juga tidak neko-neko bisa setega ini.
"Tolong jangan ambil rumah ini, ini adalah peninggalan suami saya. Kalau kalian mabil rumah ini saya akan tinggal di mana?" Mohon Sarah dengan mengatupkan kedua tangannya. Air matanya terus mengalir. Wanita paruh baya itu bingung akan tinggal di mana, sedangkan dia tidak punya siapa-siapa lagi, ada saudara dari ayahnya Guntur, tapi mereka pun hidup dengan keterbatasan, kalau ditambah dengan Sarah menumpang hidup di rumah mereka. Sarah tidak enak. Sedangkan Guntur sendiri entah di mana. Gatot pun sedang bekerja mencari rezeki untuk kebutuhan hidupnya.
"Tidak bisa, ini sudah bukan rumah kalian, rumah ini akan dibangun oleh bos kami, jadi secepatnya kalian pindah dari sini. Kemasi barang-barang kalian, dan tinggalkan rumah ini sekarang juga," ucap laki-laki yang satu lagi dengan nada bicara yang semakin kasar.
"Itu bukan urusan kami. Kami tidak pernah tahu juga kemana laki-laki itu pergi. Mungkin sekarang sedang pesta dengan uang-uang yang dia dapatkan dari jual rumah ini. Dari pada mengemis perhatian lebih baik kamu buruan kemasi pakaian kamu dan pergi baik-baik dari rumah ini dari pada kami berbuat kasar dan mengusir Anda."
Mendengar ucapan yang semakin tidak terkendali. Sarah pun semakin bingung.
__ADS_1
"Tolong beri waktu kami untuk mencari tempat tinggal, sekarang saya tidak tahu harus ke mana." Sarah kembali memohon dan mengiba dengan tangan yang kembali mengatup memberikan tatapan memohon.
"Udah jangan banyak drama, kemasi barang-barang kamu, dan pergi dari rumah ini, karena rumah ini akan segera kami robohkan dan kami buat tempat usaha." Laki-laki yang satu pun langsung mendorong Sarah agar masuk kerumahnya dan mengemasi barang-barang yang bisa ia gunakan lagi.
Arkhhh... Sarah yang tidak siap dengan dorongan dari laki-laki di hadapannya pun terjatuh, dadanya nyeri, dan kepalanya tiba-tiba gelap.
Brughhh ... wanita paruh baya itu justru pingsan.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1