Pesona Mbak Gatot (Gadis Berotot)

Pesona Mbak Gatot (Gadis Berotot)
Akal Bulus Doni Mahendra


__ADS_3

Doni mencoba memegang tangan Gatot dengan tujuan meminta maaf. Namun Gatot justru menarik tangannya sehingga Doni tidak bisa memegang tangan calon istrinya.


Doni pun tidak kehabisan akal. Ia justru menarik tangan Gatot dengan paksa hingga gadis berotot yang kurang keseimbangan pun jatuh di atas pangkuannya.


"Awwww.... bukan hanya Gatot yang terkejut. Nyatanya Doni juga terkejut dengan kelakuannya sendiri.


Bahkan adik kecilnya pun langsung bangun ketika Gatot jatuh di pangkuannya.


"Kamu apa-apaan sih." Gatot ingin bangun tetapi Doni yang memiliki tenaga kuat pun justru menahan Gatot agar tidak berontak.


"Diam! Kalau kamu banyak bergerak malah adik kecilku di bawah sana semakin menggila ingin mendapatkan sentuhan manja. Nanti juga orang-orang akan melihat mobil ini bergoyang kalau kamu berontak. Lebih baik diam dan terima hukuman dari aku, karena kamu sudah mengunci aku di dalam mobil, hingga aku hampir mati," ucap Doni dengan memeluk tubuh Gatot yang duduk di pangkuan Doni.


Glek!


Jelas mendengar ucapan Doni, Gatot pun langsung terdiam. "Maksud kamu mau hukum aku apa?" tanya Gatot ingin dia menghajar Doni, tetapi ia teringat kalau mobil ini bergoyang pasti orang-orang yang lewat di parkiran pasti akan mengira kalau penumpang mobil sedang melakukan hubungan terlarang.


"Kamu maunya apa? Kita mungkin bisa memulai dengan berciuman atau justru dengan pemanasan yang lain," ledek Doni sembari mengeratkan pelukannya ke pinggang ramping Gatot.


"Jangan macam-macam kamu Don, kita belum sah menjadi suami istri, jangan ajak aku ke neraka. Tanpa kamu ajarkan dosa-dosa yang seperti itu. Dosa-dosaku juga sudah banyak," ucap Gatot menjauhkan wajahnya dengan wajah Doni. Melihat reaksi Gatot yang menggemaskan Doni pun langsung terkekeh.


"Ayolah Sayang, aku ingin mencicipi bagaimana legitnya bibir kamu." Bukan Doni namanya kalau dia tidak semakin iseng. Senang rasanya kalau lihat Gatot justru salah tingkah.

__ADS_1


"Jangan main-main kamu, aku pernah mematahkan tangan orang karena dia kurang ajar, dan itu berati aku bisa mematahkan tangan kamu juga," balas Gatot kali ini dengan nada yang serius, ketus dan setengah. mengancam.


"Sabar Sayang aku hanya bercanda kok, jangan terlalu serius takut nanti kamu justru tua lagi. Ya udah ayo kita turun! Aku sudah ingin ketemu dengan calon mertuaku, lagian kamu kurus-kurus tapi badan kamu sangat berat." Laki-laki itu sangat senang meledek Gatot yang kesabarannya setipis tisu itu.


Cup ... Doni mencuri cium saat Gatot beranjak turun dari pangkuannya.


"Doni ...." Gatot memekik cukup keras saat Doni mencium pipinya.


"Iya sayangku. Aku sudah ada di depan kamu. Apa kamu ingin memberikan bonus spesial untuk calon suamimu ini," Kembali Doni meledek Gatot dengan nada bicara yang sangat menyebalkan itu bagi Gatot yah, tentu tidak bagi Doni yang justru kata laki-laki itu nada bicaranya itu romantis.


"Jangan macem-macem yah. Aku bisa membatalkan pernikahan kita kalau kamu itu macem-macem," ancam Gatot dengan menunjukan wajah tidak sukanya ketika melihat tingkah Doni yang makin berani.


Benar saja mendengar kata-kata Doni, Gatot pun tidak bisa berkutik lagi karena dia memang butuh Doni yang diyakini bisa memecahkan masalahnya. Yah, Gatot sadar diri, tanpa adanya Doni dia tidak bisa mencari Guntur. Tanpa adanya Doni juga Gatot belum bisa memberikan tempat yang nyaman untuk ibunya. Dan juga dia tidak mungkin  bisa membayar hutang-hutangnya pada Doni kalau Gatot membatalkan pernikahannya dengan Doni.


"Ya udah ayo buruan katanya kamu mau lihat ibuku." Tidak ingin berlama-lama lagi Gatot pun langsung menggandeng tangan Doni dengan mesra. Sementara itu laki-laki yang berprofesi sebagai dokter spesialis kangker pun langsung berjingkrak gembira dengan Gatot yang tidak lagi keras kepala. Dini pun hanya pasrah saja ketika tangannya digandeng dengan lembut oleh Gatot.


"Ngomong-ngomong ibu kamu sakit apa?" tanya Doni ketika pasangan calon suami istri itu berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit yang panjang.


"Aku belum sempat tanya sama Ibu," jawab Gatot dengan jujur. Yah, bahkan wanita itu baru ingat kalau dia memang belum bertanya pada sang ibu dan juga ponakannya Anna, kenapa gerangan ibunya dilarikan ke rumah sakit. Gatot yang terlalu cemas tadi pun langsung menangis panik sehingga ia belum bertanya sakit ibunya.


Mendengar ucapan Gatot, laki-laki yang hatinya berbunga-bunga pun menghentikan langkah kakinya. Heran. Yah itu yang Doni rasakan, karena seharusnya Gatot sudah bertemu dengan ibunya, tapi kenapa belum tahu sakit apa kira-kira calon mertuanya.

__ADS_1


"Kamu tidak sedang bercanda atau mengetes kemampuan dokter aku kan?" tanya Doni sembari mengamati gerak gerik Gatot.


"Kenapa aku harus ngetes kedokteran kamu. Emang aku belum bertanya pada Ibu, Dokter penanggung jawab Ibu maupun pada Anna, sepupuku. Tentang sakit Ibu, kenapa Ibu bisa dilarikan ke rumah sakit," jawab Gatot dengan jujur. Doni pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mencoba mengerti tentang apa yang Gatot rasakan.


"Ya udah kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu. Aku yakin kalau kamu dan ibu kamu pasti bisa melewati ini semua," balas Doni dan kedua pasangan yang baru resmi jadian pun kembali mengayunkan kakinya agar segera sampai di ruangan rawat sang ibunda tercinta.


**********


Di saat Gatot dan ibunya di korbankan oleh Guntur, agar laki-laki usia sembilan belas tahun itu bisa hidup hendon. Bahkan sang ibu sampai kehilangan tempat tinggal, dan juga jatuh sakit karena kabar ulah dari Guntur.


Laki-laki yang membuat kekacauan itu justru hidup dengan enak. Selain motor yang sudah ia perbaiki bahkan saat ini Guntur sudah mengganti motor yang dirusak oleh Gatot dengan motor yang baru. Justru ibu dan kakak perempuannya sedang dilanda kesusahan.


Gengsi itu yang membuat Guntur tega melakukan itu semua terutama pada ibunya sendiri. Gara-gara gengsi nasibnya yang terlahir dari orang tua yang tidak mampu. Laki-laki berusia sembilan belas tahun itu rela melakukan apa pun untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah yang bisa ia gunakan untuk kebutuhannya. Untuk memenuhi gaya hidup yang selangit. Entah kalau ia sudah tidak punya uang lagi apakah ia akan pulang ke rumah orang tuanya dan meminta ampun dengan apa yang pernah ia lakukan, atau justru laki-laki itu akan memilih bertahan dengan keadaan dia yang sudah miskin.


"Guntur, besok kita bertemu dengan bos yah," ucap laki-laki yang membujuk Guntur untuk meninggalkan rumah orang tuanya dan menjual rumah peninggalan ayahnya. Sebut aja namanya Awal. Awal sendiri adalah tangan kanan dari bandan obat-obatan terlarang yang bernama Marcelo dan juga dia adalah penyelundup senjata tajam dan senjata berapi.


Entah dari mana Guntur bisa masuk ke sindikat yang sangat berbahaya itu sebabnya ia sangat mudah untuk menjual kakaknya sendiri serta menjual rumah orang tuanya seolah ia kehilangan belas kasih gara-gara ikut-ikut dengan sindikat yang berbahaya itu.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2