
Hari ini adalah hari pertama Gatot kembali kerja di perusahaan Bellamy Jaya kalau dulu ia bekerja di bagian marketing, pemasaran. Kini Gatot bekerja di bagian keuangan kantor. Bayangkan saja dulunya yang pusing harus pandai merayu orang-orang untuk menyewa atau membeli properti yang mereka punya. Tapi kini justru Gatot harus bekerja menghitung pendapatan dan pengeluaran dengan nominal uang yang tidak main-main.
Belum juga kerja dua belas jam. Gatot sudah dikejutkan dengan telpon dari sepupunya yang tinggal dengan orang tua Gatot. Gadis berotot itu menatap layar ponselnya, ia membaca berkali-kali pesan yang dikirimkan oleh sepupunya.
[Gatot, Bibi sekarang ada di rumah sakit. Kondisinya drop, karena rumah kalian ternyata dijual sama Guntur.] Itu adalah pesan yang ditulis oleh Anna, sepupu Gatot.
Gigi-gigi Gatot saling beradu ketika membaca pesan dari sepupunya. Gadis berotot itu yang awalnya sedang menikmati bekerja di hari pertamanya. Ketika membaca pesan dari sepupunya ia semakin dibuat tidak tenang.
[An, tolong jaga Ibu dulu yah. Aku sedang kerja tidak boleh izin sembarangan. Begitu kerjaan aku sudah selesai aku janji akan langsung ke rumah sakit di mana Ibu di rawat.] Itu adalah pesan yang Gatot kirimkan untuk sepupunya. Beruntung Gatot punya sepupu yang bisa diandalkan di bandingkan dengan adiknya sendiri. Gatot tidak menyangka kalau adiknya akan semakin menjadi-jadi tingkahnya.
Siapa yang tidak marah, dan murka kalau ternyata laki-laki itu justru membuat Gatot kembali meradang. Bahkan rasanya Guntur sudah gila, ia tidak menyangka kalau adiknya menjual rumah peninggalan orang tuanya.
Gadis berotot itu yang awalnya sedang bersemangat kerja, sejak mendapatkan kabar dari Anna sepupunya. Ia pun semakin tidak tenang bekerja. Bayangkan saja kini ia tidak punya tempat tinggal lagi. Gadis usia tiga pulih tahun itu tidak tahu apa salahnya ia pada Guntur sampai-sampai adiknya tega berbuat kurang ajar seperti itu. Terlebih rumah itu harta ibunya satu-satunya.
[Tolong yang tahu di mana Guntur berada sekarang. Kasih info ke aku.] Gatot berkirim pesan pengumuman pada teman-teman Guntur. Meskipun sebelumnya sang ibu sudah mengabarkan kalau teman-teman Guntur tidak ada yang tahu keberadaan adiknya. Namun, tidak ada salahnya Gatot kembali mencari laki-laki bejad itu.
Hari pertama kerja pun cukup menguras emosi Gatot, bukan masalah emosi dengan pekerjaan atau justru dengan orang-orangnya, bukan, tapi emosi dengan adiknya sendiri. Pukul lima Gatot pun pulang dan tentu sebelum pulang ia menjemput bosnya dulu di rumah sakit setelahnya ia langsung akan izin dengan Doni untuk menemui ibunya.
******
Selamat sore Tuan," sapa Gatot dengan nada bicara yang formal sedangkan biasanya Gatot itu akan menyapa paling dengan istilah aku dan kamu begitupun dengan Doni.
__ADS_1
"Hemz ... kamu kenapa? Kesambet kok tumben pake bahasa formal," balas Doni justru tetap santai menanggapi Gatot.
"Ya kan kamu itu bos aku, dan kamu juga orang nomor satu di tempat perusahaan aku bekerja. Gak salah kan kalau aku bicara formal dengan kamu," balas Gatot, ia baru sadar kali rasanya, ga sopan kalau sama bos bicara aku kamu.
"Tot, kita bisa ngomong sebentar nggak," ucap Doni kali ini laki-laki itu berbicara yang cukup serius.
Gatot tidak langsung menjawab apa yang Doni katakan. Gadis itu mencari keseriusan di mata Doni.
"Penting banget?" tanya Gatot, ia justru deg-degan takut kalau Doni akan minta bayaran utang-utangnya saat ini juga. Padahal dia akan minta izin untuk tidak mencicil hutang-hutangnya dulu karena Gatot akan pakaian uang gajian pertama untuk kebutuhan dirinya dengan sang ibu. Ia harus mencari tempat tinggal untuk ibunya dan dirinya. Setelah itu ia akan fokus mencari Guntur. Bahkan kalau perlu ia akan menyeret adiknya ke kantor. polisi. Biar tau kalau Gatot tidak pernah main-main dalam ucapannya.
"Yah, ini menyangkut masa depanku," balas Doni, dan dapat Gatot lihat kalau laki-laki itu memang sangat serius dengan ucapannya. Gatot dan Doni pun memilih sebuah cafe yang tidak begitu rame. Setelah memesan minum Doni dan Gatot pun saling diam sesaat dan menyiapkan apa yang kira-kira akan mereka obrolkan.
"Mungkin kamu pernah dengar beberapa kali kalau aku mengajak kamu menikah. Dan aku serius dengan ucapanku. Apakah kamu mau menikah dengan aku?" tanya Doni dengan suara yang lirih.
Mendengar ucapan Doni jelas Gatot kaget. Ia tidak menyangka kalau Doni akan melamarnya. Gatot tahu Doni memang suka bercanda, tapi untuk kali ini ia bisa simpulkan kalau laki-laki itu sedang berbicara dengan cukup serius, bukan seperti biasanya yang terlibat candaan.
"Aku serius dengan ucapan aku Tot. Momy sudah menuntut aku agar aku menikah. Apa kamu mau menikah dengan aku. Karena kalau aku menolak Momy akan menjodohkan aku dengan wanita lain, dan aku tidak setuju dengan ide Momy. Jujur dari awal aku tertarik dengan kamu," ucap Doni dengan nada bicara tegas dan tatapan serius menata Gatot. Bahkan Gatot tahu dari cara Doni menatap ia sedang tidak ingin bercanda seperti biasa-biasanya.
Mendengar ucapan Doni, Gatot pun mengalihkan pandanganya. Sekarang tambah lagi satu masalah. Masalahnya belum selesai dengan adik dan ibunya. Kini Doni justru mengajaknya menikah. Gadis berotot itu pun memejamkan matanya, menghirup nafas dalam dan mengembangkannya secara perlahan.
Tidak bisa dipungkiri ia juga ingin berumah tangga, apalagi sang ibu juga selalu menuntutnya untuk segera menikah, sekaligus ia juga ingin mematahkan anggapan orang-orang yang selalu menganggap kalau Gatot itu penyuka sesama jenis. Selama ia belum menikah maka anggapan itu akan tetap ada. Namun, kenapa harus sekarang di saat ia sedang mengalami banyak sekali masalah dalam keluarganya.
__ADS_1
"Bukan aku tidak mau menerima niat baik kamu, tapi aku sekarang sedang banyak sekali masalah. Ibuku sekarang sedang masuk rumah sakit, itu semua karena adikku yang menjual rumah kita. Padahal rumah itu adalah rumah peninggalan almarhumah ayahku, tapi lagi-lagi Guntur berbuat sesuatu sesuka hatinya. Aku tidak tahu apa yang ada dalam otaknya. Aku harus selesaikan masalah keluargaku dulu. Kalau memang orang tua kamu sudah ada calon untuk dijodohkan dengan kamu. Mungkin memang pilihan dari Momy Iriana adalah yang terbaik untuk kamu," ucap Gatot dengan nada bicara yang berhati-hati, agar Doni tidak tersinggung dengan ucapannya dan menganggap kalau Gatot menolak lamarannya.
"Kalau gitu biar aku bantu kamu, aku bisa bantu kamu menyelesaikan masalah kamu asal kamu mau menikah dengan aku." Bukanya Doni menyerah dengan yang diucapkan Gatot. Justru laki-laki itu tetap bersemangat untuk membuat Gatot mau menikah dengannya.
"Ayolah Gatot. Masalah yang kamu hadapi itu bukan masalah yang terlalu rumit, hanya kamu saja yang mempermasalahkannya terlalu berlebihan. Aku sudah terlanjur bilang pada Momy kalau kamu itu adalah calon istriku. Kalau aku tiba-tiba mengatakan kalau kamu tidak mau menikah dengan aku. Aku pasti akan semakin didesak untuk menikah dengan cewek lain. Yang jelas-jelas bukan kriteriaku." Doni masih mengeluarkan jurus terakhirnya.
Diam, Gatot kembali Diam, dia mempertimbangkan ucapan Doni.
"Atau kita nikah pura-pura kalau kamu memang tidak mau menikah dengan aku," tawar Doni dan berhasil membuat Gatot langsung mengangkat wajahnya.
"Ma ... maksud kamu apa?" tanya Gatot dengan nada bicara yang lirih dan penuh dengan kebingungan.
"Mungkin kita bisa nikah kontrak seperti yang di novel-novel. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk menolak permintaan Momy, dia mengancam ku kalau tidak menikah juga maka Momy akan menjodohkan aku. Dan bodohnya aku sudah mengatakan kesanggupanku. Aku sudah bilang ia sanggup dengan tawaran itu, dan gadis yang akan menikah dengan aku adalah kamu."
Jeduerrr ... masalah satu lagi benar-benar kembali muncul. Rasanya tubuhnya langsung panas hingga ke ujung kepala, ketika mendengar penuturan Doni.
"Menikah kontrak?"
Bersambung....
...****************...
__ADS_1