
Tepat di depan ruangan rawat kelas tiga. Gatot langsung menghentikan langkah kakinya. Begitupun Doni, langsung menghentikan kakinya juga begitu calon istrinya menghentikan langkah kakinya.
"Kamu ingat yah, jangan bilang macam-macam." Gatot memperingatkan Doni yang ia tahu pasti Doni bakal membuat info-info yang membuat telinganya panas.
"Iya calon istriku, yang galak," balas Doni dengan berbisik di balik daun telinga Gatot. Bahkan wanita itu sampai berdiri bulu kuduknya. Gadis berotot itu pun membalikan tubuhnya.
"Aku sedang bicara serius, tolong jangan anggap bercanda ucapan aku." Gatot menatap Doni dengan tatapan yang tanpa kedip.
"Iya-iya, apa kamu lihat wajah aku ini tukang bohong, atau justru tukang bercanda." Jari telunjuk laki-laki tampan itu menujuk wajahnya yang menunjukan keseriusan.
"Awas kalau kamu macam-macam ..." Tanpa banyak bicara lagi Gatot pun membuka pintu ruangan rawat sang ibunda tercinta, tentu diikuti juga oleh Doni. Tatapan Sarah dan juga Anna pun menatap ke arah pintu yang terbuka.
Kesan pertama masuk ruangan rawat yang ditempati oleh calon mertuanya. Jelas Doni merasanakn pengap. Yang mana Sarah ditempatkan di ruangan kelas tiga yang satu ruangan terdiri dari enam ranjang pasien yang mana hanya dipisahkan dengan gorden berwarna cream.
"Anna, bisa kamu tunggu di luar sebentar," ucap Gatot pengagetkan Anna yang menatap Doni dengan tatapan yang tanpa kedip. Baru pertama kali wanita itu menatap Doni, Anna sudah dibuat jatuh hati.
"Bibi, aku ke depan dulu yah," pamit Anna pada Sarah yang juga menatap Doni dengan tatapan yang bingung. Sarah hanya membalas dengan anggukan yang lemah.
__ADS_1
Kini Sarah bergantian menatap pada Gatot dengan tatapan meminta penjelasakan dengan laki-laki yang memegang tangan putrinya.
"Selamat Malam Bu, saya Doni calon suami Gatot," ucap Doni yang justru langsung mengerti arti dari tatapan Sarah.
Mendengar ucapan Doni, Gatot langsung menunduk. Yah, ia merasa tidak perlu lagi menjelaskan sesuatu karena Doni sudah menjelaskannya.
Tentu dalam hatinya Gatot berdoa agar laki-laki yang berdiri di sampingnya tidak ngomong yang aneh-aneh.
Sementara itu, Sarah justru terkejut dengan ucapan laki-laki yang berdiri di samping putrinya. Kini tatapan Sarah dialihkan menatap Gatot.
"Apa yang Nak Doni katakan itu benar Mbak?" tanya Sarah dengan suara yang lirih, tetapi tidak bisa dipungkiri dari sorot wajah wanita paruh baya itu menujukan rasa bahagianya karena pada akhirnya apa yang diinginkan akan tercapai juga. Yah, sudah sangat lama Sarah menginginkan putrinya membawa laki-laki dan dikenalkan seperti malam ini.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa bawa laki-laki untuk menjadi menantu ibu," balas Sarah tidak henti-hentinya mengucapkan Handalah karena saking senangnya ia akhirnya mendapatkan calon menantu. Apalagi dari wajah Doni yang tampan dan rupawan membuat Sarah langsung cocok dengan pilihan Gatot.
Jangan ditanya perasaan Doni, sudah pasti di samping Gatot laki-laki tampan itu mengembangkan senyum bahagianya. "Yes, akhirnya aku langsung dapat lampu hijau," batin Doni.
Tidak sia-sia dia mengejar gadis berotot itu, karena restu langsung bersambut mekipun baru pertama kali bertemu. Mana tidak membawa sogokan lagi tidak seperti biasanya sebagai calon menantu selalu ada buah tangan atau setidaknya membawa sogokan agar restu didapatkan. Namun, Doni tidak melakukan itu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kalian kenal dari mana, kok Ibu belum pernah lihat kamu jalan dengan Nak Doni, dan tiba-tiba kamu bawa sebagai calon suami?" tanya Sarah, dengan tatapan yang meminta penjelasan dengan hubungan anak dan calon menantunya.
"Kami kenal sudah lama, hanya saja pernah kehilangan komunikasi dan baru bertemu lagi beberapa hari kebelakang, dan setelah memutuskan bersama. Akhirnya kami memutuskan menikah." Lagi, Doni yang menjawab atas pertanyaan calon ibu mertuanya dengan jelas tegas dan yakin.
Jelas Sarah cukup puas dengan jawaban laki-laki yang akan menjadi menantunya. Dapat Sarah nilai kalau Doni memang laki-laki yang tegas dan bertanggung jawab.
Sarah mengangguk menandakan puas dengan jawaban calon menantunya.
"Kira-kira kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Kali ini Sarah langsung ingin memastikan seberapa seriusnya laki-laki yang akan menjadi calon menantunya.
"Secepatnya. Bukankah lebih cepat lebih baik," balas Doni tanpa ragu-ragu.
Kembali jawaban dari Doni benar-benar membuat Sarah puas dan menilai kalau Doni adalah laki-laki yang tampan, pemberani dan bertanggung jawab.
"Ibu setuju, Ibu sangat senang dengan jawaban pertanyaan kamu," balas Sarah.
Gatot menggenggam tangan ibunya. Ada rasa yang berbeda menjalar di sekujur tubuhnya. Sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Ketika melihat ibunya sangat bahagia.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...