Pesona Mbak Gatot (Gadis Berotot)

Pesona Mbak Gatot (Gadis Berotot)
Kejutan Untuk Sarah


__ADS_3

Hari terus berganti kini Gatot pun sudah satu minggu bekerja dengan Doni. Sudah satu minggu juga Guntur tidak pulang ke rumah, Sarah sudah beberapa kali mengabarkan pada Gatot kalau adiknya kabur, tapi Gatot tidak mau ambil pusing lagi. Bagi gadis berotot itu, Guntur sudah besar kalaupun pergi bisa jaga diri, apalagi Guntur seorang laki-laki jadi tidak harus dikhawatirkan terlalu berlebih.


Gatot yakin kalau adaiknya akan baik-baik saja, dan bisa membiayai hidupnya sendiri. Tanpa harus ia cari-cari. Lagi pula nomor ponselnya Guntur juga tidak aktif yang berarti laki-laki itu ingin kalau keluarganya tidak ada yang tahu keberadaannya. Jadi untuk apa dipusingkan.


Sudah satu minggu juga Gatot tinggal di rumah Doni dan hubungannya dengan Doni dan Momy Iriana pun semakin dekat.


"Gatot, kamu kembali kerja di Bellamy mau nggak?" tanya Doni saat mereka akan berangkat kerja.


"Ada apa tumben aku dipindahkan ke perusahaan Anda lagi. Apa kerjaan aku tidak baik dan membuat kamu tidak suka dengan hasil kerjaan aku?" tanya Gatot dengan santai.


"Bukan karena tidak suka, tapi karena diperusahaan itu sedang kurang orang. Aku yakin kamu bisa membantu pekerjaan di kantor. Kamu tenang aja aku akan selalu datang ke kantor kok, ya meskipun hanya satu atau bahkan dua jam, tapi cukup kan buat obatin rasa kangen." balas Doni dengan nyengir kuda, dan mata berkedip-kedip.


"Ok aku lebih suka kerja di perusahaan kamu." Tanpa pikir panjang Gatot pun langsung setuju dengan apa yang Doni katakan, karena memang kerja jadi sopir juga dia bosan. Lebih banyak bengongnya dari pada kerjanya. Kalau di kantor Gatot akan banyak yang dikerjakan sehingga tidak ada istilah bengong.


"Aku akan tambhakan uang gajih kamu," ucap Doni. Namun Gatot langsung menolaknya dengan halus.


"Tidak usah, kamu sudah terlalu baik dengan aku, jadi tidak usah tambahkan lagi gaji untuk aku, takutnya aku nanti akan jadi pemalas," tolak Gatot dengan alasan yang baginya sangat masuk akal. Yah, biasanya orang akan malas kalau gaji sudah besar.


Orang lain akan senang dengan gaji besar, tapi justru Gatot menolak tawaran gaji dari Doni yang jelas pasti tidaklah receh.

__ADS_1


"Hahah kamu itu aneh, ditawarin gajih besar malah menolak. Apa kamu mau jadi istri aku aja," goda Doni, ah Gatot sih sudah kebal dengan candaan Doni. Laki-laki itu memang selalu seperti itu jadi Gatot sudah tidak aneh laki.


Apalagi seminggu Gatot menjadi sopir pribadi laki-laki berusia tiga puluh enam tahun berhasil membuat Gatot tahu seperti apa Doni sebenarnya. Ya nggak jauh beda dengan laki-laki yang ia kenal. Banyak cewek-cewek yang memujanya.


"Udah turun sana, kerja yang bener jangan sampai nanti salah suntik. Ini konci mobilnya. Aku naik kendaraan umum aja pergi ke kantor," balas Gatot dengan memberikan konci pada Doni.


"Tidak usah kamu pakai mobil itu aja, nanti aku pulang bisa minta jemput dari sopir kantor. Udah pakai aja. Kamu juga kerja yang bener jangan godain cowok lain aku bakal cemburu." Rasanya seperti ada yang kurang kalau Doni tidak meledek Gatot.


"Dih pede gila. Laki-laki yang mana bakal aku godain, adik tiri kamu, dia udah punya istri. Jec juga sudah punya pawang. Jadi yang mana?" tanya Gatot.


"Ya kali aja, ada yang lain."


Setelah memastikan Gatot tidak akan godain cowok lain, Doni pun langsung bergegas turun dan bersiap kerja. Begitupun dengan Gatot ia akan langsung ke kantor Bellamy Jaya, tempat di mana ia dulu pernah mengais rezeki. Dan kini Gatot akan kembali kerja di kantor itu lagi.


Di tempat lain.


Sarah tergopoh menghampiri pintu rumahnya, ketika tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu cukup keras. Wanita paruh baya itu sekarang tinggal dengan sepupunya karena Gatot yang bekerja di luar kota sedangkan Guntur pergi entah ke mana. Sarah berharap yang datang adalah Guntur. Sudah satu minggu Sarah cari Guntur ke mana-mana, bahkan sudah mencari ke teman-teman tongkrongan Guntur, tetapi mereka tidak tahu keberadaan Guntur.


Sarah terkejut ketika melihat ada dua laki-laki berperawakan tegap dan besar. Bahkan rambut mereka gondrong dan berpenampilan seram.

__ADS_1


"Maaf cari siapa yah?" tanya Sarah, dengan nada yang bingung.


"Dengan Ibu Sarah?" tanya laki-laki bersuara berat.


Sarah pun mengangguk. "Iya saya sendiri, ini dari mana?" tanya Sarah, ia masih penasaran karena sepengetahuan dia tidak pernah bertemu dengan dua laki-laki itu.


"Saya suruhan dari Tuan Budi, ingin memberitahukan pada Anda, agar segera pindah dari rumah ini. Karena rumah ini sudah di jual dan sekarang jadi milik bos kami," jelas laki-laki yang satunya lagi.


Judeerrr... Bak tersambar petir disiang bolong. Tiba-tiba ada dua orang yang mengatakan rumahnya di jual, sedangkan dia tidak pernah menjual rumah itu.


"Kalian jangan asal bicara. Rumah ini tidak pernah saya jual. Jadi jangan sembarangan minta orang untuk pergi dari rumah ini," balas Sarah dengan nada bicara yang meninggi.


"Yah, memang Anda tidak pernah menjual rumah ini, tapi anak Anda sudah menjualnya," balas laki-laki itu.


"Anak? Siapa yang sudah menjual rumah ini?" tanya Sarah kali ini ia sudah berbicara dengan nada yang pasrah, dalam dadanya bergemuruh hebat.


"Guntur ..."


Duerrr ... Benar apa yang selama ini Sarah takutkan benar-benar terjadi. Guntur kembali membuat dirinya kecewa. Lagi-lagi anak yang selama ini ia bela justru kembali membuat masalah.

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2