Pewaris Pedang Naga

Pewaris Pedang Naga
Episode 12 : Sisa-sisa prajurit pemberontak.


__ADS_3

Pada malam hari, Zhang Zhen Wei dan Li Tian memutuskan untuk menyusup ke sebuah tempat yang diduga menjadi sarang sisa-sisa kelompok pemberontak.


Mereka melangkah dengan hati-hati di tengah kegelapan malam, menghindari penjagaan yang mungkin ada di sekitar tempat tersebut. Mereka bergerak dengan penuh kelincahan, menggunakan bayangan dan kecerdikan mereka untuk menyeberangi halaman yang luas tanpa terdeteksi.


Setelah melewati pagar tinggi, Zhang Zhen Wei dan Li Tian mampu masuk ke dalam bangunan utama. Mereka melihat ruangan yang gelap, hanya sinar remang-remang yang menyusup melalui jendela-jendela yang terbuka sedikit. Dikendalikan oleh adrenalin, mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka menuju jantung sarang pemberontak.


Begitu mereka mencapai lantai atas, mereka mendengar suara bisikan rendah di balik salah satu pintu. Zhang Zhen Wei dan Li Tian saling berpandangan, kepala mereka dipenuhi dengan pertanyaan: "Apakah itu memang pemberontak yang kami cari?". Dengan hati-hati, mereka mendekati pintu tersebut dan mencoba mendengar apa yang dibicarakan di baliknya.


Mereka terkejut ketika menyadari bahwa suara tersebut adalah suara dari para pemberontak yang mengatur rencana baru mereka. Rencana ini melibatkan serangan mendadak terhadap pasukan pemerintah dan menyandera beberapa pejabat penting sebagai tawanan politik. Zhang Zhen Wei dan Li Tian segera memahami bahwa waktu tidak memihak mereka. Mereka harus segera menghentikan rencana ini sebelum mengakibatkan kekacauan yang lebih besar.


Mereka pun memutuskan untuk masuk, beraksi cepat dan menghadapi para pemberontak tanpa ragu. Sekali pintu terbuka, mereka mengungkapkan kehadiran mereka dengan mengarahkan senjata ke arah pemberontak yang terkejut. Terlibat dalam pertarungan yang sengit Zhang Zhen Wei dan Li Tian mampu mengatasi para pemberontak dengan kekuatan dan keterampilan mereka.


“Jadi kau Chu Liang, adik Wei Chu yang sebelumnya menjadi pemberontak," ujar Zhang Zhen Wei.


Chu Liang hanya menatap Zhang Zhen Wei dengan tatapan tajam. Sejak kecil, ia selalu hidup dalam bayang-bayang kakaknya, Wei Chu. Wei Chu terkenal sebagai pemimpin pemberontak yang kuat dan berani melawan pemerintahan tirani yang ada di wilayah mereka.


Namun setelah kematian Wei Chu dalam sebuah pertempuran berdarah, Chu Liang harus mengambil alih tanggung jawab sebagai pemimpin pemberontak. Ia kehilangan sosok kakaknya yang dihormatinya dan merasa cemas akan kesulitan yang harus dihadapinya sebagai pemimpin.


"Tidak ada seorangpun di pemerintahan ini yang tahu hakikat gerakan pemberontakan kita,” ujar Chu Liang dengan suara perlahan namun tegas. "Tidak ada yang benar-benar tahu perjuangan yang telah kita lakukan untuk memperjuangkan keadilan."


Zhang Zhen Wei menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa perjuangan Chu Liang bukanlah semata-mata keinginan untuk melawan pemerintahan, melainkan untuk membawa keadilan dan kebebasan kepada rakyatnya yang selama ini terpinggirkan. Namun, dia tidak bahwa selama ini yang sudah kejam kepada rakyatnya adalah Wei Chu itu sendiri.

__ADS_1


Wei Chu adalah raja yang kejam dan suka melakukan penindasan terhadap rakyatnya. Ia sering mengambil kebijakan yang merugikan mereka demi kepentingan dirinya sendiri dan kelompok elit yang mendukungnya. Kekejaman Wei Chu terbukti dengan seringnya ia melakukan pembunuhan dan penyiksaan terhadap siapa pun yang mencoba melawan atau mengkritiknya.


Selain itu, Wei Chu juga sering melakukan penjarahan terhadap harta benda rakyatnya. Ia mengambil tanah harta dan kekayaan lainnya secara semena-mena untuk meningkatkan kekayaan dan kekuasaannya sendiri.


Kekejaman Wei Chu tidak hanya terbatas pada rakyatnya, tetapi juga kepada keluarga dan lawan politiknya. Ia tidak segan-segan untuk membunuh anggota keluarga dan musuh politiknya dengan cara yang kejam dan tidak manusiawi. Banyak yang menjadi korban, eksekusi publik, penyiksaan, dan penganiayaan fisik di bawah rezim kejam Wei Chu.


Akibat kekejaman dan kebrutalan Wei Chu rakyatnya hidup dalam ketakutan dan penderitaan. Operasi dan penindasan yang dilakukan olehnya telah merusak kehidupan masyarakat yang seharusnya hidup dalam damai dan keadilan.


Namun akhirnya kekejaman Wei Chu berakhir juga. Rakyat yang telah begitu lama menderita di bawah kekuasaannya, akhirnya bersatu dan memberontak. Mereka berhasil menggulingkan Wei Chu dengan bantuan Kekaisaran Han.


Dengan jatuhnya Wei Chu, rakyat dapat menghirup udara kebebasan dan hidup dalam lingkungan yang lebih baik. Namun, bekas kekejaman dan trauma yang ditinggalkan oleh rezim Wei Chu, tetap ada dalam ingatan rakyat mengingatkan mereka akan bahaya kekuasaan yang tidak bertanggung jawab.


Chu Liang yang tidak percaya dengan itu, hanya memilih untuk bertarung dengan Zhang Zhen Wei. Sementara Li Tian, dia melawan bawahan Chu Liang.


Namun, Zhang Zhen Wei bukan lawan yang mudah. Dia memiliki refleks yang cepat dan teknik bertarung yang tangguh. Serangan-serangan Chu Liang dengan cepat dihindari oleh Zhang dan balik menyerang dengan kekuatan yang besar.


Chu Liang tidak mundur. Dia menggunakan kecepatan dan ketepatan serangannya untuk menjaga jarak dengan Zhang Zhen Wei. Setiap gerakan yang dilakukan Zhang, Chu Liang dengan cekatan menghindarinya dan langsung menyerang balik dengan kekerasan.


Akhirnya Zhang Zhen Wei berhasil mengalahkan Chu Liang pimpinan pemberontak itu.


Namun, kemenangan itu memang tidaklah mudah. Pertempuran sengit antara Zhang Zhen Wei dan Chu Liang telah berlangsung selama berjam-jam.

__ADS_1


Zhang Zhen Wei menerapkan berbagai strategi dan keahliannya dalam seni bela diri untuk menghadapi serangan-serangan kuat dari Chu Liang. Ia menggunakan gerakan lincah dan cepat untuk menghindari serangan-serangan yang datang, sementara tetap mencari celah untuk melawan balik.


Di sisi lain, Chu Liang tidak kalah tangguh. Ia mengandalkan kekuatan dan kelincahan fisiknya untuk menyerang Zhang Zhen Wei tanpa ampun. Serangan-serangan kuatnya menghantam tanah dan menimbulkan keguncangan di sekitar mereka.


Tetapi, Zhang Zhen Wei tidak menyerah. Ia memanfaatkan keahlian bela dirinya dalam seni bela diri untuk menyerang dengan pukulan dan tendangan yang akurat. Setiap gerakan yang ia lakukan memiliki tujuan yang jelas dan mematikan. Setiap serangannya memaksa Chu Liang untuk melakukan pertahanan yang berat.


Namun, Chu Liang tidak bisa lagi meneruskan pertahanannya dan akhirnya jatuh ke tanah tak berdaya.


Zhang Zhen Wei menang, tapi dia merasa sedih melihat pemimpin pemberontak yang hebat itu tergeletak di depan matanya.


“Apa kau juga sudah selesai?" tanya Li Tian yang baru saja menghabisi beberapa bawahan Chu Lang di tempat tersebut.


“Ya,” jawab Zhang Zhen Wei.


Seusai pertempuran, mereka menyelidiki ruangan tersebut dan menemukan bukti yang menunjukkan adanya jaringan pemberontak yang lebih luas dan ancaman yang lebih besar. Mereka mencatat semua informasi yang mereka temukan dan membuat rencana untuk melaporkannya kepada pihak kekaisaran.


Dengan hati lega Zhang Zhen Wei dan Li Tian keluar dari bangunan tersebut, memastikan bahwa mereka berdua berhasil menghentikan ancaman tersebut. Mereka berjalan bersama melalui malam yang sepi, merasa lega bahwa mereka telah menjalankan tugas mereka dengan baik dan melindungi keamanan dan stabilitas negara.


Dengan ini, tidak akan ada lagi kelompok yang akan mengganggu Xia Mei. Kelompok pemberontak itu ingin merebut aset keluarga Xia untuk mendapatkan keuntungan pribadi mereka. Mereka melakukan segala cara untuk menyerang Xia Mei dan keluarganya, termasuk mengancam dan mengintimidasi mereka.


“Sisanya aku serahkan padamu," kata Li Tian ketika berpisah dengan Zhang Zhen Wei malam itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2