Please... Jangan Pergi

Please... Jangan Pergi
Pahlawan Bermulut Pedas


__ADS_3

Tangan Sandra langsung menarik lengan Jeni kasar. "Berlagak bodoh lagi kamu ya..... "


"Apa maksud kakak saya betul-betul tidak mengerti" Jeni yang masih belum faham situasinya masih tergagap.


"Jangan kamu fikir banyak yang memuji penampilan kamu terus kamu bisa sok kecantikan ya.. di depan semua orang..." ucap Sandra sambil mencengkram kasar dagu Jeni.


"Maksud Kaka apa....?" Jeni yang dari tadi mengalah mulai gusar dan melepaskan cengkraman tangan Sandra.


" Oh..... jadi kamu mau melawan....!" jawab Sandra sambil mendorong Jeni.


Jeni yang mundur satu langkah karena di dorong hanya diam.


"Sist... " Sandra memberi isyarat kepada kedua temannya dengan tangan. dan keduanya langsung memegangi lengan kanan dan kiri Jeni.


"Apa -apaan ini kak.." Jeni mencoba berontak namun tidak bisa mengalahkan tenaga dua teman Sandra yang mencengkram kuat lengannya.


" Ini hanya peringatan kecil untuk tikus pengganggu seperti kamu.... jika kamu masih berusaha mendekati Redho lagi atau mencari perhatian dengannya, maka aku tidak akan segan-segan melukai wajah mulus ini....!" ucap Sandra sambil mencengkram kembali pipi Jeni dengan satu tangan.


" Dan ini tanda mata dari ku biar kamu tidak bertindak bodoh lagi.." Sandra mengayunkan tangan nya untuk menampar wajah Jeni namun sebuah tangan menahannya.


"Aku baru tau kalau preman disini ada yang berbentuk perempuan juga ya..." ucap lelaki itu.


"Apa kamu bilang.. preman..." jawab Sandra semakin kesal.


" Kalau bukan preman apa lagi nama yang cocok.... oh iya.... kucing pasar yang berebut sampah..."


"Apa.... " Sandra melepaskan tangannya dari lelaki itu dan beralih mau menamparnya, namun tangannya kembali di tangkap oleh lelaki itu.


" Aduh..... rupanya kamu punya kebiasaan buruk ya.... suka main tampar.... " ia memajukan wajahnya lebih dekat dengan Sandra. " Kalau ku lihat kamu itu cukup cantik.... namun sepertinya otak kamu tidak secantik wajahmu." ucap lelaki itu yang semakin membuat Sandra emosi.


" lepaskan tangan ku.. dasar gila kalau tidak aku akan teriak kalau kamu mau memperkosaku." ancam Sandra.


" Teriak saja ... aku tidak takut. dan aku akan menuntut kamu atas dasar pencemaran nama baik dan bullying."


jawab lelaki itu santai.


" Hah..... apa maksud kamu...." jawab Sandra seolah tidak bersalah.


" Apa kamu tidak lihat di sana...?" lelaki itu menunjuk kamera cctv yang terpasang dan mengarah ke arah lokasi mereka sekarang.


Melihat itu kedua rekan Sandra yang sedari tadi memegangi lengan Jeni segera melepaskan cengkraman tangannya.


"Sand... lebih baik kita pergi saja dari sini.... " ajak salah satu temannya.


"Awas kamu ya... dan kamu Jeni urusan kita belum selesai." Ancam Sandra yang meninggalkan mereka berdua disana.


"hee..." lelaki itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Sandra.

__ADS_1


Jeni yang merasa lengannya yang di cengkraman kuat merasa sedikit ngilu. Ia menggerak-gerakkan tangannya untuk mengurangi rasa ngilu tersebut.


" Kamu ini sepertinya punya kebiasaan buruk ya... "


"Maksud kamu....?" tanya Jeni yang bingung dengan ucapan lelaki itu.


"Kebiasaan menciptakan masalah."


"Apa....... kamu bilang....?"


" Lah kan memang benar.... apa kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri.... "


" Hey... dengar ya kera hutan... aku tidak perlu bantuan dari siapapun termasuk kamu... dan juga kamu seperti punya hobi mencampuri urusan orang lain ya..." jawab Jeni kesal.


"Apa.... aku.... hahaha... sudah lah buang tenaga saja aku ngeladeni kamu.." jawab lelaki itu sambil mendorong jidat Jeni dengan jari telunjuknya. kemudian Ia berlalu pergi.


" Hey.... kera hutan aku belum selesai ngomong.. sini kamu..." Jeni yang marah kembali mengabsen semua penghuni kebun binatang. tetapi lelaki itu hanya berlalu dan melambaikan tangan ke atas tanpa menoleh kebelakang.


"Dasar orang gila..." umpat Jeni.


Jeni yang merasa kesal mencari kedai minuman dan menghilangkan rasa dahaga juga kesal di hatinya.


Ting. sebuah pesan WA masuk


'Jen maaf gue agak terlambat sepertinya soalnya nyokap gue minta di anterin ke salon.'


" Permisi... ap boleh saya duduk di sini." ucap seseorang kepada Jeni.


" oh iya silahkan pa... " ucap Jeni karena menurutnya terserah orang mau duduk dimna pun.


" Kamu Jeni kan..... ketua Bougenville..?" ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Antonio.


"hemmm... kok bapak bisa tau...?" tanya Jeni bingung karena ia melihat Antonio nampak seperti orang dewasa.


"Bapak...... apa aku setua itu kamu lihat...?" jawab Antonio.


" Oh... maaf... tapi darimana tau saya ketua Bougenville.. apa kakak juga bagian pengajar di sana kak...?" tanya Jeni sopan.


" Ya ampun Jeni aku panitia pelaksana ospek juga yang bisa sama Redho... masa tidak ingat...!" jawab Antonio.


"Oh.... kak Antonio ya.... maaf kak soalnya saya tidak kenal kalau kakak tidak pakai seragam almamater kak.." jawab Jeni.


" kamu ini bisa saja... aku jadi orang pertama fans berat kamu. kamu hebat..." ucap Antonio memuji Jeni.


Jeni hanya tersenyum dan pembicaraan lebih di dominasi oleh Antonio. Karena Jeni hanya mencoba menghargai kakak seniornya itu.


Sekitar 1 jam Jeni mendengar Antonio bercerita akhirnya Jeni meminta izin untuk meninggalkan dia disana karena ada keperluan Luan mendadak. padahal pada pasalnya Ia hanya mencari alasan agar mengakhiri obrolan yang tidak bermanfaat itu.

__ADS_1


" Iya Jeni tidak apa-apa. Tapi apa sebaiknya kamu aku antar saja karena ini sudah malam.!" ucap Antonio.


" Oh... tidak usah kak... saya bisa pulang sendiri... lagian rumah saya dekat sini kok...!" ucap Jeni menolak halus tawaran Antonio.


Akhirnya Jeni bisa melepaskan diri dari sana, ia merasa lega dan segera pulang ke kontrakan nya.


Karena sudah malam sudah sangat jarang kendaraan yang lalu lalang. dan jalanan menuju kontrakan Jeni lumayan sepi. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara kodok mengiringi.


Jeni terus berjalan tanpa berani menoleh kebelakang, dan saat melewati kumpulan anak muda yang ada disana Jeni tidak sedikitpun berani menoleh.


" Hay.... adik manis... kok pulang sendirian...." ucap seorang pemuda yang setengah mabuk.


"Sini biar Abang yang antar ... rumahnya dimana..?" pemuda lain mencoba berdiri dan menghampiri Jeni.


Jeni mempercepat langkahnya, namun Laki-laki pertama yang menyapanya sudah menyusulnya.


"Kok... buru-buru... jangan takut Abang ini orang baik kok..." ucapannya. semerbak minuman beralkohol keluar dari mulut pemuda itu.


Jeni yang ketakutan segera lari dan lagi-lagi ia harus terjatuh karena sepatu hak tinggi yang ia gunakan membuat ia kesulitan untuk berlari.


pemuda tadi langsung datang menghampiri dan hendak menolongnya. Namun Jeni menepis tangan pemuda itu yang membuat ia marah.


" Dasar perempuan tidak tahu di untuk mau di tolong malah jual mahal..." pemuda itu mengangkat tangan dan menjambak rambut Jeni yang terurai.


"Ach....sakit... " jerit Jeni.


"kesini kamu......." pemuda itu menarik kasar rambut Jeni dan memajukan wajahnya ingin mencium nya.


bruk... sebuah pukulan benda tumpul mendarat di punggung pemuda itu. ia terhuyung sebentar dan langsung tak sadarkan diri.


pemuda yang memukul tadi segera membangunkan Jeni dan membawanya pergi dari sana sesegera mungkin. Jeni kebingungan dan mengikuti langkah pemuda itu.


Saat sudah di rasa aman pemuda itu melepas pegangan tangannya pada Jeni.


"Apa tidak bisa kamu menjaga diri kamu sendiri..... paling tidak kalau kamu merasa dalam bahaya setidaknya gunakan akal kamu... jangan hanya diam menunggu nasib.!" ucapnya kesal.


"Maaf... tapi terimakasih sudah menolong ku.." jawab Jeni yang masih merasa ketakutan.


"lain kali kalau pulang malam jangan gunakan sepatu seperti itu. paling tidak saat dalam bahaya seperti tadi kamu bisa berlari kencang." pemuda itu masih meluapkan kekesalannya.


"Aku tidak mengerti perempuan kenapa suka pakai sepatu yang jelas-jelas membuat susah untuk bergerak. "tambahnya.


Jeni hanya terdiam tidak seperti sebelumnya ia menjawab ucapan pemuda yang beberapa kali sudah menolongnya.


" Sudah pulang lah... dan istirahat lah... " pemuda itu membalikkan badan Jeni menghadap halaman kontrakannya. kemudian Ia mendorong pelan badan Jeni agar segera berjalan maju menuju rumahnya.


"Terimakasih ya... " ucap Jeni tanpa menoleh ia meneruskan langkahnya menuju kontrakan.

__ADS_1


pemuda tadi hanya mematung menunggu Jeni benar-benar masuk kedalam kontrakan, barulah ia beranjak dari sana.


__ADS_2