Please... Jangan Pergi

Please... Jangan Pergi
Milikku Milikmu Juga


__ADS_3

“ok.... Tenang saja sayangku.... Akan ku bantu.... Bantu pakai doa....” Ucap Jeni mencubit hidung Stella.


“Wah saran yang luar biasa itu Jen.... Doakan juga eke.... Biar bisa bersama kak Redho....” Ucap Anita.


“Kalian ini... Sudah ayo kita makan dulu... Biar kuat mengahadapi hidup.....” Ucap Jeni.


Mereka mengikuti langkah Jeni dan saat berjalan di lorong kampus tanpa sengaja seseorang menabrak Jeni.


“Aduh.... Maaf... Aku tidak sengaja..” ucap wanita itu.


“Hey....... Rena.... Apa kabar... “ Sapa Jeni.


“ Kabar baik... Maaf ya aku buru-buru jadi tidak lihat kamu di depan.” Ucap Rena.


“iya tidak apa-apa ....Hay.. kenalkan ini temanku Stella dan Anita. Gerls.. kenalkan ini asisten dosen ku namanya Rena.” Jeni memperkenalkan Rena kepada temannya.


“hay semua..” mereka berkenalan satu sama lain.


“oh ya mohon maaf ya aku harus meninggalkan kalian di sini karena masih ada tugas dari dosen yang harus aku lakuin...” ucap Rena sopan dan berpamitan.


“Wah.... Cepat sekali... Padahal aku baru mau belajar banyak sama kamu biar otak kami ini bisa berfungsi dengan baik....” ucap Anita sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kami..... Loe aja kali say.... Gue mah enggak.... “ucap Stella dan Jeni bersamaan.


“Hahahaha.....” Mereka semua tertawa bahagia.


Rena yang meninggalkan mereka tersenyum jahat. Karena saat menabrak Jeni Rena menyelipkan sebuah flashdisk di saku tas Jeni.


“Ok say... Mau makan apa... Biar aku yang traktir hari ini “ ucap Jeni..


“ohhhh.... Teman ku .. ayo kita kekantin perut kuini sudah meronta meminta jatahnya...” ucap Anita.


Stella dan Jeni hanya tersenyum dan mengikuti langkah Anita yang sudah meluncur ke tempat makan.


Mereka menikmati makan siang dengan santai. Dengan sambil bercengkrama dan bercerita banyak hal.


“ Jen... Aku boleh pinjam FD tidak soalnya punyaku sepertinya ketinggalan dech....” ucap Stella.


“ Boleh ambil saja di dalam tasku disana.” Ucap Jeni menunjuk tas nya yang ada di seberang meja.


“maksud kamu aku ambil sendiri...?” ucap Stella menyakinkan bahwa tidak ada hal pribadi di dalamnya.


“ Iya beb.... Tidak apa-apa... Buka saja... Lagian aku menganggap kalian bukan hanya temanku tapi juga sahabatku... Jadi apa yang ku punya kalian juga berhak.” Ucap Jeni tulus.

__ADS_1


“huh.... Jeni.... Aku jadi terharu dech..... “ Stella yang mendengar ucapan Jeni segera memeluk temannya. Karena baru kali ini ada yang memperlakukannya seperti itu.


“Hey.... Ada apa ini....” ucap Jeni kebingungan.


“ Stella pernah punya pengalaman saat berteman. Di sekolahnya yang lama juga punya kenalan seperti kita ini akrab dan sudah sangat saling kenal bahkan beberapa kali sudah pernah menginap di rumah Stella. Namun waktu itu tidak sengaja Stella melihat isi tas temannya itu.” Jelas Anita


“lalu...” tanya Jeni..


“ Iya waktu itu tas dia jatuh saat teman laki-laki main kejar-kejaran di kelas dan aku bukan mau melihat isi tas nya melainkan merapikan dan mengembalikan ketempatnya.” Ucap Stella.


“Namun ia salah faham dan langsung merampas tas tersebut dari tangan Stella. Ia mengatakan kalau Stella terlalu lancang dan melewati batas privasinya.” Jelas Anita.


“jadi apa yang selanjutnya terjadi....?” tanya Jeni.


“ yah... Mereka salah faham mereka beranggapan Stella anak orang kaya. Dan orang kaya semuanya sama saja memperlakukan semua barang orang lain seperti barang dia sendiri... “ ucap Anita nampak marah.


“ Loe kenapa Stella tidak menjelaskan semuanya.... Itukan tidak benar... Sejauh aku kenal kamu stell tidak pernah sedikitpun kamu mengunakan barang punyaku tanpa izin dariku... Padahal.... Meskipun tanpa izin pun aku sudah pasti memperbolehkan nya....” ucap Jeni


“Iya... Setuju sekali.... Meski lambe nya Stella kadang tidak beraturan tapi dia sungguh punya etika dengan barang orang lain...” ucap Anita


“ Apaaa... Lambe ku sini lambe mu ku gosok pake ketek biar sedikit bersih ....” Stella meyahut ucapan temannya dengan candaan.” Tapi teman aku tetap berterima kasih pada kalian think you..”stella merangkul temannya.


“Kaya Teletubbies saja dikit-dikit pelukan ..” ucap Anita.


“kan kalau Teletubbies itu berempat kita kan Cuma bertiga..” Jeni mencairkan suasana.


“Anita tolong ambil Kan dompet dalam tasku aku mau membayar makanan kita.” Ucap Jeni. Setelah menerima dompet Jeni segera berdiri dan menuju meja kasir.


“ Terimakasih... Stella FD nya ambil saja di saku tas nanti lupa....?” Ucap Jeni sebelum pergi.


“oce....” ucap Stella. Ia lalu mengambil fd yang ada di saku tas Jeni dan mendapati dua dua. Satu berwarna putih dengan bandul boneka kecil dan satu lagi berwarna merah dengan steker tengkorak. Stella termenung beberpa saat. Apa ini fd yang dimaksud.


“Hey markonah.... Yang mana yang di maksud Jeni...” ucap Stella kepadaAnita sambil menunjukkan kedua flashdisk tersebut.


“kok.... Ini agak aneh ya.... Aku belum pernah melihat barang Jeni sejenis ini...” ucap Anita.


“Heh... Kutu sapi.... Kamu ingat tidak yang menabrak Jeni tadi... Sepertinya ada yang mencurigakan dari dia...” ucap Stella setengah berbisik.


“ betul sekali upil kerbau..... Ya sudah amankan fd itu dan anggap saja tidak ada...” ucap Anita sambil berbisik juga.


Mereka berpandangan dan.


“Apa..... upil kerbau kau bilang ..... Wanita secantik aku ini kau bilang upil kerbau....” Stella mencubit pipi Anita.

__ADS_1


“Lah... Kamu sendiri yang bilangin aku kutu sapi.... “ jawab Anita sambil mencubit hidung Stella.


“Hahahahaha......” mereka kembali tertawa.


“apa sih yang di tertawa kan kok Sepertinya seru sekali....” ucap Jeni yang sudah selesai membayar makanannya.


“ Tidak apa-apa Jeni Cuma lambenya Stella kumat lagi..” ucap Anita yang makan kena pukul dengan buku kepalanya oleh Stella.


“Adduhhhh... Sakit tuyul....” ucap Anita meringis seolah kesakitan.


“Oh... Maaf sengaja...heee...” ucap Stella sambil tersenyum manis.


“bagaimana....? Apa sudah ketemu fd nya say....” ucap Jeni.


“sudah ketemu punyaku. Tadi aku kita lupa rupanya di bawa sama tuyul satu ini..” ucap Stella sambil menunjukkan fd yang ia ambil dari tas Jeni.


“ oh... Ya sudah kalau begitu.. aku duluan ya .. soalnya masih ada mata kuliah..” Jeni meninggalkan Stella dan Anita yang masih termangu.


“Ta.... Kita tidak bisa di sini lebih baik kita lihat di mobilku saja...” ucap Stella.


Anita mengangguk dan mengikuti langkah Stella menuju mobilnya.


“berarti fd ini bukan milik Jeni. Buktinya saat ku tunjukkan ia tidak berkomentar...” ucap Stella.


“Mungkin steker tengkorak 💀 tidak nampak olehnya.” Ucap Anita.


“ Tidak jelas kok aku tunjukkan tengkorak ini ke dia..* sahut Stella.


“Ya sudah jangan berdebat mana tablet file apa yang ada di dalam sana?” ucap Anita.


Stella mengeluarkan tablet dan alat penghubung Fd agar lebih memudahkan ia membuka file yang ada di dalamnya.


Saat file dibuka ada sedikitnya ada 8 vedio didalamnya dengan durasi sekitar 4-5 menit. Stella memainkan jarinya membuka salah satu vedio.


Sebuah tampilan sepasang sejoli yang sedang berciuman dengan panas dengan pakaian setengah telanjang. Stella yang gusar mencoba membuka semua vedio dengan cepat. Namun semua berisikan hal yang sama.


“ Apa maksud semua ini....?” ucap Anita


“coba kamu perhatikan laki-laki ini.... Aku seperti mengenalinya.. “


“Iya.... Ini seperti....”


“Hendrik.....” sahut Stella memotong ucapan Anita.

__ADS_1


“ Iya... Dan siapa wanita ini.... Jelas ini bukan Jeni....” ucap Anita.


“ Hendrik brengsek.... !! Kau mencoba mempermainkan temanku..” Stella yang kesal ingin segera meninggalkan mobil namun belum sempat iya membuka pintu Anita menahannya.


__ADS_2