
" Apa yang ingin kamu lakukan...? "tanya Anita.
"Aku ingin mematahkan tulang leher si brengsek itu..." ucap Stella menggebu.
" nanti dulu kita pastikan dulu siapa wanita ini.." ucapan Anita sedikitnya bisa menenangkan Stella.
Anita bersama Stella memperhatikan dengan seksama vedio demi vedio yang ada.
" yang jelas ini bukan rumah Hendrik.. aku kenal betul setiap sudut rumahnya." ucap Stella.
"wanita ini sepertinya tidak asing di mataku..." ucap Anita menerawang.
" oh ya... Ta.... kamu ingat asdos yang di kenalkan Jeni pada kita.."
"hemmm ... ada apa dengan dia...?"
" aku rasa dia pasti tau jawaban dari vedio ini...!"
" Tidak Stella.... jangan gegabah.... kalau betul dia yang meletakkan fd ini di tas Jeni maka kita tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari dia...?"
"Sebentar...... coba kau lihat ini.." Stella menunjukkan gambar pada salah satu vedio yang menunjukkan Rena yang sedang melepaskan pakaian Hendrik.
" sepertinya Hendrik di jebak... dia di pancing kesana dan diajak untuk bercinta.."
" iya dan tidak sekalipun Hendrik membuka pakaian yang ia kenakan. tetapi wanita itulah yang membuka pakaian Hendrik dan pakaiannya sendiri." jelas Stella.
" iya berarti kita tidak bisa melimpahkan semua kesalahan kepada Hendrik. lagian dia lelaki normal.mustahil ia menolak kecuali ia punya iman yang kuat." ucap Anita.
Mereka kembali mengamati vedio tersebut dan memperhatikan dengan teliti wanita yang mencumbu Hendrik dalam vedio.
"Anita.... lihat..." Stella mem-pause salah satu vedio dan menunjukkan ke Anita.
"Ada tanda lahir di punggung tangan wanita itu dekat jempol tangannya..." ucap Anita faham yang di maksud temannya.
"sipp.... sekarang kita bisa memastikan itu dengan menemui Rena." ucap Stella sambil menjentikkan jarinya.
"hemmm... iya.. kamu betul.. jadi yang harus kita lakukan sekarang adalah menemui Rena..." ucap Anita.
Mereka keluar dari mobil dan menuju ruang kelas.
"Ta.... sepertinya kita cocok menjadi penyidik KPK.." ucap Stella.
"KPK pala mu batok kelapa..... kalau mimpi jangan siang-siang nanti di olok-olok orang..." ucap Anita sambil berjalan menyusuri lorong kampus.
"Ya kan tidak apa bermimpi... akan ada pepatah... gantungkan lah cita-cita mu setinggi langit karena jika kau gagal kau akan jatuh di kasur empuk bersama pemuda tampan..." ucap Stella seperti membaca sebuah puisi.
"Kasur..... pemuda tampan..... bukan begitu pribahasa nya Jainabbbbb......" ucapa Anita sambil merangkul leher Stella dengan lengannya.
__ADS_1
" Oh.... sudah ganti ya....." muka Stella tak berdosa.
Mereka tertawa bersama disela candaannya. Dan saat memasuki sebuah kelas mereka melihat Jeni dan Rena sedang duduk bersama sambil bercanda.
"Stella kita harus apa....?"
" Kita berbaur saja... Hay..... cantik ku..... kalian lagi apa seru sekali seperti nya....." ucap Stella dengan suara lantang nya. ia melangkah bak model fashion week yang memamerkan keindahan pakaiannya.
"Hay juga Stella.... kamu dari mana....?" ucap Jeni dengan senyuman manis miliknya.
" Aku habis berkeliling dengan markonah.. Hay Rena kita bertemu lagi..." ucap Stella
"Markonah.... siapa itu.." ucap Rena.
"Hey... Jainabbbbb.... namaku itu loe cantik. PRAYUNITA INDAH LESTARI MENAWAN HATI MEMBUAT SENANG SEKALI." Ucap Anita sambil memukul pelan jidat Stella yang seketika meringis seolah kesakitan.
"hahahaha.....kalian ini ada-ada saja ulah nya .... "ucap Rena di barengi tawa. Sesekali ia menutup mulutnya dengan tangannya dan nampak jelas punggung tangan yang membuat Stella dan Anita saling bertatapan.
"Ada apa kok liatnya begitu .." ucap Jeni
"Tidak.... rupanya Rena kalau ketawa ngakak gokil juga ya... " ucap Anita.
"Ah.... masa.. aku jadi malu..." ucap Rena sambil menutup mukanya dengan tangan.
Lama mereka bercerita akhirnya Jeni pamit kepada Rena untuk pergi bersama Stella dan Anita. mereka berpisah, Rena masih bertanya dan menunggu reaksi dari Jeni setelah melihat file yang ia kasihkan untuknya.
"Oke.. Rena bersabar sedikit lagi.... kita akan menyaksikan ledakan gunung Sinabung..." ucap Rena melihat Jeni dan temannya berlalu.
Diperjalanan pulang Stella lebih banyak diam. dan itu membuat Jeni bertanya.
"Ada apa say..... kok kalian diam saja..?"
" Jeni habis ini mau kemana...?" ucap Stella.
" Tidak ada cantik paling nanti makan siang dengan Hendrik... ada apa sayangku...?" ucap Jeni.
" kami ingin bicara penting dengan mu.. " ucap Anita.
"penting..... ada apa sich kok serius seperti ini..." ucap Jeni.
"ikut saja cantik.... " ucap Anita sambil merangkul bahu Jeni dan mengajaknya menuju parkiran.
"Tumben loe kalian bicara serius seperti ini buat aku tegang.... beneran...." ucap Jeni mengikuti ajakan mereka.
**
sesampainya mereka di parkiran Stella mempersilahkan Jeni masuk kedalam mobilnya dan mereka bergerak meninggalkan kampusnya.
__ADS_1
"Sekalian makan siang tidak apa-apa kan Jeni.... aku lapar..." ucap Stella sambil mengemudi.
"boleh... oh ya apa boleh aku mengajak Hendrik bergabung dengan kita...." ucap Jeni.
" Ini soal cwe masa ia kita ajak Hendrik kecuali dia mau pakai rok.." ucap Anita dan disambut tawa oleh Stella.
"ok.... lah kalau begitu..." ucap Jeni. Tak lupa ia mengirim pesan singkat kepada Hendrik agar tidak perlu menjemputnya karena ia sedang bersama Stella dan Anita.
@@
setelah lama berkendara mereka sampai di sebuah cafe yang berada di pinggir kota. jauh dari kebisingan dan lalu lalang kendaraan.
"kalian mau makan apa... siang ini aku yang traktir..." ucap Stella.
"Aku masih kenyang makan di kantin tadi.... mau jus buah saja... "ucap Jeni.
" ok... aku juga.." ucap Anita , mereka memesan menu dan menunggu makanan mereka siap.
"Jeni...... " Stella membuka pembicaraan.
"iya...."
" Apa kamu sudah memutuskan hubungan cinta mu untuk kedepannya..." ucap Stella.
" Hemmm.... sepertinya Hendrik adalah lelaki yang baik untuk ku..." ucap Jeni.
" kamu sudah kenal lebih dekat dengannya..." ucap Stella.
" Kalau terlalu dekat sich tidak.... namun sejauh ini dia bisa di bilang menjadi pelengkap hidupku..." ucap Jeni berbunga.
Stella yang menyadari temannya sangat mencintai Hendrik merasa tidak enak hati menyampaikan kabar buruk tentang Hendrik. Ia memandang Anita tajam.
" Begini Jen..... aku tau kamu sangat mencintai Hendrik... tapi sebagai teman mu aku berharap kamu jangan menggantung kan semua hidupmu padanya." ucap Anita.
"apa maksudnya dari ucapan kalian ini... bukankah kamu sangat mengenal Hendrik Stella... dan kamu bilang dia adalah lelaki yang baik.." ucap Jeni minta pembenaran dari ucapannya.
Stella menceritakan bahwa ia tidak begitu mengenal Hendrik seutuhnya.. namun sejauh yang ia tau Hendrik adalah orang yang baik. Tetapi setiap orang pasti memiliki sisi gelap dalam dirinya.
mendengar penjelasan Stella, Jeni diam dan mencoba mencerna ucapan temannya.
"Jeni..... aku hanya ingin kamu tidak terluka... dan aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini..." ucap Anita.
" Aku adalah orang yang cukup sering sakit hati Anita, Stella.... dan aku pun sudah siap dengan kemungkinan terburuk nya .." ucap Jeni sambil menghela nafas.
Stella dan Anita saling bertatapan. setelah mendapat anggukan dari Anita Stella menyerahkan sebuah foto Hendrik dan wanita di dalam kamar.
" aku menemukan ini dalam fd yang ada di saku tas mu.."
__ADS_1