
" Apa hanya ini.." tanya Jeni dengan reaksi datar.
"Sebenarnya ini bukan foto namun sebuah vedio dengan durasi yang cukup panjang." ucap Stella sedikit bingung dengan reaksi Jeni.
"iya aku tau kalian ini mengambil ini dari sebuah vedio namun apa ini saja...?"
"Apa ini masih kurang Jeni....?"
"iya .... apa ini masih kurang menjelaskan bagaimana sifat Hendrik...." ucap Stella menimpali ucapan Anita.
" Stella, Anita.... aku sebenarnya kaget dengan apa yang kalian tunjukkan ini... dan aku juga tau apa yang terjadi setelah ini.... namun... aku berterima kasih kalian tidak menunjukkan vedio utuhnya kepadaku.... " Jeni terdiam memandangi foto dilayar handphone milik Stella.
"Apa kau tau siapa wanita itu Jeni.....?" tanya Stella.
"Siapa dia..... apa dia masa lalunya Hendrik....?" tanya Jeni.
" Bukan......"
"Terus dia siapa....?"
"Dia adalah Rena...." ucap Stella datar.
"Apaaaaa.........!" kamu jangan menuduh hal yang begitu keji kepada Rena..?" ucap Jeni.
" Aku tidak menuduh tapi aku punya bukti yang kuat untuk membuktikan nya." ucap Stella. kemudian Stella menjelaskan tanda lahir yang ada di tangan Rena dan bagaimna ia mendapatkan fd tersebut di saku tas Jeni.
" semua itu sangat berkaitan Jeni. dan kamu jangan hanya tertipu dari penampilan." ucap Stella, dan tidak lupa ia jelaskan kalau di dalam vedio Rena yang lebih aktif.
Jeni hanya terdiam..
Anita menunggu tanggapan Jeni dengan perasaan tak karuan.
Stella menatap lekat temannya dengan harapan ia akan menjadi kekuatan buatnya.
"Rena pernah memuji Hendrik dengan sepenuh hati di depan mata kepala ku. namun dia belum tau kalau aku adalah pacarnya. saat ia sudah tau ia berhenti dan segera meminta maaf.." Jeni seperti berbicara kepada diri sendiri.
"Jadi... memang dari awal Rena memang menyukai Hendrik kan..?" tanya Stella.
"sepertinya memang seperti itu...!" ucap Jeni mengiyakan ucapan Stella.
" Hendrik juga brengsek.... setidaknya kalau memang dia mencintaiku ia bisa menolak Rena....!" ucap Jeni dan air mata nya mengalir tanpa di perintahkan.
Stella yang melihat temannya menangis segera merangkul " Aku minta maaf Jeni aku hanya membuat kau terluka..." ucap Stella.
"untuk apa kau minta maaf Stella.. ini semua tidak ada sedikitpun kesalahan kalian." ucap Jeni, walau suara stabil namun air mata nya terus mengalir...
"Apa pendapatmu tentang ini Jeni...?" ucap Anita.
"Aku yang salah teman-teman..." ucap Jeni.
"Apa........ mengapa kamu yang menyalahkan diri sendiri...?" ucap Stella tidak mengerti.
"Aku yang tidak bisa melakukan apa yang Hendrik minta.." ucap Jeni. " mungkin karena aku tidak bisa dia melakukannya dengan orang lain.." tambah Jeni.
" Buang pola pikir seperti itu... itu hanya mencoba mencari pembenaran dari perbuatan buruknya. kamu tidak salah.... tidak ada alasan seseorang melakukan hubungan intim sebelum pernikahan, meskipun itu mengatasnamakan cinta dan kesetiaan... itu hanya sampah...." cecar Stella.
Jeni hanya tersenyum dan mengeluarkan handphone dari saku tas dan menekan layar handphone nya untuk memanggil seseorang.
"halo sayang.... apa sudah pulang....?" tanya seseorang di seberang telepon.
"belum sebentar lagi.... bisa tidak jemput di di kafe Pinggir kota sekarang..?" ucap Jeni dengan nada datar.
"Bisa sayang... tapi pakai motor tidak apa-apa kan... soalnya mobilnya masih di bengkel..?" ucap Hendrik.
"iya tidak apa-apa...." Jeni mematikan handphone nya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Apa yang akan kamu lakukan Jeni....?" tanya Stella.
" Aku masih memikirkan hal apa yang akan ku lakukan" jawab Jeni sambil menghembuskan nafas kasar.
"Apa yang harus ku lakukan dengan vedio itu Jeni." ucap Stella.
" Terserah kepada kalian..... aku hanya ingin Rena rasakan sakit ku..." ucap Jeni. sambil bercucuran air mata.
@
Tidak berselang lama sebuah motor sudah terparkir tidak jauh dari mereka berada. Dengan tergopoh-gopoh Hendrik menghampiri Jeni dan yang lain.
" Maaf ya.... tadi aku mampir di bengkel dulu tambah angin sebentar... karena motorku lama tidak di pake." ucap Hendrik.
" Hey.... Hendrik sekarang kamu jatuh miskin ya... kok naik motor... mobil kamu kemana....?" tanya Stella mengejek.
" di bengkel... ganti jok..."
"loe... bukankah bulan lalu sudah di ganti kok ganti lagi.... dasar ya orang kaya.. suka sekali buang uang...." ucap Stella.
__ADS_1
"sayang..... apa tidak apa-apa naik motor siang-siang begini... panas lagi... atau lebih baik ikut Stella saja nanti aku ikuti kalian dari belakang.." ucap Hendrik yang tidak tega melihat pacarnya kepanasan naik motor.
" tidak apa-apa kok... aku biasa naik Mott jadi tidak perlu khawatir.. ayo.... kita jalan sekarang." ucap Jeni kepada Hendrik.
" tapi...." Hendrik masih merasa tidak enak membiarkan Jeni ikut bersamanya.
" Stella, Anita... aku jalan duluan ya ... makasih traktiran nya hari ini..." ucap Jeni sambil berusaha tersenyum.
Stella dan Anita tidak menjawab hanya membalas senyuman dan melambaikan tangan.
@
Motor melaju dengan kecepatan sedang, Hendrik bertanya dalam hati mengapa Jeni hanya terdiam, selalu nya ada bahan pembicaraan antara mereka.
saat memasuki sebuah taman yang menghadap rumah Jeni, Jeni meminta Hendrik untuk berhenti.
" Kita cari minum dulu yuk..." ucap Jeni.
" oh iya... " Hendrik memutar motor dan mencari kedai minuman di dekat sana.
"kamu mau minum apa...?" tanya Hendrik.
"teh tawar dengan es..." ucap Jeni.
" Apa.... teh tawar..... sejak kapan kamu suka teh tawar dengan es.." ucap Hendrik merasa aneh.
" tidak tau lagi kepengen saja.." ucap Jeni.
Hendrik tidak membantah karena ia merasa mungkin Jeni lagi PMS jadi ia lagi tidak mod di ganggu.
" bagaimana kabarnya sayang.... ?"
" seperti yang dilihat aku sehat...." ucap Jeni datar.
"Ada apa sayang... apa ada masalah di kampus.?"
"tidak ada... "
" tolong bicara apa aku punya salah padamu... jika iya... apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa kembali menjadi si ceroboh ku lagi...?"
"Apa kamu benar akan melakukan apapun ia yang aku minta..?" ucap Jeni.a
" iya.... apa pun sayang.... apa pun....!"
"Hend..... apa kau akan mengabulkan semua keinginan ku...?"
" Iya sayang.... katakan....!"
"Aku sangat mencintaimu..."
"Iya aku tau... aku pun juga...." jawab Hendrik.
"Dan aku sangat percaya sepenuhnya padamu..."
"iya...." Hendrik mendengarkan kata demi kata dari Jeni
"Aku ingin kau bisa menjadi orang yang sukses... dan bisa meraih semua mimpimu.."
" iya Jeni.... aku ingin kita bisa sukses bersama.." jawab Hendrik.
"Apa kau mau memenuhi permintaan dariku..?"
"Iya sayang katakanlah....!"
"Aku............. ingin.......... kita jalan masing-masing...." ucap Jeni sambil berurai air mata.
"sayang.... apa maksud kamu....?" Hendrik ingin penjelasan lebih detail.
"Aku ingin... kita putus.... fokus saja dengan studi kamu dan aku pun demikian. "
"Tidak... Jeni aku tidak ingin kita putus kita akan meraih mimpi kita bersama dan aku akan siap menjadi penopang utama dalam hidup kamu... dan aku akan melakukan apa pun yang kamu minta.... tapi ... bukan kita harus berpisah seperti ini...!" Hendrik menggenggam tangan Jeni.
"Bukankah kau akan mengabulkan permintaan dariku.... dan menuruti keinginan ku..!" ucap Jeni sambil menghapus air mata yang masih mengalir. Namun Hendrik menghentikan tangannya. Ia menghapuskan air mata Jeni dengan tangannya sendiri.
"mengapa dalam semalam kau berubah sayang.... baru saja kemaren kita bersama dengan penuh kebahagiaan.. apa ada sudah mengusik mu...?" tanya Hendrik.
"tidak ada... ini semua murni dari hatiku.... perasaan ku padamu tiba-tiba hilang... seperti teh ini....!" ucap Jeni yang menunjukkan teh tawar dingin yang Ia pesan.
"Kasih aku alasan atas keinginan kamu ini Jeni.... apa aku melakukan kesalahan kepada mu...?"
" Tidak ada.... aku hanya ingin kau melanjutkan hidup mu tanpa aku dan aku juga.... karena aku memiliki tanggungjawab yang besar di pundak ku... papahku ingin aku bisa mengembalikan perusahaan papahku dulu... !"
"Jika hanya itu.... aku bisa bantu Jeni... aku akan bilang ke ortu ku dan meminta mereka membantu mengembalikan perusahaan papah kamu..."
" oh... tidak seperti itu... aku tak ingin mengambil hutang Budi yang nanti bisa mencekik ku.... "
__ADS_1
"Hutang Budi.... tidak Jeni.... ini bukan hutang Budi... tapi bukti cinta dan ketulusanku kepadamu.... akan ku lakukan apapun agar bisa tetap bersamaku."
" Tidak.... keputusanku sudah bulat... kau tempuh jalanmu sendiri dan aku menempuh jalanku sendiri... "
"Jeni ini tidak adil bagiku.... mengapa kau memutuskan hubungan kita secara sepihak... kau tau Jeni... aku sudah membangun mimpiku hanya bersamamu.. dan jika kau tinggalkan bukan hanya kau menghancurkan hati ku tapi juga menghancurkan semua mimpiku.."
" Maaf Hendrik.... jalan kita sudah berbeda... tolong jangan hubungi aku lagi... dan jangan tampakkan wajahmu di depanku lagi... kenangan bersamamu akan ku jadikan mimpi yang sempurna dalam hidupku..." ucap Jeni berurai air mata. ia melepaskan perlahan genggam tangan Hendrik dan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Hendrik yang masih tidak percaya dengan semua yang ia dengar.
Jeni meninggalkan tempat itu tanpa Hendrik dan menuju kontrakan miliknya.. ia segera berkemas dan meninggalkannya untuk kembali ke kampung tempat tinggalnya bersama Noni.
Hendrik merasa langit runtuh di hadapannya. orang yang sangat ia cintai mengusirnya dari hati nya. saat sudah kembali tersadar ia segera menyusul Jeni dengan harapan bisa menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.
Namun terlambat saat ia tida Jeni sudah meninggalkan rumahnya dan ia tidak memberikan alamat lengkapnya pada Hendrik.
Hendrik mengambil handphone mencoba menghubungi Jeni namun gagal karena Jeni sudah memblokir nomer telpon Hendrik. ia mencoba menghubungi Stella.
" Halo Stella...."
"Iya Halo.... ada apa ...?"
"Apa kamu tau alamat rumah Jeni...?"
"Mana aku tau.... bukankah kamu pacar nya masa iya tidak tau... kan kamu sering apel tempat dia..."
"Aku serius itu kontrakan dia alamat aslinya Jeni di mana.... aku menghubungi dia tidak bisa..." ucap Hendrik yang mulai kehilangan kesabaran.
" Oh.... kalau itu aku tidak tahu.... tapi aku punya KTP Jeni sebentar aku wa...!" ucap Stella.
Hendrik menerima pesan wa dari Stella dan mengamati alamat yang tertera disana. Hendrik segera melajukan motornya untuk pulang kerumahnya.
"pak... pak Maman. pak..!"
" iya tuan ada apa....? "
" apa mobil sudah siap...?"
"sudah tuan..."
" Oke.... pak Maman siap-siap antar saya ke alamat ini..." Hendrik menunjukkan KTP Jeni.
" oh... iya tuan..!" pa Maman selain bertugas menjaga kebun juga menjadi supir pribadinya Hendrik jika dalam perjalanan jauh.
kutang dari setengah jam Hendrik meninggalkan rumahnya bersama pa Maman untuk menemui Jeni. sepanjang jalan Hendrik tampak gelisah. Dia tidak henti hentinya menatap layar ponselnya dengan harapan Jeni akan menghubungi dia kembali. Hendrik mencoba menghubungi Jeni lewat media sosial Twitter Facebook Ig Jeni, namun semua nihil.
perasaan Hendrik semakin tak karuan saat mendapati pesan dari Stella untuk dia jangan lagi mengusik Jeni.
Beberapa kali air mata Hendrik jatuh di pipinya. karena merasa kehilangan orang yang sangat ia cintai. melihat tuannya sedang gelisah pak Maman mencoba menenangkan.
"Tuan.... tidak usah khawatir... sekitar satu jam lagi kita akan tiba... istirahat saja... " ucap pa Maman menenangkan.
Hendrik hanya mengangguk dan mencoba menyandarkan punggungnya di bangku penumpang mobilnya. seketika kembali terbayang senyuman manis Jeni yang selalu terukir untuknya.
"si ceroboh ku..." lirih Hendrik air matanya mengalir lagi.
pa Maman tidak berani menegur ataupun berkomentar karena ia baru kali ini melihat tuannya seperti itu.
@@
Akhirnya mereka sampai di alamat yang di tunjukkan di KTP Jeni. Hendrik berhamburan keluar dari mobil untuk segera menemui Jeni. namun tidak ada satupun penghuni disana. halaman rumah yang kotor dan teras rumah yang berdebu seperti sudah lama di tinggalkan pemiliknya.
"Permisi....." teriak Hendrik. namun tidak ada jawaban.
" tuan sepertinya rumah ini sudah lama di tinggalkan.." ucap pa Maman.
" pak... tolong tanya seseorang."
" Baik tuan..."
Pak Maman bertanya kepada beberapa orang yang tidak jauh dari rumah itu. dari sana pa Maman tau kalau keluarga Jeni sudah lama pindah dari rumah itu dan rumah itu sudah lama di jual.
pa Maman menyampaikan informasi yang ia dapat kepada Hendrik. mendengar itu Hendrik terkulai lemas dan jatuh ketanah dengan bertumpu dengan kedua lututnya.
" Jeni.... please..... jangan pergi..... aku tak ingin kita berpisah dengan cara seperti ini..." lirih Hendrik. melihat tuannya berlutut di tanah pa Maman langsung membawanya ke dalam mobil dan membawa pulang kerumahnya.
di perjalanan Hendrik hanya melamun. ia menatap kosong ke arah luar jendela mobil. Ia sungguh tidak menyangka perjalan cintanya akan setragis ini.
@
Jeni menemui keluarganya dan meminta izin untuk bisa istirahat kuliah selama satu semester dengan alasan kesehatan dia lagi terganggu Noni menyetujui dan pa Marsel pun juga tidak melarang.
Jeni dan Hendrik mencoba melupakan satu sama lain. Jeni bertahan dengan selalu mengenang penghianatan yang di lakukan Hendrik.
Dan Hendrik bertahan dengan kenangan indah yang ia pernah ukir bersama Jeni. walau sakit yang teramat sangat Hendrik mencoba menjalani hidupnya. Ia yakin jika nanti ia akan bisa kembali meraih Jeni kembali jika ia sudah jadi orang yang Jeni harapkan.
Perjalanan cinta memang tidak selamanya indah. namun ada kalanya cinta di hiasi cemburu, iri, dengki, marah dan penghianatan.
__ADS_1