Please... Jangan Pergi

Please... Jangan Pergi
Orang ketiga


__ADS_3

Jeni mengajak Hendrik kesebuah gazebo yang menghadap ke arah Barat wisata. Jeni menarik nafas panjang.


“Huuuh..... Semua bermula ketika keluarga ku jatuh miskin.”


“ Hemmm...” Hendrik memperhatikan punggung Jeni yang sedang menghadap arah lain.


“Aku terpukul atas keterpurukan itu. Dan saat papah bilang kita harus menjual semua aset. Aku bagai mendapatkan Sambaran petir di atas kepala ku...”


“Lalu.....”


“Aku yang baru pulang ujian merasa perlu waktu untuk menyendiri. Jeni yang rapuh ini berjalan tanpa tujuan dan bertemu dengan teman-teman yang “cukup baik”” ucap Jeni sambil mengangkat kedua jari kiri dan kanannya di atas kepala menyerupai tanda petik dua.


“Apa mereka memaksa mu untuk ikut.?”


“ Sebenarnya mereka hanya mencoba membujuk dan tidak memaksa. Namun karena aku yang sedang kacau jadi ikut dengan rombongan mereka.” Jeni berbalik menghadap Hendrik.


“Lalu.....”


Jeni menceritakan secara runtut bagaimna ia berbohong kepada Bu Nety. Dan saat ia tidak sadarkan diri karena minuman yang mereka suguhkan, sampai ia mendapatkan tatto di lengan kirinya yang tidak sempurna.


“Hemmm..... Apa ada perbedaan yang kamu rasakan saat kamu tak sadarkan diri....?” tanya Hendrik.


“ Maksudnya....?”


“Ya.... Mungkin ada terasa ngilu atau sejenisnya....” pertanyaan Hendrik menggantung.


“ Apa kamu fikir aku melakukan hal itu..... Ya tidak lah .. dan aku bisa pastikan aku masih suci...” Jeni yang faham arah pembicaraan Hendrik sontak kesal dan menatap tajam Hendrik.


“kamu jangan salah faham honey...... Aku hanya ingin memastikan saja .. aku percaya padamu...” Hendrik meraih pipi Jeni dengan kedua tangannya.


Jeni yang mendapat perlakuan demikian langsung memeluk Hendrik. Ia tenggelam dalam dada bidang yang dimiliki Hendrik.


“Aku minta maaf ya.... “ lirih Jeni.


“Untuk apa minta maaf.....”


“Karena aku bukan perempuan yang baik untukmu...” Jeni merasa masa lalunya cukup buruk untuk di kenang.


“Apa maksudmu..... Aku juga bukan lelaki yang baik kok..... Tapi aku bukan mencari pasangan yang sempurna.... Tapi yang bisa melengkapi ku...” Hendrik memeluk erat tubuh Jeni.


Jeni merasa lega karena ia tidak perlu menutupi masa lalu dari Hendrik. Mereka hanyut dalam pelukan tanpa memperdulikan keadaan sekitar.


**


Sang Surya tenggelam dengan meninggalkan warna yang menawan. Sehingga membuat sepasang sejoli yang mabuk akan cinta semakin tenggelam di dalamnya. Suara kicau burung malam terdengar bersahutan. Entah berapa lama mereka disana, ciuman demi ciuman tak henti hentinya dilakukan bersamaan dengan nafas yang memburu.


“jeni...... Kita lanjutkan di rumahku saja... “ ucap Hendrik saat melepas ciumannya pada bibir Jeni.


Jeni tidak menjawab namun hanya tersenyum. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dan gaunnya yang sedikit tersingkap.


Mereka meninggalkan tempat wisata itu dengan mengendarai mobil milik Hendrik.


“jen.....”


“Iya.....”


“kamu cantik dech......”


“Apa........” ucap Jeni sambil tersipu.


“ Iya betul.... Aku tidak bohong ...”


“Pasti ada maunya ini.....?” selidik Jeni.


“He..... Tau saja....” Hendrik menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ada apa .....?”


“Hem........ Kamu mau tidak menginap di rumahku malam ini.....” ucap Hendrik hati-hati. Karena ia merasa Jeni bukan wanita yang bisa di ajak menginap.


“memang ada apa di rumah kamu...... ?”

__ADS_1


“Ya tidak ada sich.... Cuma ingin ngobrol lama sama kamu saja....”


“ Loh... Kan aku lihat banyak Art kamu disana ya ... Ajak saja mereka Ngombol.... Lagian kan besok juga kita ketemu lagi....”


“kamu kok jahat sic.... Aku loe mau ngobrol sama pacarku masa iya di suruh sama Art ... Yang benar saja... Nanti kalau aku kangen kamu aku peluk Art.... Iya begitu....” ucap Hendrik sambil memajukan bibirnya sembari menatap lurus kejalan.


“Hem..... Yang ngambek kan...... Bukan begitu sayang...... Besok aku ada makul pagi.... Kalau menginap nanti tidak bisa masuk pagi......!” Jeni yang melihat kekasihnya merenggut membelai lembut rahang Hendrik yang terpahat maskulin.


“Kan ada aku yang bisa siap antar jemput kamu.... Lagian jarak rumahku dari kampusmu kan Cuma 1 jam perjalanan... Apa kamu meragukanku..”


“Hey....... 1 jam kalau jalan tidak macet .... Bagaimna kalau macet terus aku nya yang tidak bisa bangun pagi.....?” ucap Jeni sambil tersenyum mencoba menjelaskan.


“Jadi kapan donk kamu bisa menginap di rumah ku....?” tanya Hendrik.


“ Nanti kalau aku libur.....”


“ janji ya.... Kamu akan menginap jika libur....!”


“Iya janji....”


Hendrik tersenyum bahagia mendengar ucapan Jeni. Karena sudah ia dambakan lama bisa membawa Jeni untuk menginap dirumahnya.


**


Hendrik mengantarkan Jeni kerumahnya. Ia memastikan Jeni masuk kedalam rumah sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah Jeni.


Saat pulang hujan turun dengan lebatnya membuat Hendrik mengurangi kecepatan mobilnya untuk bisa lebih memperhatikan jalanan.


Di kejauhan Hendrik melihat seseorang sedang berlari menghindari hujan namun karena tidak ada tempat berteduh ia berlari di sepanjang jalan.


“ Waduh..... Siapa itu.... Kasian sekali....” Hendrik yang melihatnya segera memarkirkan mobilnya tepat di samping orang tersebut. Ia keluar dari mobil mengunakan payung menghampiri orang tersebut.


“Kamu mau kemana ..?”” kamu .........” Hendrik kaget karena orang yang di hampiri nya adalah kenalan Jeni.


“oh... Hay...”


“Kamu mau kemana... Ayo... Antar “ Hendrik menawarkan.


“tidak usah lagian aku sudah basah begini nanti mobil kamu juga basah....” ucapannya.


“Terima kasih...”


Hendrik hanya tersenyum dan masuk kedalam mobil.


Didalam mobil Hendrik memberikan handuk kecil untuk mengeringkan muka dan rambut nya yang sudah basah. Wanita itu pun menerimanya.


“Terimakasih....”


“Kamu mau kemana....?”


“Ketempat bibi ku sekitar satu jam dari sini...”


“Satu jam.....”


“ iya....”


“ Kamu gila ya... Malam-malam begini mau jalan kaki ketempat bibi kamu ..!”


“ ya karena kegilaan ku.. aku bertemu malaikat tampan seperti mu...?” ucap Rena sambil melirik ke arah Hendrik.


“ Kamu ini memang..... “ Hendrik tersipu di puji tampan.” Jadi kemana aku harus mengantar mu...?”


“ Antar saja aku ke jalan *** “ Rena menyebutkan nama alamat bibinya.


“lah... Kebetulan Aku juga tinggal di daerah sana... Ya sudah kalau begitu sekalian aku antar.” Hendrik melakukan mobilnya kearah pulang.


@


Setengah jam yang lalu.


Seorang wanita duduk di taman tidak jauh dari rumah Jeni. Ia terus menatap tajam ke arah halaman rumahnya.

__ADS_1


“sial...... Kemana sich mereka jam segini kok belum pulang ..” wanita itu nampak kesal. Ia mengawasi dari sore sampai malam berada disana.


Derrr... Derrr... Derrr..


“ Halo..... Bagaimana dapat info...”


“ iya ... Rena dia tinggal di jalan **** km 6 orang tuanya tinggal di luar negeri dan ia hanya tinggal sendiri.. hanya pagi sampai sore Art nya ada dirumah.” Jelas seseorang di seberang telepon.


“ ada lagi....?”


“ ah... Dia maniak ciuman.....”


“ Cuma ciuman.... ?”


“ yah.... Bilangnya seperti itu....”


“Apa dia normal...?”


“ya tentulah .... ! Mana ada maniak yang homo ... Loe gila...”


“ Ya siapa tau dia hanya bisa ciuman di ranjang nya Cuma sebentar...” ucap Rena ketus.


“ Kalau itu aku tidak tau ... Yang jelas info yang loe dapet dari gue tidak gratis.... Loe nanti harus bayar..” ucap seseorang diseberang telpon.


“ Hemmm.... Iya... Tenang saja kubikin loe tidak bisa bangun lagi nanti...” Rena tersenyum lebar karena mendapat info dari temannya itu.


Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Jeni. Dan Jeni pun turun di ikuti oleh Hendrik.


Rena yang mengawasi dari jauh segera mengatur strategi agar pertemuan nya dengan Hendrik adalah kebetulan.


Ia segera lari ke jalan yang akan di lalui mobil Hendrik. Mendengan Guntur bersahutan ia semakin mempercepat langkahnya agar betul-betul seperti kebetulan dan saat hujan turun ia pun berlari di tengah jalan agar lebih tampak oleh Hendrik.


@


Rena melepaskan kacamata yang selalu ia kenakan. Hendrik yang meliriknya sepintas terpana dengan kecantikan yang di miliki Rena.


Melihat Hendrik mencuri pandang padanya Rena semakin berulah. Ia melepaskan baju size besar miliknya, menyisakan kaos tanpa lengan yang membalut dadanya yang cukup besar.


“maaf ya aku lepas baju ku soalnya basah takut masuk angin..” ucap Rena manja.


“ oh iya... Lagian kan baju kamu basah begitu..” Hendrik yang menelan ludah melihat tubuh seksi Rena mencoba bicara senetral mungkin.


Melihat demikian Rena segera mengikat rambutnya yang panjang tergerai menampakkan leher jenjang dan bahu mulusnya. Ia mendekati Hendrik.


“ Kenapa kamu kok lirik-lirik saja... Lihat kesini tidak apa kok...!” ucap Rena mendekati Hendrik.


“ Apa sich... Aku ini lagi menyetir .. oh ya kalau tidak salah di bangku belakang ada jaket punyaku di bangku belakang kamu pakai saja biar tidak kedinginan.” Ucap Hendrik santai.


Rena segera berdiri dan melepaskan celana basah miliknya menyisakan celana hotpants warna putih. Kini tubuh Rena hanya mengenakan celana pendek sepangkal paha warna putih dan kaos hitam yang hanya membalut dada sampai pinggang.


“ Di mana jaketnya... Dan apa warnanya...?” Ucap Rena menghadap ke kursi belakang samping Hendrik satu buah lutut bertumpu di kursinya.


“warna abu... Sebentar aku parkir dulu... Biar ku Carikan ..” Hendrik memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Namun Rena yang pintar melemparkan tubuhnya ke arah Hendrik agar ia jatuh di pangkuannya.


“Kamu tidak apa-apa...” tanya Hendrik kaget.


“ oh iya tidak apa-apa... Maaf ya aku terpeleset.” Ucap Rena sambil merangkul bahu Hendrik. Mereka bertatapan cukup lama. Dari cahaya lampu kendaraan yang melintas Hendrik bisa melihat wajah cantik Rena. Hal itu membuat Hendrik tidak tahan dan mendaratkan ciuman di bibir Rena. Rena membalas ciuman itu dengan hangat. Mendapatkan perlawanan ciuman Hendrik semakin panas. Dan ia merangkul erat tubuh Rena yang hanya tertutup sedikit kain itu.


Seketika Hendrik tersadarkan akan senyuman manis Jeni padanya.


“ oh... maaf Rena....” ucap Hendrik melepaskan ciumannya pada Rena dan menyuruhnya untuk duduk kembali di tempat semula.


“ Kenapa.... Aku sudah siap sayang...” ucap Rena penuh nafsu.


“ Tidak.... Ini salah.... “ Hendrik melihat bangku belakang dan mengambil jaket miliknya dan segera mengenakan pada Rena.


“ Apa maksud kamu... Tidak ada yang salah...” ucap Rena mengenakan jaket yang Hendrik berikan padanya.


“ Aku mencintai Jeni... Aku tidak mau menghianati dia.” Ucap Hendrik.


“Aku tau... Akupun tidak mengharapkan engkau menjadikan aku pacarmu.”

__ADS_1


“ Maksud kamu apa...?”


“Aku hanya ingin mencintaimu dan aku tidak berharap kau membalasnya. Biarkan saja aku menjadi orang ketiga.. kau tidak perlu membalas cinta ku.. cukup jangan larang aku untuk mencintaimu..” Rena mendekati Hendrik dan bersandar di dada Hendrik.


__ADS_2