
Edward menggenggam tangan Jeni. "Jeni.... tolong katakan satu kali saja kalau kau suka padaku maka aku akan sangat senang sekali." ucap Edward memelas.
" tolong jangan begini Erd.... kau lelaki yang baik dan juga kau juga sangat tampan.. jadi mustahil kamu susah untuk mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku.."
" hemmm...." Edward menarik nafas berat. "Jeni aku akan ikut papah ke Jerman untuk kuliah disana. dan aku ingin sebelum aku pergi mengungkapkan isi hatiku padamu. dengan harapan kamu akan menerima cintaku. namun...." Edward menggantung ucapannya.
" pergilah Erd.,... buatlah kisahmu disana, mulai kehidupan kamu yang baru, cukup kenang aku sebagai teman mu Erd..... dan jika memungkinkan temukan wanita yang mencintaimu apa adanya. jika kamu bertemu dengan orang yang tepat makan kau akan menjadi raja yang sungguh berbahagia." ucap Jeni.
" terimakasih Jeni. walaupun aku berharap engkau yang akan menjadi permaisuri hatiku Jeni..." Edward menjawab dengan guratan sedih.
"maafkan aku Erd....... " Jeni mendekati Edward dan memeluknya.
" jangan minta maaf Jeni." Edward membalas pelukan Jeni." berbahagialah kamu Jeni... jika kau dalam masalah ingat lah bahwa aku akan selalu ada untukmu. "
Jeni melepaskan pelukannya pada Edward. ia melepaskan jam tangan yang ia kenakan sebuah jam tangan bermerek berwarna hitam. kemudian ia kenakan di tangan Edward.
Edward melakukan hal yang sama ia juga melepas jam tangan nya berwarna kombinasi gold dan silver. juga jam tangan yang bermerek.
" Jeni ini jam tangan yang mamahku belikan saat aku memenangkan lomba renang sekabupaten dulu. dan ini tidak pernah aku lepaskan kemanapun aku pergi."
"aku tau Erd... dan jam tangan ini adalah jam tangan ini adalah kado pertama papahku saat aku pertama masuk di sekolah menengah atas. selamat jalan teman. semoga kau sukses disana.. dan kita akan bertemu kembali."
Edward mengangguk. walau ada goresan di hatinya karena cintanya tak bersambut. namun ia lega karena ia di tolak bukan karena ada orang lain melainkan memang hati Jeni yang memang tertutup untuk siapapun.
setatah berpamitan Edward mengantar Jeni ke penginapan dan ia pun langsung meninggalkan kota itu untuk pulang kerumahnya berkemas.
" Jeni.... semoga ketika aku datang kembali kau bisa membuka hatimu untukku." lirih Edward sembari mengendarai mobilnya.
**
pagi sekali pa Marsel sudah bersiap untuk membelikan keperluan kontrakan Jeni. ia pergi ke pasar tradisional untuk membeli peralatan dapur dan yang lainnya. sehingga ketika Jeni bangun ia tidak menemukan papahnya.
__ADS_1
" papah dimana ya ...?" ia berjalan keluar penginapan untuk melihat sekitarnya.
Jeni yang hanya mengenakan hot pand warna merah dan kaos lengan pendek warna putih berjalan di teras penginapan mengundang beberapa pasang mata disana. Jeni memang biasa mengunakan setelan seperti itu saat di rumah makanya ia tidak sadar sedang berada dimana.
" kamu mau kemana dek..." tanya seorang ibu-ibu di lobi.
" tidak ada Bu cuma mau berjalan untuk melihat lihat saja..." jawab Jeni sopan.
" tapi kamu lihat sama orang orang disini agak aneh dek kalau kamu berkeliling dengan pakaian seperti ini" jawab ibu itu berbisik.
Jeni memperhatikan sekeliling, ternyata benar banyak sekali orang yang memandangnya dengan tatapan mata yang membuatnya risih. Jeni merasa biasa saja mengenakan pakaian seperti itu namun orang memandang terlalu seksi. bagaimna tidak hot pand yang ia kenakan hanya sepangkal paha dan juga Jeni memiliki postur tubuh yang tinggi seperti model Miss world.
"oh iya Bu... terimakasih atas perhatiannya ibu " ucap Jeni sopan. ia pamit untuk masuk ke kamarnya.
saat mau masuk ke kamar seseorang berlari dan menabrak Jeni. dan saat Jeni dan lelaki itu terjatuh, tangan laki-laki itu hendak memegang bagian dada Jeni yang kaget di tabrak dan menyebabkan ia jatuh terduduk.
namun belum sempat tangan itu sampai di dada Jeni langsung di tepis sama tangan yang lain.
" heh... apa urusan kamu !" lelaki yang menabrak Jeni langsung berdiri dan mendorong lelaki lainnya.
" eloe yang otaknya sampah tidak tau malu..." lelaki itupun juga marah.
Jeni yang masih duduk dilantai memperhatikan dua lelaki yang bersitegang di depannya. lelaki yang pertama menabraknya mengunakan jaket abu dengan kupluk yang masih berada di kepala jadi mukanya tidak nampak dengan jelas. lelaki satunya seperti habis berolahraga. mengunakan t-shirt berwarna hijau dengan celana pendek selutut. berperawakan tinggi sekitar 170 cm kulit putih dengan cukuran rapi cukup menawan.
" apa sampah..... tak guna meladeni kampungan model kamu..sialan ..." lelaki yang berkupluk itu melengos pergi sambil menyenggol bahu lelaki lainnya.
" kampret.....dasar..... " lelaki itu mengabsen semua nama di kebun binatang.
Jeni berusaha bangun sendiri namun lelaki itu mengulurkan tangan Jeni menyambut dan mengucapkan " terima kas.,...."
"aku bukan mau membantu kamu berdiri tapi mau mengambil handset ku terjatuh..." sahut lelaki itu menepis tangan Jeni yang mau menyambut tangannya.
__ADS_1
" hah..... " Jeni kaget. " dasar laki-laki sialan..." umpat Jeni.
" besok besok kamu jalannya tidak usah pakai celana saja.. mau pamer paha putih ya... " sahut lelaki itu dengan senyum sedikit sinis.
Jeni melihat dirinya. memang celananya tergolong sangat pendek karena itu celana yang ia biasa pakai untuk tidur.
"memang apa yang salah dengan pakaian ku.. apa pedulimu,,?" jawab Jeni sedikit kesal.
" memang aku tak peduli cuman aku tak mau penginapan ini kotor karena kelakuan orang tadi....? "
" maksud kamu apa...?" Jeni tidak mengerti apa yang lelaki itu maksudkan.
" heh.... Miss Asia.... kamu tadi mau di lecehkah tau tidak... karena apa.... ya karena pakaian kamu ini... tidak usah di pamerkan... " jelas lelaki itu.
" hah.. kenapa memang ... aku cantik dan seksi apa yang salah... katakan saja kamu juga tertarik denganku..." Jeni tidak terima di maki demikian.
" apa..... aku.... tertarik pada mu...." ia melangkah mendekati Jeni dan mereka berhadapan sangat dekat.
" iya..... tentu.... iyakan..... !" Jeni menantang dan maju juga serta menatap tajam kearah mata lelaki itu.
" heh.... maaf ya.... kamu bukan seleraku..." lelaki mundur satu langkah dan memperhatikan Jeni dari atas kepala sampai kaki.
" apa...... " Jeni geram.
" udah aku cape..... bukan terima kasih malah songong banget ne orang... " lelaki itu mengibaskan tangannya di depan muka Jeni dan berlalu pergi.
" apa kamu bilang... kampret... sialan ... siapa yang kamu bilang songong..... heh .. kamu kembali kesini.... " teriak Jeni. namun orang itu tetap berlalu tanpa menghiraukan Jeni yang memaki dirinya.
" sial... kenapa pagi ini di rusak oleh orang yang tidak bermutu seperti itu.... Tuhan.... jangan sampai aku bertemu lagi kera hutan macam dia..." teriak Jeni.
**
__ADS_1