
sesampainya Jeni di kontrakan ia duduk termenung di sofa ruang tamunya.
"Selama ini Aku terlalu kasar padanya padahal ia beberapa kali menyelamatkan ku .. apa aku tidak keterlaluan padanya...." ucap Jeni berbicara sendiri. ia memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit saat membayangkan nasib apa yang akan menimpanya jika lelaki itu terlambat datang.
" accccchhhhhhhh........ "teriak Jeni untuk mengusir fikirkan jelek di kepala nya.
"Ya.... aku harus bertemu lagi dengan lelaki itu... aku harus minta maaf .. harus...." ucap Jeni dan beranjak dari tempat duduknya.
Jeni bertekad untuk bisa menemukan lelaki yang selalu menolongnya.
**
Pagi itu Jeni ada jadwal kuliah siang, tatapi pagi sekali Jeni sudah bangun untuk bersiap. ia menyiapkan sarapan untuk dirinya. Kemudian Ia juga membuat sushi 🍣 ikan tuna dan beberapa telur gulung, semua ia masukkan di tempat makan dan di tutup rapat.
Setelah semua siap ia bergegas meninggalkan kontrakan. Saat ia mengambil sebuah wedge ia teringat ucapan lelaki itu untuk tidak menggunakan alas kaki yang membuat susah bergerak.
"Baiklah aku pakai yang ini saja cukup serasi dengan pakaian yang kupakai hati ini." ucap Jeni sambil menarik sepasang slip on berwarna putih dari lemari sepatu. hari itu Jeni mengunakan kaos putih lengan pendek Dangan overall rok selutut jenis jeans warna terang.
Jeni melenggang ceria pagi itu. dan berkeliling di tempat dimana ia pernah bertemu lalaki itu. Namun dari sekian banyak tempat yang ia kunjungi tidak nampak keberadaannya.
Jeni yang putus asa mengeluarkan handphone nya dan menekan tombol memanggil seseorang.
"Hallo..... Jen..... !" jawab seseorang diseberang telpon.
"hallo..... " jawab Jeni tidak bersemangat.
" Ada apa cantik kok lesu.... " jawab Anita.
" Aku lagi gabut..... "
"Memang kamu sekarang ada dimna....?"
"Di taman ...."
"Alone ....?"
"Ho oh ..... "
"you're crazy huh.... what are you doing there.... i'll be there in a second.... wait for me.."
Jeni menutup telponnya dan duduk di bangku taman di sana.
setelah beberapa saat menunggu sebuah mobil merah terparkir tidak jauh dari tempat duduk Jeni.
" Hey ... beauty...!"
"Hay....." jawab Jeni girang.
"kenapa kamu disini sendirian dan apa yang kamu bawa itu...?" tanya Stella.
"Bekal....." jawab Jeni sambil mengangkat bok makanan yang ia bawa.
". Are you serious ..!"
"Hehehe .... "Jeni hanya terkekeh.
Jeni menceritakan maksud dan tujuannya dan mengapa ia berada disana dengan kotak makan siang itu.
" Oh..... jadi kamu sedang mencari pahlawan bermulut Pedas itu....!" ucap Anita setelah mendengar penjelasan Jeni.
" Memang seperti apa tampilan lelaki itu Jen....." tanya Stella.
Jeni menjelaskan detail ciri fisik lelaki yang ia cari itu.
__ADS_1
"Apa ia juga suka berolahraga...? " tanya Stella yang dari tadi matanya berkiliaran seperti mencari sesuatu.
" Sepertinya dia suka berolahraga... karena badannya cukup atletik."
" Tingginya sekitar 170 "
"Mungkin...."
"Apa dia orangnya Jeni.... ia menunjuk seorang lelaki yang sedang duduk di ujung taman mengunakan handset di telinganya, tampak keringat membasahi t-shirt yang ia kenakan.
" iya Stella dia orangnya.... bagaimana kamu tau...." Jeni yang girang langsung memeluk Stella .
" Jen kamu harus tau Stella ini titisan dari detektif Conan dan jika dia Lulus nanti akan menjadi sekretaris multi talenta." jelas Anita.
" Titisan memang gue NYI loro kidul.... " sahut Stella sambil memajukan bibirnya lucu.
" Terimakasih ya bestii..... aku mau menemui dia du....." Jeni yang mau beranjak pergi di tahan lengannya oleh Stella.
" Ada apa Stella.....?" ucap Jeni kaget.
" kamu tidak perlu kesana...."
" kenapa.....?"
"Dia yang akan kesini....."
"hah...... " Jeni kebingungan.
Stella mengambil handphone nya dan memanggil seseorang. Stella menyalakan pengeras suara nya
" Iya Stel.... ada apa....?" ucap lelaki di seberang telepon.
" lihat kearah pukul 12. " jawab Stella, dan lelaki yang di maksud berbalik dan melihat mereka. Stella melambaikan tangan.
lelaki itu mematikan teleponnya. Dan melangkah mendekat mereka.
Jeni merasa jantungnya berdetak cepat seperti habis mengikuti lari maraton. Ia tidak berani menoleh kebelakang, Hanya memegang dadanya yang berdebar-debar.
"Hay Stella....... " ucap lelaki yang suaranya mulai di rindukan Jeni.
" Hay Hen..." Stella merangkul lelaki itu dan Jeni masih memunggungi mereka.
"Ada apa..... ? loe tidak cari cowok ya hari ini...?" tanyanya.
" Cari..... cuman hari ini bukan untuk gue .... "
"Terus untuk siapa....? "
"Untuk teman baik gue..."
" Memang loe ya.... tidak pernah berubah..."
" Hendrik.... Ini teman gue mau kenalan sama kamu dan dia sudah mencari kamu dari tadi pagi.." ucap Stella sambil membalikkan tubuh Jeni yang masih tertunduk.
" Elo...... cewek ceroboh....." ucapnya.
" Hee.... " Jeni tidak menjawab dengan Omelan seperti sebelumnya. Ia hanya tersenyum kepada Hendrik.
" loe sakit ya..... apa kepala kamu kebentur tadi malam. ?" ucap Hendrik sambil meletakkan punggung tangannya di jidat Jeni.
"Apa an sich.... aku ini sehat dan waras.... " jawab Jeni sambil menepis tangan Hendrik.
" Oh .... jadi lelaki jenis kamu ya ... yang bikin Jeni menunggu dan galau.." tandas Anita.
__ADS_1
" Nunggu..... loe nungguin gue ya ... ada apa....?"
" memangnya kalian saling kenal ya Stella.. kok bisa....?"
" Jeni yang cantiknya seperti akyu..... Hendrik ini sepupuku jadi jelas lah aku kenal dia... "jawab Stella dengan logat manja.
"oh..... " jawab Jeni.
"Hanya oh...... tidak ada yang lain....!" ucap Hendrik.
" maksud kamu....?" tanya Stella bingung.
"Ya tanya saja sama temen loe ini... biasanya dia seperti tidak habis kata-kata saat bicara.." jelas Hendrik.
Jeni yang mendengar ucapan Hendrik merasa malu dan tertunduk. "Maafkan sikap ku sebelumnya..." lirih Jeni
"Apa..... kamu bilang apa?" tanya Hendrik mendekatkan telinganya di dekat Jeni.
"Sudahlah.... silahkan kamu ngobrol saja berdua ya kami tidak akan menggangu kalian. "ucap Anita.
"Memang kita mau kemana sist..?" tanya Stella yang bingung di seret oleh Anita menjauh dari Jeni dan Hendrik.
"sudah ikut saja.... memang kamu mau jadi obat nyamuk nya mereka berdua. gua mah ogah." Anita membawa Stella pergi sari sana.
" Hendrik..... tolong jaga temen gue ya.... dia itu masih Ting Ting." teriak Stella sambil mengedipkan mata kearah Hendrik.
Sepeninggal Stella dan Anita, Jeni hanya mematung menunggu Hendrik mengajaknya bicara.
"Bilang Stella kamu mencariku kenapa....? "
"Aku cuma mau mengucapkan terima kasih."
"Apa..... ?"
"Terimakasih...."
"hehe... rupanya kamu bisa juga ya bilang terima kasih... aku kira tidak bisa....!"
"Maafkan sikap ku sebelumnya padamu..." ucap Jeni masih menunduk.
" Traktir aku makan dulu baru mau meladeni kamu bicara... !" ucap Hendrik.
"Sebenarnya aku sudah membuat makan siang untukmu.." jawab Jeni masih menunduk.
" Hah... masa... mana?"
" ini..." Jeni menyerahkan kotak makan siang yang sudah ia siapkan.
"Ayo...." Hendrik menarik lengan Jeni mencari tempat duduk yang lebih nyaman untuk mereka bisa menikmati makan siangnya.
Setelah duduk Hendrik membuka bekal yang dibawa Jeni.
" Ini tidak kamu kasih guna-guna kan... "
Jeni hanya menggeleng.
" Kok kamu jadi pendiam begini... jadi tidak seru..!"
" Aku betul merasa bersalah padamu... bukannya aku berterima kasih pada kamu malah aku memaki dan bicara kasar padamu."
"Kamu pintar masak juga ya..." ucap Hendrik yang tidak memperdulikan ucapan Jeni.
'Kok kera hutan ini malah songong nya tidak hilang.' batin Jeni.
__ADS_1