Please... Jangan Pergi

Please... Jangan Pergi
Rindu Pahlawanku


__ADS_3

Jeni duduk tepat di depan Hendrik. Ia memperhatikan setiap jengkal wajah tampan lelaki yang ada di hadapannya.


"Sudah puas liat muka ku..." ucap Hendrik tanpa melihat Jeni.


"Hah.... siapa yang lagi lihat kamu..." jawab Jeni kaget dan langsung membuang muka, melihat ke arah lain.


" Ada apa....? " tanya Hendrik sambil mengambil telur gulung dengan sumpit dan memasukkan semua kedalam mulut.


"Siapa nama kamu....?" tanya Jeni.


"Pertanyaan yang tidak bermutu." ucap Hendrik sambil tersenyum sinis.


"kamu.....!" Jeni yang mulai kesal.


"Ngomong ngomong kamu pintar masak juga ya.." puji Hendrik tulus.


" He...." Jeni tersenyum tersipu-sipu.


" Tapi kurang garam ... di tempat kami garam mahal ya....?" jawab Hendrik.


" Apa.... ? masa...? " Jeni mengambil sumpit yang di pegang Hendrik dan mencicipi makanan yang ia buat.


"Tidak kok.... kamu doyan asin ya..? " tanya Jeni.


"hahahaha..... kamu gampang betul sih di kerjain...." tawa Hendrik.


" kamu ini ya.... dasar kera hutan....!" umpat Jeni.


Hendrik menyelesaikan makan dan merapikan tempatnya.


"Habis ini mau kemana.....?" tanya Hendrik.


"Tidak ada... paling nanti jam 2 ada kuliah."


Hendrik melihat jam yang melekat di tangan kanannya. " Masih ada waktu. temani aku dulu yuk..."


"Kemana.....??"


"Ayo.... ikut saja.... " Hendrik menarik lengan Jeni dan membawanya ke parkiran.


Jeni hanya menurut. ia mengikuti langkah Hendrik yang masih memegang tangannya.


Mereka meninggalkan taman kota dengan mengendarai mobil Fortuner facelift warna hitam. Jeni hanya diam dan tidak banyak bicara dan mengumpat seperti sebelumnya saat bertemu Hendrik. Ia mencoba mengontrol emosi nya walau sikap Hendrik selalu memancingnya.


Hendrik memarkirkan mobilnya di sebuah halaman rumah yang cukup mewah. Ia turun dari mobil dan meninggalkan Jeni yang masih melongo.


"Hey.... ceroboh... turun... ngapain masih di situ...?" ucap Hendrik.


" Dasar kera... kalau ngomong suka asal.... aku... punya nama kenapa di panggil gitu..!" Jeni merenggut.


Jeni masuk kerumah Hendrik dia tidak peduli dengan kemewahan yang di miliki Hendrik.

__ADS_1


'kok cewe ini tidak ada komentar dengan keadaan rumah gue' gumam Hendrik


Hendrik masuk ke kamar dan Menganti pakaian dengan kemeje dan celana panjang slim fit.


"Biasanya cewek langsung jelalatan matanya kalau sudah lihat rumah mewah .." ucap Hendrik sambil mengancing kemejanya.


Ia mengintip lewat celah pintu mengawasi Jeni yang berada di ruang tamu dan berharap Jeni akan berkeliling untuk memperhatikan setiap sudut rumahnya.


Namun Jeni hanya memperhatikan handphone yang ia pegang dan asyik berselancar di Instagram miliknya.


Hendrik cukup kagum dengan kepribadian Jeni. Ia keluar dari kamar dengan perlahan agar tidak di sadari Jeni.


" Bagaimana rumahku...?" tanya Hendrik dari belakang Jeni.


"Hah.... ada apa dengan rumahmu...?" tanya Jeni kembali.


" Ah .. sudah lah..... " jawab Hendrik kesal.


"Ih... dasar kera... " Jeni bicara sepelan mungkin agar tidak di dengar oleh Hendrik.


mereka meninggalkan rumah Hendrik dan menuju kafe dekat kampus Jeni.


Hendrik memesan minuman untuknya dan Jeni.


Setelah lama menunggu minuman mereka pun datang. pelayan membawakan, Namun karena kurang hati-hati kaki pelayan tersangkut kaki meja dan hampir jatuh, menyebabkan minuman yang ia bawa tumpah kedepan dan hampir mengenai Jeni. namun belum sempat air tersebut tumpah di baju Jeni Hendrik sudah lebih dulu menghalangi dan yang minuman itu membasahi lengan baju Hendrik.


"Maaf mas.... maaf saya tidak sengaja" Ucap pelayan wanita yang masih cukup muda.


" Maaf mas ... sini saya bersihkan.." ucapnya penuh penyesalan.


""Tidak usah dek... biar kan saja nanti saya bersihkan sendiri." ucap Hendrik.


Jeni tertegun dengan sikap Hendrik yang sangat lembut berbeda dengan sikap nya kepada Jeni.


" lembut betul ngomong nya ...?" ucap Jeni, ada gurat cemburu .


" Kenapa....? " ucap Hendrik sambil membersihkan bekas Air yang tumpah di pakaiannya.


" Sikap kamu kok beda sich sama pelayan tadi di banding sama aku..." Jeni merenggut manja. Membuat muka cantiknya Jeni semakin gemas.


"kenapa kamu cemburu ya ... " Hendrik hanya tersenyum.


" Ah... kamu ini.... dasar laki-laki tidak peka..." ucap Jeni


"Ya sudah ini hampir jam dua... kamu berdiri... dan siap-siap ke kampus .. kuliah yang benar dan banyak bermain." Hendrik membangunkan Jeni yang sedang duduk di kursi dan membalikkan badannya agar menghadap pintu agar segera meninggalkan kafe tersebut.


"Tapi.... aku belum minum .. kan minumanku tumpah..." jawab Jeni yang kebingungan.


" Ini... kamu minum ini saja.. cepat sana pergi nanti terlambat." ucap Hendrik sambil menyerahkan kopi instan siap minum.


Jeni yang tertegun meninggalkan kafe tersebut tanpa membantah.

__ADS_1


"Ihhhh........ keraaaaaa........ " Jeni yang kesal sambil menghentakkan kakinya berkali-kali.


@@


Jeni sampai di ruang kelas dengan muka di tekuk. sudah ada beberapa mahasiswa disana. walaupun sebagian mahasiswa menyapa Jeni, namun ia hanya menanggapi dengan senyum.


"Hay... cantik...." sapa Stella


"Hay...


" Kenapa dengan mukamu....?"


"Tidak apa-apa...."


"Bagaimana Hendrik...?"


"Siapa kera, bang***t, kurang a**r, kecoa ....." Jeni mengabsen semua anggota binatang yang ia tau.


" Weh.... sabar cantik... jangan marah-marah cerita pelan-pelan.." ucap Stella yang tidak mengerti dengan temannya.


Jeni menceritakan semua sikap Hendrik padanya yang membuat ia kesal. sikap angkuh dan ucapannya yang selalu membuat ia marah.


"hahahaha..... sayang ku... Hendrik itu bukan tipe orang yang seperti itu.... dia orangnya ramah, penolong dan sangat peduli sama orang lain... jadi tidak mungkin ia bersikap seperti itu..." jelas Stella.


"Baik apanya..... dasar kera..... " Jeni masih kesal.


Stella yang faham dengan temannya hanya diam saja.


"huh... ya sudah.... pulang kampus kita jalan yuk... kita ke swalayan ada beberapa barang yang mau ku beli sekalian kita Merayakan sebagai mahasiswi baru." ucap Stella mengalihkan pembicaraan.


" Boleh.." jawab Jeni.


"Aku tidak di ajak....?" ucap Anita yang tiba-tiba muncul di belakang Stella.


"kampret..... Loe kalau muncul jangan seperti setan tiba-tiba... hampir jantungan gue...." ucap Stella yang terkejut.


"Maafkan saya Ratu siluman ular... hamba khilaf.." ucap Anita menirukan gaya bicara sereal drama masa lalu.


" Baiklah NYI Blorong aku maafkan asalkan kau cium ketek ku ini..." Stella pun ikut-ikutan.


"hahahaha.... " mereka tertawa bersama tak terkecuali Jeni pun ikut tertawa. Melihat teman satu server yang mampu menghiburnya.


**


Sudah hampir satu bulan Ia tidak bertemu dengan Hendrik. Walaupun hatinya terukir rindu untuknya. Namun ia begitu gengsi untuk mencari seperti sebelumnya, jadi ia hanya mencoba mengobati rasa yang ada di dalam dadanya dengan mengenang kelucuan dan kelakuan bodoh yang Jeni lakukan saat bertemu Hendrik.


"Aku rindu pahlawan bermulut kasarku... " ucap Jeni.


"Huh.... " Jeni menarik dan menghembuskan nafas kasar.


Tuk tuk tuk.

__ADS_1


__ADS_2