
" soal apa itu...?" tanya Tony.
" jenis tatto yang di gunakan Jeni apa terus apakan itu bisa hilang ?" tanya Edward lagi.
" oh.... itu ... tatto yang buat untuk Jeni tatto semi permanen... jadi bisa hilang dalam jangka waktu 2 sampai 3 tahun... !" jelas Tony.
"apa...... tidak bisa lebih cepat....?" tanya Edward terkejut. karena ia fikir jenis tatto yang mereka gunakan seperti model Henna yang bisa hilang dengan hitungan Minggu.
" ya kalau mau cepat sich bisa saja....." jawab Tony menggantung.
" bagaimana caranya.....?" tanya Edward penasaran.
" dengan cara di laser .. mengunakan sinar dengan intensitas tinggi untuk memecah warna tatto.. dan itu harus orang yang ahli agar tidak merusak jaringan kulit." jelas Tony.
"ada cara lain tidak....? " tanya Edward karena merasa merinding dengan cara seperti itu.
" bisa juga dengan demabrasi... dengan bantuan medis ya bisa di bilang model operasi kecil lah....." jelas Tony santai.
"selain itu ada nggak bro...?"
" ya kalau selain itu.... apa lagi ya..... " Tony menerawang.
" mungkin ada cara yang tidak begitu menyakitkan... " jawab Edward.
" seingat ku sch itu saja.. karena aku disini membuat tatto bukan untuk menghilangkan... oh ya.... ada satu lagi..." jawab Tony sumbringah.
" nah apa itu ...?" jawab Edward.
" pengangkatan jaringan kulit. bisa juga itu..."
Edward menepuk jidatnya." itu sama saja dengan dua cara yang anjurkan tadi ...."
"hahaha...... " terdengar suara tawa Tony di seberang telepon. " cara herbal saja bro. ... nanti ia akan lama menghilang dan warnanya akan pudar.... asal rutin pakai nya..."
" bagaimna itu...?"
" bisa dengan minyak lavender atau minyak zaitun. digosok setiap malam. kalau ada bisa di campur dengan lidah buaya. soalnya bayak juga temanku yang berhasil dengan cara seperti itu..." jelas Tony.
" ok lah bro makasih ya infonya... "
"ok sama sama "
setelah menutup telponnya Edward bergegas bersiap ia ingin menemui Jeni dan berikan kabar baik tersebut untuknya.
**
pukul 7 pagi semua anggota keluarga Marsel sudah bersiap karena Jermy akan di antar ke asrama tempat ia akan tinggal untuk melanjutkan pendidikannya. Jeni dan Bu Nety mempersiapkan sarapan semua anggota keluarga .
om Sony menemani Noni di teras belakang untuk menikmati teh hangat sambil memberi maka burung merpati peliharaan Noni.
suasana pedesaan sangat kental di sana jauh dari hiruk pikuk keramaian. udara yang bersih dan kicauan burung sungguh sangat menenangkan hati.
saat sarapan pagi siap semua anggota berkumpul dan menikmati makan bersama. kehangatan keluarga sangat terasa di sana.
selesai sarapan pa Marsel Jermy dan dan Jeni pamit untuk pergi Bu Nety tidak ikut karena ada beberapa pekerjaan rumah yang harus di kerjakan. mereka meninggalkan rumah Noni pukul 08.20, dengan mengendarai mobil Ayla warna hitam milik Noni.
Jeni ikut bergabung karena ia bersama pa Marsel akan melihat kampus tempat ia akan melanjutkan studinya.
setelah sekitar 4 jam perjalanan mereka sampai di asrama tempat Jermy akan sekolah. pa Marsel membayar semua biaya pendaftaran dan administrasi yang lainnya. sebenarnya jumlah uang yang di keluarkan cukup banyak namun melihat fasilitas yang disediakan sungguh sangat sepadan. sekolah yang di bangun di lahan seluas 3 hektar. lengkap dengan asrama putra dan Putri lapangan yang luas, kolam renang khusus untuk kelas renang. semua macam olahraga fasilitasnya lengkap.
dan yang paling diminati oleh Jermy adalah kelas anggar, karate dan kelas bela diri yang lain. selain itu juga di sediakan kursus driver bagi yang berminat.
wajarlah jika sangat banyak yang ingin bersekolah disana.
Jermy berpamitan kepada papahnya dan Jeni kakaknya. pa Marsel berjanji akan mengunjungi lagi bersama dengan mamahnya. Jeprmy mengangguk dan mencium tangan papahnya. ia sudah terbiasa hidup mandiri karena semenjak duduk di bangku SMP ia sudah tinggal mandiri in the kos bersama temannya jadi ketika SMA ia diasramakan bukan hal yang baru baginya.
**
mobil m laju kearah berlawanan sekitar 2 jam berkendara mereka sampai di sebuah kampus cukup megah. di depan bangunan itu nampak oleh Jeni sebuah nama kampus STIA Amuntai. ' apa aku akan sekolah disini 'ucap Jeni dalam hati.
__ADS_1
Jeni hanya menunggu di luar ia tidak ikut masuk cuma pa Marsel yang mengurus semua pendaftaran untuk Jeni.
Jeni yang sedari tadi memainkan ponselnya sambil berkeliling akhirnya masuk jauh kedalam kampus. banyak hilir mudik remaja disana. saat Jeni terpana dengan keadaan nya handphone nya berdering.
kring.. kringg.. kring..
" hallo selamat siang..." jawab Jeni tanpa melihat siapa yang menelpon.
"hai... Jen ini aku...." sahur Edward di seberang telepon.
" oh ya hai..... " jawab Jeni lesu. ia merasa telpon dari Edward merusak kesenangannya di kampus baru.
" kok gitu sich sahutnya apa kau tidak senang menerima telpon dariku Jen..."
" tidak kok Erd.. aku ini di kampus mau daftar kuliah." sahut Jeni tidak bersemangat.
" ada waktu tidak aku ingin bertemu kamu'."
" memang ada apa Erd.. apa tidak bisa dibicarakan di telpon saja..."
" tidak bisa Jen.. aku ingin bertemu...."
"baiklah ku share lokasi ku.."
Jeni mengirimkan lokasi ia sekarang. selanjutnya iya menginfokan juga kalau ia juga menginap disna.
@
selesai mendaftar kuliah Jeni dan papahnya mencari penginapan terdekat dan mencari rumah makan karena siang tidak sempat makan dan hanya kudapan saja. setelah berkeliling pa marsel masuk kesalah satu rumah makan.
mereka memesan makan dan menunggu makanan mereka sambil bercengkrama.
" Jeni besok pagi kita pulang dan akan siapkan keperluan kamu di kontrakan. dan perlu Jeni ketahui papah menaruh harapan banyak untukmu" jelas pa Marsel.
" iya pah... Jeni akan mengingat itu semua. " Jeni memeluk pa Marsel. ada gurat rasa bersalah di hati Jeni kepada papahnya atas apa yang telah terjadi padanya.
tak lama Edward datang. "selamat malam om... selamat malam Jeni" ucapan Edward menghentikan pelukan mereka.
"malam.... juga... Edward kok kamu ada di sini. apa kamu kuliah di sini juga....?" tanya pa Marsel.
"tidak om... saya kesini cuma mau bertemu Jeni saja.. apa boleh saya duduk om...?" tanya Edward.
" boleh.. boleh.. maaf... silahkan duduk ...." pa Marsel mempersilahkan Edward duduk di depan bangkunya.
" terima kasih om ." Edward duduk
" kok kamu bisa tau kami ada disini...? tanya pa Marsel.
" maaf pah Jeni yang kasih tau... karena bilangnya Edward ada yang mau dia omongkan..." jelas Jeni sebelum dijawab Edward sendiri.
" oh.... memang ada masalah apa Edward sepertinya sangat penting hingga kamu jauh jauh datang kesini untuk menyusul kami...?" tanya pa Marsel penasaran.
" sebenarnya saya mau ajak dia kuliah di Jakarta bersama saya om.... kebetulan ada biaya siswa yang di ajukan dari sekolah kami untuk kampus tersebut.... maksud saya jika Jeni berkenan sama sama saya saja om..." jelas Edward beralasan.
tak lama makanan mereka datang. pa Marsel dan Jeni menikmati makanan mereka, Edward juga memesan makanan yang sama. tidak ada pembicaraan yang berarti. saat selesai makan pa Marsel meninggalkan Jeni dan Edward untuk memberi kesempatan mereka bicara.
" papah pulang duluan jangan pulang terlalu larut.. Edward nanti tolong antarkan Jeni tepat waktu...!" pesan pa Marsel sebelum pergi.
kini tinggal Edward dan Jeni yang masih berada di sana.
" kita minum kopi yuk..?" ajak Edward.
" boleh....."
mereka menuju sebuah cafe 24 jam, mereka memesan dua coffelate dan kentang goreng.
" apa yang membawa kamu kesini...?"
" karena aku kangen....."
__ADS_1
" maksudmu.....?"
" iya Jen..... aku kangen banget sama kamu....!"
" ah..... masa sich... pacar kamu mana...?"
" aku tidak punya pacar..... aku hanya menunggu kamu mau sama aku..." sahut Edward jujur
" kau sakit Erd....?" Jeni menempelkan punggung tangannya di kening Edward.
" aku tidak sakit..." Edward menepis tangan Jeni.
" terus apa .... gila...."
" aku betul menunggu kamu Jen.... aku sudah lama mencintai kamu....!" tegas Edward.
" apaaaa ...... "
" iya Jeni..... aku akan lakukan apapun agar kau bahagia..... "
" tapi kau itu temanku.... dan juga tidak ada sedikitpun tertarik kepadamu...?" jelas Jeni.
" kenapa Jeni.... apa yang salah.... apa yang kurang dari ku....?"
Edward sebenarnya tidak memiliki kekurangan apapun. ia adalah pria tampan, tinggi berisi dan juga memiliki kulit putih bersih. wajah tampan blasteran Jawa dan Jerman jadi tidak heran ia seperti artis pemain FTV. bukan tidak ada yang mau padanya karena Edward hanya bersikap baik pada orang yang dikehendaki saja. dan mereka yang tidak disuka maka selalu diabaikannya.
" tidak ada yang salah Erd.... kamu sempurna tidak ada yang kurang.... "
" jadi masalahnya apa.,... ? apa karena ini...?" Edward menarik lengan kiri Jeni.
" bukan bukan karena ini..." jawab Jeni gugup.
" lantas karena apa.... aku minta maaf atas semua yang terjadi kemaren.... dan soal itu aku akan bantu untukmu bisa hilangkan itu Jen..."
" hah.... memang ini bisa hilang ya... soalnya yang aku dengar dari Serly ini permanen. dan selamanya."
" tidak aku sudah bertanya pada Tony dan bagaimana mengatasinya."
Edward menjelaskan semua tentang tatto itu dan ia menawarkan jika Jeni perlu bantuan ia akan membantu Jeni. namun Jeni tidak mau berhutang kepada orang lain.
" terimakasih Erd... kau memang teman terbaikku... terima kasih ya..."
" aku tidak mau jadi teman mu..." jawab Edward hampa.
" kenapa .... apa ada yang salah....?"
" karena aku suka sama kamu Jeni ...?"
" ah... kamu ini bercanda saja...."
" tidak Jeni .... aku jatuh cinta padamu.."
" maaf Erd.... terapi aku tidak bisa...."
"kenapa.... ?" tanya Edward.
" kau adalah temanku dan selamanya kau adalah teman ku..."
" apakah tidak ada sedikitpun tempatku di hatimu Jen...?"
"maaf Erd.....!*
" kasih aku alsan pastinya nya Jen....?"
" dunia kita sekarang berbeda Erd.... aku sekarang adalah keluarga yang miskin .. apa kamu tidak mau reputasi keluarga kamu akan jatuh jika kamu dekat dengan orang seperti aku.."
" aku tidak masalah Jen.. sungguh ..?" Edward meyakinkan.
"tapi maaf itu adalah keputusanku..."
__ADS_1