
Hendrik tertegun mendengar ucapan Rena. Otak nya berfikir keras. Lelaki normal mana yang sanggup menolak wanita secantik Rena. Kulitnya putih bersih dengan badan yang langsing namun berisi. Melemahkan iman si pemandangnya.
“Tidak ini salah.....” Gumam Hendrik. Ia segera melajukan mobil nya untuk pulang.
“Hend..... Jawab aku.... “ Rena yang masih sudah di buru naf**.
“ Tidak Rena....... Ini salah Jeni akan terluka jika tau...” Hendrik mendorong Rena agar kembali ke tempat duduknya.
“ Itu kalau Jeni tau.... Sudah ku bilang aku tidak mau kau balas cintaku cukup jangan larang aku mencintaimu....” tangan Rena mulai liar menjamah bagian sensitif Hendrik.
“Jangan seperti ini aku tidak melarang mu untuk mencintaiku.... Karena itu hak kamu.... Tapi bukan seperti ini...!” Hendrik menepis tangan Rena.
“Hentikan mobilnya...!” perintah Rena.
“ada apa.....?”
“Hentikan saja mobilnya...”
Hendrik menurut dan menepikan mobilnya. Rupanya hujan sudah berenti. Rena turun hanya mengunakan jaket yang panjangnya menutupi hotpants yang ia kenakan. Dan jika nampak dari jauh ia hanya mengunakan jaket saja.
Hendrik yang kaget melihat Rena turun dalam keadaan begitu merasa bersalah....
“hey... Rena. Mau kemana....?” ucap Hendrik.
Rena tidak menjawab malah menghampiri Hendrik di bangku kemudi.
“Rena masuklah ....”
“ Hend..... Geser.... Aku yang akan bawa mobilnya.” Ucap Rena menatap tajam pada Hendrik.
“ Kamu bisa mengemudi...?”
“ tolong geser saja....” ucap Rena. Hendrik menurut ia duduk di bangku sebelahnya. Rena mengambil alih. Ia mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Membuat Hendrik khawatir.
“Apa yang kamu lakukan kita akan kemana ini....” Hendrik yang takut berpegangan kuat.
“ Tenang saja aku tidak akan mengajakmu untuk mati bersama...” ucapa Rena serius.
Sekitar setengah jam mereka sampai di sebuah halaman rumah minimalis modern. Rena memarkirkan mobil di dalam bagasi rumah tersebut.
“Ini rumah siapa... Kenapa kita kesini...?”
Dari cara Rena mengendarai mobil nampak ia adalah orang profesional, dan saat memarkirkan mobil pun tidak ada keraguan padahal bagasi tersebut tergolong kecil untuk ukuran mobil Hendrik.
“Ayo... Turun....” ucapa Rena.
__ADS_1
Hendrik turun di ikuti Rena, tidak lupa ia memungut pakaian basah yang ia lepas di mobil Hendrik.
Rena berjalan masuk kedalam rumah di ikuti Hendrik. Tidak ada satupun penghuni rumah itu.
“ masuklah Hend..... Jangan ragu...” ucap Rena.
“ apa ini rumahmu...?” ucap Hendrik.
“Iya... Ini rumah ku... Lebih tepatnya rumah yang orang tua ku belikan untukku selama tinggal disini.”
“oh.... Rumah yang cantik.... Apa kamu tinggal sendiri di sini....?” tanya Hendrik.
“ dulu nya iya.... Namun sekarang tidak lagi... Karena akan ada kamu yang menemani aku.....” ucap Rena mendekati Hendrik dengan tatapan menggoda.
“ Hah .... Bicara apa kamu ini.....!”
“ aku serius ... Belum pernah ada seorang pun yang pernah aku bawa kesini kecuali kamu... Dan mereka tidak ada yang tau tampang ku seperti ini kecuali kamu...” Rena melingkarkan tangannya di leher Hendrik.
“aku kan tidak meminta nya...” ucap Hendrik mengalihkan pandangannya.
“ ayo.. sayang... Malam ini milik kita...” Rena berbisik di telinga Hendrik dan menarik nya ke kamarnya. Hendrik mencoba menepis tangan Rena namun Rena bersikeras sehingga Hendrik pun mengikuti langkah Rena.
Sesampainya di kamar Rena mengunci kamar. Dan melepas jaket yang ia kenakan. Dan langsung menyerbu Hendrik. Hendrik yang semula diam saja ikut terbawa. Rena dengan lincah melucuti pakaian Hendrik. Dan dengan sekali gerakan ia melepaskan semua yang ia kenakan. Hendrik adalah lelaki normal dan tidak bisa mengontrol naf**nya sehingga apa yang seharusnya tidak terjadi malam itu terjadi.
@@
Ponsel Hendrik bergetar.
“ selamat pagi sayang....” ucap Jeni di seberang telepon.
“Pagi juga sayang....” ucap Hendrik masih dalam kondisi setengah bangun dari tidurnya.
“ kok tumben belum bangun jam segini....?” ucapa Jeni.
“ Maaf sayang.... Apa sudah siap ke kampus ini...?” tanya Hendrik.
“ iya... Ini aku sudah di kampus masih nunggu teman... Ok lah kalau begitu aku tutup ya.... Dahhh....” ucap Jeni sebelum menutup telponnya.
“pagi sweety...... Apa tidur mu nyenyak... “ sapa Rena yang sudah siap dengan pakaian di kampusnya. Pakaian size kebesaran lengkap dengan kacamata baca yang besar.
“Aku harap kau tidak menghancurkan hubunganku dengan Jeni Rena.” ucap Hendrik.
“ Ouuhhhh..... Sayang... Tadi malam adalah hal yang luar biasa.... Aku sungguh puas dengan perlakuan mu itu... Dan aku berharap bisa kembali melakukannya lagi...” Rena mendekati Hendrik dan mulai nakal dengan tangan liarnya.
“ cukup Rena....... Cukup..... Jika ini terjadi lagi aku akan melaporkan kamu. Karena kamu yang mengancam aku dan membawaku kesini.” Ucap Hendrik kesal.
__ADS_1
“Apa...... Apa kau gila.... Aku.... Wanita secupu aku menculik kamu dan memperk*** kamu... Begitu yang mau kamu katakan....hahaha..” Rena tertawa lebar.
“yang ada kamu yang akan malu... Dan kamu yang disalahkan ..” ucap Rena
Hendrik mengepalkan tangannya karena kesal dan ingin memukul Rena.
“Ayo.... Pukul.... Kalau sampai kau memukul ku akan tampak jelas kamu yang sudah memaksa dan memperk***ku...” tantang Rena
“Hahhhhhhhh......” Hendrik yang kesal segera beranjak dari sana dan meninggalkan Rena.
Di kejauhan Hendrik mendengar tawa keras dari Rena yang merasa menang.
Hendrik mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Rena. Di sepanjang jalan ia mengutuk kebodohan yang iya lakukan bersama Rena. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan saat sampai.
“Pak.... Pak ... Maman..... “
“iya tuan...” penjaga kebun Hendrik pa Maman segera menghampiri tuannya.
“Tolong cuci mobil saya ini semuanya dari luar sampai dalam.. pokoknya semuanya....”
“iya tuan...”
“oh.... Iya.... Sekalian tolong gantikan semua jok di dalam mobil.” Ucap Hendrik kesal.
“tapi... Tuan bukankah bulan lalu sudah di ganti yang baru..?”
“ Iya... Tapi aku mau semuanya di ganti...” ucap Hendrik
“iya tuan..” pa Maman tidak membantah karena kenal dengan watak majikannya itu.
Hendrik meninggalkan halaman rumah dan segera naik ke atas menuju kamarnya. Tanpa melepaskan pakaiannya ia menyiram badannya. Dengan harapan bisa membersihkan kotoran yang menempel pada dirinya. Ia melepas semua pakaiannya dan melemparkan ke tempat sampah yang ada disana.
“Hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh............. Maaf kan aku Jeni. ,” Hendrik berteriak sambil mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya.
Art Hendrik yang akan masuk menanyakan keperluan Hendrik mengurungkan niatnya karena mendengar teriakannya Hendrik dari dalam.
“ Sepertinya tuan sedang kesal....?”
“ Iya... Sebaiknya kita tunggu saja disini.. agar saat di panggil kita bisa menyiapkan keperluan tuan” ucap Art yang lain.
@@
Jeni mengikuti perkuliahan dengan konsentrasi penuh. Karena ia ingin waktu liburnya bisa ia habiskan bersama Hendrik.
“ baiklah untuk pertemuan ini cukup sekian.. dan tugas Minggu depan tolong kerjasama nya ketua kelas untuk mengumpulkan.” Ucap dosen sebelum mengakhiri perkuliahan.
__ADS_1
“Jeni... Bantu aku ya....” ucap Stella.