
Jeni dan Hendrik meninggalkan kampus dengan mengendarai mobil milik Hendrik.
"Memang aku ganteng ya....?" ucap Hendrik sambil melirik Jeni yang ada di sebelahnya.
"Tidak kok biasa saja...." Jeni melihat lurus ke depan.
" Oh.... gitu... tapi ku lihat Rena itu cantik loe.. coba di mau memadu padankan pakaian yang Ia kenakan pasti kamu kalah cantik.." Hendrik seperti sedang berbicara sendiri.
"Kamu ya ... di depan pacarmu sendiri malah memuji orang lain..." Jeni yang kesal langsung mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Hendrik yang sedang mengemudi.
"Lah ... tidak apa kan lagian ceroboh ku tidak mau memujiku juga...." Hendrik seperti tidak memperdulikan muka Jeni yang bertekuk.
"Dasar kera hutan...... berhenti sekarang...." bentak Jeni..
Hendrik tidak menjawab, akan tetapi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Mereka diam tak bicara.
" Oke... aku pulang saja...." Jeni beranjak dan melepaskan sabuk pengaman, namun Ia kesulitan.
Hendrik melepas sabuk pengaman miliknya dan mendekati Jeni. Dan memegang pipi Jeni lembut. Perlahan Hendrik mendekatkan wajahnya kearah Jeni hendak mencium bibir Jeni namun.
tuk tuk tuk....
"hey.... pindahkan mobilnya... kalian tidak boleh parkir disini." ucap seorang wanita setengah baya petugas kebersihan.
"Oh.. ya maaf Bu... maaf..." ucap Hendrik yang kaget dan segera membuka kaca mobilnya.
" Tidak apa-apa... ya sudah cepat pindahkan...!" ucap ibu itu.
Hendrik tersenyum ke arah ibu itu dan mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Sementara Jeni yang sedari tadi memerah mukanya karena menahan rasa malu. Dan saat mata mereka bertemu mereka hanya saling tersenyum.
Hendrik merasa jantungnya berdetak kencang seperti di buru. baru kali ini ia Merasakan getaran hebat didalam dadanya.
"Kita mau kemana ini...?" tanya Jeni mencairkan suasana.
"Kamu mau kemana....? hari ini aku siap jadi supir kamu....!"
"Aku mau ke tempat wisata disini.... apa kamu tau tempatnya...?"
"Hemmmmm..... Wisata di sini....?" Hendrik menerawang.
"Iya... kemana saja.... !"
" Bagaimana kalau kita ke Pegunungan....?"
" Boleh..."
mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jeni menikmati perjalan sambil bercanda ria dengan Hendrik. Betul saja Hendrik yang sebelumnya saat usil dan berbicara seenaknya, saat bersama Jeni ia menjadi lembut dan penuh perhatian.
"Maafkan aku ya ceroboh ku... jika aku selalu mengganggu mu... karena aku senang melihat wajah cantik kamu itu merajuk.. " ucap Hendrik sambil membelai lembut rambut Jeni.
__ADS_1
Jeni yang merasa bahagia memeluk Hendrik yang sedang mengemudi.
"Jangan ceroboh ku.... aku ini masih mengemudi..." ucap Hendrik. membuat Jeni melepaskan pelukannya.
"kamu ini manggil aku ceroboh terus..." muka Jeni kembali di tekuk.
"Lah... itu panggilan sayang aku ke kamu...." jawab Hendrik sambil mencubit lembut hidung Jeni.
"Hemmmm...."
**
sekitar Satu jam berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat wisata, ada banyak pendopo disana seperti gazebo tempat untuk beristirahat. ada juga Sebuah menara mirip marcusuar untuk bisa menikmati pemandangan dari atas.
Hendrik memarkirkan mobilnya dan mengajak Jeni untuk berkeliling.
karena sudah siang mereka merasa lapar.
" kamu mau makan apa....?"
"Apa saja.... kalau bisa kita makan di atas sana saja..." Jeni menunjuk menara yang di bangun di tengah wisata.
" Boleh... tunggu sebentar disini ya..." ucap Hendrik dan beranjak dari sana.
Beberapa menit kemudian Hendrik datang dengan sebuah paper bag kecil dan sebuah kantong plastik berisi air mineral.
" Ayo...." Hendrik mengajak Jeni untuk menuju menara tersebut dan menaiki tangga menuju atap.
sekitar 40 anak tangga yang mereka lalui mereka sampai di atas. Jeni terkesima melihat hamparan lahan hijau yang tertata rapi. pohon kelapa sawit yang di tanam beraturan begitu indah. dan hiasan warna warni dari gazebo di bawah menambah kesan menawan pemandangan dari atas sana.
Hendrik yang melihat tingkah pacarnya hanya tersenyum.
"Kamu senang...." Hendrik memeluk Jeni dari belakang.
"Iya.... terimakasih ya..." Jeni merangkul lengan kekar yang melingkar di pinggang ramping nya.
Hendrik membalikkan badannya Jeni agar menghadap ke arahnya.
"Jeni..... aku sangat mencintaimu...." Hendrik memegang kedua pipi Jeni dan mendaratkan ciuman hangat di bibir Jeni.
Jeni hanya memejamkan mata tanpa ada perlawanan. Hendrik melepas ciumannya.
"Apa ini yang pertama....?"
Jeni hanya mengangguk. Hendrik tersenyum bahagia karena ia mendapatkan ciuman pertama Jeni.
"Tidak apa sayang... cukup nikmati saja..." ucap Hendrik dan kembali mengecup bibir Jeni.
Jeni memejamkan mata dan merasakan getaran hebat didalam dadanya. Ia mencoba mengimbangi permainan Hendrik yang sudah sangat berpengalaman dalam berciuman. Jeni membuka mulutnya dan sesekali membalas kecupan Hendrik. ciuman mereka semakin panas, Jeni yang hanya mengunakan dress selutut merasa dress nya tersingkap karena tertiup angin melepaskan ciumannya.
"kenapa.... ?" tanya Hendrik.
"hee .. dingin..." jawab Jeni sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"kamu ini.... ku kira kenapa....!" jawab Hendrik sambil memeluk erat tubuh Jeni.
"lapar......" sahut Jeni manja.
" wah... ceroboh ku lapar ya... Ayuk kita makan dulu habis itu Kita lanjutkan lagi..." Hendrik berbisik di telinga Jeni dan membuat nya malu.
"Dasar kamu ini...." ucap Jeni sambil mencubit perut berotot milik Hendrik.
"Jangan cubit cubit sayang nanti ada sesuatu yang tidak terima di bawah sana.." ucap Hendrik sambil menunjuk kearah perutnya.
mereka hanya tertawa bersama. sambil menikmati makanannya, selesai makan Jeni duduk sambil memeluk lutut karena terpaan angin disana cukup kencang.
Melihat Jeni kedinginan Hendrik melepas sweater miliknya dan mengenakan pada Jeni. Aroma tubuh Hendrik yang maskulin langsung tercium oleh Jeni.
"hemmm... Wangi sekali....." ucap Jeni sambil memejamkan mata.
"Kamu suka ya sama wangi sweater ku...?" tanya Hendrik yang merapikan bekas makan mereka.
Jeni mengangguk.
"minum dulu yank...." Hendrik membuka botol plastik berisi air mineral dan memberikan kepada Jeni.
Jeni meminum dan menyerahkan kembali pada Hendrik.
@@
sekitar dua jam mereka di atas menara. Karena angin makin kencang mereka meninggalkan menara dan mencari tempat untuk bisa bersantai.
Jeni pamit untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah, namun Hendrik tidak mau mengijinkan ia pergi sendiri. ia mengikuti langkah Jeni. Jeni pun tidak keberatan. sesampainya disana Jeni melepas jam tangannya dan meletakkan di wastafel.
" Jam tangan siapa ini....? tanya Hendrik mengamati jam tangan Jeni.
" Oh itu jam tangan teman satu sekolah waktu SMA... " ucap Jeni sambil mencuci wajahnya.
"Cowok....?"
"Iya........"
"Pacar kamu...?"
"Bukan...."
Hendrik menarik lengan kiri Jeni dan memperhatikan tatto yang ada disana.
"Kapan ini di buat... mengapa tidak sempurna seperti ini...?" tanya Hendrik.
Jeni menarik kembali tangannya." ini... ini sudah lama... " Jeni tergagap.
"Apa kamu sengaja membuat ini...?" tanya Hendrik datar namun tegas membuat Jeni tegang
"Tidak tau .. apakah ini sengaja ataukah tidak..." ucap Jeni melihat ke arah lain untuk menghindari tatapan Hendrik.
"maksudnya...?"
__ADS_1
" nanti akan saya ceritakan semuanya padamu..."