Pria Culun

Pria Culun
Bab 11


__ADS_3

Aku bisa merasakan air mata mengalir di pipiku. Aku mengangkat wajahku ke atas berusaha menahan tangisanku.


Tangisan pertamaku semenjak aku menangisi kematian ibuku.


Seandainya ibu masih ada.


Mungkin aku tak akan berharap lebih dari kak kira.


Mungkin masih ada seseorang yang mau berbagi susah denganku. Mungkin masih ada ibu yang selalu berbagi letih menjalankan tugas harianku, berbagi sedih yang ku rasakan saat ini.


Tiba - tiba aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku.


Kak vina menciumku. Hangat bibirnya menempel di bibirku. Tangan kiriku masih terus di genggam kak vina. Seketika aku tak lagi merasakan kesedihanku, aku justru membuka mulutku seperti ingin ******* bibirnya. Kak vina justru ikut membuka mulutnya, mulut kami berdua terbuka, aku memiringkan kepalaku ke kiri mencoba menghindari hidung kak vina yang bersentuhan dengan hidungku.


Dada sebelah kananku terasa di dorong tangan kiri kak vina. Wajahnya juga seakan ikut mendorong wajahku ke belakang hingga aku menjatuhkan badanku di kasur.


"Kak?"


Ucapku saat bibir kami terlepas.


"Ssstt"


Suara mulut kak vina


Kak vina menaikan kedua dengkulnya bertumpu di kasur lalu memajukan badannya hingga wajahnya kembali percis di berada hadanku.


Kak vina kembali mencium bibirku. Mungkin karena terbawa suasna, aku menikmati setiap saat mulut kak vina menghisap dan menekan bibirku. Aku memberanikan diri untuk meraba paha kak vina yang berada di sampingku.


Namun tiba - tiba kak vina melepaskan ciumannya.


"Kamu nikmatin aja yah to"


Ucap kak vina sambil tersenyum.


Tangan kak vina yang sudah bersih dari cairanku walah hanya di lap menggunakan tisu tiba - tiba meraba penisku dari luar celana.


"To....kakak.


"Lain kali aja kak"


Potongku mendengar ucapan kak vina.

__ADS_1


Aku mendorong tangan kak vina menjauh dari selangkanganku. Kak vina terlihat seperti menggigit b*b*r bawahnya.


"Kamu belum pernah ya?"


Aku mengangguk, lalu memalingkan wajahku ke depan. Malu untuk mengakui bahwa aku masih perjaka.


"Ngelepasnya ke kakak yah"


Ucap kak vina malah sambil mencubit pahaku.


"Apasih kak"


Balasku sambil kembali melihat ke arah kak vina sambil tersenyum.


"Pokoknya harus ke kakak yah"


Ucap kak vina sambil tersenyum.


Kak vina memajukan wajahnya lalu mencium ku. Aku hanya membalas ciuma kak vina dengan menggenggam tangan kak vina yang ada diatas pahaku.


"Kakak tidur di sini aja kali yah?"


Tanya kak vina sambil tersenyum lebar


"Iyaiya bercanda"


Potong kak vina.


Kak vina berdiri, aku melepaskan tangannya. Kak vina sedikit merapikan kemejanya.


"Kalo gitu kakak pulang dulu yah to"


Ucap kak vina sambil coba menghilangkan bekas cairanku yang ada di kemeja bagian d*d*nya dengan sebuah tisu.


Aku ikut berdiri disamping kak vina.


"Yaudah kak..makasih banyak ya"


Ucapku melihat kak vina yang masih membersihkan kemejanya.


"Sama - sama to...ohiya"

__ADS_1


Ucap kak vina.


Kak vina sedikit menunduk meraih tasnya yang ada diatas lemari kecil.


"Kamu ga bawa uang kan?"


Tanya kak vina.


Kak vina mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.


Aku hanya diam tak membalas pertanyaan kak vina.


"Nih buat besok kamu makan sama pegangan kamu"


Ucap kak vina.


Kak vina menjulurkan tanganya yang memegang empat lembar uang lima puluh ribuan ke arahku. Aku menerima lembaran uang itu lalu melihat wajah kak vina.


Entah mengapa aku merasa mudah untuk menerima bantuan darinya, mungkin karena aku percaya bahwa kak vina tulus ingin membantuku. Aku hanya bisa berharap kak vina tidak menganggapku seperti kak kira.


"Makasih kak"


Ucapku tulus.


Mungkin hanya kak vina satu - satunya orang yang masih ku anggap sebagai saudara saat ini.


"Sama - sama to"


Jawab kak vina.


Aku merasakan sesuatu yang berbeda, bukan seperti perasaan yang pernah kak kira berikan padaku, dimana aku dapat merasakan kehadiran ibuku, dimana aku bisa sejenak melupakan masalahku walau masih bisa merasakan sakitnya. Saat itu aku merasa aman berada disamping kak kira.


Namun ini berbeda, bukan aman tapi nyaman. Dengan kak vina, fikiranku masih dipenuhi dengan semua masalah namun aku sama sekali tak merasakan sedihnya. Se akan rasa percaya diriku bertambah untuk dapat menyelesaikan masalah ini.


Tiba - tiba lamunanku terpecah saat merasakan bibirku menyentuh bibir kak vina.


"Kakak pulang dulu yah to, besok kakak ke sini lagi kok"


Ucap kak vina setelah mengecup bibirku.


"Iya kak, hati - hati ya"

__ADS_1


Jawabku tersenyum.


__ADS_2